"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)
Tampilkan postingan dengan label HUTAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HUTAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Desember 2016

ROTAN : TANAMAN MERAMBAT DI HUTAN TROPIS

    Rotan merupakan istilah umum yang digunakan untuk menyebut kelompok tumbuhan monokotil dari suku Arecaceae atau palmae yang memiliki batang merambat. tanaman palem ini mencakup beberapa marga atau genus, antara lain genus Calamus, Ceratolabus, Daemanorops, Korthalsia, Myrialepis, Pectcoma, dan Plectocomiosis. Rotan memiliki nilai ekonomis tinggi karena tanaman ini digunakan sebagai bahan baku furnitur dan kerajinan tangan.
    Saat ini, rotan tersebar di beberapa kawasan seperti Brazil, Madagaskar, Thailand, Malaysia, Filipina dan Papua Nugini. Daerah penghasil rotan di Indonesia melputi wilayah pulau Kalimantan dan pulau Jawa. Pada umumnya, rotan ditemukan di hutan-hutan heterogen dan rawa-rawa. Tumbuhan ini hidup di dataran rendah maupun di dataran tinggi dan daerah pegunungan yang berketinggian 1.800 m di atas permukaan laut. Perbanyakan tanaman dilakukan secara generatif (persemaian biji) maupun secara vegetatif (setek batang).

 Rotan yang melintang di hutan tropis
  Jenis Rotan
    Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman jenis rotan terbesar di dunia. Oleh sebab itu, Indonesia menjadi negara pengekspor rotan terbesar yang mensuplai sekitar 80% dari kebutuhan rotan dunia. Beberapa jenis rotan yang diperdagangkan antara lain rotan manau (Calamus manan), Sega (Calamus caesius), irit (Calamus trchycoleus), samambo (Calamus scipionium), tohiti (Calamus inops), Jermasin (Calamus leiocoulis), pulut merah (Calamus javensis), seel (Daemanorops melanocheates), taman (Daemanorops sabut), batang (Daemanorops robustus) dan pelah (Daemanorops rubra). Jenis rotan komersial biasanya dikelompokkan lagi menjadi tiga golongan menurut ukuran batangnya, yaitu :
  1. Rotan besar (diameter lebih dari 18 mm)
  2. Rotan sedang (diameter antara 8-18 mm)
  3. Rotan kecil (diameter kurang dari 8 mm)
 Rumpun rotan mirip bambu
Pengambilan Rotan
    Rotan diambil dari hutan dengan cara memotong pangkal batangnya. Setelah ditarik dari tempatnya menjalar, batang rotan kemudian dibersihkan dari daun-daun dan duri-duri. Bagian batang yang lunak dibuang, sedangkan bagian batang yang keras dipotong-potong menurut ukuran yang dikehendaki. Pada tahap selanjutnya, batang rotan digulung dan diikat sebelum dibawa ke tepi sungai untuk diangkut dengan perahu. Sebelum diolah menjadi berbagai produk, batang rotan dikeringkan dengan sinar matahari atau dengan alat pengering.
 Batang rotan di lantai hutan
 Manfaat Rotan
    Batang rotan yang elastis dan kuat sering dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan perabot rumah tangga (furnitur) dan kerajinan tangan. Selain itu, batang rotan juga digunakan sebagai bahan pembuatan tali dan cambuk. Sebagian masyarakat di pulau kalimantan memanfaatkan daun rotan sebagai atap rumah. Ujung batang rotan yang masih muda dan lunak bahkan dapat dikonsumsi sebagai sayuran. Adapun getah rotan dimanfaatkan dalam berbagai industri seperti industri keramik, marmer, kayu, kertas dan cat.

