"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)
Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juli 2018

HARI MANGROVE SEDUNIA TAHUN 2018

   
   Tanggal 26 Juli telah dicanangkan UNESCO sebagai Hari Mangrove Sedunia. Pada peringatan the International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem yang pertama di tahun 2016, UNESCO menekankan pentingnya melindungi mangrove sebagai bagian dari Agenda for Sustainable Development. Dalam menyambut peringatan Hari Mangrove sedunia, marilah kita mengenal secara umum tentang tanaman ini khususnya hutan bakau dari kajian geografis, geomorfologis, botanis, zoogeografis dan ekologis.

Diskripsi Umum
  Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di air payau,dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
  Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya abrasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.

Luas dan penyebaran
Hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika. Luas hutan bakau di Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha) (Spalding dkk, 1997 dalam Noor dkk, 1999). Luas bakau di Indonesia mencapai 25 persen dari total luas mangrove di dunia. Namun sebagian kondisinya kritis.
   Di Indonesia, hutan mangrove yang luas terdapat di sekitar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Yakni di pantai timur Sumatra dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan. 
  Di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.

Lingkungan fisik dan zonasi
Pandangan di atas dan di bawah air, dekat perakaran pohon bakau, Rhizophora sp.Jenis tumbuhan hutan bakau ini berbeda-beda, karena bereaksi terhadap variasi (perubahan) lingkungan fisik di atas, sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu. Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah sebagai berikut :
Jenis tanah
Sebagai wilayah pengendapan, substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik. Akan tetapi di beberapa tempat, bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya; bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah gambut. 
Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi, atau bahkan dominan pecahan karang, di pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu karang.
Terpaan ombak
Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang.
Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai, yakni yang terletak di tepi sungai. Perbedaannya, salinitas di bagian ini tidak begitu tinggi, terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar.
Penggenangan oleh air pasang
Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian yang lainnya; bahkan kadang-kadang terus menerus terendam. Pada pihak lain, bagian-bagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan.
Menghadapi variasi kondisi lingkungan seperti ini, secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove; yang biasanya berlapis-lapis, mulai dari bagian terluar yang terpapar gelombang laut, hingga ke pedalaman yang relatif kering.
Jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian luar (yang kerap digempur ombak.) Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini.
Di bagian yang lebih dalam, yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui campuran bakau R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa ditemui nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.).
Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp.), teruntum (Lumnitzera racemosa), dungun kecil (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha).

Bentuk-bentuk adaptasi
  Menghadapi lingkungan yang ekstrem di hutan bakau, tetumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis.
  Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara. Pohon kendeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut (knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.
  Untuk mengatasi salinitas yang tinggi, api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. Sementara jenis yang lain, seperti Rhizophora mangle, mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar, sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan, diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun.
  Pada pihak yang lain, mengingat sukarnya memperoleh air tawar, vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Beberapa jenis tumbuhan hutan bakau mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik, sehingga mengurangi evaporasi dari daun.

Perkembangbiakan
   
Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Lingkungan yang keras di hutan bakau hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem, kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya.
   Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang dapat mengapung, sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. Selain itu, banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon.
   Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora), tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. Ketika rontok dan jatuh, buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya, atau terbawa air pasang, tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Kemungkinan lain, terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh.
   Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. Sementara buah api-api, kaboa (Aegiceras), jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon, meski tak tampak dari sebelah luarnya. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul.
   Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya, bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Propagul dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan, selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Jika akan tumbuh menetap, beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya, sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur.

Suksesi hutan bakau
   Tumbuh dan berkembangnya suatu hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan (forest succession atau sere). Hutan bakau merupakan suatu contoh suksesi hutan di lahan basah (disebut hydrosere). Dengan adanya proses suksesi ini, perlu diketahui bahwa zonasi hutan bakau pada uraian di atas tidaklah kekal, melainkan secara perlahan-lahan bergeser.
   Suksesi dimulai dengan terbentuknya suatu paparan lumpur (mudflat) yang dapat berfungsi sebagai substrat hutan bakau. Hingga pada suatu saat substrat baru ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove, dan mulailah terbentuk vegetasi pionir hutan bakau.
   Tumbuhnya hutan bakau di suatu tempat bersifat menangkap lumpur. Tanah halus yang dihanyutkan aliran sungai, pasir yang terbawa arus laut, segala macam sampah dan hancuran vegetasi, akan diendapkan di antara perakaran vegetasi mangrove. Dengan demikian lumpur lambat laun akan terakumulasi semakin banyak dan semakin cepat. Hutan bakau pun semakin meluas.
Pada saatnya bagian dalam hutan bakau akan mulai mengering dan menjadi tidak cocok lagi bagi pertumbuhan jenis-jenis pionir seperti Avicennia alba dan Rhizophora mucronata. Ke bagian ini masuk jenis-jenis baru seperti Bruguiera spp. Maka terbentuklah zona yang baru di bagian belakang.
Demikian perubahan terus terjadi, yang memakan waktu berpuluh hingga beratus tahun. Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan bakau, zona-zona berikutnya pun bermunculan di bagian pedalaman yang mengering.
   Uraian di atas adalah penyederhanaan, dari keadaan alam yang sesungguhnya jauh lebih rumit. Karena tidak selalu hutan bakau terus bertambah luas, bahkan mungkin dapat habis karena faktor-faktor alam seperti abrasi. Demikian pula munculnya zona-zona tak selalu dapat diperkirakan.
Di wilayah-wilayah yang sesuai, hutan mangrove ini dapat tumbuh meluas mencapai ketebalan 4 km atau lebih; meskipun pada umumnya kurang dari itu.

