"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)

Rabu, 28 Juli 2010

TARSIUS : PRIMATA MINI DARI SULAWESI

    Tarsius adalah kelompok primata dari suku Tarsiidae yang bersifat nokturnal atau aktif mencari makan pada malam hari. Mamalia yang berkerabat dengan lemur dan kera ini hidup di hutan-hutan tropis Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Filipina. Meskipun masih bisa ditemukan di habitat aslinya, namun Tarsius sangat sensitif dengan perubahan lingkungan di sekitarnya. Oleh sebab itu, kelestarian Tarsius tergantung kepada kesadaran manusia dalam menjaga hutan.
    Saat ini terdapat sekitar 8 spesies Tarsius, yaitu Tarsius Filipina (Tarsius syrichta), Tarsius lapangan kuda (Tarsius bancanus), Tarsius spektral (Tarsius tarsier), Tarsius dian (Tarsius dentatus), Tarsius lariang (Tarsius lariang), Tarsius Peleng (Tarsius pelengensis), Tarsius sangihe (Tarsius sangihensis), dan Tarsius kerdil (Tarsius pumilus). Panjang tubuh hewan ini sekitar 9-15 cm, sedangkan panjang ekornya 25 cm. Bobot tubuh Tarsius hanya sekitar 130 gram.
    Kepala Tarsius berbentuk bulat. Tarsius mampu memutar kepalnya hampir 360 derajat sehingga hewan ini bisa melihat ke segala arah. Tarsius memiliki mata yang besar dan bulat, namun bola matanya tidak bisa digerakkan. Mata ini sangat berguna ketika hewan ini mencari mangsa pada malam hari. Seperti lemur, kera, dan manusia, mata Tarsius juga menghadap ke depan. Daun telinganya besar, bermembran dan selalu bergerak mengikuti suara mangsa. Badan Tarsius ditumbuhi bulu-bulu halus dan tebal yang berwarna abu-abu atau cokelat tua.
 Keluarga Tarsius cokelat sulawesi
 Peloncat Ulung
    Karena mampu meloncat dari satu pohon ke pohon lain sejauh 6 meter, Tarsius dikenal sebagai peloncat ulung. Kemampuan itu didukung oleh tungkai belakangnya yang panjang. Selain itu, Tarsius mampu melihat ke belakang melampaui bahunya sehingga ia bisa menentukan titik pendaratannya yang sesuai. Hewan ini menggunakan jari-jarinya yang panjang untuk bergelantungan pada ranting-ranting pohon. Adapun ekornya yang panjang berfungsi sebagai penyeimbang dan pendorong gerakan loncatnya.
    Tarsius selalu beristirahat dan meloncat dalam posisi tegak lurus. Hewan ini biasanya berkeliaran di dalam semak belukar atau di tengah rerumputan. Pada siang hari Tarsius tidur di pepohonan. Hewan ini baru bangun menjelang matahari terbenam. Setelah mencari pakan pada malam hari, Tarsius akan tidur lagi menjelang fajar.
Kawanan Tarsius hitam di pepohonan

Pakan Tarsius
    Pakan Tarsius umumnya berupa serangga, seperti semut, belalang, capung, ngengat, dan rayap. Tarsius bahkan mapu memangsa burung kecil, ular dan kadal. Untuk mendapatkan air, Tarsius makan buah-buahan atau menjilati air hujan di daun dan batang pohon. Hewan ini kadang-kadang tampak duduk di dekat kolam atau sungai sambil minum air. Tarsius mendeteksi mangsa dengan pendengaran dan penglihatannya. Ketika mencari mangsa, hewan ini harus bersaing dengan kelalawar dan burung hantu. Di alam, Tarsius harus selalu waspada terhadap serangan predator atau pemangsa, seperti ular dan kukang (loris).