Furniture terbuat dari rotan
Konservasi Rotan
    Pengambilan rotan secara terus menerus, terutama dalam jumlah besar, telah membuat tanaman ini menjadi langka. Karena itu, saat ini pemerintah Indonesia mulai melakukan kegiatan konservasi rotan. Hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah kelangkaan rotan  di masa mendatang dan mengusahakan ketersediaan rotan untuk jangka waktu yang panjang. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan melarang kegiatan eksploitasi rotan yang diambil dari hutan alam sekaligus mengusahakan kebun rotan melalui kegiatan budidaya rotan.
Tajuk Hutan

Senin, 21 November 2016

BAKAU : TANAMAN PENCEGAH ABRASI

    Bakau adalah tumbuhan khas yang hidup di daerah pesisir, terutama di daerah pantai dan estuari. Tumbuhan ini mempunyai akar tunjang yang tertutup oleh air laut ketika pasang. Selain itu, beberapa jenis bakau juga memiliki pneumatofor atau akar napas yang muncul ke permukaan air dan berfungsi untuk menyerap oksigen.
    Hutan bakau atau mangrove merupakan istilah yang menggambarkan suatu komunitas di daerah pantai dan estuari (perairan tempat air laut bertemu dengan air tawar) Hutan ini didominasi oleh beberapa spesies tumbuhan yang dapat hidup di perairan asin dengan substrat lumpur. Ada sekitar 18 juta hektar hutan bakau di seluruh dunia. Indonesia merupakan negara yang mempunyai komunitas hutan bakau terluas di dunia, yaitu sekitar 8,6 juta hektar. Adapun pulau Papua merupakan daerah yang mempunyai komunitas hutan bakau terluas di Indonesia.
Pengaruh Salinitas
    Tumbuhan bakau terdiri dari beberapa suku, antara lain Rhizophoraceae, Arecacaea, Celastraceae dan Combretaceae. Marga bakau yang paling dominan di Indonesia adalah Rhizopora, Avicennia, Bruguira dan Soneratia. Pertumbuhan bakau umumnya dipengaruhi oleh salinitas atau kadar garam air laut. Tumbuhan ini mempunyai kemampuan untuk menjaga keseimbangan kadar garam, yaitu dengan cara mengeluarkan partikel garam dari sel-selnya dan mengurangi penyerapan garam dari air laut.

Manfaat Bakau
    Hutan bakau memiliki tiga manfaat penting bagi ekosistem pantai. Aspek pertama berkaitan erat dengan manfaat bakau terhadap flora dan fauna di laut. Hutan bakau kaya akan bahan organik sehingga tumbuhan ini digunakan sebagai tempat hidup dan tempat mencari makan bagi hewan-hewan laut seperti ikan, kepiting, udang, dan burung. Aspek kedua berkaitan dengan manfaat bakau terhadap kondisi fisik pantai. Keberadaan hutan bakau sangat berguna sebagai penahan abrasi atau pengikisan batuan oleh air laut. Selain itu, proses intrusi atau perembesan air laut ke daratan juga dapat dicegah dengan adanya hutan bakau. Adapun aspek ketiga berhubungan dengan manfaat bakau terhadap kondisi sosial ekonomi penduduk pantai. Hutan bakau menghasilkan kayu bakar, bahan banunan, bahan baku kertas, tanin, (senyawa kimia untuk penyamakan kulit), bahan makanan, dan obat-obatan.

Kerusakan Hutan Bakau
    Selain faktor alam, kerusakan hutan bakau sebagian besar disebabkan oleh faktor aktivitas manusia. Penebangan liar, pembukaan lahan untuk perumahan, dan pembuatan tambak ikan merupakan contoh kegiatan manusia yang dapat merusak hutan bakau. Saat ini, kerusakan hutan bakau di Indonesia mencapai lebih dari 5,9 juta hektar atau sekitar 68% dari luas total.
    Secara alami, bakau mempunyai kemampuan untuk melestarikan dirinya sendiri. Tumbuhan ini berkembang biak dengan perkecambahan biji. Ketika air laut surut, biji bakau yang jatuh di atas substrat akan berkembang menjadi tunas muda. Proses ini tidak terjadi bila air laut pasang karena biji tersebut akan terendam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa usaha reboisasi atau penanaman kembali hutan bakau yang rusak membutuhkan waktu cukup lama. Adapun faktor aktivitas manusia dapat mengakibatkan kerusakan hutan bakau yang bersifat permanen.
 Hutan Mangrove
 Pohon Bakau
Hutan Bakau

