"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)

Rabu, 20 Januari 2010

TAPIR : MAMALIA BERKUKU GANJIL

    Tapir adalah kelompok mamalia berkuku ganjil dari suku Tapiridae yang memiliki tubuh gemuk, kaki pendek, dan mocong berbentuk belalai pendek. Anggota ordo Perissodactyla ini hidup di hutan dan rawa-rawa di Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Asia Tenggara. Saat ini empat spesies tapir yaitu tapir melayu (Tapirus indicus), tapir gunung (Tapirus pinchaque) tapir baird (Tapirus Bairdii) dan tapir Amerika Selatan (Tapirus terrestis) dikatagorikan sebagai hewan yang terancam mengalami kepunahan.
    Tinggi bahu tapir mencapai 2-2.5 m. Kaki depannya terdiri dari 4 jari, sedangkan kaki belakangnya terdiri dari 3 jari. Tapir memiliki mata yang kecil  serta telinga yang pendek dan bulat. Belalai pendek yang terdapat diatas mulut dilengkapi dengan lubang hidung. Tapir memiliki indera pendengaran dan penciuman yang tajam.
Induk Tapir Dan Anaknya
Anak Tapir
    Tapir termasuk hewan yang pemalu. Hewan ini akan melarikan diri dengan cara berlindung di balik semak-semak atau berendam di dalam air apabila diganggu atau terancam bahaya. Tapir biasanya keluar untuk mencari makan pada malam hari. Pakan tapir berupa rumput, daun-daunan, ranting pohon dan buah-buahan. Masa hidup tapir bisa mencapai30 tahun. Selain diburu manusia, tapir sering menjadi mangsa dari Harimau dan Jaguar.
    Setelah mengalami masa kehamilan selama 13 bulan , tapir melahirkan seekor anak. Ketika dilahirkan anak tapir memiliki bobot tubuh sekitar 8-13 Kg. Induk tapir kemudian melindungi  dan menutupi anaknya dengan daun-daunan agar terhindar dari predator. Setelah beberapa minggu, anak tapir mengikuti induknya untuk mencari makan. Meskipun anak tapir memakan daun-daunan dan buah-buahan namun pakan utamanya berupa susu dari induk tapir.

Tapir Melayu
    Tapi melayu hidup di Asia Tenggara terutama di Pulau Sumatera, semenanjung Malaka dan Thailand bagian Selatan. Spesies terbesar ini memiliki bobot tubuh sekitar 380 Kg. Bulu tapir melayu berwarna hitam dengan kombinasi putih. Tapir melayu tidak memiliki surai dan belalainya lenbih panjang daripada spesies lainnya. 
Tapir Melayu

Tapir Gunung
    Tapir gunung memiliki bulu yang paling tebal diantara ketiga jenis tapir lainnya. Tapir yang berwarna hitam atau cokelat kemerahan ini hidup di wilayah pegunungan Andes (Amerika Selatan) dan di hutan-hutan Kolombia, Equador, dan Peru. Bobot tubuh tapir gunung mencapai 165 Kg.
Tapir Gunung

Tapir Baird
    Tapir baird mempunyai bobot tubuh sekitar 350 kg. Hewan ini biasanya berwarna abu-abu kecokelatan dengan kombinasi awrna putih di bagian pipi, leher dan dada. Tapir baird terdapat di Equador, Kolombia, Guatemala, Nikaragua dan Meksiko tenggara.
Tapir Baird

Tapir Amerika Selatan
    Bobot tubuh tapir Amerika selatan mencapai 200-250 Kg. Seluruh tubuhnya berwarna cokelat. Tapir Amerika Selatan memiliki surai di bagian tengkuk. Hewan ini hidup di hutan-hutan Amerika Selatan terutama di Brazil, Kolombia, Paraguay dan Argentina.
Tapir Amerika Selatan

Selasa, 19 Januari 2010

ASAS-ASAS EKOLOGI


 Hujan turun membentuk Ekosistem Danau
    Didalam Asas-asas Ekologi yang akan kita bahas disini adalah tentang Habitat dan Relung dan berikut ini pengertian tentang Habitat dan Relung

Habitat
Ekosistem air

Habitat adalah tempat organisme itu hidup, atau tempat kemana seseorang harus pergi untuk menemukan organisme tersebut. Istilah habitat banyak digunakan , tidak saja dalam ekologi tetapi dimana saja. Tetapi pada umumnya istilah ini diartikan sebagai tempat hidup suatu makhluk hidup.

Habitat
Berbagai jenis tumbuhan mempunyai habitat yang berbeda-beda, serupa atau sama sesuai dengan preferensi ekologinya. Berdasarkan kondisi habitatnya dikenal 2 tipe habitat, yaitu :

1. Habitat mikro

merupakan habitat lokal dengan kondisi lingkungan yang bersifat setempat yang tidak terlalu luas, misalnya, kolam, rawa payau berlumpur lembek dan dangkal, danau, dan sebagainya.

2. Habitat makro

merupakan habitat bersifat global dengan kondisi lingkungan yang bersifat umum dan luas, misalnya gurun pasir, pantai berbatu karang, hutan hujan tropika, dan sebagainya.