Tarsius, hewan monogami
Hewan Monogami
    Tarsius termasuk hewan monogam yang hanya memiliki satu pasangan sepanjang hidupnya. Mamalia ini dapat berbiak dua kali dalam setahun. Pada musim birahi, Tarsius saling mengejar pasangannya dan kemudian kawin di atas pohon. Masa hamil Tarsius berlangsung selama 6 bulan. Induk akan melahirkan seekor anak dalam keadaan telah berbulu dan matanya terbuka. Anak Tarsius kemudian menyusu kepada induknya sampai tiba masa penyapihan (umur 45 hari). Ketika meninggalkan anaknya untuk mencari pakan, induk Tarsius selalu mengadakan kontak melalui suara siulan yang melengking panjang. Setelah disapih, anak Tarsius siap untuk berburu dan mencari pakan sendiri. Setelah berusia setahun, Tarsius muda telah matang secara seksual dan siap untuk kawin.

Jumat, 16 Juli 2010

JENIS-JENIS ULAR DI INDONESIA (BAGIAN 2)


1. Ular Kadut
Ular kadut (Acrochordus granulatus) adalah spesies ular dari famili Acrochordidae. Ular ini berwarna abu-abu dengan warna belang putih, dan hidup di air tawar atau air payau (daerah pertambakan). Ular ini benar-benar hampir tak berdaya di tanah. kulit tipis mereka mudah sekali untuk robek, tetapi kulit mereka mempunyai tekstur yang sangat kasar.
Mereka bersifat dimorfik seksual dengan jenis kelamin jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil daripada ukuran tubuh betina.
Yang menarik dari spesies ini adalah dalam berburu makan jantan lah yang aktif berburu mangsa sedangkan betina duduk dan menunggu untuk menyergap mangsa mereka.
Mereka biasa ditemukan di dalam Kolam Kecil, Rawa-rawa, dan Muara, tetapi beberapa dari mereka pernah ditemukan di Laut.

2. Ular Karung
Ular karung atau yang sering disebut ular belalai gajah, adalah sejenis ular air tak berbisa endemik di Indonesia. Ular ini sekerabat dengan ular kadut (Acrochordus granules. Dalam bahasa inggris dikenal dengan nama Elephant trunk snake, sedangkan nama ilmiahnya adalah Acrochordus javanicus (Hornstedt, 1781).
Deskripsi Umum
Panjang jarak moncong-anus mencapai 1855 mm. Individu betina biasanya lebih besar dan kuat daripada yang jantan. Badannya gemuk dengan kulit yang licin, sisik-sisiknya kecil dan kasar. Lubang hidung berada di atas kepala. Badannya bulat dengan sekitar 130-150 baris sisik pada bagian tengahnya. Sisik-sisik ventral mempunyai bentuk dan ukuran yang serupa, tidak terdapat lipatan kulit di bagian sisi badannya.

Penyebaran dan Ekologi
Ular karung tersebar di daerah tropis Asia Tenggara, yakni di Indonesia (Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali), Malaysia, Thailand selatan, Kamboja, dan Vietnam selatan. Lokalitas jenis: "Jawa, Indonesia". Ular ini menghuni wilayah perairan darat, diantaranya sungai, rawa, tambak, dan laguna.

Kebiasaan dan Makanan
Ular karung aktif pada malam hari. Ia mampu menyelam dalam di air selama 40 menit atau lebih, jarang menuju ke darat. Ular ini adalah pemangsa ikan dan amfibi yang sangat rakus, sangat merugikan usaha perikanan darat.

3. Ular Rumah
Ular rumah (Lycodon aulicus) adalah sejenis ular yang ramping anggota suku Colubridae. Ia dinamai demikian karena seringkali didapati di dalam rumah, memburu cecak dan sebangsanya. Dalam bahasa Inggris ular ini dikenal sebagai common wolf-snake, Indian wolf-snake atau house snake. Disebut wolf-snake karena ular yang tak berbisa ini memiliki sepasang gigi besar di muka rahang atas seperti taring serigala (Lycodon, Gr.: lycos, serigala; don, gigi).