Rabu, 16 November 2016

PAKIS : TUMBUHAN DI LANTAI HUTAN

    Pakis atau paku adalah istilah umum yang digunakan untuk menyebut kelompok tumbuhan berpembuluh dan berspora dari devisi Pteridophyta. Tumbuhan ini mencakup empat kelas yaitu pakis purba (Psilophytinae), pakis ekor kuda (Equisetinae), pakis kawat (Lycopodinae) dan pakis sejati (Filicinae). Selain dijadikan tanaman hias, beberapa jenis pakis juga dimanfaatkan sebagai sayuran dan obat.
Hamparan Pakis
    Menurut perkiraan para ahli botani, pakis terdiri dari sekitar 10.000 jenis yang tersebar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tumbuhan ini hidup di dataran rendah sampai daerah pegunungan yang berketinggian sekitar 3.500 m di atas permukaan laut. Pakis dapat tumbuh subur di daerah lembab. Selain tumbuh di atas tanah dan di air, pakis juga hidup sebagai tanaman epipit yang menempel di batang pepohonan atau bebatuan.
Hamparan Pakis di Lantai Hutan
Sorus
    Seperti tumbuhan tingkat tinggi, pakis memiliki akar, batang dan daun sejati. Bagian akar, batang dan daun dilengkapi dengan jaringan pengangkut berupa xilem dan floem.
    Pakis termasuk tumbuhan berakar serabut. Batang pakis pada umumnya bercabang-cabang dan beruas-ruas pendek. Daum pakis muda biasanya menggulung, sedangkan daun yang telah dewasa memilikibintik-bintik hitam yang disebut sorus. Sorus berisi spora yang berfungsi sebagai alat perkembangbiakan. Sorus pada pakis biasanya dilindungi oleh semacam selaput yang disebut indusium. Daun pakis yang memiliki spora disebut sprofil, sedangkan daun yang tidak berspora disebut daun steril.

Metagenesis
    Seperti lumut, pakis juga mengalami pergiliran keturunan atau yang disebut dengan istilah metagenesis. Setelah jatuh di tempat yang lembab, spora yang keluar dari sporangium akan berkecambah menjadi struktur tumbuhan baru atau protalium. Protalium yang mengalami fase gametofit (fase pembentukan gamet) akan membentuk anteridium dan arkegonium.
    Anteridium menghasilkan spermatozoid, sedangkan arkegonium menghasilkan ovum. Spermatozoid tersebut selanjutnya membuahi ovium sehingga terbentuk zigot. Zigot yang tumbuh menjadi pakis akan menghasilkan spora. Fase ini selanjutnya disebut sporofit.

Pakis Purba
    Pakis purba merupakan kelompok pakis yang sebagian besar anggotanya telah punah. Kelompok ini tidak memiliki akar sejati, sedangkan bagian daunnya berukuran kecil atau tidak memiliki daun sama sekali. Salah satu anggota pakis purba adalah pakis dari marga Psilotum.
    Pakis ekor kuda pada umumnya memiliki batang yang bercabang-cabang dan beruas-ruas. Sporofilnya terletak pada ujung batang atau ujung cabang. Salah satu contoh pakis ekor kuda adalah genus Equisetum.
    Pakis kawat memiliki batang yang bercabang-cabang serta daun yang berukuran kecil dan tajam. Beberapa contoh anggota pakis kawat adalah pakis dari marga Lycopodium dan Salaginella.
    Adapun pakis sejati  merupakan kelompok pakis yang memiliki banyak tulang daun. Contoh anggota pakis sejati adalah suplir (marga Adiatum), pakis air (marga Azolla), dan pakis pohon (marga Cyathea).
 Pakis air
 Pakis ekor kuda
 Pakis Kawat
Pakis Purba