Morrison (2002) mendefinisikan habitat sebagai sumberdaya dan kondisi yang ada di suatu kawasan yang berdampak ditempati oleh suatu spesies. Keadaan atau kondisi habitat dapat kita lihat pada ilustrasi gambar berikut :

Relung

Relung (niche) dalam ekologi merujuk pada posisi unik yang ditempati oleh suatu spesies tertentu berdasarkan rentang fisik yang ditempati dan peranan yang dilakukan di dalam komunitasnya.Konsep ini menjelaskan suatu cara yang tepat dari suatu organisme untuk menyelaraskan diri dengan lingkungannya. Habitat adalah pemaparan tempat suatu organisme dapat ditemukan, sedangkan relung adalah pertelaan lengkap bagaimana suatu organisme berhubungan dengan lingkungan fisik dan biologisnya. Ekologi dari suatu individu mencakup variabel biotik (makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan, manusia, baik yg mikro maupun yg makro) dan abiotik (benda tidak hidup).Relung menentukan bagaimana spesies memberi tanggapan terhadap ketersediaan sumberdaya hidup dan keberadaan pesaing dan pemangsa dalam suatu ekosistem.



Senin, 11 Januari 2010

OBSERVATORIUM: TEMPAT PENGAMATAN BENDA-BENDA ANGKASA

   Observatorium adalah tempat untuk melakukan berbagai pengamatan astronomi. Di tempat ini para astronom mempelajari planet, bintang, galaksi, dan obyek langit lainnya. Observatorium biasanya dilengkapi dengan teleskop dan peralatan lainnya untuk membantu pengamatan. Observatorium astronomi meliputi observertorium optik, observatorium radio dan observatorium antariksa.
   Biasanya sebuah observatorium terletak  di gunung atau di dataran tinggi. Tempat ini dipilih untuk menghindari polusi udara, gangguan dari cahaya kota, dan efek distorsi dari atmosfer. Semua gangguan tersebut dapat menyebabkan obyek langit seperti bintang-bintang menjadi tidak terlihat jelas. Tempat di dataran tinggi juga dapat memberikan pemandangan langit malam hari yang lebih cerah dan bersih. Adapun peralatan yang digunakan dalam observatorium selain teleskop adalah spektroskop (untuk mengamati cahaya), lingkaran meridian (untuk mengukur perubahan arah bintang), koronograf (untuk mengamati matahri), sel fotoelektrik (untuk mengukur kecerahan bintang) dan teleskop radio.
 Observatorium Bosscha, di Lembang, Jawa Barat
 Jenis Observatorium
    Observatorium astronomi pada umumnya terbagi dalam dua jenis, yaitu observatorium optik dan observatorium radio. Biasanya jika seseorang menyebut observatorium, maka yang dimaksud adalah observatorium optik. Observatorium ini berfungsi untuk mengamati benda-benda langit melalui gelombang elektromagnetik yang terlihat (gelombang optik). Peralatan utama dari observatorium ini adalah teleskop optik. Adapun observatorium radio berfungsi untuk mengamati obyek langit melalui gelombang radio. Peralatan utamanya adalah teleskop radio yang mempunyai bentuk seperti sebuah antena parabola.
Observatorium Ohio, Amerika Serikat
    Akan tetapi, pengamatan melalui gelombang optik dan gelombang radio dirasakan belum mencukupi, karena ternyata ada sebagian obyek langit yang memancarkan radiasi elektomagnetik berupa sinar X atau sinar ultra violet. Kedua sinar itu tidak dapat menembus permukaan bumi karena terhalang oleh atmosfer. Karena itu dibuatlah observatorium antariksa atau observatorium satelit untuk mengamati radiasi elektromagnetik dari benda-benda langit berupa kedua sinar tersebut. Observatorium ini ditaruh di luar atmosfer bumi dan berbentuk satelit. Beberapa observatorium satelit yang terkenal diantaranya adalah Teleskop Antariksa Hubble yang diluncurkan pada tahun 1990 untuk mengamati sinar infra merah dan radiasi ultraviolet. Observatorium Sinar Gamma Compton yang mengorbit bumi pada tahun 1991-2000. Observatorium Sinar X Chandra yang diluncurkan pada tahun 1999, dan fasilitas Teleskop Infra Merah Antariksa yang diluncurkan pada tahun 2002.

Ruangan peneropong bagian dalam Observatorium Bosscha, Lembang
Observatorium Bosscha
    Indonesia juga memiliki sebuah observatorium bernama Observatorium Bosscha. Observatorium ini terletak di Lembang, Jawa Barat. Observatorium ini didirikan pada tahun 1923 oleh Rudolf Bosscha, seorang astrono asal Belanda, bekerja sama dengan Persatuan Astronomi Hindia Belanda. Kini Observatorium Bosscha secara administratif berada di bawah pengelolaan Institut Teknologi Bandung (ITB). Secara geografis, letak observatorium ini sangat menguntungkan karena berada dekat garis khatulistiwa sehingga dapat mengamati langit belahan utara dan langit belahan selatan.