Kekayaan flora
Beraneka jenis tumbuhan dijumpai di hutan bakau. Akan tetapi hanya sekitar 54 spesies dari 20 genera, anggota dari sekitar 16 suku, yang dianggap sebagai jenis-jenis mangrove sejati. Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di lingkungan hutan mangrove dan jarang tumbuh di luarnya.
Dari jenis-jenis itu, sekitar 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia; menjadikan hutan bakau Indonesia sebagai yang paling kaya jenis di lingkungan Samudera Hindia dan Pasifik. Total jenis keseluruhan yang telah diketahui, termasuk jenis-jenis mangrove ikutan, adalah 202 spesies

Fungsi dan manfaat
Dari segi ekonomi, hutan mangrove menghasilkan beberapa jenis kayu yang berkualitas baik, dan juga hasil-hasil non-kayu atau yang biasa disebut dengan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), berupa arang kayu; tanin, bahan pewarna dan kosmetik; serta bahan pangan dan minuman. Termasuk pula di antaranya adalah hewan-hewan yang biasa ditangkapi seperti biawak air (Varanus salvator), kepiting bakau (Scylla serrata), udang lumpur (Thalassina anomala), siput bakau (Telescopium telescopium), serta berbagai jenis ikan belodok.
Manfaat yang lebih penting dari hutan bakau adalah fungsi ekologisnya sebagai pelindung pantai, habitat berbagai jenis satwa, dan tempat pembesaran (nursery ground) banyak jenis ikan laut.
Salah satu fungsi utama hutan bakau adalah untuk melindungi garis pantai dari abrasi atau pengikisan, serta meredam gelombang besar termasuk tsunami. Di Jepang, salah satu upaya mengurangi dampak ancaman tsunami adalah dengan membangun green belt atau sabuk hijau berupa hutan mangrove. Sedangkan di Indonesia, sekitar 28 wilayah dikategorikan rawan terkena tsunami karena hutan bakaunya sudah banyak beralih fungsi menjadi tambak, kebun kelapa sawit dan alih fungsi lain.

Ciri-ciri Hutan Bakau

Secara fisik, hutan bakau ini memang berbeda dengan hutan lainnya. Hutan bakau ini sangat berbeda dengan jenis hutan yang lainnya. Hal ini bisa dilihat dari tanamannya yang tumbuh, yakni tanaman bakau. Selain dari tanaman bakaunya sendiri, hutan bakau ini juga mempunyai karakteristik lainnya yang menjadi ciri khasnya. Beberapa karakteristik atau ciri- ciri  hutan bakau antara lain sebagai berikut:
  1.  Biasanya terdiri dari satu jenis pohon, yakni pohon bakau. Salah satu ciri khas dan yang paling melekat dengan nama hutan bakau ini adalah karena mayoritas atau sebagian besar dari tanaman yang hidup di hutan tersebut adalah tanaman bakau itu sendiri. Oleh sebab itu maka hutan ini dinamakan sebagai hutan bakau. Sehingga apabila dilihat dengan mata kepala atau secara fisik, hutan bakau ini mayoritas tumbuhannya adalah tanaman bakau itu sendiri. Baca juga: jenis-jenis hutan
  2. Mempunyai akar pohon yang tidak beraturan (pneumatofora) . Pohon atau tanaman bakau ini merupakan salah satu tanaman yang khas. Ke khasan tanaman bakau ini adalah mempunyai akar- akar yang menyembul ke permukaan air sehingga akar tersebut terlihat kasat mata. Akar- akar yang menyembul ke permukaan inilah yang merupakan khas dari tanaman bakau. Akar bakau yang menyembul ke permukaan ini mempunyai fungsi tertentu untuk tanaman bakau itu sendiri, yakni untuk bernafas. Jika kita melihat banyak tanaman yang bergerombol dan akar- akarnya mencuat ke permukaan, sudah dapat dipastikan itu adalah tanaman bakau. Dan segerombolan tanaman itu dinamakan hutan bakau.
  3. Jenis pohon lain yang berada di dalam hutan sangat sedikit. Hutan bakau ini merupakan hutan yang banyak ditumbuhi oleh pohon- pohon bakau. Selain tanaman bakau itu sendiri, hutan ini sangat memiliki sedikit sekali jenis tanaman lainnya. Jika kita pergi kesana, sepanjang mata memandang mungkin kita hanya bisa melihat pohon bakau dalam jumlah yang banyak. Selain pohon bakau itu sendiri, kita akan sulit menemukan tanaman lain yang tumbuh di sekitaran tanaman yang akarnya mencuat tersebut.
  4. Mempunyai tanah yang berlumpur atau berlempung. Apabila dilihat secara fisik, ciri khas yang dimiliki oleh hutan bakau ini adalah mempunyai tanah yang bertekstur lumpur atau lempung. Tanah jenis itu memanglah habitat atau tempat hidup pohon bakau itu sendiri. Tanah yang berlumpur atau tanah lempung ini bisa terbentuk kemungkinan disebabkan karena tananhya selalu basah akibat adanya air yang menggenagi daerarah hutan tersebut. Akibatnya akan banyak menimbulkan tanah berlumpur, tanah berlempung, ataupun tanah berpasir. Namun yang perlu diingit bahwasannya tanah ini merupakan tanah yang sangat lembab karena tergenangi oleh air. 
  5. Lahan hutan ini selalu digenangi oleh air. Hutan bakau mempunyai salah satu fungsi yakni menghalangi ombak yang datang dari lautan yang bisa mengikis pantai. Itulah sebabnya mengapa hutan bakau ini seringkali kita temui  berada dipesisir pantai. Keberadaan hutan bakau ini bisa disebabkan karena sengaja ditanam oleh manusia, namun bisa  karena alami dibentuk oleh alam. Selain di pesisir pantai, hutan ini juga biasanya terdapat di daerah rawa- rawa ataupun daerah yang memiliki banyak air payau. Hutan bakau memang mempunyai ciri khas tersendiri yakni hidup di tanah perairan. Itulah sebabnya lahan hutan ini selalu berbentuk genangan air. Air yang menggenangi hutan bakaupun tidak hanya terdiri atas satu macam saja, namun bisa bermacam- macam, yakni air laut atau payau (campuran air tawar dan laut yang terada asin). Baca juga: jenis- jenis air. 
  6. Mempunyai banyak persediaan air tawar dari daratan. Hutan bakau ini merupakan salah satu hutan yang tidak hanya memiliki banyak persediaan air laut. Meski hutan bakau bisasnya terdapat di pesisir pantai, namun hutan bakau ini mempunyai pasokan atau persediaan air tawar. Air tawar yang berada di hutan bakau ini berasal dari daratan. Air tawar yang berasal dari darat ini berfungsi untuk menurunkan salinitas dan juga menambah pasokan unsur hara serta lumpur yang ada di hutan tersebut. Karena adanya air tawar yang bertemu dengan air laut, maka hutan bakau mempunyai banyak juga persediaan air payau. 
  7. Memiliki air payau yang mempunyai salinitas antara 2 – 22 ppm (1 ppm sama seperti 0,05%). Salah satu hal yang terdapat pada hutan bakau adalah adanya air payau yang mempunyai salinitas antara 2 hingga 22 ppm. Salinitas sendiri merupakan tingkat keasinan atau kadar garam yang larut di dalam air. Selain kadar di air, salinitas juga dapat dikatakan sebagai kandungan atau kadar garam yang ada di dalam tanah. Air payau memang tergolong air yang memiliki tingkat salinitas lebih besar dari 0,05%.
  8. Memiliki biji yang bersifat vivipar ataupun dapat berkecambah di pohonnya. Salah satu ciri khas selanjutnya yang dimiliki oleh tanaman atau pohon bakau adalah memiliki biji yang bersifat vivipar. Biji yang demikian ini akan dapat memunculkan kecambah di pohon bakau itu sendiri. 
  9. Memiliki lentisel di bagian kulit pohon. Ciri khas yang dimiliki oleh tanaman bakau lainya adalah tanaman tersebut memiliki lentisel yang ada di bagian kulit pohon. Sehingga memiliki lentisel di bagian kulit pohon menjadi salah satu ciri khas dari hutan bakau tersebut.