Sabtu, 22 Oktober 2016

LUMUT : VEGETASI PERINTIS

    Lumut adalah kelompok tumbuhan dari divisi Bryopyta yang memiliki struktur tubuh seperti tumbuhan berbiji (Spermatophyta) namun tidak memiliki jaringan pengangkut. Penggunaan istilah ini seringkali rancu dengan lumut kerak (lichen) yang diklasifikasikan dalam kingdom Fungi (jamur) atau dengan ganggang yang menempel pada lantai kamar mandi dan bebatuan di dalam air. Sebagai vegetasi perintis, lumut berperan dalam proses pelapukan batu-batuan menjadi tanah dan proses penyerapan air serta bermanfaat sebagai bahan baku obat.
    Lebih dari 18.000 spesies lumut diklasifikasikan dalam tiga kelas yaitu kelas Hepatopsida atau Hepaticae (lumut hati), Bryopsida atau Musci (lumut sejati), dan Anthocerotopsida atau Anthocerotae (lumut tanduk). Kelompok tumbuhan ini tersebar di seluruh wilayah dunia, mulai dari daerah kutub sampai ke daerah tropis. Di daerah kutub, lumut membentuk sebuah ekosistem padang lumut yang dikenal dengan tundra. Lumut menyukai kondisi udara lembab sehingga tumbuhan ini sering dijumpai di pinggir sungai, batang kayu dan tanah basah. Lumut yang telah dikeringkan sering dimanfaatkan sebagai media tanaman yang disebut Moss.
Talus
    Tubuh lumut umumnya berupa talus, yaitu struktur tumbuhan yang tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati. Ukuran talus lumut beragam, mulai dari genus Monoclea yang panjangnya 20 cm dan lebarnya 5 cm sampai genus Sphaerocarpos yang panjangnya 1 mm dan lebarnya 1 mm. Talus lumut membentuk bagian-bagian yang memiliki bentuk seperti bagian akar, batang, dan daun dari tumbuhan spermatophya. Meskipun demikian, tubuh lumut tidak dilengkapi dengan jaringan pengangkut xilem dan floem.

Rhizoid
    Lumut memperoleh sumber makanan dari proses fotosintesis yang terjadi di dlam kloroplas. Seperti kelompok tumbuhan pakis dan tumbuhan berbiji, fotosintesis pada lumut juga dibantu oleh pigmen klorofil yang berfungsi sebagai pengikat cahaya matahari. Pegangkutan air dan zat-zat hara dari substrat dijalankan oleh akar semu atau Rhizoid. Selain itu Rhizoid tersebut juga berfungsi sebagai alat pelekat pada substrat.Pada sebagian besar lumut air dan zat hara disalurkan dari bagian gametofor ke sporangium (kotak spora) melalui tangkai sporangium yang disebut seta dan melalui jaringan internal tubuh.

Gametofit dan Sporofit
    Pada umumnya,lumut mengalami metagenesis (pergiliran keturunan) yang terdiri dari dua tahap. Tahap yang menghasilkan gamet disebut generasi gametofit, sedangkan tahap yang menghasilkan spora disebut generasi sporofit. Generasi gametofit dimulai dengan jatuhnya spora di tempat yang lembab. Spora ini tumbuh menjadi protonema (struktur berbentuk benang) dan kemudian berkembang menjadi gametofor. Gametofor akan memasuki generasi sporofit setelah menghasilkan anteridium (organ jantan berbentuk tongkat) dan arkegonium (organ betina berbentuk botol), Anteridium menghasilkan sel kelamin jantan (spermatozoid), sedangkan arkegonium menghasilkan sel telur (ovum). Setelah melalui proses fertilisasi atau pembuahan, sel telur akan tumbuh menjadi zigot dan selanjutnya berkembang menjadi sprogonium. Sporogonium tersebut menghasilkan spora yang terkumpul di dalam sporangium.