Diskripsi Umum
Ular yang berukuran sedang, panjang total hingga 765 mm meski jarang yang melebihi 61 cm. Ular betina lebih panjang daripada yang jantan. Warnanya sangat bervariasi; umumnya dengan warna dasar coklat atau coklat keabu-abuan, gelap atau pun terang. Warna-warna tadi polos merata di seluruh tubuh, atau divariasikan dengan pola belang-belang atau pola serupa jala tebal, kuning atau putih atau keputihan di tengah badan, dengan atau tanpa ‘kerah’ kuning atau keputihan di atas tengkuk. Varian dengan warna dasar gelap dan belang-belang kuning atau keputihan kerap disangka sebagai jenis ular welang atau welang India yang berbahaya.
Ada pula variasi pola warna seperti jala yang kabur, amat mirip dengan pola warna ular cecak, kerabatnya yang terdekat. Hanya saja, ‘mata jala’ pada ular rumah lebih besar dan lebih jelas bentuknya.

Berikut ini pemerian ular rumah menurut Boulenger (1890):
Moncong gepeng, dengan bibir yang membenjol, agak menyerupai spatula; mata agak kecil. Perisai] rostral (di ujung depan moncong) lebih melebar daripada memanjang, tampak dari sebelah atas. Perisai internasal jauh lebih pendek daripada prefrontal. Perisai frontal (dahi) biasanya lebih pendek daripada jaraknya ke ujung moncong, atau daripada panjang perisai parietal. Perisai loreal (pipi) berbentuk memanjang, tak menyentuh mata. Perisai preokular sebuah, bersentuhan dengan frontal; perisai post-okular dua buah. Perisai temporal (pelipis) kecil-kecil, menyerupai bentuk sisik punggung, 2+3 atau 3+3. Perisai labial (bibir) atas berjumlah sembilan, yang ke-3, 4, dan 5 menyentuh mata. Empat atau lima perisai labial bawah bersentuhan dengan perisai dagu depan, yang lebih panjang daripada perisai dagu belakang. Sisik-sisik punggung halus (licin), dalam 17 deret di tengah badan. Perisai ventral (perut) 183-209 buah, sedikit menyudut di sisi lateral (samping badan). Perisai anal (dubur) terbelah atau berganda. Perisai subkaudal (bawah ekor) dalam dua deret, 57–77 pasang. Warna tubuh bervariasi; coklat polos di sebelah atas, atau dengan belang-belang warna putih, atau dengan pola serupa jala warna putih; bibir atas putih polos atau dengan noktah-noktah coklat; sisi bawah tubuh putih polos.

Kebiasaan dan penyebaran
Ular rumah aktif di waktu malam (nokturnal) dan lembam di siang hari. Ular ini memangsa aneka jenis kadal, cecak dan katak. Taringnya yang besar di bagian depan rahangnya sangat berguna untuk memegang mangsanya. Taring ini dengan mudah menembusi sisik-sisik kadal yang keras dan rapat. Bertelur antara 4–11 butir, dengan kecenderungan ular yang lebih besar menghasilkan lebih banyak telur.
Merupakan jenis ular yang paling umum ditemukan di India dan Sri Lanka, ular rumah menyebar luas ke barat hingga Pakistan, ke utara hingga Himalaya, dan ke timur hingga semenanjung Malaya di Asia Tenggara. Ditemukan pula di Filipina dan di Timor, Indonesia. Ular ini sering ditemukan bahkan di lingkungan pemukiman yang padat penduduk.

4. Bandotan Pohon
Bandotan pohon (Trimeresurus puniceus) atau kadang disebut Bandotan kayu adalah jenis Ular Beludak berbisa yang endemik di wilayah Asia Tenggara. Tidak ada upajenis yang saat ini diketahui.

Distribusi
Ukuran tubuhnya mempunyai panjang total 870 mm. Panjang jarak antara moncong-anus mencapai 690 mm. Bibir atasnya terdiri dari 10-13 sisik, yang pertama dipisahkan oleh adanya sisik nasal, yang kedua letaknya rendah dan tidak berbatasan dengan bagian tepi anterior lubang loreal, dan yang ketiga berukuran lebih besar. Sisik subocular ada 1 atau 2. Sisik supraocular 3-5, dan bentuknya menonjol (kuat) ke atas. Sisik-sisik interocular yang memisahkan sisik supraocular berjumlah 9-14. Sisik preocular ada 3. Sisik postocular ada 2-4. Sisik dorsal pada bagian tengah badannya terdiri dari 21-23 baris, dan berlunas lemah. Sisik-sisik ventral berjumlah 158-173. Sisik anal tunggal. Sisik-sisik subcaudal berjumlah 41-56 dan terdiri dari 2 baris sisik. Kepala, punggung dan badannya berwarna coklat terang atau coklat kemerah-merahan dengan beberapa corak coklat tua yang samar. Perutnya bercorang-coreng warna coklat dan lebih gelap daripada punggungnya.