Itulah beberapa karakteristik atau ciri- ciri hutan bakau ini. sebagai salah satu jenis hutan, hutan bakau ini mempunyai banyak sekali manfaat untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Maka dari itu keberadaan hutan ini harus dilestarikan.

Fungsi hutan bakau :

  1. Sebagai sumber konsumsi. Beberapa buah, biji dan juga daun dari jenis – jenis tanaman yang hidup di dalam hutan bakau dapat dimanfaatkan untuk konsumsi sehari – hari. Jenis dedaunan seringkali diolah sebagai sayur ataupun lalapan, seperti jenis pakis laut. Biji – bijian dan juga buah dari tanaman yang terdapat di hutan bakau juga seringkali dimakan begitu saja, dan tentu saja juga memiliki nilai gizi yang tinggi.
  2. Apotek hidup. Pemanfaatan dari hutan bakau sebagai apotek hidup kini sudah mulai dilakukan. Bagaimana tidak, hampir semua jenis tanaman yang tumbuh dan juga hidup di dalam hutan bakau dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat alias apotek hidup. Dengan fungsi ini, maka secara tidak langsung hutan bakau bisa berperan sebagai apotek hidup yang dapat membantu mengatasi permasalahan kesehatan yang dialami oleh mereka yang tinggal di sekitar hutan bakau. 
  3. Menjaga kestabilan garis pantai. Fungsi penting lainnya dari hutan bakau adalah untuk membantu menjaga kestabilan dari garis pantai. Kestabilan garis pantai sangat penting untuk dijaga, karena apabila tidak terjaga, maka lama kelamaan garis pantai akan terkikis. Kondisi ini kemudian dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada lokasi daratan dan juga pantai, dimana akan terjadi abrasi yang disebabkan oleh air laut. Hal ini akan menyebabkan daratan menjadi lebih sempit dan juga terkikis, sehingga tentunya akan merusak kehidupan di sekitar pantai. 
  4. Mencegah tsunami. Aceh dan Jepang merupakan lokasi terjadinya tsunami yang dahsyat. Tsunami sendiri ternyata bisa dicegah, atau setidaknya direduksi dampak kekacauan yang ditimbulkannya dengan melestarikan dan mengembalikan fungsi dari hutan bakau. Dengan demikian, maka bencana tsunami pun dapat dicegah. 
  5. Mereduksi gelombang pasang air laut. Alasan utama mengapa hutan bakau dapat mencegah terjadinya bencana alam seperti tsunami adalah karena pohon – pohon danjuga tanaman yang terdapat did alam hutan bakau memiliki kemampuan yang sangat baik untuk mereduksi gelombang pasang air laut. Jadi, ketika air laut mengaami gelombang pasang, hutan bakau mampu untuk mereduksi akibat yang ditimbulkan. Setidaknya, 60% dari gelombang air laut bisa direduksi oleh keberadaan hutan bakau, sehingga wajar saja apabila keberadaan dari hutan bakau ini dapat membantu mencegah dan mengurangi dampak buruk dari terjadinya tsunami dan gelombang pasang tinggi. 
  6. Mencegah abrasi. Abrasi merupakan proses pengikisan daratan atau tanah, yang banyak terjadi karena faktor gelombang air laut. Ketika daratan terlalu sering mengalami gesekan dengan air laut, maka hal ini akan menyebabkan terjadinya abrasi, dimana daratan akan menjadi semakin terkikis dan menyempit. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya luas daratan, dan dapat menyebabkan air laut mudah naik ke permukaan. Hutan bakau lah yang menjaga agar hal ini tidak terjadi. Dengan adanya hutan bakau sebagai tameng dari suatu daratan dari air laut, maka kemungkinan terjadinya abrasi dapat diperkecil. 
  7. Pencegah intrusi air laut serta menahan lumpur. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, hutan bakau memiliki fungsi untuk mencegah intrusi air laut, atau masuk dan naiknya gelombang pasang air laut ke permukaan atau daratan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya banjir rob, ataupun sedimentasi dari lumpur yang ikut terbawa. Untuk mencegah hal ini terjadi, maka hutan bakau harus diptomalkan fungsinya untuk menjaga daratan dari intrusi air laut tersebut.
  8. Sebagai lokasi hidup bagi ikan laut. Daerah hutan bakau juga merupakan daerah yang masih berisi air laut dalam jumlah banyak. Hal ini membuat lokasi hutan bakau menjadi tempat tinggal dari beberapa hewan laut, seperti ikan, ubur – ubur dan kepiting. Beberapa hewan laut jug amemanfaatkan lokasi yang berada di area hutan bakau untuk mendukung proses pemijahan dan juga menjadikan hutan bakau sebagai nursery ground untuk membantu membesarkan anak – anak mereka. 
  9. Penghasil kayu untuk bahan bangunan dan kayu bakar. Pohon – pohon yang ada di dalam hutan bakau juga bisa dimanfaatkan persis seperti pohon yang terdapat pada hutan – hutan darat pada umumnya. Ya, kayunya bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti pembuatan papan – papan dan juga meubel dan furniture. Selain itu, kayu dari tanaman yang berada di dalam hutan bakau juga dapat dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai kayu bakar, yang dapat menghemat penggunaan bahan bakar fosil.
  10. Sebagai pulp atau bahan baku kertas. Sama seperti kayu lainya, kayu yang berasal dari tanaman di hutan bakau bisa juga dimanfaatkan sebagai bahan baku dari kertas atau pulp. Kertas yagn terbuat dari bahan dasar kayu yang ada di dalam hutan bakau memiliki kualitas yang sangat baik, tidak kalah dengan kualitas dari kertas yang dibuat dengan batang kayu dan juga kulit kayu seperti pada umumnya. 
  11. bahan baku tekstil. Kulit kayu pepohonan yang terdapat pada hutan bakau juga memilki fungsi lainnya, yaitu sebagai bahan baku dari pembuatan tekstil atau kain. 
  12. Sebagai pupuk. Para petani pun bisa juga memanfaatkan lokasi hutan bakau untuk mengambil pupuk. Biasanya sisa daun yang sudah mengendap bisa dimanfaatkan penggunaannya sebagai pupuk kompos yang dapat menbantu meningkatkan produksi pertanian. 
  13. Lokasi ekowisata. Seperti halnya manfaat sungai, sebagai ekowisata, merupakan fungsi umum dari sebuah hutan bakau. Banyak hutan bakau yang dimanfaatkan sebagai lokasi ekowisata. Hal ini membuat para wisatawan dan juga turis bisa berekreasi menikmati pemandangan hutan bakau yan alami dan asri, sekaligus menyadari bahwa keberadaan hutan bakau sangatlah penting bagi kehidupan dan juga kepentingan ekosistem. Jadi, sambil berwisata, para turis bisa ikut berpartisipasi dalam program penanaman dan penghijauan pada hutan bakau untuk membantu melestarikan keberadaan dari hutan bakau. 
  14. Sebagai lahan cadangan dari transmigrasi dan pemukiman. Merupakan fungsi lainnya dari hutan bakau, meskipun tidak direkomendasikan. Hbak bisa menjadi lahan cadangan dari pemukiman, dimana sebagian dari hutan bakau bisa diubah menjadi lahan tempat tinggal. Namun demikian, sebenarnya hal ini malahan bisa merusak fungsi utama dari hutan bakau itu sendiri dan kemungkinan malah dapat memusnahkan keberadaan dari hutan bakau . 
  15. Dikonversi sebagai lahan tambak. Beberapa lokasi hutan bakau juga dapat dimanfaatkan sebagai lahan tambak ikan. Kondisi air yang baik merupakan salah satu hal yang dapat membuat hutan bakau sangat baik untuk dijadikan lahan tambak. Dengan adanya lahan tamak pada lokasi hutan bakau, maka para penambak tidak perlu repot mencari lahan tambak hingga ke tengah – tengah laut, yang tentu saja akan memakan waktu. 
Ternyata, fungsi hutan bakau sangatlah banyak dan juga beragam. Hutan bakau juga sangat penting dalam mendukung kehidupan manusia dan juga segala keanekaragaman hayati, terutama hewan – hewan laut. Karena itu, kita pun harus bisa menjaga dan juga melestarikan hutan bakau agar tetap berguna bagi kehidupan kita dan juga keseimbangan lingkungan.