3 Kelas dari Divisi Bryophyta

  1. Lumut hati (Hepatopsida). Kelompok ini mempunyai talus yang berbentuk lembaran. Lumut hati sering ditemukan di permukaan tanah, di permukaan air, dan di bebatuan. Anggota lumut hati meliputi genus Monoclea, Metzgeria dan Marchantia.
  2. Lumut sejati (Bryopsida). Lumut sejati tumbuh di dinding bangunan, tanah dan tempat-tempat terbuka. Talusnya memiliki bentuk yang mirip dengan rumput berukuran pendek. Anggota lumut sejati antara lain genus Sphagnum, Archidium dan Andreaea.
  3. Lumut Tanduk (Anthocerotopsida). Habitat lumut tanduk berada di tepi sungai, danau atau saluran air. Bagian talus yang kita lihat di tanah merupakan generasi gametofit dari lumut tersebut. Anggota lumut tanduk meliputi genus Anthoceros dan Notothylas.

    

 Hutan lumut Cibodas
 Lumut hati
Lumut daun 
Lumut Tanduk

Sabtu, 15 Oktober 2016

KONIFERA : TANAMAN BERDAUN JARUM

   Konifera adalah kelompok tanaman yang daunnya hijau sepanjang tahun serta memiliki strobilus berbentuk kerucut sebagai alat perkembangannya. Anggota Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) ini dapat ditemukan hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Beberapa anggota konifera seperti cemara dan pinus sering dimanfaatkan dalam industri kimia, kertas dan kayu.
    Konifera termasuk salah satu tumbuhan purba yang mulai tumbuh sekitar 290 juta tahun yang lalu. Tanaman ini dapat hidup sampai ratusan tahun. Pinus longaeva merupakan spesies pinus tertua yang berumur sekitar 4.900 tahun. Konifera umumnya tumbuh di hutan-hutan pegunungan atau di hutan-hutan sub tropik. Tanaman ini tumbuh secara optimal pada temperatur sekitar 10-20o C dan kelembaban udara sekitar 90 %.

Salju turun membasahi Hutan Konifera
Strobilus
    Pohon konifera terdiri dari satu batang pokok dengan beberapa cabang yang membentuk sebuah kerucut. Tinggi batang konifera dapat mencapai 20-30 m, bahkan spesies sekuoia raksasa (Sequoiadendron giganteum) tingginya mencapai 95 m. Daun konifera umumnya berwarna hijau dan berbentuk seperti jarum. Kelompok tanaman ini memiliki dua kelamin dalam satu pohon. Serbuk sari terdapat dalam strobilus betina di sela-sela daun.
Cemara
    Cemara merupakan salah satu anggota konifera yang sering dimanfaatkan sebagai tanaman hias atau bahan bangunan. Pohon cemara umumnya berbentuk seperti kerucut atau piramida dengan tinggi batang mencapai 25 m. Beberapa spesies cemara seperti Cupressus Lusitanica, Cupressus funebris, dan Cupressus sargentii banyak dibudidayakan di Amerika Utara, terutama menjelang perayaan Natal. Penggunaan pohon cemara sebagai pohon natal awalnya berasal dari daerah Amerika Utara karena saat salju turun di hari natal, hanya pohon cemara yang tetap bertahan pada cuaca dingin dan indah untuk dihias.
Hutan Cemara

Pinus
    Selain cemara, pinus atau tusam merupakan salah satu anggota konifera yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Di Indonesia tanaman ini banyak dibudidayakan di lereng-lereng gunung di Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Kayu pinus sering dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan bahan pulp (bubur kertas). Resin dan terpentin dari getah pinus dapat diolah menjadi beberapa produk seperti pernis, sabun, cat dan tinta. Adapun minyak atsiri dari daun pinus banyak dipakai dalam industri farmasi.
    Pinus memiliki kepekaan yang tinggi terhadap pencemaran lingkungan. Tanaman yang tumbuh di daerah yang tercemar akan memiliki daun yang lebih jarang daripada tanaman yang tumbuh di habitat yang normal. Oleh sebab itu, pinus dapat dimanfaatkan sebagai indikator pencemaran udara. Tinggi pohon pinus bisa mencapai 60 m. Kulitnya bergetah dan dipakai sebagai pembuat bahan terpentin.
Hutan Pinus

