"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)
Tampilkan postingan dengan label SERANGGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SERANGGA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Mei 2017

KECOA : SERANGGA KOTOR PEMBAWA PENYAKIT

   
    Kecoa (Lipas) nama sekelompok hewan bangsa Dictyoptera (serangga sayap jaring) yang terdapat di tempat yang kotor di dalam rumah, seperti kamar mandi, dapur dan saluran air. Meskipun mempunyai sayap, hanya dalam keadaan tertentu kecoa terbang, terutama apabila cuaca panas. Serangga ini mempunyai tubuh yang sangat lunak, lentur dan pipih sehingga mudah bersembunyi di celah yang sempit.

 Koloni Kecoa
    Sayap depan kecoa sangat tipis, berfungsi untuk melindungi sayap belakangnya yang halus dan dapat dilipat seperti kipas. Kecoa lebih banyak menggunakan kaki untuk pindah tempat dan berlari cepat. Ada sekitar 3.500 spesies kecoa, beberapa diantaranya kecoa amerika (Periplaneta americana), kecoa jerman (Blattella germanica), kecoa lemari (Supella supellectillum), kecoa kayu (Parcoblatta pennsylvanica), dan kecoa timur (Blatta orientalis).
 
Fosil hidup Kecoa berumur 49 juta tahun
Hewan Purba
    Kecoa termasuk binatang purba, karena sudah hidup sejak zaman Karbon (350-270 juta tahun lalu). Kecoa memiliki rahang untuk menggigit dan mengunyah, tungkai yang cenderung serupa, dan sepasang antena di kepala sebagai alat bantu penciuman. Bagian depan tubuh hingga kepalanya dilindungi lempeng lebar mirip perisai.
Ootheca
Ootheca
    Telur kecoa dilabur getah dari kelenjar khusus pada saat dikeluarkan. Telur kemudian mengeras menjadi struktur serupa pundi-pundi (ootheca). Struktur ini melindungi telur dari penguapan dan kekeringan. Masing-masing spesies kecoa memiliki jumlah telur tertentu. Jumlah telur kecoa amerika (Periplaneta americana) berjumlah sekitar 20 butir, terdiri dua deret masing-masing 10 butir pada setiap pundi. Pada kecoa timur (Blatta orientalis) terdapat sekitar 16 telur dalam dua deret. Periplaneta americana dan Blatta orientalis segera membuang ootheca setelah selesai terbentuk. Adapun betina spesies kecoa jerman (Blatella germanica),membawa oothecanya kemana-mana dan mengeluarkannya dari balik perutnya sampai telurnya menetas.
    Beberapa spesies kecoa lain yang menghasilkan ootheca sangat tipis dengan jumlah telur yang tidak layak, akan menarik kembali ootheca ke dalam tubuh dan disimpan dalam suatu bilik khusus yang disebut kasang telur. Telur berkembang dan terlindung di dalam tubuh betina. Pada sejumlah spesies, telur menyerap air dari induk. Pada kecoa spesies Diploptera telur mendapat pangan dari induknya suatu bentuk dari viviparitas yang janggal.
Metamorfosis Kecoa

Perkembangan
    Anak kecoa yang keluar dari tetasan meloloskan diri dari ootheca ketika bungkus pecah. Anak kecoa tampak seperti induk dalam bentuk kecil, hanya tanpa sayap. Jumlah tahap perkembangan kecoa beragam, tetapi pada periplaneta americana dan Blatta orientalis secara normal ada 10 sampai dengan 12 tahap. Pada setiap pergantian kulit, kecoa tumbuh semakin besar hingga tahap hewan dewasa. Walaupun induknya sudah mati, ootheca tetap terlindungi dalam keadaan utuh. Kecoa muda dapat muncul dari ootheca beberapa saat setelah induknya mati.
Kecoa, Serangga pembawa penyakit

Serangga Pembawa Penyakit
    Kecoa dapat menularkan penyakit, sebab didalam tubuhnya terdapat telur cacing, protozoa, virus dan jamur patogen. Oleh karena itu untuk menghindari penularan penyakit yang berasal dari kecoa, kebersihan lingkungan harus dijaga. Untuk mencegah kecoa, setiap rumah biasanya dipasang saringan penutup lubang saluran air. Adapun insektisida paling efektif yang digunakan untuk membunuh kecoa adalah obat-obatan yang mengandung gamma BHC atau chlordane.

Sumber : Ensiklopedia Umum Untuk Pelajar dan Pustaka Alam Life Serangga

Sabtu, 11 Februari 2017

SERANGGA : SPESIES HEWAN TERBANYAK DI MUKA BUMI

    Serangga merupakan golongan hewan yang paling sering dijumpai oleh manusia. Anggota filum Arthropoda dari kelas Insecta ini mempunyai sekitar 750.000 spesies di alam. Serangga mempunyai banyak keistimewaan dibandingkan dengan hewan lain, diantaranya tubuh serangga relatif kecil namun memiliki kemampuan terbang, daya adaptasi yang besar terhadap lingkungan, dan siklus hidup yang pendek.