Kebiasaan
Ular ini tergolong umum ditemukan, biasanya pada daerah dengan ketinggian antara 500-1500 m dpl. Habitatnya di ladang, perkebunan (teh dan kopi), semak belukar, hutan bambu, hutan basah sampai hutan pegunungan. Biasanya bersembunyi di bawah dedaunan kering pada lantai hutan. Aktifitas hariannya dilakukan pada malam hari, baik secara arboreal maupun terrestrial. Perkembang-biakannya dengan cara beranak, betina akan mengeluarkan sekitar 30 ekor. Makanannya berupa binatang mamal kecil (tikus), burung maupun katak. Ular ini termasuk jenis yang mengandung racun bisa dan gigitannya menyebabkan luka yang serius sekali bagi manusia.

Sebaran Geografis
Tersebar di Indonesia (Jawa, Sumatra, dan Kalimantan), Thailand selatan, dan Malaysia. Lokalitas jenis yang diberikan adalah "Jawa".

5. Bandotan Puspa
Bandotan puspa (Daboia siamensis) adalah sejenis Beludak berbisa yang tersebar di beberapa wilayah Asia Tenggara, Tiongkok selatan dan Taiwan.

Deskripsi
Panjang total tubuhnya dapat mencapai 1,5 m. Warna dasar tubuhnya kuning kecokelatan Kepala berbentuk segitiga dengan 3 buah bintik besar berwarna coklat tua. Satu berada di antara mata dan dua buah lainnya berada di dekat tengkuk. Di bagian perisai punggungnya bersisik-sisik kecil yang berlunas terdapat corak-corak bulat berukuran besar berwarna cokelat tua.

Bibir atasnya terdiri dari 10-12 sisik, terpisah dari mata oleh sebaris sisik-sisik yang kecil. Nostril amat besar. Ada sisik nasorostral antara sisik rostral dan sisik nasal. Sisik supraocular kecil, saling terpisah satu sama lain oleh 6-9 sisik. Sisik dorsal pada bagian tengah badannya terdiri dari 27-33 baris, sisik-sisik ventrolateral halus dan selebihnya berlunas. Sisik-sisik ventral berjumlah 153-180. Sisik anal tunggal. Sisik-sisik subcaudal berjumlah 41-64 dan terdiri dari 2 baris sisik.

Sebaran
Ular ini tersebar luas di Myanmar, Thailand bagian utara dan tengah, Kamboja, Laos, Vietnam, Tiongkok (Guangxi, Guangdong), Taiwan, serta beberapa pulau di Indonesia. Di Indonesia sendiri ular ini hanya terdapat di Jawa Timur, Jawa Tengah bagian timur, Madura, dan Nusa Tenggara Timur (Pulau Ende, Flores, Komodo, Rinca, Lomblen, Kisar, dan Wetar).

Lingkungan dan kebiasaan
Ular ini ditemukan pada daerah kering yang ditumbuhi banyak ilalang (rumput tinggi) di dataran rendah dan perbukitan gersang (khususna daerah-daerah yang mengandung zat kapur). Aktif pada malam hari. Ular ini mempunyai perilaku yang khas pada saat menyembunyikan dirinya yaitu badannya akan bergulung di dalam alang-alang (rerumputan) yang kering. Perkembang-biakannya dengan cara beranak (ovovivipar), betina melahirkan sebanyak 20-30 ekor. Makanan utamanya tikus, selain itu burung dan katak. Ular ini termasuk jenis yang mempunyai racun bisa yang kuat dan gigitannya dapat membahayakan manusia.