Observatorium Ulugh Beg
    Ketika ilmu astronomi berkembang di dunia Islam, para astronom muslim juga mendirikan banyak observatorium. Di antara sekian banyak observatorium yang pernah dibuat, yang terbaik adalah Observatorium Ulugh Beg yang dibangun di Samarkand (Uzbekistan) pada awal abad ke 15. Ulugh Beg adalah seorang penguasa keturunan mongol di Samarkand. Observatorium Ulugh Beg pernah menjadi observatorium termegah di dunia Islam. Setelah kematian Ulugh Beg, observatorium ini kemudian mengalami kehancuran.


Kamis, 07 Januari 2010

JENIS-JENIS ULAR DI INDONESIA (BAGIAN 1)

1. Ular kawat
Ular kawat merupakan sejenis ular yang terkecil di dunia. Nama ilmiahnya adalah Ramphotyphlops braminus (Daudin, 1803). Sementara nama-namanya dalam bahasa lain adalah common blindsnake, Brahminy blindsnake, flowerpot snake, bootlace snake (Eng.); ular kawat, ular cacing (Ind.), ular duwel .
Identifikasi
Ular kawat bertubuh amat kecil, nampak berkilau seperti sepotong kawat kecil kehitaman. Panjang tubuh hingga 175 mm, akan tetapi jarang yang lebih panjang dari 15 cm. Kebanyakan malah sekitar 10 cm atau kurang.
Ular Kawat
Tubuhnya berwarna hitam, kehitaman, kecoklatan, atau abu-abu kebiruan. Umumnya lebih gelap di bagian dorsal (punggung) dan lebih muda di sisi ventral (perut). Ekornya amat pendek dan pada ujungnya terdapat runcingan serupa duri. Terkadang kedua ujungnya (kepala dan ekor) berwarna lebih muda atau keputihan.
Matanya tersembunyi dan hanya nampak sebagai bintik gelap samar-samar di balik sisik kepalanya. Oleh sebab itu, dalam bahasa Inggris dikenal sebagai blind snake (ular buta). Sisik-sisik yang menutupi bagian tengah tubuh tersusun dalam 20 deret, amat halus dan serupa saja bentuknya di bagian dorsal maupun ventral.

Kebiasaan dan ekologi
Ular ini sangat mirip cacing, baik ukuran tubuh maupun perilakunya. Sering ditemukan di bawah perabotan rumah, di balik pot-pot tanaman dan di halaman, di bawah batu dan kayu-kayu busuk, ular ini dengan segera menggelepar seperti cacing bila terusik. Namun bila diamati dengan seksama, terlihat ular ini memiliki sisik yang berkilau dan kulitnya tidak berlendir.
Ular kawat menggemari tempat-tempat yang sedemikian untuk mencari mangsanya yang berupa telur-telur semut, rayap dan berbagai serangga kecil lainnya. Mulutnya begitu kecil, dan hanya cukup untuk menelan mangsanya yang juga amat kecil. Karena itu adanya sangka-sangkaan orang bahwa ular kawat termasuk semacam ular yang amat berbisa dan dapat mematikan manusia hanyalah mitos yang tidak berdasar. Ular ini bahkan tidak mampu menggigit orang.
Ular ini diduga berbiak secara partenogenesis, yakni telurnya berkembang menjadi individu ular tanpa dibuahi oleh ular jantan. Dugaan ini muncul karena semua spesimen ular ini yang berhasil dikumpulkan ternyata teridentifikasi dengan kelamin betina (Tweedie, 1983). Sejenis ular lain yang juga diketahui memiliki kemampuan partenogenesis adalah ular karung Papua (Acrochordus arafurae).
Kebiasaan ular ini yang hidup di bawah tanah (fossorial), ukurannya yang amat kecil, dan kemampuan partenogenesisnya, menjadikan ular kawat ini mudah tersebar luas; populasinya dapat terbentuk hanya dengan satu spesimen ular yang terbawa dalam tanah pada pot tanaman.
Penyebaran
Penyebaran ular ini amat luas: Afrika (Zanzibar, Tanzania, Mozambique, Somalia, Kamerun, Benin, Togo, Pantai Gading). Madagaskar, kepulauan-kepulauan Comoro, Mascarenes, Seychelles, Mauritius, Reunion, Rodrigues.
Asia tropis (Arab, Persia, India, Srilanka, Myanmar, Muangthai, Indochina, Tiongkok selatan, Jepang selatan, Hongkong, Taiwan, Filipina, Semenanjung Malaya, dan kepulauan-kepulauan di Samudera Hindia).
Pasifik (Guam, Solomon, New Caledonia, Hawaii), Meksiko, Guatemala dan Hindia Barat.
Di Indonesia ular kawat menyebar di seluruh kepulauan.

Jenis yang berkerabat
Ada beberapa banyak spesies ular kawat lainnya dari marga Typhlops di Indonesia barat, Cyclotyphlops di Sulawesi dan Acutotyphlops di Papua. Kerabat dekat ular kawat, yakni Ramphotyphlops lineatus (Schlegel, 1839), memiliki panjang tubuh sampai sekitar 48 cm dan menyebar dari Thailand, Semenanjung Malaya, Singapura, Sumatra, Nias, Kalimantan, Jawa barat dan tengah.