 Kupu-Kupu, Serangga yang paling indah
    Tubuh serangga umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala (caput) dada (toraks) dan perut (abdomen). Kepala serangga dilengkapi dengan antena, mata majemuk dan mulut. Antena memiliki indra pembau berupa kemoreseptor. Mata majemuk tersusun dari ommatidia dan mata tunggal yang disebut ocellus. Adapun bagian mulut dilengkapi dengan indra pengecap. Bagian dada mempunyai tiga pasang kaki yang beruas-ruas. Selain itu, dada serangga dilengkapi dengan sepasang atau dua pasang sayap, atau bahkan tidak mempunyai sayap. Perut serangga terbagi atas 10-11 segmen. Bagian ini merupakan tempat bagi organ pencernaan, reproduksi, respirasi, sekresi dan jantung.

 Capung, Serangga yang Metamorfosisnya tiadak sempurna
 Ganglion
    Selain mulut, sistem pencernaan serangga juga didukung oleh kelenjar ludah. Jantung hewan ini memiliki aorta, tetapi tidak memiliki kapiler dan vena. Respirasi serangga berlangsung dengan sistem trakea yang terdiri dari saluran-saluran halus. Alat ekskresi hewan ini tersusun dalam badan Malpighi. Adapun sistem sarafnya terdiri atas gunglion atau serabut-serabut saraf.

Metamorfosis Serangga
    Dalam proses pertumbuhannya, serangga mengalami perubahan bentuk yang dikenal sebagai metamorfosis. Perubahan ini dibedakan menjadi metamorfosis sempurna dan metamorfosis tidak sempurna. Metamorfosis sempurna dialami oleh beberapa serangga seperti kupu-kupu, ngengat, kumbang, lebah dan lalat. Kelompok serangga tersebut melewati empat tahap perubahan bentuk, yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Beberapa serangga seperti belalang, capung, dan jangkrik mengalami metamorfosis tidak sempurna. Setelah menetas, kelompok serangga ini akan muncul menjadi nimfa (serangga muda). Nimfa pada serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna memiliki struktur tubuh yang hampir sama dengan serangga dewasa.

Metamorfosis pada serangga
Telur Serangga
    Organ reproduksi serangga terpisah antara jantan dan betina. Proses pembuahan berlangsung di dalam tubuh betina. Pada umumnya, serangga berkembang biak dengan cara bertelur. Telur serangga dilindungi oleh cangkang yang keras. Serangga umumnya bertelur dalam jumlah yang banyak, misalnya lalat betina yang menghasilkan lebih dari 1.000 telur dalam satu periode. Sebelum bereproduksi,serangga mencari pasangannya untuk kawin. Mereka umumnya berusaha untuk menarik perhatian pasangannya dengan berbagai cara. Jantan pada lalat sehari (Ephemeroptera) menarik perhatian betina dengan cara menari secara berkelompok. Adapun nyamuk betina mengeluarkan suara sambil terbang untuk memikat nyamuk jantan.

Kamuflase
    Dalam hidupnya, serangga perlu berkomunikasi dengan sesamanya terutama untuk mencari makan, mencari pasangan, dan mempertahankan diri. Komunikasi tersebut dilakukan melalui beberapa cara, antara lain pengeluaran senyawa kimia (misalnya feromon), stridulasi (pengeluaran suara), dan gerakan tubuh. Sebagai contoh, lebah madu yang melakukan tarian khusus untuk menunjukkan keberadaan dari sumber makanan.

Belalang Daun melakukan kamuflase
    Serangga umumnya melarikan diri pada saat terancam bahaya. Akan tetapi beberapa serangga memiliki kemampuan khusus untuk mempertahankan dirinya. Kecoa dan kutu busuk dapat mengeluarkan senyawa kimia yang berbau busuk untuk mengusir musuhnya. Lebah memiliki sengat yang dapat melukai atau mematikan predator (pemangsa). Bentuk pertahanan lain yang dijumpai pada serangga adalah kamuflase yaitu kemampuan untuk mengelabui predatornya dengan cara berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh, belalang daun (Phasmidae) sering menyamar sebagai daun karena tubuhnya mirip dengan daun, sedangkan belalang sembah (Mantidae) sering menyamar sebagai ranting pohon karena tubuhnya mirip dengan ranting.

Kumbang Kepik adalah predator alami hama tanaman
Serangga Lak
    Serangga dapat merugikan atau menguntungkan bagi manusia. Meskipun jenis serangga yang merugikan berjumlah sedikit, namun dampak yang ditimbulkan cukup besar. Serangga seperti, nyamuk, lalat, kutu busuk sering menjadi vektor atau perantara penyakit. Jenis serangga seperti belalang dan kumbang penggerek kapas menjadi hama yang mersak tanaman pertanian.
    Serangga yang menguntungkan bagi manusia umumnya berperan dalam proses polinasi atau penyerbukan tanaman. Beberapa serangga seperti lebah madu dan ulat sutera menghasilkan produk yang bernilai ekonomis tinggi. Serangga Lak (Laccifer lacca) dapat menghasilkan lak (shellac), yaitu senyawa resin atau damar yang dimanfaatkan dalam industri kimia sebagai bahan pembuat mika dan asbes. Selain itu, serangga juga dimanfaatkan sebagai predator alami yang memangsa hama tanaman, misalnya kumbang kepik (ladybird beetles) dari suku Coccinellidae digunakan untuk memangsa serangga sisik Icerya purchasi.

Koloni Rayap tanah
Rayap
    Rayap adalah kelompok serangga sosial dari ordo Isoptera. Meskipun sering menimbulkan kerugian karena merusak benda-benda dari kayu, rayap juga bermanfaat sebagai organisme pengurai. Koloni rayap terdiri dari rayap jantan dan betina, rayap tentara serta rayap pekerja. Berbeda dari rayap jantan dan betina yang bersifat fertil, rayap tentara dan pekerja tidak dapat berkembang biak karena bersifat steril. Selain untuk menarik pasangannya, hormon feromon yang disekresikan rayap juga digunakan untuk berkomunikasi dengan cara meninggalkan jejak.