Fungsi Hutan Bakau Berdasarkan Jenis Tanamannya

Hutan bakau sendiri atau mangroove memiliki beragam jenis tanaman yang unik dan tidak kita temui pada hutan – hutan biasa. Kesemua tanaman yang hidup pada hutan bakau biasanya memiliki daun berwarna hijau terang dan juga memiliki danu yanglebat, serta akar tanaman yang besar dan juga kokoh. Berikut ini adalah beberapa jenis tanaman yang bisa kita jumpai pada hutan bakau :
  • Avicennia. Avicennia atau yan juga sering dikenal dengan nama api api merupakan daftar tanaman pertama yang banyak menghiasi hutan bakau. Tanaman ini merupakan jenis tanaman yang mudah diidentifikasi, dimana tanaman ini selalu tumbuh di tepi laut ataupun daerah tepi sungai. Ukuran dari tanaman ini cenderung sedang hingga besar, dimana memiliki buah atau biji yang kecil – kecil. Banyak yang mengatakan bahwa tanaman ini memiliki banyak khasiat kesehatan, salah satunya adalah dapat membantu : Mengobati sakit gigi, juga dapat dijadikan salep sebagai obat luka. 
  • Acrostichum Aureum.
    Tanaman kedua yang biasa kita jumpai pada hutan bakau adalah tanaman Acrostichum Aureum atau yang juga sering kita kenal dengan nama tanaman paku laut. Sesuai namanya, tanaman ini mirip seperti tanaman paku yang biasa kita temui di daratan, namun demikian, paku laut ini hidup pada daerah hutan bakau yang terbuka dan sering terkena cahaya matahaari. Sama seperti tanaman paku lainnya, daun dari tanaman ini bisa dimasak dan dikonsumsi untuk dijadikan sayur.
  • Acanthus . Tanaman lainnya yang dapat kita temui pada hutan bakau adalah tanaman Acanthus atau dikenal juga dengan istilah jeruju. Tanaman ini merupakan salah satu jenis tanaman yang berad di dalam hutan bakau yang memiliki fungsi utama untuk tanaman obat. Tanaman ini mampu untuk membantu : Menghentikan pendarahan akibat luka, ataupun gigitan ular, serta dapat membantu menghilangkan rasa nyeri. Selain itu, rebusan daunnya juga dapat mebantu mengobati perut kembung. 
  • Bruguiera Tanaman berikutnya yang bisa kita temui pada daerah hutan bakau adalah tanaman Bruguiera ataua yang juga sering dikenal dengan nama tanaman tanjang. Tanaman ini memiliki bentuk seperti pohon besar, dengan ketinggian bisa mencapai 30-an meter. Biasa tumbuh di bagian hutan bakau yang memiliki lumpur tebal. Beberapa spesies dari pohon ini juga bisa dimanfaatkan untuk pengobatan dan juga konsumsi dari manusia. 
  • Ceriops Tanamn ceriops atau tengar merupakan tanaman berikutnya yang ada di dalam hutan bakau. Tanaman ini memiliki bentuk seperti pohon beringin, dengan mahkota yang besar dan cenderung membulat. Ukurannya termasuk sedang, tidak terlalu besar ataupun kecil. Tanaman ini ternyata juga dapat dimanfaatkan untuk : Mengobati bisul, dan juga sering digunakan sebagai pewarna dari kain batik.
  • Excoecaria Agallocha Merupakan jenis pohon lainnya yang terdapat pada hutan bakau. Tanaman ini sering disebut dengan nama buta – buta, karena apabila racun dari pohon ini terkena mata, akan menyebabkan kebutaan. Pohon ini memiliki batang yang kecil dan lurus, mirip seperti pohon jati namun tidak tinggi dan berukuran sedang. 
  • Rhizopora  Inilah tanaman yang paling sering ada di dalam hutan bakau. Nama tanaman ini adalah tanaman bakau, dimana memiliki bentuk batang yang menyeruai akar, dengan mahkota pohon yang lebat. Pohon ini temasuk ke dalam ukuran besar, karena dapat mencapai tinggi 40 m, dengan daun yang sangat hijau. Tanaman ini juga bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan, karena dapat membantu : mencuci luka, dan bisa juga dimanfaatkan sebagai pengusir nyamuk. 
  • Sonneratia. Merupakan tipe pohon yang umum ditemukan pada hutan bakau, tanaman sonneratia atau yang dikenal dengan nama pedada banyak djumpai di dalam hutan bakau. Bentuknya mirip tanaman merambat dengan daun yang lebar dan hijau. Sama seperti tanaman sebelumnya, jenis tanaman ini dapat dijadikan : jamu, pengobatan tradisional, serta bisa dimanfaatkan untuk membantu menghaluskan kulit. 
  • Xylocarpos. Merupakan salah satu tanaman hutan bakau yang terletak pada bagian perbatasan antara habitat yang memiliki banyak koral dan juga habitat yang berlumpur tebal. Tanaman ini berukuran sedang dan juga banyak dijumpai pada hutan bakau.
    Presiden SBY dan Ronaldo tanam Bakau
Itu adalah beberapa jenis tanaman yang paling banyak kita temui pada daerah hutan bakau. Semua tanaman tersebut memegang peranan dan juga fungsi yang amat penting di alam hutan bakau. Dengan adanya tanaman tersebut, maka hutan bakau akan sangat bermanfaat.Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semua dan juga dapat menambah wawasan anda mengenai fungsi hutan bakau. Selamat hari Mangrove 2018, dan salam lestari.