Sekuoia Raksasa
    Pohon sekuoia raksasa adalah pohon tertinggi di dunia. Tinggi pohon ini bisa mencapai lebih dari 90 m, dengan diameter batang kayunya hingga 7m. Bobot pohon ini bisa mencapai 2.000 ton. Batang kayunya berwarna coklat, sedangkan akarnyaberwarna kehitaman. Daun-daunnya berbentuk spiral. Bunga jantan terletak pada pucuk ranting muda, sedangkan bunga betina terletak pada ranting yang lebih tua. Bunganya berkayu berbentuk kerucut dan bulat telur. Akar pohon sekuoia raksasa menjalar ke segala sisi. Tanaman yang bersal dari pegunungan Sierra nevada, bagian barat Amerika Serikat ini sering ditanam sebagai tanaman hias.
Hutan Pohon Sekuoia raksasa

Senin, 05 September 2016

JENIS-JENIS HUTAN

    Hutan adalah wilayah luas di muka bumi yang banyak ditumbuhi oleh tanaman atau tumbuhan baik yang sejenis maupun beragam. Hutan ini dapat terjadi secara alami maupun secara buatan manusia. Luas wilayah hutan Indonesia adalah kurang lebih 140.900.000 ha atau masih 73 % dari luas daratan. Sebagian sudah dimanfaatkanuntuk diambil kayunya atau dibuka lahan baru untuk pemukiman dan perladangan.

Animasi Hutan Gugur
   Hutan dapat dikelompokkan berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.
a. Hutan berdasarkan kondisi iklim
Hutan berdasarkan kondisi iklimnya dapat kita bedakan menjadi 4 jenis yaitu :
  1. Hutan Hujan Tropis , yaitu hutan yang tumbuh pada daerah yang mengalami iklim tropis dengan ciri-ciri memiliki jenis tumbuhan yang tinggi, besar dan lebat. Hutan jenis ini terdapat di Sumatera, Kalimantan dan Papua.
  2. Hutan Musim, yaitu hutan yang tumbuh lebat pada saat musim hujan dan mengalami pengguguran (meranggas) pada musim kemarau atau panas. Di Indonesia jenis hutan ini terdapat di sekitar Jawa Tengah dan biasanya jenis hutan yang tumbuh adalah hutan jati.
  3. Sabana, yaitu hutan tanaman semak belukar yang tumbuh tersebar secara merata dengan diselingi rerumputan. Hutan jenis ini di Indonesia terdapat di Pulau Flores, Sumbawa, Sumba dan Pulau Timur di Nusa Tenggara.
  4. Stepa, adalah  padang rumput yang luas dan biasanya terdapat di daerah beriklim amplitudo ekstrim misalnya di Puncak-puncak Gunung dengan perbedaan temperatur siang dan malam hari tinggi. Pendaki gunung akan menjumpai steva ini di G.Semeru, Pangrango, Argopuro, Tengger dan Iyang.
 Hutan Hujan Tropis
 Hutan Musim (Gugur)
Steva