2. Ular kepala-dua

Ular kepala-dua adalah sejenis ular primitif yang tidak berbisa. Dinamai demikian, karena perilakunya manakala merasa terganggu, ular ini menegakkan ekornya seolah-olah di situlah letak kepalanya pada kenyataannya kepala yang sesungguhnya disembunyikannya di bawah gulungan badannya.
Ular ini juga dikenal dengan nama-nama lain seperti, oray totog atau oray teropong (Sd.), majara (Toraja), ular gelenggang, dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris disebut dengan nama Red-tailed Pipe Snake atau Common Pipe Snake, sementara nama ilmiahnya adalah Cylindrophis ruffus (Laurenti, 1768).
Pemerian
Ular yang bertubuh silindris (cylindrophis; Gr. kylinder, batang penggiling, dan ophis, ular), dengan ekor amat pendek dan hampir tak terbedakan dengan kepala. Kepala dan ekor sama-sama tumpul. Panjang tubuh dapat mencapai 90 cm, akan tetapi agak jarang yang melebihi 50 cm.
Tubuh bagian atas (dorsal) berwarna hitam, dengan belang-belang merah jingga di kanan-kirinya (ruffus; salah tulis dari kata rufus, kemerahan). Kepala dan ekor berwarna merah jingga dengan noda-noda hitam. Warna-warna cerah ini sering memudar atau menghilang dengan bertambahnya umur dan ukuran tubuh ular, sehingga ular nampak dominan kehitaman. Sisi bawah tubuh (ventral) hitam dengan belang-belang putih, setidaknya sebagian tersusun berseling seperti papan catur. Sisi bawah ekor kemerahan, menyebabkannya sering disangka sebagai ular cabe (Maticora intestinalis) yang berbisa.
Sisik-sisik di sisi ventral tidak terbedakan (tidak melebar) dari sisik-sisik dorsal. Sisik ventral 186-222, sisik anal berbelah, sisik subkaudal (bawah ekor) 5-7 buah, dan sisik dorsal dalam 19-21 deret di tengah badan.

Kebiasaan
Ular kepala-dua umumnya ditemukan di dataran rendah, meskipun Tweedie (1983) menyebutkan pernah didapatkan pada ketinggian 1.700 m dpl. Ular ini menghuni hutan-hutan dataran rendah yang lembap, kebun dan lahan-lahan pertanian. Tempat yang disukainya adalah yang memiliki tanah gembur atau berlumpur, di mana ular ini dapat menyusup masuk (fossorial) untuk mencari mangsanya. Karena itu, ular kepala-dua sering pula ditemukan di sekitar daerah berawa-rawa dan persawahan, di bawah kayu-kayu lapuk di hutan, di balik tumpukan serasah yang membusuk, atau di tepi sungai. Ular ini tidak jarang dijumpai di jalan tanah, di pagi hari sesudah hujan lebat turun pada malamnya.
Aktif di malam hari (nokturnal), ular kepala-dua diketahui memangsa ular-ular lain yang lebih kecil, kadal, bayi-bayi mamalia, dan cacing tanah. Juga pernah dilaporkan memangsa sejenis sidat dan larva serangga.
Ular yang berwarna indah ini sama sekali tidak berbahaya, bahkan tidak mau menggigit orang. Bila merasa terusik, alih-alih berlari ular kepala-dua biasanya segera menggulung tubuhnya dan menyembunyikan kepalanya, serta menegakkan ekornya tinggi-tinggi. Postur ekornya yang memipih dan melengkung dengan tepat, mengingatkan kita pada rupa seekor kobra yang sedang marah, meski berukuran lebih kecil. Namun hanya itu saja kebisaannya. Bilamana si pengganggu tidak kena digertak, ular inilah yang segera beringsut pergi. Tentu saja dengan kepala aslinya lebih dahulu.
Melihat postur yang ‘mengancam’ itu, orang-orang yang tidak mengenalnya biasanya tanpa ampun segera membunuhnya. Dan malangnya ular ini tidak begitu lincah dan cepat untuk menghindarinya.
Ular kepala-dua bersifat ovovivipar, telurnya menetas selagi dalam kandungan, dan melahirkan sampai 13 ekor anak di satu saat.
Kerabat dan Penyebaran
Cylindrophis ruffus memiliki dua anak jenis (subspesies), yakni:
C.r. ruffus (Laurenti, 1768), yang menyebar luas mulai dari Tiongkok dan Hainan di utara, Hong Kong, Laos, Vietnam, Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatra, Borneo, Jawa,Sulawesi, Kepulauan Sula, Kepulauan Sangihe, Buton, Boano dan Bacan di Maluku.
Sedangkan jenis-jenis lain dalam marga yang sama adalah:
Cylindrophis aruensis, di Maluku.
Cylindrophis boulengeri
Cylindrophis engkariensis, di Serawak.
Cylindrophis isolepis
Cylindrophis lineatus, di Borneo.
Cylindrophis maculatus
Cylindrophis melanotus
Cylindrophis opisthorhodus
Cylindrophis yamdena, di Maluku.