Sumber Referensi : Wikipedia Indonesia, Ilmu Geografi.Com

Minggu, 17 Juni 2018

HARI MELAWAN DESERTIFIKASI DAN KEKERINGAN DI DUNIA TAHUN 2018


   Pada hari ini : Minggu, 17 Juni 2018 diperingati sebagai Hari Melawan Desertifikasi dan Kekeringan Dunia PBB atau UN World Day to Combat Desertification and Drought. Hari peringatan ini mengingatkan kita pada negara yang mengalami kekeringan yang berulang, desertifikasi (tipe degradasi lahan  di mana lahan yang relatif kering menjadi semakin gersang, kehilangan badan air, vegetasi, dan juga hewan liar) dan deforestasi (perubahan suatu kawasan dari hutan menjadi padang pasir) dan percepatan degradasi hutan (proses alih guna lahan) dan lingkungan.
   Sementara itu, kekhawatiran atas fenomena desertifikasi mendorong digelarnya sebuah konferensi lingkungan hidup bertaraf internasional. Pada tahun 1992 untuk pertama kalinya digelar Konferensi PBB untuk Lingkungan Hidup dan Pembangunan di Rio de Janeiro, Brazil. Di konferensi ini agenda pengendalian fenomena desertifikasi dibahas secara serius. Pasal 12 hasil dari sidang ini, yakni Agenda 21 sejatinya merupakan agenda masyarakat internasional untuk abad 21 dan fokus pada fenomena desertifikasi.
   Di agenda ini, PBB diharapkan bertindak serius menangani fenomena desertifikasi dan kekeringan sebagai sebuah kendala global serta membentuk komisi antar negara untuk menyusun konvensi internasional menangani fenomena penggurunan. Setelah tiga tahun sidang, komisi ini akhirnya berhasil menyusun isi konvensi desertifikasi internasional.
   17 Juni 1994, negara anggota PBB menandatangani perjanjian untuk menyadarkan masyarakatnya atas ancaman berbahaya desertifikasi. Tujuan dari perjanjian ini mengendalikan tekanan manusia di daerah kering. Perjanjian ini dikenal dengan Konvensi PBB untuk Memerangi Desertifikasi (UNCCD). Dengan demikian 24 tahun lalu, para pakar dan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu lingkungan hidup, cuaca, botani dan geologi berkumpul memperingatkan pemimpin dunia akan kondisi bumi, di mana sedikitnya 5.169 juta hektar atau 39,7 persen dari 13000 juta hektar daerah kering di bumi terancam fenomena desertifikasi. Fenomena ini akan menimbulkan kerugian miliaran dolar di sektor pertanian dan ketahanan pangan global.
   Kini lebih dari 190 negara anggota konvensi ini saling bekerjasama untuk memulihkan kehidupan warga di daerah kering, menjaga serta memulihkan kondisi tanah sehingga mampu untuk diolah kembali. Mereka juga bekerjasama meminimalkan dampak kekeringan. Sekretariat UNCCD juga mendorong warga lokal berpartisipasi dalam memerangi fenomena desertifikasi dan perusakan bumi dan mempermudah kerjasama antar negara berkembang dan maju serta menstransfer teknologi. Upaya UNCCD tersebut dimaksudkan untuk memulihkan manajemen bumi yang berkelanjutan.
   Mencegah perusakan lahan pertanian di sekitar gurun pasir melalui penyebaran budaya dan menjaga tanaman demi melindungi tanah, pembibitan, penyebaran bibit, perawatan dan pengairan, mencegah ternak menginjak-injak lahan rumput dan keseimbangan dalam lingkungan alam termasuk tujuan dari konvensi ini. UNCCD dengan mengenalkan metode manajeman mulai dari bawah hingga atas, telah menjelaskan babak baru undang-undang internasional.
   Dokumen konvensi ini berulang kali menekankan partisipasi penuh dan konstruktif, khususnya kaum hawa. Peran lembaga swadaya masyarakat atau NGO sebagai penghubung antara rakyat dan seluruh instansi serta peluang meningkatkan kapasitas di masyarakat lokal untuk berpartisipasi juga termasuk salah satu hal yang ditekankan konvensi ini.
   Konvensi ini juga menentukan agenda kerja  mereka dalam enam pokok serta memprediksikan hasil yang dapat diraih dari setiap pokok tersebut. Peningkatan tingkat kesadaran dan wawasan publik serta pendidikan, batasan pengambilan kebijakan, sains dan teknologi, mempersiapkan peluang, menjamin sumber daya serta relokasi teknologi dan dukungan manajemen merupakan acuan yang telah ditentukan bagi pelaksanaan strategi konvensi ini.
   Meski saat ini negara-negara yang menghadapi kendala penggurunan (desertifikasi) tengah melaksanakan konvensi ini melalui pembangunan dan berbagai program tingkat nasional serta regional. Namun sampai saat ini, sejumlah daerah di Afrika, Asia, Amerika Latin, Laut Karibia, utara laut Miditerania serta sebagian wilayan tengah dan timur Eropa masih menghadapi fenomena desertifikasi.
   Setiap 12 tahun jutaan hektar tanah, sebanding dengan tiga kali luas Swiss dan memiliki kapasitas untuk menghasilkan 20 juta ton biji-bijian rusak akibat penggurunan. Kerusakan bumi yang mengakibatkan penurunan produksi makanan, air, dan meningkatkan angka kemiskinan ratusan juta manusia serta mempengaruhi dua miliar penghuni bumi adalah krisis senyap yang mengacam dunia. 