Sumber : Ensiklopedi Umum Untuk Pelajar dan Pustaka alam Life Serangga 

Jumat, 30 Desember 2016

LIPAN : SERANGGA BERKAKI BANYAK

    Lipan adalah nama suku Chilopoda dari kelas Myriapoda (kaki seribu) anggota filum Arthopoda (kaki beruas). Tubuh hewan ini memanjang dan beruas-ruas. Gigitannya berbisa dan sebagian spesies berbahaya bagi manusia. Adapun keluwing, yang disebut juga lelue atau titinggi dan sering di salah artikan dengan lipan, merupakan nama suku Diplopoda.
    Tubuh lipan terbagi dalam segmen teratur yang jumlahnya bervariasi dari 12-100 ruas. Kepalanya bercangkang datar dengan sepasang sungut yang juga beruas. Mandibula (rahang bawah) lipan kekar dan bergigi, biasanya diserati palpa. Tiap ruas tubuh diikuti sepasang kaki dengan ruas kokoh dan meruncing berbentuk cakar, ke bagian inilah kelenjar bisa bermuara. Bagian ini digunakan untuk menangkap dan membunuh mangsanya. Dua kaki di setiap sisi ruas biasanya bersendi tujuh. Otak lipan relatif besar. Beberapa famili lipan memiliki mata majemuk, sedangkan famili lain mata sederhana atau tanpa mata sama sekali. Lipan bersungut peraba dan pada bagian tertentu kulitnya merupakan alat sensor. Jantungnya berbilik-bilik. Trakea (tabung udara) di kedua sisi tubuhnya saling berhubungan.

Lipan
Karnivora
    Lipan aktif pada malam hari dan tinggal di bawah bebatuan pada siang hari. Semua lipan merupakan hewan karnivora. Mereka berburu mangsa pada malam hari, berupa cacing, serangga, keong, kadal, dan bunglon. Lipan berkembang biak dengan bertelur. Telur tersebut dierami oleh lipan betina.
Kelabang terbesar
Keluwing
    Keluwing sering disebut juga kaki seribu. Kaki seribu (Myriapoda) digunakan sebagai nama kelasnya, sedangkan keluwing untuk nama suku Diplopoda. Keluwing beranggotakan sekitar 1.000 hewan arthropoda. Tubuhnya beruas-ruas berbentuk silinder dan kakinya banyak. Hewan ini terdapat di seluruh dunia. Panjangnya antara 0,2 - 23 cm. Spesies terbesar keluwing terdapat di Amerika Utara yang bisa mencapai 10 cm. Tubuhnya bergaris tengah sekita 10 mm, terdiri atas 30 ruas (masing-masing ruas berkaki 2 pasang), dan berwarna kehitaman dengan kaki merah atau kuning. Karena jumlah kakinya banyak, hewan ini bergerak lamban dengan gerakan kaki bergelombang di bawah perutnya.
Keluwing
Menggulung Diri
    Keluwing memiliki lapisan pelindung kalsium keras yang mengandung kitin, dua mata sederhana, sepasang mandibula, dua sungut, dan kelenjar busuk yang dapat mengusir predatornya. Strategi pertahanan lain adalah menggulung diri menjadi bulat spiral ketika ada ancaman. Hewan ini aktif di tempat gelap serta lembab. Keluwing makan sisa-sisa tumbuhan yang membusuk, terkadang juga tumbuhan hidup, seperti tanaman budidaya. Tetapi di lain pihak keluwing dapat menggemburkan dan menyuburkan tanah. Usia hewan ini bisa mencapai 1-7 tahun. Keluwing berkembangbiak di dalam liang dengan cara bertelur. Setelah bertelur keluwing menutup liangnya dan meninggalkannya.

Kamis, 29 Desember 2016

KALAJENGKING : SERANGGA YANG MEMATIKAN

    Kalajengking (Scorionida) adalah nama bangsa kelompok hewan berkaki ruas (Arthropoda) yang memiliki ekor sangat beracun. Hewan ini sudah hidup pada zaman Silur (300 juta tahun lalu). Struktur hewan kelas Arachnida pada saat ini tidak jauh berbeda dari struktur fosilnya pada masa silam. Sengat pada ekor kalajengking merupakan alat pertahanan yang diperkuat dengan capit besar pada kedua sisi mulutnya. Capit digunakan untuk menangkap mangsa yang terkadang dilumpuhkan terlebih dahulu dengan sengat.
 Kalajengking
    Sengatan kalajengking eropa selatan hanya menimbulkan nyeri ringan. Sengatan kalajengking Pandinus imperator dari Afrika dapat melumpuhkan manusia selama 2-3 hari, tetapi tidak mematikan. Kalajengking kecil-cokelat yang termasuk suku Buthidae memiliki sengatan yang mematikan karena bisanya mengandung neurotoksin yang dapat melumpuhkan sistem saraf. Spesies kalajengking paling mematikan ialah Buthus occitanus dari Eropa Selatan, Androctonus australis dari Afrika Utara, Centruroides sculpturatus dari Amerika Utara, dan anggota marga Tityus dari Brazilia.