3. Ular sanca kembang

Sanca kembang adalah sejenis ular tak berbisa yang berukuran besar. Ukuran terbesarnya dikatakan dapat melebihi 10 meter. Lebih panjang dari anakonda (Eunectes), ular terbesar dan terpanjang di Amerika Selatan. Nama-nama lainnya adalah ular sanca; ular sawah; sawah-n-etem (Simeulue); ular petola (Ambon); dan dalam bahasa Inggris reticulated python atau kerap disingkat retics.
Identifikasi
Sanca kembang ini mudah dikenali karena umumnya bertubuh besar. Keluarga sanca (Pythonidae) relatif mudah dibedakan dari ular-ular lain dengan melihat sisik-sisik dorsalnya yang lebih dari 45 deret, dan sisik-sisik ventralnya yang lebih sempit dari lebar sisi bawah tubuhnya. Di Indonesia barat, ada lima spesiesnya: tiga spesies bertubuh gendut pendek yakni kelompok ular peraca (Python curtus group: P. curtus, P. brongersmai dan P. breitensteini) di Sumatra, Kalimantan dan Semenanjung Malaya.
Dua spesies yang lain bertubuh relatif panjang, pejal berotot: P. molurus (sanca bodo) dan P. reticulatus. Kedua-duanya menyebar dari Asia hingga Sunda Besar, termasuk Jawa.
P. molurus memiliki pola kembangan yang berbeda dari reticulatus, terutama dengan adanya pola V besar berwarna gelap di atas kepalanya. Sanca kembang memiliki pola lingkaran-lingkaran besar berbentuk jala (reticula, jala), tersusun dari warna-warna hitam, kecoklatan, kuning dan putih di sepanjang sisi dorsal tubuhnya. Satu garis hitam tipis berjalan di atas kepala dari moncong hingga tengkuk, menyerupai garis tengah yang membagi dua kanan kiri kepala secara simetris. Dan masing-masing satu garis hitam lain yang lebih tebal berada di tiap sisi kepala, melewati mata ke belakang.
Sisik-sisik dorsal (punggung) tersusun dalam 70-80 deret; sisik-sisik ventral (perut) sebanyak 297-332 buah, dari bawah leher hingga ke anus; sisik subkaudal (sisi bawah ekor) 75-102 pasang. Perisai rostral (sisik di ujung moncong) dan empat perisai supralabial (sisik-sisik di bibir atas) terdepan memiliki lekuk lubang penghidu bahang (heat sensor pits) yang dalam (Tweedie 1983).
Biologi dan Penyebaran
Sanca kembang terhitung ular yang terbesar dan terpanjang di dunia. The Guinness Book of World Records tahun 1991 mencatat sanca kembang sepanjang 32 kaki 9.5 inci (sekitar 10 meter) sebagai ular yang terpanjang (Murphy and Henderson 1997). Namun yang umum dijumpai adalah ular-ular yang berukuran 5-8 meter. Sedangkan berat maksimal yang tercatat adalah 158 kg (347.6 lbs). Ular sanca termasuk ular yang berumur panjang, hingga lebih dari 25 tahun.
Ular-ular betina memiliki tubuh yang lebih besar. Jika yang jantan telah mulai kawin pada panjang tubuh sekitar 7-9 kaki, yang betina baru pada panjang sekitar 11 kaki. Dewasa kelamin tercapai pada umur antara 2-4 tahun.
Musim kawin berlangsung antara September hingga Maret di Asia. Berkurangnya panjang siang hari dan menurunnya suhu udara merupakan faktor pendorong yang merangsang musim kawin. Namun demikian, musim ini dapat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Shine et al. 1999 mendapatkan bahwa sanca kembang di sekitar Palembang, Sumatera Selatan, bertelur antara September-Oktober; sementara di sekitar Medan, Sumatera Utara antara bulan April-Mei.
Jantan maupun betina akan berpuasa di musim kawin, sehingga ukuran tubuh menjadi hal yang penting di sini. Betina bahkan akan melanjutkan puasa hingga bertelur, dan sangat mungkin juga hingga telur menetas (McCurley 1999).