Bisa
Sebuah Antibisa, bernama "Russell's Viper Antivenin", dibuat di Thailand oleh Palang Merah Thailand untuk mengobati bisa dari hewan ini.
6. Bandotan Candi
   Bandotan candi (Tropidolaemus wagleri) adalah sejenis ular pohon berbisa dari anak suku Crotalinae (bandotan berdekik). Ular ini juga dikenal dengan nama-nama lokal seperti ular punai (Jambi), Ular cintamanis (Batak), Ular kapak tokong, Dupong (Malay), dan sebagainya. Dalam bahasa inggris dikenal dengan nama Temple viper. Ular ini terdapat di wilayah tropis Asia tenggara.
  Bibir atasnya terdiri dari 8-10 sisik, yang pertama tidak bersatu dengan sisik nasal, yang kedua letaknya rendah sehingga terpisah dari lubang loreal oleh 2 sisik kecil, dan yang ketiga biasa ukurannya lebih besar. Sisik supraocular ukurannya kecil atau menonjol ke atas. Sisik subocular besar terpisah dari sisik bibir atas oleh 2-3 baris sisik. Sisik dorsal pada bagian tengah badannya terdiri dari 21-27 (jarang yang 19) baris, seluruhnya berlunas. Sisik-sisik ventral berjumlah 127-154. Sisik anal tunggal atau ganda. Sisik-sisik subcaudal berjumlah 45-56 dan terdiri dari 2 baris sisik.
   Warna tubuh pada ular yang dewasa: Kepala bagian atas berwarna hitam dengan corak tak beraturan berwarna hijau. Bibir, dagu dan lehernya berwarna kuning dan putih kehijau-hijauan, sisik-sisiknya dengan garis sutur berwarna hitam. Pada punggungnya yang hitam ada beberapa bintik-bintik hijau dengan pinggir hitam yang menyebar. Selain itu ada semacam pola belang-belang hijau di bagian punggungnya dan kuning di badannya. Bagian ventral biasanya berwarna putih kehijau-hijauan dengan corak kuning tak beraturan yang pinggirnya hitam dan kadangkala bertotol-totol hitam. Pada bagian ekornya berwarna hitam dan dengan bercak-bercak hijau.
   Warna tubuh pada ular yang masih muda: Kepalanya hijau dengan coreng sempit di sisi yang berwarna putih (di atas) dan merah (di bawah). Punggung dan badannya hijau dengan totol-totol yang teratur berwarna sebagian merah dan sebagian putih, yang kadangkala membentuk rangkaian belang-belang. Bagian ekor seluruhnya kemerah-merahan.

Kebiasaan dan makanan
   Ular ini umum ditemukan pada dataran rendah dan pegunungan hingga mencapai ketinggian 1000 m dpl. Akan tetapi kebanyakan berada di dataran rendah yang basah dekat perairan, seperti persawahan, tepi sungai, rawa-rawa dan hutan bakau. Aktifitas hariannya dilakukan secara arboreal baik pada malam hari juga di senja atau dini hari. Sementara pada ular yang muda lebih sering ditemukan di permukaan tanah. Perkembang-biakannya dengan cara beranak, betina akan mengeluarkan sekitar 15 ekor. Makanannya berupa binatang mamal kecil, burung, kadal dan katak. Seolah-olah ular ini sangat jinak, akan tetapi ternyata jenis ini termasuk yang mempunyai racun bisa dan dapat menyebabkan luka serius serta sakit sekali bagi manusia.

7. Bandotan Macan
  Bandotan Macan (Ptyas mucosa) atau Ular tikus India, atau Dhaman (nama hindi), adalah jenis umum Ular dari keluarga Colubridae yang ditemukan di wilayah Asia Selatan dan Tenggara. Hewan ini berukuran besar, bisa tumbuh sampai 2 m (6,6 ft) dan kadang-kadang bahkan sampai 3 m (9,8 ft). Warna tubuh mereka beragam dari coklat pucat di daerah kering sampai hampir hitam di daerah hutan lembab. Hewan ini aktif di siang hari (diurnal), kadang hidup di pohon (semi-arboreal), tidak berbisa, waspada, cepat bereaksi, dan bergerak dengan cepat. Mangsa hewan ini beragam, namun hewan ini seing ditemukan di wilayah perkotaan dimana binatang pengerat seperti tikus banyak berkembang.