 Kalajengking Centruroides sculpturatus dari Amerika Utara

 Habitat Kalajengking
    Kalajengking hidup soliter. Kalajengking pada umumnya hidup di wilayah panas dan kering, seperti gurun di Afrika Utara, Timur Tengah, Asia lainnya, Australia, dan Amerika. Namun beberapa spesies, seperti Pandinus imperator (salah satu spesies terbesar), hidup di habitat lembab bersemak dan hutan Afrika Barat. Anggota marga Euscorpius hidup di daerah iklim sedang di sekitar laut Tengah. Suku terbesar kalajengking ialah Buthhidae yang ada di semua benua kecuali kutub. Spesies Isometrus maculatus tersebar luas di seluruh daerah tropis.

Kalajengking Buthus occitanus dari Eropa Selatan
Pektin
    Warna kalajengking cukup beragam, cokelat, hijau, biru atau hitam. Kalajengking memiliki mata sederhana yang tidak bisa membentuk gambar dengan jelas. Penglihatan bukan merupakan indra terpenting, karena kalajengking yang aktif pada senja dan malam hari ini lebih mengandalkan bulu peraba. Bulu ini dapat menangkap getaran dari gerakan mangsanya. Kalajengking juga memiliki alat sensor unik (pektin) yang berbentuk sisir di sisi bawah perutnya. Ujung pektin ini seakan-akan menyapu tanah untuk mendeteksi getaran. Pektin juga penting terutama selama musim kawin untuk mendeteksi pasangannya. Kebiasaan kawin kalajengking cukup unik, mereka melakukan semacam tari percumbuaan. Perilaku ini berfungsi untuk mengatur posisi kalajengking betina agar dapat menyedot sperma jantan. Sambil berangkulan pasangan itu bergerak maju mundur selama beberapa jam. Jantan mengeluarkan sperma dari spermatoforanya. Sperma tersebut menyentuh paktin di perut betina, lalu lubang kelaminnya terbuka untuk menerima sperma.

Kalajengking Androctonus australis yang mematikan
    Pada kalajengking spesies Euscorpius carpathicus, spermatofora jantan dilengkapi dengan alat pelontar yang dapat melontarkan sperma ke alat kelamin betina. Telur berkembang di rongga pengeram tubuh betina menjadi embrio. Setiap embrio berhubungan dengan usus induknya untuk memperoleh makanan. Sesudah lahir, anak kalajengking memanjat punggung induknya beberapa hari atau minggu dengan makan dari persediaan kuning telur embrioniknya. Setelah kulit pertama luruh, mereka meninggalkan induknya dan menjadi dewasa setelah melalui 3-6 kali luruh kulit dalam kurun waktu sekitar setahun.

Kalajengking dengan sengat yang beracun
Mangsa dan Predator Kalajengking
    Makanan kalajengking terdiri atas artropoda lain, seperti belalang, jangkrik, ngengat, lalat, semut, rayap, kumbang, dan labah-labah. Selain itu, vertebrata kecil seperti kadal dan tikus juga menjadi makanannya. Hewan ini menangkap mangsa dengan capit, menyengatnya, lalu mendekatkannya ke mulut dan mencabik-cabiknya. Cairan tubuh mangsa diisap ke saluran pencernaannya. Kalajengking makan dengan lamban dan mampu bertahan hidup tanpa makan selama beberapa bulan bahkan tahun. Lipan, ular, burung, dan kera merupakan predator bagi kalajengking. Sebelum menyantapnya, kera terlebih dahulu mematahkan ujung ekor kalajengking untuk menghilangkan racunnya. Kalajengking bisa pula menjadi mangsa jenisnya sendiri (kanibal). Hal ini terkadang dilakukan oleh kalajengking betina terhadap jantan setelah melakukan perkawinan.

Minggu, 25 Desember 2016

LALAT : SERANGGA PEMBAWA PENYAKIT

    
    Menurut taksonomi, lalat merupakan istilah umum yang digunakan untuk menyebut kelompok serangga bersayap diptera, termasuk nyamuk. Akan tetapi, dalam bahasa sehari-hari, istilah lalat dibedakan dari nyamuk. Sekitar 85.000 spesies lalat tersebar di seluruh dunia, mulai dari daerah subarktik sampai daerah tropis dan dari lautan sampai pegunungan. Meskipun sebagian besar lalat dapat menyebabkan penyakit dan merusak tanaman pertanian, namun hewan ini berperan dalam prose penyerbukan tanaman dan sebagai mangsa bagi beberapa hewan seperti katak, kadal dan burung.

 Lalat Hijau
     Salah satu ciri khas dari lalat adalh sepasang sayap belakang yang mengalami modifikasi menjadi halter (alat keseimbangan). Halter ini akan bergetar bersama dengan sayap depannya. Selain sebagai alat keseimbangan, halter juga berfungsi untuk menunjukkan perubahan arah pada saat terbang. Adapun sayap depannya tipis dan transparan dengan beberapa pembuluh darah. Mulut lalat biasanya membentuk proboscis atau alat pengisap.

Lalat Pasir
Panorpoid
    Lalat berkerabat dengan lalat kalajengking, pita pitu, kupu-kupu, ngengat dan pinjal. Semuanya termasuk kelompok panorpoid dan berasal dari nenek moyang yang berbiak pada lumut basah. Kupu dan ngengat berasal dari panorpoid yang menjadi hewan darat, sedangkan pita pitu menjadi serangga air.