Sanca kembang bertelur antara 10 hingga sekitar 100 butir. Telur-telur ini ‘dierami’ pada suhu 88-90 °F (31-32 °C) selama 80-90 hari, bahkan bisa lebih dari 100 hari. Ular betina akan melingkari telur-telur ini sambil berkontraksi. Gerakan otot ini menimbulkan panas yang akan meningkatkan suhu telur beberapa derajat di atas suhu lingkungan. Betina akan menjaga telur-telur ini dari pemangsa hingga menetas. Namun hanya sampai itu saja; begitu menetas, bayi-bayi ular itu ditinggalkan dan nasibnya diserahkan ke alam.
Sanca kembang menyebar di hutan-hutan Asia Tenggara. Mulai dari Kep. Nikobar, Burma hingga ke Indochina; ke selatan melewati Semenanjung Malaya hingga ke Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara (hingga Timor), Sulawesi; dan ke utara hingga Filipina (Murphy and Henderson 1997).
Sanca kembang memiliki tiga subspesies. Selain P.r. reticulatus yang hidup menyebar luas, dua lagi adalah P.r. jampeanus yang menyebar terbatas di Pulau Tanah Jampea dan P.r. saputrai yang menyebar terbatas di Kepulauan Selayar. Kedua-duanya di lepas pantai selatan Sulawesi Selatan.
Ekologi
Sanca kembang hidup di hutan-hutan tropis yang lembap (Mattison, 1999). Ular ini bergantung pada ketersediaan air, sehingga kerap ditemui tidak jauh dari badan air seperti sungai, kolam dan rawa.
Makanan utamanya adalah mamalia kecil, burung dan reptilia lain seperti biawak. Ular yang kecil memangsa kodok, kadal dan ikan. Ular-ular berukuran besar dilaporkan memangsa anjing, monyet, babi hutan, rusa, bahkan manusia yang ‘tersesat’ ke tempatnya menunggu mangsa (Mattison 1999, Murphy and Henderson 1997, Shine et al. 1999). Ular ini lebih senang menunggu daripada aktif berburu, barangkali karena ukuran tubuhnya yang besar menghabiskan banyak energi.
Mangsa dilumpuhkan dengan melilitnya kuat-kuat (constricting) hingga mati kehabisan napas. Beberapa tulang di lingkar dada dan panggul mungkin patah karenanya. Kemudian setelah mati mangsa ditelan bulat-bulat mulai dari kepalanya.
Setelah makan, terutama setelah menelan mangsa yang besar, ular ini akan berpuasa beberapa hari hingga beberapa bulan hingga ia lapar kembali. Seekor sanca yang dipelihara di Regent’s Park pada tahun 1926 menolak untuk makan selama 23 bulan, namun setelah itu ia normal kembali (Murphy and Henderson 1997).
Sanca dan Manusia
Sanca --terutama yang kecil-- kerap dipelihara orang karena relatif jinak dan indah kulitnya. Pertunjukan rakyat, seperti topeng monyet, seringkali membawa seekor sanca kembang yang telah jinak untuk dipamerkan. Sirkus lokal juga kadang-kadang membawa sanca berukuran besar untuk dipamerkan atau disewakan untuk diambil fotonya.
Sanca Kembang
Sanca banyak diburu orang untuk diambil kulitnya yang indah dan bermutu baik. Lebih dari 500.000 potong kulit sanca kembang diperdagangkan setiap tahunnya. Sebagian besar kulit-kulit ini diekspor dari Indonesia, dengan sumber utama Sumatra dan Kalimantan. Semua adalah hasil tangkapan di alam liar.
Jelas perburuan sanca ini sangat mengkhawatirkan karena mengurangi populasinya di alam. Catatan dari penangkapan ular komersial di Sumatra mendapatkan bahwa sanca kembang yang ditangkap ukurannya bervariasi antara 1 m hingga 6 m, dengan rata-rata ukuran untuk jantan 2.5 m dan betina antara 3.1 m (Medan) – 3.6 m (Palembang). Kira-kira sepertiga dari betina tertangkap dalam keadaan reproduktif (Shine et al. 1999). Hingga saat ini, ular ini belum dilindungi undang-undang. CITES (konvensi perdagangan hidupan liar yang terancam) memasukkannya ke dalam Apendiks II.