Dampak desertifikasi tidak terbatas pada musnahnya spesies dan ekosistem alam, namun juga meningkatkan serangan badai pasir dan menurunkan tingkat kesuburan tanah, pusat-pusat hunian manusia serta infrastruktur seperti jalan, jalur telekomunikasi dan listrik. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa desertifikasi adalah kendala global dengan dampak serius bagi ragam flora maupun fauna, keamanan lingkungan hidup, akar kemiskinan, stabilitas sosial-ekonomi serta pembangunan di seluruh dunia. Dampak yang paling terasa adalah meluasnya gurun Sahara di Benua Afrika, yang dapat membahayakan kehidupan fauna termasuk manusia.
   Menurut para pakar pencegahan penggurunan hanya akan muncul ketika terjadi perubahan pola kecenderungan dan perilaku baik lokal maupun internasional. Perubahan ini setapak demi setapak membawa kita untuk memanfaatkan dengan baik bumi dan ketahanan pangan bagi masyarakat dunia yang terus berkembang. Dengan demikian desertifikasi dalam arti sebenarnya hanya bagian dari tujuan lebih besar yakni pembangunan permanen negara-negara yang terkena dampak kekeringan dan maraknya penggurunan.
   Desertifikasi bersama perubahan iklim serta musnahnya ragam flora dan fauna dikenal sebagai salah satu kendala terbesar pembangunan lestari. Oleh karena itu, Konvensi Internasional Penanggulangan Desertifikasi (UNCCD) mengejar tujuan seperti menciptakan partisipasi global untuk memutarbalik dan mencegah penggurunan, perusakan tanah dan mereduksi dampak kekeringan di wilayah yang menjadi korban demi menekan angka kemiskinan serta melindungi lingkungan hidup.
  Pastinya masyarakat internasional akan mampu mencegah eskalasi kerusakan bumi dengan melaksanakan langkah-langkah seperti ini. Pencegahan kerusakan bumi juga mampu menjaga ketahanan pangan, mereduksi kemiskinan dan kelaparan di kawasan pedesaan serta membantu menciptakan ketahanan dalam menghadapi krisis besar lingkungan hidup.
  Oleh karena itu, memerangi kerusakan bumi membutuhkan tekad global. Dewasa ini fenomena buruk desertifikasi membayangi sejumlah wilayah dunia dan jika tidak diambil langkah-langkah menjaga sumber daya alam dan lingkungan hidup, maka kondisi ini bisa meluas ke berbagai kawasan dunia lainnya dalam beberapa tahun mendatang.
  Dewasa ini terlah terbukti bahwa ancaman perubahan iklim, pemanasan global dan desertifikasi musuh bersama seluruh penghuni bumi. Oleh karena itu, selama masih ada kesempatan, seluruh negara harus komitmen untuk menciptakan dan mempromosikan solusi  komprehensif serta permanen dalam melawan fenomena desertifikasi dan melindungi bumi, karena bumi adalah sumber yang tidak dapat diperbarui serta amanat yang harus diberikan kepada generasi mendatang.
   Di Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang mengalami desertifikasi dan kekeringan. Kekeringan yang terjadi di Indonesia pada saat ini mengakibatkan suatu daerah mengalami kekurangan air baik untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan dalam masa yang berkepanjangan. Kekeringan ini bisa terjadi karena dua faktor, yaitu faktor alamiah dan faktor antropogenik atau ketidakpatuhan manusia terhadap aturan.
   Berdasarkan faktor alamiah, kekeringan ini disebabkan karena kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman pada periode waktu tertentu dalam suatu wilayah yang luas. Sedangkan berdasarkan faktor antropogenik, kekeringan ini disebabkan karena ketidakpatuhan pengguna terhadap pola penggunaan air yang berlebihan serta adanya kerusakan-kerusakan kawasan-kawasan air dan sumber air. Kekeringan di Indonesia juga sangat berkaitan dengan fenomena El-Nino Southem Oscilation (ENSO). ENSO ini mengakibatkan terjadinya perubahan iklim. Dampak yang dapat terlihat dalam sektor pertanian adalah dengan bergesernya awal musim kemarau yang menyebabkan berubahnya pola tanam karena adanya kekeringan.
   Dampak dari kekeringan yang terjadi di Indonesia cukup banyak salah satu contohnya dalam bidang pertanian dan kegiatan pangan. Kita bisa lihat salah satunya, yaitu turunnya produksi tanaman sehingga tanaman mati karena produksi tanaman yang rendah, para petani mengalami kerugian secara material maupun finansial dan apabila kekeringan ini terjadi secara luas maka akan mengancam ketahanan pangan nasional.
  Bagaimana cara melawan desertifikasi dan kekeringan ini? Melawan desertifikasi dan kekeringan dapat melalui cara-cara seperti memeriksa penampungan air, memeriksa dan mematikan keran air baik di wastafel/bak air kamar mandi, memeriksa sanitasi air di lingkungan, menyiram beberapa tanah kering, menyiram tanaman dalam pot, green house, apotek hidup dan lain sebagainya. Tentunya, kita harus menggunakan prinsip yang berkelanjutan untuk mengatasi desertifikasi dan kekeringan di Indonesia.
   Mari kita melawan desertifikasi dan kekeringan! Dimulai dari negara tercinta kita Indonesia karena pasti akan banyak kerugian yang didapat jika kita membiarkan desertifikasi dan kekeringan ini. Mungkin, awal kerugian akan bermula pada para petani yang mengalami banyak kegagalan panen. Namun, jika terus menerus terjadi kegagalan panen maka kita pun akan menuai dampak kerugian seperti harga bahan pangan yang meningkat atau kelangkaan bahan pangan. Maka dari itu kita tingkatkan rasa kepedulian kita dan lakukan yang terbaik untuk negara dan bumi kita tercinta.