Belatung,merupakan larva lalat
Daur Metamorfosis Lalat
    Daur metamorfosis lalat melalui empat tahap, yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Telur lalat bervariasi dalam bentuk dan ukuran menurut spesies. Dalam jumlah yang banyak, telur tersebut diletakkan pada beberapa medium seperti bangkai dan kotoran hewan serta air. Setelah menetas, telur akan tumbuh menjadi larva yang panjangnya sekitar 2 mm. Setelah beberapa hari, larva tersebut akan tumbuh dengan pesat sehingga panjangnya mencapai sekitar 12 mm. Larva lalat kemudian berubah menjadi pupa yang berwarna kecokelatan. Selama menjadi pupa, organ tubuh lalat mengalami perkembangan, terutama bagian sayapnya. Setelah menjadi dewas, lalat keluar dari pupa dan siap untuk terbang.

Lalat Tsetse
Lalat Tsetse
    Secara garis besar, lalat mencakup tiga sub famili, yaitu Nematocera (misalnya lalat hitam dan lalat pasir), Brachycera (misalnya lalat pitak, lalat serdadu, dan lalat penari), serta Cyclorrhapha (lalat buah, lalat rumah, dan lalat kibar). Beberapa kelompok lalat yang berfungsi sebagai pembawa penyakit antara lain lalat pasir (pembawa penyakit kulit), lalat rumah (pembawa penyakit saluran pencernaan dan penyakit kulit), dan lalat Tsetse (pembawa penyakit tripanosomiasis atau penyakit tidur). Lalat Tsetse dari genus Glossina merupakan vektor atau perantara protozoa parasit Trypanosoma yang menyerang hewan dan manusia. Adapun beberapa kelompok lalat yang bertindak sebagai hama tanaman dan ternak antara lain lalat bawang, lalat frit, lalat domba dan lalat dengung.

LEBAH : SERANGGA PENGHASIL MADU

   
    Dalam kehidupan sehari-hari, istilah lebah dan tawon sama-sama digunakan untuk menggambarkan serangga yang mempunyai sengat di bagian ujung perutnya. Meskipun demikian, lebah dan tawon mempunyai beberapa perbedaan sehingga diklasifikasikan dalam kelompok yang berbeda. Seperti semut, lebah dan tawon disebut sebagai serangga sosial karena hidup dalam suatu koloni.
 Lebah madu
     Perbedaan utama dari lebah dan tawon terletak pada makanan dan struktur tubuhnya. Tawon memangsa labah-labah atau serangga lainnya, sedangkan lebah memakan campuran serbuk sari dan madu. Selain itu, rambut pada tubuh lebah bercabang sehingga berbentuk seperti bulu-bulu halus, sedangkan rambut pada tubuh tawon tidak bercabang. Tawon digolongkan dalam sub ordo Apocrita, sedangkan lebah digolongkan dalam superfamilia Apoidea.
Tawon
Venom
    Tawon dan lebah memiliki tiga pasang kaki yang ditutupi oleh rambut. Permukaan kulitnya dilapisi oleh kitin (zat tanduk). Pada umumnya lebah dan tawon dilengkapi dengan dua pasang sayap yang kuat dan tipis. Tawon dan lebah betina mempunyai ovipositor (alat peletak telur) yang berkembang menjadi alat sengat. Alat ini digunakan untuk menginjeksikan venom atau bisa yang mengandung histamin (histamine). Sengatan lebah dan tawon dapat menyebabkan bengkak pada anggota badan atau bahkan kematian.

Produksi lebah madu
Lebah
    Lebah membentuk koloni yang terdiri dari seekor lebah ratu, beberapa lebah jantan, dan ratusan atau ribuan lebah pekerja. Tugas utama lebah ratu adalah bertelur, sedangkan tugas lebah pejantan adalah mengawini lebah ratu. Lebah pekerja merupakan lebah betina yang mandul. Lebah ini bertugas untuk mencari makan dan membangun sarang. Sarang lebah dibangun dari bahan lilin (wax) yang dikeluarkan oleh bagian bawah perutnya. Sarang tersebut tersusun atas ribuan sel heksagonal yang tersusun secara vertikal. Sarang lebah digunakan sebagai tempat penyimpanan telur, serbuk sari bunga, dan madu. Bahan lilin tersebut dapat dimanfaatkan untuk bahan pembuatan lipstik.

Koloni Tawon
 Tawon
    Tawon hidup secara berkelompok atau soliter (menyendiri atau berpasangan). Tawon hornet dan tawon pembuat kertas dari suku Vespidae merupakan contoh tawon yang hidup secara berkelompok. Keduanya membangun sarang yang terbuat dari bahan yang mirip dengan kertas. Adapun tawon pemburu dari suku Popilidae merupakan contoh tawon yang hidup secara soliter. Tawon ini membuat sarang di dalam kayu, di pasir, atau di lumpur. Warna kuning dan hitam pada tawon memperingatkan hewan lain akan sengatannya yang berbisa.
Sarang lebah hutan
Royal Jelly
    Setelah berumur 3 hari, larva lebah diberi makan dengan royal jelly, yaitu senyawa yang dikeluarkan dari kelenjar ludah lebah pekerja. Setelah itu, calon lebah pekerja makan campuran madu dan serbuk sari selama dua hari, sedangkan calon lebah ratu terus makan royal jelly sampai dewasa.