Sebaran Geografis
Hewan ini dapat ditemukan di Afghanistan, Bangladesh, China (Hainan, Hubei, Fujian, Guangdong, Guangxi, Hong Kong, Jiangxi, Tibet, Yunnan, Zhejiang), India, Indonesia (Sumatra, Jawa), Iran, Kamboja, Laos, Malaysia barat, Myanmar, Nepal, Pakistan (wilayah Sindh), Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Turkmenistan, dan Vietnam.
Hewan dewasa ini jarang memiliki pemangsa alami selain Ular anang atau Raja kobra yang tersebar di wilayah yang sama. Hewan yang masih muda biasanya dimangsa oleh Burung pemangsa, reptil yang berukuran lebih besar dan mamalia berukuran sedang.
Pemburuan manusia terhadap Ular keluarga Colubridae di China dan Indonesia demi mendapatkan kulit dan dagingnya telah menimbulkan banyak kematian hewan ini. Peraturan dagang dan panen terhadap hewan yang ada sering diabaikan.

Perilaku
Hewan dewasa menunjukkan prilaku yang tidak biasa untuk Ular dari keluarga Colubridae. Hewan ini menaklukukan mangsanya dengan mendudukinya, bukan dengan membelitnya. Hewan ini bergantung pada berat badannya untuk melemahkan mangsanya.
Hewan jantan mendirikan batas wilayah kekuasaannya melalui sebuah ritual tes kekuatan dimana kedua jantan saling memilin tubuh masing-masing. Pengamat awam kadang salah mengartikan ini sebagai sebuah 'tarian kawin' antara pasangan.
Hewan dewasa bisa mengeluarkan suara menggeram dan membusungkan leher ketika terancam. Ini barangkali menunjukkan Mimikri dari Ular anang yang tersebar di wilayah yang sama. Kemiripan ini malah sering menjadi senjata makan tuan di daerah pemukiman manusia, dimana hewan tidak berbahaya yang sangat berjasa karena memangsa hama tikus ini dibunuh karena dikira ular anang atau Ular sendok yang berbahaya.

8. Bandotan Tutul
Bandotan tutul (Xenochrophis piscator) adalah sejenis Ular tidak berbisa yang umum ditemukan di Asia. Ular ini biasanya ditemukan disekitar danau air tawar atau sungai. Mangsa hewan ini kebanyakan ikan dan kodok.

Deskripsi
Mata hewan ini relatif kecil, dan hewan dewasa memiliki mata yang jaraknya pendek terhadap lubang hidung. Sisik cotoknya tampak jika dilihat dari atas.
Sebuah kasus langka dimana hewan ini melepaskan bagian tubuhnya sendiri dilaporkan dari Vietnam.

Sebaran Geografis
Terdapat dua upajenis dari hewan ini yang tersebar di wilayah yang berbeda, yaitu:
  • X. p. melanzostus, tersebar di India (Kepulauan Andaman dan Nikobar), Indonesia (Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi) dan Malaysia Barat.
  • X. p. piscator (Schneider, 1799), tersebsar di Bangladesh, Bhutan, India, Myanmar, Pakistan, China (termasuk Hainan), Sri Lanka, Taiwan, dan Thailand.

Senin, 12 Juli 2010

ES : BENTUK PADAT DARI AIR

    Es adalah bentuk padat (solid) dari air. Es terjadi saat air membeku pada suhu di bawah 0o C. Di alam, es terdapat dalam bentuk salju, hujan es, dan gletseir. Di rumha, kita dapat membuat es dengan cara membekukan air di dalam lemari pendingin (kulkas). Es tidak berwarna dan sangat jernih. Bentuk kristal es alami adalah heksagonal (segi enam). Bentuk ini dapat diamati pada butiran salju atau air yang membeku.
    Es banyak dimanfaatkan manusia. Es dapat digunakan untuk mendinginkan bahan makanan seperti daging, sayuran, dan buah agar tidak cepat membusuk. Es juga dapat dimanfaatkan untuk menghentikan pendarahan dan mengurangi pembengkakan. Esdapat dijadikan bagian suatu makanan seperti es krim dan es serut. Bahkan es dapat dijadikan wahana olahraga seperti hoki es dan seluncur es (Ice skating).