Sumber Referensi :  http://parstoday.com

Selasa, 05 Juni 2018

HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 2018

    

    World Environment Day atau Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati hari ini Selasa 5 Juni 2018 demi meningkatkan kesadaran global akan kebutuhan untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif bagi perlindungan alam dan planet Bumi. Hari Lingkungan Hidup diperingati sejak tahun 1972 dan ditetapkan oleh Majelis Umum PBB.
   Tahun ini, Hari Lingkungan Hidup Sedunia mengusung tema yang bernama “Connect with Nature”  atau " Bersahabat Dengan Alam " dan akan dirayakan dengan mengambil pusat peringatan di negara Kanada. “Connect with Nature” memiliki misi untuk mengajak penduduk bumi bersahabat dengan alam, berinteraksi dengan alam, mengenali, dan menikmati keindahan alam sehingga tergeraklah keinginan untuk melindungi bumi dan segala isinya.
   
Hari Lingkungan Hidup Sedunia sendiri diperingati setiap tahun pada tanggal 5 Juni demi meningkatkan kesadaran global akan kebutuhan untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif bagi perlindungan alam dan planet Bumi. Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan instrumen penting yang digunakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesadaran tentang lingkungan serta mendorong perhatian dan tindakan politik di tingkat dunia. Hari peringatan ini dipandang sebagai kesempatan bagi semua orang untuk menjadi bagian aksi global dalam menyuarakan proteksi terhadap planet bumi, pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan gaya hidup yang ramah lingkungan.