4.Ular pelangi

Ular pelangi adalah sejenis ular yang termasuk anggota suku Xenopeltidae. Ular ini diberi nama demikian karena lapisan transparan pada sisiknya membiaskan warna-warni pelangi dari cahaya matahari. Dalam bahasa Inggris disebut dengan nama sunbeam snake atau iridescent earth snake. Sementara nama ilmiahnya adalah Xenopeltis unicolor (Schneider, 1799), merujuk pada keistimewaan sisik-sisiknya (Xeno: aneh, ajaib; peltis: perisai).
Pemerian
Sisi atas tubuh (dorsal, punggung) berwarna coklat atau abu-abu kehitaman, merata (unicolor: berwarna seragam) dan berkilauan apabila terkena cahaya. Sisik-sisik dorsal dalam 15 deret. Deret terbawah berwarna putih, beberapa deret berikutnya seperti warna punggung umumnya namun dengan tepian berwarna putih. Sisi bawah tubuh (ventral) putih.
Ular Pelangi
Ular muda dengan kepala dan leher yang berwarna putih, kecuali moncongnya yang kecoklatan. Warna putih ini berangsur-angsur menghilang bersama dengan bertambah besarnya sang ular.
Perisai (sisik-sisik besar) di atas ubun-ubun kepala berbentuk mirip belah ketupat. Tidak seperti kebanyakan ular, perisai parietal (pelipis) kanan dan kiri tidak bersinggungan; melainkan terpisah oleh adanya perlekatan perisai frontal (dahi, di antara kedua mata) dengan perisai oksipital tengah yang berukuran besar. Keempat perisai itu berukuran hampir sama besar, dan bersama-sama membentuk bangun belah ketupat yang lebih besar lagi.
Panjang tubuh maksimum lebih sedikit dari satu meter, kebanyakan antara 80-90 cm. Ekornya pendek, sekitar sepersepuluh panjang tubuh atau kurang. Sisik-sisik ventral 173-196 buah, anal (yang menutupi anus) sepasang, dan subkaudal (di bawah ekor) 24-32 pasang.
Bio-ekologi
Ular pelangi menghuni daerah lembap dan berawa-rawa di sekitar pantai, sungai, persawahan, dan daerah berhutan; di dataran rendah hingga pegunungan di ketinggian sekitar 1300 m dpl (David and Vogel, 1997). Tidak jarang pula ditemukan di sekitar pemukiman, terutama di daerah terbuka dan berumput-rumput yang meliar. Ular ini sering bersembunyi di bawah kayu busuk, bebatuan, tumpukan serasah, atau menggali lubang dalam lumpur, tidak jauh dari air.
Mangsanya terutama terdiri dari kodok, kadal, jenis-jenis ular lain, dan mungkin pula burung yang tinggal di atas tanah. Tweedie (1983) menyebutkan bahwa ular pelangi yang dipelihara dalam kandang juga mau memangsa tikus. Ular ini aktif di siang dan malam hari, meski karena pemalu jarang terlihat di siang hari.
Berkembang biak dengan bertelur (ovipar), ular pelangi setiap kalinya mengeluarkan hingga 17 butir telur. ular ini dapat di temukan di hampir seluruh wilayah indonesia
Penyebaran
Ular ini termasuk yang umum ditemukan, dan menyebar luas mulai dari India, Tiongkok, Burma, Kamboja, Laos, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaya hingga ke Filipina.
Di Indonesia, ular pelangi ditemukan di pulau-pulau Sumatra, Simeulue, Nias, Kep. Mentawai, Kep. Riau, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi.
Ular pelangi termasuk golongan ular yang tidak berbahaya. Ular ini tidak berbisa dan biasanya tidak mau menggigit ketika ditangkap. Tatkala baru terpegang, ular pelangi kerap menggetarkan ekornya kuat-kuat. Ular ini juga mengeluarkan cairan berbau memualkan seperti bau bawang putih yang keras untuk mengusir musuhnya.
Ular ini mudah jinak dan relatif gampang dipelihara. Dalam tangkaran, ular pelangi dapat mencapai usia lebih dari 13 tahun (David and Vogel, 1997).
Mengingat kulitnya yang relatif tebal dan bermutu baik, ular pelangi termasuk salah satu di antara sasaran para pemburu dan pedagang kulit ular. Sayang sekali, belum ada informasi yang memadai mengenai keadaan populasinya di alam.

Sumber Referensi : Wikipedia Indonesia

Rabu, 06 Januari 2010

SILIKON : UNSUR METAL BERWARNA KELABU

    Silikon adalah unsur metaloid berwarna kelabu tua dengan lambang kimia Si. Pada sistem periodik, silikon terletak pada golongan IVA dan periode 3. Nomor atom silikon adalah 14 dan massa atom relatifnya 28,09 gr/mol. Silikon memiliki titik leleh pada suhu 1.410oC dan titik didih pada suhu 2.355oC.
    Silikon pertama kali dikenali sebagai unsur oleh Jons Jacob Berzelius, ahli kimia Swedia, pada tahun 1824. Silikon merupakan unsur kedua terbanyak di dalam kerak bumi setelah oksigen. Kerak bumi mengandung sekitar 48% oksigen dan 28% silikon. Silikon terdapat melimpah dalam semua batuan, kecuali batu kapur. Silikon murni berwarna kelabu tua dan keras serta mengkilat. Akan tetapi, silikon dalam bentuk bubuk berwarna kecokelatan.

 Silikon

Sifat Silikon
    Unsur silikon dapat dibuat dengan cara mereduksi silikon dioksida atau silikat dengan kokas. Dalam skala kecil, reduksi dilakukan dengan bubuk aluminium. Silikon tidak reaktif pada suhu biasa. Akan tetapi jika dipanasi, silikon dapat bereaksi dengan unsur halogen (flour, klor, brom dan iodin) membentuk silikon halida. Silikon murni merupakan penghantar listrik yang buruk, tetapi daya hantarnya dapat diperbesar dengan menambahkan atom tertentu sehingga akan menjadi bahan semi konduktor. Kebanyakan silikon tidak berbahaya bagi tubuh manusia dan tidak dicerna oleh bahan kimia tubuh.

 Silikat Ferromagnesian
Silikat Non Ferramagneisan
Silika dan Silikat
    Dalam alam, silikon terdapat dalam bentuk senyawa terutama dengan oksigen, yaitu silika (silikon dioksida) dan silikat. Silika merupakan peramu utama pasir dan berbagai bentuk mineral yang membentuk batuan. Kristal silika murni ditemukan di alam dalam bentuk polimorfis, seperti kuarsa, pasir, agata (akik), oniks, opal, batu kecubung (ametis) dan flint. Adapun silikat adalah senyawa silikon yang paling melimpah dalam kerak bumi. Kebanyakan batuan dan mineral adalah silikat dengan kisi atau susunan yang berbeda-beda. Kisi silikat ini dapat dianggap sebagai turunan dari silika, tetapi dengan atom-atom lain. Kadang silikat terkait dengan atom silikon dan oksigen, dan kadang juga menggantikan atom silikon dan oksigen. Susunan ikatan antara silikon dan oksigen sangat kuat, yakni sekitar 1,5 kali ikatan antar karbon, yang menyebabkan sifatnya menjadi tahan panas dan tahan cuaca.