Hujan Salju

Massa Jenis Es
    Es alami berbentuk kristal solid dan merupakan mineral yang mengandung hidrogen oksida. Es berasal dari air yang membeku. Saat membeku, air memuai. Air merupakan satu-satunya substansi non logam yang memuai. Air merupakan satu-satunya substansi non logam yang memuai saat membeku. Karena pemuaian ini, massa jenis es menjadi lebih kecil daripada air. Es memiliki massa jenis 0,9167 g/cm3 pada suhu 0o C, sedangkan air memiliki massa jenis 0,9998 g/cm3 pada temperatur yang sama. Massa jenis air akan berkurang pada saat temperatur menurun menjadi 0o C, kemudian molekul-molekul air ini akan menjadi es (kristal heksagonal). Karena perbedaan massa itulah es dapat mengapung di air.
Es batu
Es Kering
    Es Kering (dry ice) adalah istilah untuk karbon dioksida padat. Es kering merupakan pendingin yang baik dan sering digunakan untuk mendinginkan makanan pada saat diangkut dalam jarak jauh. Es Kering lebih baik dari es karena lebih dingin dan lebih padat. Es kering tidak cepat menguap karena diselubungi gas karbon dioksida yang berfungsi sebagai penyekat panas. Es kering juga dimanfaatkan untuk membuat minuman dingin berkarbonat.

Es Kering
Salju
    Salju terjadi jika temperatur udara di lapisan atmosfer sangat dingin. Saat hujan, partikel-partikel air yang jatuh dari awan bersentuhan dengan udara dan partikel lain. Ada partikel tertentu yang berfungsi mempercepat fase pembekuan dan menjadi perekat antar-uap air, sehingga air hujan dengan cepat menjadi kristal es. Jika temperatur udara tidak melelehkan kristal es tersebut, kristal-kristal es jatuh ke tanah. Inilah yang disebut dengan salju. Proses turunnya hujan sebagian besar selalu dimulai dengan salju, tapi kemudian salju itu mencair saat melintasi udara yang panas. Jika temperatur sangat rendah, kristal-kristal es itu dapat membentuk bola-bola es kecil dan terjadilah hujan es.

Butiran Salju
Zaman Es
    Zaman es adalah periode sebagian besar permukaan bumi tertutupi lapisan es. Zaman es terjadi beberapa kali jutaan tahun yang lalu. Zaman es pertama kali terjadi sekitar 1,8 milyar tahun lalu (masa prakambrium). Zaman es kedua terjadi pada 600 juta tahun lalu (masa krambium), dan terakhir terjadi pada 1,8 juta tahun lalu (masa Pleistosen).
    Zaman es sangat berpengaruh terhadap iklim bumi dan naik turunnya permukaan air laut. Pada setiap zaman es terjadi mekanisme pergantian pola iklim di bumi, yaitu periode glasial dan interglasial.Periode glasial terjadi saat bumi beriklim dingin dan es terbentuk, sedangkan periode interglasial terjadi saat bumi beriklim hangat dan es mencair. Kedua periode ini selalu terjadi bergantian dan berulang secara tetap. Periode interglasial terakhir terjadi pada sekitar 20.000 tahun yang lalu, dan diperkirakan bahwa periode glasial akan terulang kembali sekitar 20.000 tahun lagi.