 Madu asli
Madu
    Madu merupakan cairan gula kental yang dihasilkan oleh lebah. Cairan ini berasal dari nektar (cairan madu bunga) yang di ubah menjadi madu oleh lebah pekerja. Madu berfungsi sebagai sumber makanan bagi lebah. Selain itu, madu juga menjadi sumber makanan bagi beberapa hewan seperti beruang madu dan teledu madu. Madu lebah mengandung beberapa senyawa seperti fruktosa, glukosa, dan air. Contoh lebah yang menghasilkan madu antara lain Apis indica dan Apis mellifera.

Sabtu, 26 November 2016

BELALANG : SERANGGA PENGHUNI RERUMPUTAN

     Belalang adalah nama umum dari beberapa serangga yang mencakup ordo Orthoptera (misalnya walang dan jangkrik), Dictyoptera (misalnya belalang sembah), dan Phasmida (belalang daun). Sebagian besar anggota belalang memiliki dua pasang sayap dan mulut tipe pengunyah.
 Belalang Sembah
    Belalang hidup di semua tempat, kecuali di daerah yang sangat dingin. Bagian belakang kepalanya memiliki struktur berbentuk pelana atau pronotum yang berfungsi untuk melindungi dada bagian depan. Belalang banyak melakukan aktivitas pada siang hari. Makanannya berupa rumput dan dedaunan. Karena gemar memakan tumbuh-tumbuhan, belalang sering merusak tanaman pertanian dan menyebabkan gagal panen.
Belalang Daun

Anatomi
    Belalang merupakan penerbang yang aktif. Kelompok serangga ini umumnya memiliki dua pasang sayap. Sepasang sayap luar berfungsi untuk melindungi sayap dalamnya yang lunak dan berbentuk kipas. Pada saat melompat, sayap belalang akan terbuka. Belalang mempunyai tungkai belakang yang panjang dan kuat. Ketika bersiap-siap untuk melompat, tungkai belakang belalang akan meregang, sedangkan badannya langsung melejit kedepan dengan gerakan tendangan. Tungkai belalang dilengkapi dengan duri-duri. Duri ini berfungsi sebagai senjata untuk melukai mangsa atau lawannya.
Anatomi Belalang

Perkembangbiakkan
    Belalang betina meletakkan telurnya di dalam tanah atau di permukaan tumbuhan dengan alat yang disebut ovipositor. Telur akan terdorong ke luar ketika otot-otot perut belalang betina meregang. Telur tersebut kemudian menetas kembali menjadi larva yang disebut nimfa. Meskipun belum memiliki sayap, namun bentuk nimfa sudah menyerupai induknya. Nimfa belalang makan dengan rakus selama masa pergantian kulit. Setelah berganti kulit hingga enam kali, nimfa akan berubah menjadi belalang dewasa yang bersayap sempurna.

Walang
    Walang adalah nama umum yang digunakan untuk menyebut anggota suku Acrididae dan Tettigoniidae dari ordo Orthoptera. Kelompok belalang tropis ini hidup secara berkelompok. Setiap tahunnya walang bisa bereproduksi sebanyak tiga kali. Hal ini terjadi karena vegetasi hijau tumbuh sepanjang tahun di daerah tropis sehingga tumbuhan ini menjadi sumber pakan bagi walang. Walang biasanya bertelur pada suatu tempat dan kemudian terbang secara berkelompok ke daerah lain yang subur.
Walang hijau