 Pemanfaatan Silikon

Pemanfaatan Silikon
    Silikon dapat berbentuk gas, cair atau padat, dan banyak digunakan dalam berbagai industri. Silikon murni digunakan dalam pembuatan peranti elektronik, seperti transistor dan sel surya karena silikon merupakan bahan semi konduktor yang baik. Senyawa silikat sendiri sering sering dimanfaatkan dalam pembuatan keramik dan kaca. Produk-produk keramik terbuat dari campuran berbagai mineral dan batuan yang telah dihaluskan. 
    Dalam industri, silikon digunakan sebagai bahan anti lengket yang bersih dan tidak berasap, misalnya untuk melepaskan bau dan benda karet atau plastik dari cetakan. Silikon cair digunakan dalam bentuk lilin dan bahan pemoles untuk cat mobil dan perabotan. Silikon juga banyak digunakan sebagai penyumbat kedap air untuk keramik kamar mandi dan dapur. Cat silikon yang tidak melepuh pada suhu 250-300oC digunakan sebagai cat kapal.

Selasa, 05 Januari 2010

PLATINA : LOGAM YANG DISEBUT EMAS PUTIH

    Platina atau platinum adalah logam berwarna putih keabu-abuan yang lazim disebut dengan emas putih dengan lambang kimia Pt. Pada sistem periodik, logam ini terletak pada golongan VIIIB dan periode 6. Nomor atom platina adalah 78 dan massa atom relatifnya 195,09 gr/mol. Platina memiliki titik didih pada suhu 1.772oC dan titik lebur pada suhu 3.827oC.
    Platina pertama kali ditemukan oleh Julius Scaliger (1716-1795), seorang ilmuwan asal Italia, pada tahun 1735. Platina merupakan unsur terpenting dalam kelompok unsur yang disebut kelompok logam platina (platinum metals). Unsur lainnya dalam kelompok ini adalah rutenium (Ru), rodium (Rh), paladium (Pd), Osmium (Os) dan Iridium (Ir).

 Mineral Platinum
 Sifat Platina
    Platina tidak teroksidasi di udara atau tidak mudah berkarat, tidak larut dalam asam klorida dan asam nitrat, tetapi akan terurai jika dilarutkan dalam air raja (campuran asam klorida dan asam nitrat) dan membentuk asam kloroplatinik. Logam ini hanya dapat berkarat oleh gas helogen, sianida, sulfur, dan alkali. Platina cukup langka di muka bumi sehingga lebih berharga dari emas. Platina hanya kalah dari emas dan perak dalam hal kemudahannya dalam dibentuk. Platina dapat membentuk senyawa dengan arsen, fosfor dan silikon serta dapat membentuk aliase dengan logam-logam lainnya, seperti iridium, nikel, paladium, ruterium, dan rodium.
Batuan Platina
Pembuatan Platina
    Platina tidak biasa dibuat di laboratorium, tetapi banyak dibuat secara komersial. Prose ekstraksi logam ini sangat rumit karena bijih platina tercampur dengan logam-logam lainnya seperti emas, dan paladium. Proses ekstraksi logam ini merupakan produk utama suatu industri atau hanya diproses sebagai produk sampingan. Industri yang khusus menghasilkan platina adalah industri yang memerlukan logam ini sebagai katalis bagi reaksi kimia lainnya.
    Proses pembuatan logam platina pertama kali adalah melarutkan bijih logam ini ke dalam larutan air raja untuk menghasilkan senyawa kompleksnya bersama emas dan paladium. Emas kemudian dipisahkan dengan cara diendapkan oleh besi klorida. Senyawa platina yang terbentuk kemudian dipisahkan dengan diendapkan untuk meninggalkan larutan paladium. Setelah itu, senyawa platina ini kemudian dibakar untuk menghilangkan zat pengotornya. Proses permurnian selanjutnya ialah dengan melarutkannya kembali kedalam air raja untuk menghilangkan campuran rodium dan iridium dengan menggunakan larutan amonium hidroksida. Logam murni platina didapat  dengan membakar endapan tersebut.

 Alat yang terbuat dari bahan platina
Pemanfaatan Platina
    Platina digunakan dalam aliase untuk perhiasan, peralatan keilmuan, dan wadah. Platina sering dibuat sebagai wadah atau peralatan laboratorium karena sifatnya yang tahan panas dan bahan kimia. Platina juga dapat dimanfaatkan sebagai katalis, misalnya dalam pengubah katalitik pada knalpot mobil yang akan mengurangi jumlah karbon monoksida dan zat pencemar lainnya yang biasa terdapat dalam gas buang. Katalis platina juga digunakan untuk menguraikan molekul-molekul minyak bumi ketika membuat bensin dengan bilangan oktana yang tinggi. Industri kaca juga memakai platina untuk elektoda pelapis dalam sistem pembuatan kaca. Selain itu, platina digunakan untuk titik kontak dalam peralatan listrik dan dalam instrumen untuk mengukur temperatur tinggi.

Peralatan Laboratorium dari unsur platina

Sumber : Ensiklopedi Umum Untuk Pelajar