Hujan Es

Sumber : Ensiklopedia Umum Untuk Pelajar

Selasa, 06 Juli 2010

RASI BINTANG DI ALAM SEMESTA

    Rasi bintang adalah pengelompokkan bintang-bintang di langit yang terlihat pada wilayah tertentu di malam hari dalam bentuk konfigurasi imajiner atau khayal. Rasi bintang juga biasa disebut dengan istilah konstelasi. International Astronomical Union (Persatuan Astronomi Internasional), lembaga berwenang dalam memberi nama obyek-obyek langit, secara resmi mengakui 88 rasi bintang yang terdiri atas 12 zodiak, 28 rasi bintang di belahan utara dan 48 rasi bintang di belahan selatan.
    Bangsa Yunani kuno telah sejak lama mengamati adanya kelompok-kelompok bintang di langit bagian utara. Mereka kemudian memberi nama kelompok-kelompok bintang ini dengan nama-nama hewan atau karakter mitologi, contohnya rasi bintang leo yang berarti singa, Pisces berarti ikan dan Taurus berarti banteng. Adapun rasi bintang Andromeda, Cassiopaia, Orion, dan Persaus berasal dari nama-nama tokoh-tokoh heroik yang ada dalam mitologi yunani.
Rasi Bintang Taurus Dan Orion
    Untuk mengelompokkan bintang-bintang kedalam satu rasi, bintang-bintang itu diproyeksikan terlebih dahulu pada bola langit dan kemudian dikelompokkan, sehingga anggota-anggota sebuah rasi bintang sebenarnya tidak selalu berada berdekatan dan dapat berjauhan. Karena itu, tidak ada hubungan fisis antara bintang-bintang dalam sebuah rasi bintang.
    Beberapa rasi bintang hanya dapat dilihat pada musim-musim tertentu karena adanya pergerakan bumi mengelilingi matahari. Bagian langit yang terlihat pada malam hari di tempat-tempat tertentu secara perlahan berubah bersamaan dengan pergerakan bumi tersebut. Para pengamat yang berada di tempat yang berbeda juga melihat bagian yang berbeda di langit. Seorang pengamat bintang di Khatulistiwa, misalnya dapat melihat seluruh rasi bintang sepanjang tahun, tetapi pengamat yang berada di kutub utara atau kutub selatan hanya dapat melihat bagian tertentu dari rasi bintang.
 
Ursa Mayor
    Salah satu rasi bintang yang terkenal adalah Ursa Mayor, rasi bintang yang terletak di belahan langit utara. Rasi bintang ini juga disebut dengan rasi bintang Beruang besar (Great Bear). Rasi bintang ini biasa dipakai sebagai petunjuk arah utara. Rasi bintang Ursa Mayor berperan penting dalam sejarah studi mengenai bintang ganda (bintang biner) yaitu sepasang bintang yang letaknya berdekatan dan saling mengorbit satu sama lain. Di rasi inilah pertama kali ditemukan bintang ganda pertama. Salah satu bintang dalam rasi ini, W Ursae Majoris, merupakan bintang ganda dengan ciri khusus. Kedua bintang dalam sistem ini berada sangat berdekatan sehingga gaya gravitasinya diantaranya mempengaruhi bentuk kedua bintang tersebut dan permukaan mereka saling menyentuh. Kemudian diketahui bahwa ternyata banyak bintang ganda dengan ciri seperti ini di tempat lain, bukan hanya di rasi Ursa Mayor. Bintang ganda seperti ini lalu dinamakan bintang ganda jenis W. Ursae Majoris.
Ursa Major

Ursa Minor
    Adapun Ursa Minor (beruang kecil) merupakan rasi yang juga terletak di belahan langit utara. Bintang paling terang di rasi ini adalah Polaris, yang juga disebut bintang kutub. Polaris merupakan sebuah bintang maha raksasa dengan diameter berukuran 120 kali lebih besar daripada matahari dan cahayanya 10.000 kali lebih terang daripada matahari. Jarak polaris dari matahari adalah sekitar 470 tahun cahaya.
Ursa Minor

Kisah Ursa Major dan Ursa Minor
    Menurut mitologi yunani, Ursa Major merupakan jelmaan dari Callisto, seorang dewi dalam mitologi yunani, dan Ursa Minor merupakan jelmaan dari Arcas, anak Callisto. Dikisahkan bahwa Zeus jatuh cinta kepada Callisto, sehingga Hera (istri Zeus) marah. Hera lalu mengubah Callisto menjadi beruang. Karena tidak mengetahui bahwa Callisto telah diubah menjadi beruang, Arcas mencoba membunuh beruang itu. Untuk mencegah hal tersebut, Zeus lalu mengubah Arcas menjadi beruang. Kemudian untuk mengamankan mereka Zeus memegang ekor kedua beruang itu dan melemparkannya ke langit.
Polaris