Jangkrik
    Jangkrik adalah kelompok serangga yang berkerabat dekat dengan walang. Anggota suku Gryllidae ini dapat memproduksi bunyi yang khas. Meskipun beberapa kelompok belalang dapat menghasilkan bunyi yang serupa dengan jangkrik, namun keduanya mempunyai tehnik yang berbeda dalam mengeluarkan bunyi tersebut. Belalang akan menggesek-gesekan paha belakang dengan sayapnya untuk menghasilkan bunyi. Adapun bunyi jangkrik berasal dari gesekan tepi belakang sayap depan sebelah kiri dengan sederet gerigi pada sayap kanannya. Tidak semua belalang dan jangkrik dapat menghasilkan bunyi karena kemampuan ini hanya dimiliki oleh belalang dan jangkrik jantan saja. Bunyi khas tersebut merupakan salah satu cara pejantan untuk menarik perhatian betina. Berbeda dari anggota belalang pada umumnya, jangkrik lebih banyak melakukan aktivitasnya pada malam hari. Pada siang hari, hewan ini tinggal di dalam lubangnya. Pakan jangkrik tidak hanya berupa tumbuhan. Sebagai contoh, jangkrik semak gemar memakan dedaunan dan serangga-serangga kecil seperti kutu daun.
Jangkrik
Belalang Sembah
    Belalang sembah merupakan serangga anggota ordo Dictyoptera yang umumnya hidup di kawasan tropis. Nama belalang sembah berasal dari kebiasaan serangga ini ketika menunggu mangsa. Posisi tungkai depannya terangkat ke atas sehingga tampak seolah-olah sedang menyembah.
    Sebagai hewan karnivora, belalang sembah hidup dengan memangsa serangga lain. Dengan bantuan matanya yang tajam, belalang sembah dapat mendeteksi gerakan serangga lain yang ada di dekatnya. Belalang sembah juga dapat memakan sesamanya. Hal ini sering membuat perkawinan belalang sembah berakhir dengan kematian bagi belalang jantan karena dimangsa betina.
    Belalang sembah umumnya bertubuh panjang dan pipih. Banyak spesies belalang sembah yang bersayap, tetapi ada juga spesies yang tidak memiliki sayap. Berkat warna dan bentuk tubuhnya, belalang sembah memiliki kemampuan menyamar dengan baik. Beberapa spesies diantaranya mirip sekali dengan daun, sedangkan spesies yang lain tampak seperti tangkai tanaman. Kamuflase ini membuat keberadaan belalang sembah sulit dilacak predator, khususnya burung.
    Meskipun secara lahiriah tampak sangat berbeda, sebenarnya belalang sembah masih kerabat dengan kecoa. Seperti kecoa, belalang sembah juga menyimpan telur di dalam pundi-pundi (ootheca) yang dilekatkan pada tanaman. Masing-masing spesies menghasilkan pundi-pundi yang bentuknya khas. Umumnya terdapat sekitar 30-300 butir telur dalam setiap pundi. Telur-telur tersebut akan menetas 3-6 bulan kemudian.
Belalang Sembah
Serangga Ranting dan Belalang Daun
    Serangga ranting (stick insect) dan belalang daun (leaf insect) merupakan kelompok serangga yang diklasifikasikan ke dalam ordo Phasmida. Keduanya sering dijumpai di hutan-hutan tropis dan subtropis atau di daerah padang rumput. Pakan serangga ranting dan belalang daun berupa daun-daun, bunga atau kulit kayu.
    Panjang tubuh serangga ranting bervariasi. Species terkecil adalah Timema critinae yang panjangnya sekitar 11 mm. Adapun spesies terbesar adalah Phobaeticus kirbyi yang panjangnya sekitar 11 mm. Adapun spesies terbesar adalah Phobaeticus kirby yang panjangnya 300-550 mm. Belalang daun terbesar adalah Phyllium gigantium yang panjangnya mencapai 113 mm. Adapun belalang daun terkecil adalah Nanophyllium pygmaeum yang panjangnya 28 mm.
    Seperti namanya, serangga ranting memiliki bentuk tubuh yang panjang dan ramping dengan warna hijau atau cokelat sehingga mirip dengan ranting tanaman. Adapun belalang daun memiliki bentuk tubuh yang pipih dengan sayap terpampang lebar sehingga menyerupai daun. Bentuk tubuh tersebut sangat berguna untuk membaur dengan lingkungan di sekitarnya. Dengan penyamaran itu, Phasmida dapat terhindar dari para pemangsanya.
Serangga ranting

Perkembangbiakkan Phasmida
    Meskipun kelompok Phasmida umumnya berkembang biak secara seksual, namun serangga ini bisa bereproduksi secara Parthenogenesis. Jika tidak ada pejantan, serangga betina dapat menghasilkan telur fertil tanpa melalui proses pembuahan. Pada reproduksi seksual, pembuahan terjadi  melalui proses pertukaran spermatofor (kantung sperma) dari jantan ke betina.
    Berbeda dari belalang sembah, telur Phasmida tidak dilekatkan pada daun, melainkan dibiarkan terjatuh ke tanah. Telur tersebut memiliki struktur mirip topi pet di bagian atas, yang disebut operkulum. Telur phasmida biasanya akan dibawa oleh semut untuk dimakan. Akan tetapi semut hanya memakan bagian operkulum, sedangkan bagian telur yang lain dibiarkan menetas.
   Nimfa atau serangga muda memerlukan waktu sebulan sampai lebih dari setahun untuk menetas. Nimfa phasmida ini memiliki kemiripan bentuk dengan individu dewasa. Nimfa tersebut mengalami pergantian kulit sebanyak 6-7 kali. Selama fase nimfa berlangsung, anggota anggota tubuh phasmida yang hilang dapat ditumbuhkan kembali pada saat pergantian kulit.
Phasmida

Selasa, 22 November 2016

CAPUNG : SERANGGA BERSAYAP TIPIS TEMBUS PANDANG

    Capung adalah kelompok serangga dari sub ordo Anisoptera yang berekor panjang dan memiliki dua pasang sayap tipis tembus pandang. Seperti anggota ordo Odonata lainnya, mulut capung termasuk tipe penggigit dan pengunyah. Hewan ini dapat dijumpai hampir di setiap tempat yang berdekatan dengan perairan tawar, seperti kolam, danau dan sungai.
    Kelompok capung bersifat aerial atau menghabiskan sebagian besar hidupnya di udara. Meskipun demikian, hewan ini juga bersifat akuatik atau hidup di air, terutama pada stadium nimfa (larva). Capung dewasa gemar memangsa serangga kecil, seperti nyamuk, agas, dan ngengat. Capung yang berukuran lebih besar dapat memangsa lebah atau kupu-kupu.
Spesies Capung
    Kelompok capung terdiri dari 2.500 spesies yang memiliki bentuk, corak dan warna bervariasi, misalnya spesies dari genus Aesha, Gomphus, Somatochlora dan Anax. Sebagian besar spesies capung ditemukan di daerah tropis dan sub tropis, seperti di wilayah Amerika Selatan dan Amerika Utara. Wilayah Australia yang jumlah perairan tawarnya sedikit memiliki 302 spesies capung. Adapun di wilayah Indonesia yang banyak memiliki sungai dan danau, capung terdiri dari 757 spesies yang tersebar hampir di setiap pulau.