b. Hutan berdasarkan proses terjadinya
Hutan berdasarkan proses terjadinya dapat dibagi menjadi dua yaitu :
  1. Hutan alami, yaitu hutan yang terjadi dengan sendirinya terbentuk sebagai suatu proses alam.contoh hutan alami di Pulau Kalimantan dan Papua.
  2. Hutan buatan,adalah hutan yang terjadi karena adanya campur tangan manusia secara sengaja. Atau dengan kata lain hutan buatan adalah hutan yang sengaja ditanam oleh manusia. Misalnya hutan Jati dan hutan Pinus.              
c. Hutan berdasarkan jenis tanamannya
Berdasarkan jenis tanamannya , hutan dikelompokkan menjadi dua yaitu :
  1. Hutan Homogen, yaitu hutan yang hanya ditumbuhi oleh jenis tanaman yang sama atau sejenis, seperti hutan bakau, hutan jati dan hutan karet.
  2. Hutan Heterogen, yaitu hutan yang ditumbuhi oleh bermacam-macam jenis tanaman, tidak hanya satu tanaman saja, sebagai contoh hutan tropis. 
d. Hutan berdasarkan fungsinya
Berdasarkan fungsinya hutan dibedakan atas 5 macam hutan yaitu :
  1. Hutan Produksi,  yaitu hutan yang keberadaannya ditujukan untuk diambil manfaatnya sebagai sumber pendapatan negara, baik kayunya, getahnya atau hasil hutan lainnya.
  2. Hutan Lindung, adalah hutan yang ditujukakan sebagai penjaga keseimbangan lingkungan. Hutan Lindung ditujukan untuk mencegah bahaya banjir , tanah longsor , cadangan air tanah, daerah resapan air hujan atau tujuan lainnya.
  3. Hutan Wisata, adalah hutan yang keberadaannya ditujukan sebagai obyek wisata atau sarana rekreasi. Hutan ini sangat dijaga kelestariannya, keindahannya dan kesegaran udaranya.
  4. Hutan Suaka, adalah hutan yang ditujukan untukmelindungi kelestarian flora dan fauna yang sudah langka. Misalnya Suaka Alam Alas Purwo dan Baluran di Jawa Timur.
  5. Hutan Cadangan, adalah hutan yang berfungsi sebagai cadangan terhadap keberadaan hutan di suatu wilayah. Hutan cadangan ini dapat berubah fungsinya berdasarkan kebutuhan pada waktu tertentu. Mungkin saja hutan cadangan ini berubah menjadi hutan produksi hutan lindung atau jenis hutan lainnya.
e. Hutan berdasarkan bentuk daunnya
Hutan berdarkan bentuk daunnya terbagi menjadi dua macam yaitu :
  1. Hutan berdaun lebar, adalah jenis hutan yang ditumbuhi oleh tanaman yang memiliki daun lebar , sebagai contoh hutan Jati.
  2. Hutan berdaun jarum, adalah hutan yang ditumbuhi oleh tanaman berdaun jarum. Sebagai contoh hutan pinus dan hutan cemara. 