Mata Faset
    Ukuran tubuh capung berkisar dari 2 cm hingga 13,5 cm. Matanya yang berukuran besar merupakan mata majemuk atau mata faset yang terdiri dari 30.000 mata ommatidia. Mata capung memenuhi seluruh bagian kepala. Antenanya sangat kecil seperti rambut. Sayapnya yang berjumlah dua pasang berbentuk tipis dan memanjang. Sayap bagian belakang umumnya lebih besar daripada sayap bagian depan. Rangka sayapnya berselaput dan memiliki stigma (sel berpigmen). Toraks atau dada capung berukuran kecil dan kompak (menyatu). Abdomen atau bagian perutnya panjang dan langsing. Alat kelamin jantan dan betina terdapat pada bagian abdomennya. Kaki capung yang berjumlah enam buah ditutupi oleh duri-duri halus. Kaki tersebut hanya digunakan sebagai penangkap mangsa ketka terbang dan tidak digunakan untuk berjalan.

Hemimetabola
    Capung mampu terbang dengan kecepatan sekitar 80-90 km perjam. Individu jantan dan betina terbang secara bersama-sama dan kemudian melakukan kopulasi (kawin) di udara. Hewan ini menga-
lami hemimetabola ataumetaforsis tidak sempurna. Telut-telur capung akan diletakkan didalam jaringan tumbuhan, di atas tanah atau di air. Telur yang menetas akan membentuk nimfa atau larva yang bernuansi dan bersifat aquatik. Pada tahap ini organ-organ tubuh capung mulai terbentuk. Semua nimfa capung bersifat karnivora, bahkan kadang-kdang bersifat kanibal  atau memakan kawannya sendiri.
 Capung Biru
 Capung nektar
 Capung semak
Capung komik

Jumat, 04 November 2016

KUMBANG : SERANGGA DENGAN SAYAP BERWARNA-WARNI

    Kumbang merupakan serangga dari bangsa Coleoptera yang memiliki sayap luar yang keras dan sayap dalam yang berupa membram atau selaput. Golongan hewan ini terdiri dari sekitar 350.000 spesies. Kumbang dapat ditemukan di hampir semua ekosistem, kecuali di laut dan di padang salju. Tubuh kumbang terbagi menjadi tiga bagian yaitu kepala (caput), dada (thorax), dan perut (abdomen). Kutikula atau kulit kumbang dilindungi oleh kitin, yaitu lapisan keras yang terbuat dari bahan tanduk. Kepala kumbang dilengkapi dengan sepasang antena, mata dan mulut. Bagian dada tersusun atas tiga segmen yang masing-masing mempunyai sepasang kaki. Sayap luar yang disebut elytra, tertanam pada segmen pertama. Adapun sayap dalam terlindung oleh elytra yang keras. Sayap dalam ini berfungsi utuk terbang. Adapun bagian perut kumbang terletak dibawah dada. Perut kumbang berisi organ-organ pencernaan dan reproduksi.
Antena dan Setae
    Antena dan Setae merupakan organ sensoris pada kumbang. Antena digunakan untuk mendeteksi makanan dan feromon (zat kimia yang dilepaskan oleh hewan untuk menarik perhatian pasangan). Adapun Setae (bulu halus pada tubuh) mampu mendeteksi sentuhan, bunyi, bau, rasa dan kilatan cahaya.

Tempayak
     Selama hidupnya, kumbang mengalami metamorfosis sempurna yang terdiri dari empat fase, yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Kumbang betina yang telah dibuahi akan meletakkan telurnya di dekat sumber makanan. Setelah beberapa hari, telur menetas menjadi larva yang disebut tempayak. Pada tahap ini Tempayak mengalami proses pertumbuhan dan pergantian kulit. Setelah pertumbuhannya maksimal , kumbang memasuki fase pupa dengan membentuk kepompong. Fase pupa sering disebut fase istirahat karena kumbang seolah-olah tidak melakukan aktivitas. Meskipun demikian, beberapa tahap pembentukan organ tubuh terjadi pada fase ini. Fase dewasa ditandai dengan keluarnya kumbang dari kepompong. Pada fase ini sayap dalam dan elytra keluar dari dalam kepompong.

Parasit
    Makanan kumbang bervariasi. Sebagian besar kumbang memakan bagian-bagian tenaman seperti daun, akar dan bunga. Beberapa jenis kumbang merupakan pemakan bangkai dan pemangsa hewan invertebrata seperti serangga dan siput. Sekitar 100 spesie kumbang menjadi hewan parasit bagi manusia. Serangga ini menyebabkan kerusakan beberapa komoditas pertanian seperti kentang dan perkebunan seperti kentang, kapas, dan kayu. 
    Selain itu, kumbang juga menjadi vektor atau perantara berbagai penyakit. Meskipun demikian, beberapa jenis kumbang bermanfaat bagi manusia. Para petani menggunakan kumbang kepik (suku Coccinellidae) sebagai predator alami yang memangsa kutu daun pada tanaman. Adapun kumbang tanah (suku Carabidae) memangsa ngengat dan ulat pada tanaman kentang dan tanaman kayu.

Simbiosis Mutualisme
    Kumbang juga dapat ditemukan di sarang semut atau rayap. Kumbang menjadikan sarang tersebut untuk berlindung dari pemangsanya. Sebagai imbalannya, kumbang membersihkan sarang dengan cara memakan kotoran semut atau rayap. Hubungan ini disebut simbiosis mutualisme (hubungan saling menguntungkan antara dua organisme)

Kumbang Koksi
 Kumbang Emas
 Kumbang Koksi Kuning
 Kumbang Kura-kura Emas
Kumbang Tanduk

Sumber : Ensiklopedi Umum Untuk Pelajar dan Pustaka Alam Life : Serangga