Rabu, 02 Desember 2015

HUTAN INDONESIA DAN PADANG EDELWEIS DI PUNCAK GUNUNG

    Hamparan Hijau terlihat dari udara bila melihat Hutan Indonesia dari ketinggian diatas awan. Pemandangan yang sangat indah mempesona setiap insan yang melihat alam hijau Indonesia. Wilayahnya yang terbentang sepanjang garis Khatulistiwa menjadi inspirasi sekaligus sebutan beberapa pakar geografi dan pencinta alam, sehingga Indonesia sering disebut dengan Zamrud Khatulistiwa. Luasnya Hutan terlihat di Pulau-pulau besar seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua . Demikian juga hamparan hijau terlihat di beberapa pulau-pulau kecil di Indonesia lainnya yang totalnya memiliki lebih dari 17.508 pulau-pulau.
   Sayangnya ekploitasi Hutan yang terus dilakukan mengancam keutuhan dan kelestarian Hutan di Indonesia. Padahal Indonesia memiliki luas hutan tropis terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dibenua Amerika (Selatan) dan Zaire di benua Afrika. Kebetulan ketiga negara ini juga dilintasi garis Khatulistiwa. Indonesia merupakan negara yang paling terancam kelestarian hutannya, eksploitasi dan kebakaran hutan dan pembukaan lahan Kelapa Sawit telah merngurangi luas hutan di Indonesia dari tahun ketahun.
   Hutan Indonesia adalah juga milik dunia yang sangat diandalkan dalam menyerap CO2 yang berasal dari polusi udara negara-negara maju dan mungkin juga negara berkembang. Hutan Indonesia juga berfungsi sebagai paru-paru dunia yang dapat mengurangi dampak pemanasan Global yang mengancam keselamatan Bumi. Gas Efek Rumah Kaca (Green House Effect) yang disebabkan banyaknya polutan yang mengotori Lapisan Atmosfir Bumi menyebabkan Lapisan Ozon didalamnya semakin tipis. Akibatnya dampak naiknya suhu permukaan bumi dirasakan seluruh negara di dunia dan ini dirasakan dengan naiknya permukaan laut dari tahun ke tahun. Sebagai negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut dapat dipastikan Indonesia merasakan dampak yang paling berat. Akankah Indonesia kehilangan beberapa pulaunya akibat Fluktuasi muka laut ini ? Bayangkan saja pada zaman Plestosen ketika terjadi pemanasan global saat matahari mengalami titik kulminasi panas tertinggi menyebabkan es di kutub Utara dan Selatan mencair sehingga menggenangi wilayah dangkalan Sunda yang pernah menyatu dengan benua Asia dan dangkalan sahul yang pernah menyatu dengan benua Australia sehingga terbentuklah kepulauan Indonesia seperti sekarang . Apabila hal ini terulang tanpa ada upaya pencegahan maka akan menjadi bencana besar yang sangat merugikan bangsa Indonesia.
   Maka sebagai generasi muda yang akan menggantikan pemimpin Indonesia di masa yang akan datang haruslah memiliki rasa cinta alam dan juga semangat menjaga dan melestarikan alam melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bukan hanya kegiatan yang hanya mencari sensasi dan kebanggaan sesaat seperti mendaki gunung, ataupun kegiatan-kegiatan lain di alam bebas seperti panjat tebing, Rafting, Outbond, Latihan SAR alam dan banyak kegiatan lain yang hanya menguji adrenelin dan darah muda yang memang menyukai tantangan di alam liar. Namun sebenarnya tujuan utama kita melakukan kegiatan ekstrem di alam liar bukan itu , tapi yang paling penting dan utama adalah ikut menjaga, memelihara, dan melestarikan alam yang kita jelajahi . Sehingga keutuhannya akan selalu abadi terjaga sampai akhir jaman.
Padang edelweis di Alun-alun Surya Kencana, Gunung Gede
Hutan Musim di pegunungan Manoreh, Yogyakarta
Hamparan bunga Edelweis di Gunung Ciremai, Jawa Barat
Hutan Homogen di Alas Purwo, Blambangan Jawa Timur
Kabut menutupi alun-alun Mandalawangi, G.Pangrango
Hutan Tropis Gunung Malang, Jawa Barat
Hutan Tropis Basah Gunung Sawal, Jawa Barat
Hamparan tanaman pakis di lantai hutan hujan Jawa Barat
Hutan Hujan tropis di P.Kalimantan
Jenis Hutan Musim di Jawa Timur
Hutan Rimba tanaman homogen
Hutan Mangrove/Bakau
Hutan tanaman Industri/Produksi di P.Sumatera
Hutan Hujan Tropis di Kalimantan Timur
Hutan Jati di Jawa Tengah
Hutan Lumut di TN G.Gede Pangrango
Hutan Karang di Sulawesi
Hutan Pinus di Jawa Barat
Hamparan padang Edelweis di Gunung Gede, Jawa Barat
Alun-alun Mandalawangi yang eksotis dan senyap
Hamparan padang Edelweis di Gunung Pangrango
Hamparan bunga Edelweis di G.Sumbing dan Sundoro
Bunga Edelweis mekar di Gunung Merbabu
Hamparan Edelweis di Merbabu denganlatar Gunung Merapi
Hamparan Padang Edelweis di Gunung Papandayan, Jawa Barat
Bunga Edelweis di Pos Plawangan, Rinjani
Untaian Pulau-pulau karang dengan hutan pantainya di Raja Ampat, Papua
Bunga Edelweis di Gunung Rinjani berlatar Danau Segara Anak
Padang Rumput di Kali Mati, Gunung Semeru Jawa Timur
Padang Steva di jalur lintas pendakian Gunung Semeru
Taman Nasional Baluran, Afrikanya Indonesia
Padang Sabana di Baluran, Jawa Timur
Hutan Cemara di Jawa Barat
Hutan Tropis berkabut di Kutai Barat, Kalimantan Timur