Bersahabat Dengan Alam Menurut Al-Qur'an
   Adalah beribadah kepada Allah, tujuan penciptaan manusia. Yaitu dengan menjadi khalifah (wakil Allah) di bumi. Yang bermakna bahwa tanggungjawab atas kelestarian bumi dan alam semesta ini, ada di tangan manusia.
    Begitu agungnya Allah menciptakan alam ini. Sempurna hingga tak ada celah yang membuat manusia mampu memungkirinya. Air, udara dan tanah beserta makhluk hidup yang bernaung didalamnya, khusus diperuntukkan bagi kita, manusia sebagai rekan untuk mengabdi kepada-Nya. Artinya, manusia harus bersahabat dengan alam, bukan sibuk mengeksploitasinya demi kepentingan pribadi.
  Dalam hal ini, Allah SWT telah memperingatkan agar tidak merusak bumi sesudah Allah menciptakannya (QS al-A’raf [7]: 56). Artinya, memang ada segolongan dari manusia yang telah berlaku dzalim kepada bumi dan alam. Banjir bandang, longsor, perubahan iklim yang drastis, beragam pencemaran, hingga krisis air bersih pun menjadi bukti nyata rusaknya alam.
Sebaliknya, penghargaan Allah bila manusia memakmurkan alam dengan iman dan takwa, adalah diturunkannya keberkahan dari langit dan bumi (QS al-A’raf [7]: 96).
   Bumi dan alam akan menjadi ’surga’ bagi kelangsungan hidup manusia. Menjadi rahmat yang memberi kebaikan bagi anak cucu Adam. Tentunya kita dapat bercermin dari sejarah umat terdahulu, bagaimana alam tunduk hanya kepada Allah. Banjir pada masa Nabi Nuh, merupakan bukti bahwa alam akan memerangi kaum yang tidak beriman. Atau Laut Merah yang senang hati menghamparkan jalan bagi Nabi Musa dan pengikutnya saat dikejar Firaun. Sesungguhnya alam dan seisinya juga bertasbih dan taat kepada Allah (QS al-Jumu’ah [62]: 1). Logikanya, seorang Muslim tentu tidak akan menyakiti makhluk lainnya (alam), bahkan ia (kaum Muslim) akan menjadikannya sebagai sahabat untuk bersama mengabdi kepada Rabb-Nya.

Belajar dari Alam
  ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal” (QS Ali Imran [3]: 190). Ayat ini secara jelas mengabarkan kepada ummat manusia untuk memperhatikan dan merenungi alam semesta ini. Mengambil dan menyarikan hikmah yang ada dibaliknya.
   Belajar istiqomah misalnya, alam selalu konsisten pada tugasnya. Siklus hidrologi (air) dimulai dari air hujan yang diserap bumi, lalu menguap ke udara membentuk awan, dan kembali menjadi hujan. Begitu seterusnya, selalu konsisten. Sayangnya, kini banyak tanah yang disemen, atau sungai dipenuhi sampah sehingga siklus air menjadi terganggu. Akibatnya, persediaan air tanah kian menipis. Keberlangsungan hidup manusia pun terancam.
   Alam juga mengajarkan pentingnya kerjasama. Semut contohnya, selalu hidup bahu-membahu, mengenyampingkan ego, bekerja sesuai job (pembagian tugas). Atau simbiosis antar hewan yang saling menguntungkan, seperti kerbau dengan burung. Meski berbeda species (jenis), ada kesepakatan antar mereka untuk bersinergi, mengoptimalkan manfaat yang didapat.
   Dan masih banyak lagi pelajaran berharga dari setiap interaksi kita dengan alam. Karena bukankah tidak ada satupun penciptaan dimuka bumi yang sia-sia? Maka, teruslah mengenal, mengungkap keindahan dari alam semesta agar kian berlaku adil terhadapnya (alam).

Memelihara Alam
   Banyak hal yang mulai saat ini dapat kita lakukan untuk memelihara alam. Misalnya, melakukan reboisasi (penghijauan). Beberapa hadist menerangkan bahwa menanam pohon adalah sebuah ibadah yang akan terus diganjar pahala. Rasulullah saw dalam sebuah riwayat mengatakan, andai kiamat sudah tiba pun, sedang ditanganmu masih ada bibit kurma yang perlu ditanam, jangan bimbang, segeralah tanam. Karenanya, mulailah dari rumah dan lingkungan terdekat kita. Sediakan pula lahan untuk resapan air, sehingga ketersediaan air dapat konsisten terjaga.
   Membuang sampah pada tempatnya, boleh jadi slogan yang teramat kita hafal. Namun, dalam praktiknya belum optimal dilakukan. Harus ada kesadaran massal untuk TSP (Tahan dari membuang sampah sembarangan, Simpan sampah pada tempatnya, dan Pungut sampah yang ada disekitar). Konsep sederhana yang kerap digugahkan oleh Aa Gym ini, sesungguhnya hal nyata yang dapat kita lakukan.
  Cara lainnya, lakukan penghematan, minimalisir penggunaan energi listrik, mengurangi pemakaian bahan bakar dengan, menggunakan sepeda pengganti kendaraan bermotor menuju ke kantor dan beraktivitas lainnya atau apapun produk yang berasal dari alam. Paling tidak, dengan mengkonsumsi secukupnya, memberi waktu bagi alam untuk memulihkan kembali sumber dayanya. Sehingga mampu bertahan lebih lama, agar dapat dipergunakan anak cucu kita kelak.
  Selain itu, pendidikan cinta lingkungan juga mesti diajarkan sejak dini kepada anak-anak. Boleh jadi, hal inilah yang luput dari perhatian. Padahal jika kita renungkan, bumi dan alam semesta ini, telah diwariskan sejak Adam dan Hawa, dan kelak akan dipergilirkan kepada generasi akan datang. Kita tentunya berharap, mereka (generasi masa depan) akan menikmati alam yang permai ini. Maka, ajaklah anak keturunan kita untuk menjadi sahabat alam. Mencintai dan memperoleh manfaat dari alam tanpa merusak dan menghancurkannya.
  
 Alam merupakan suatu lingkungan yang didalamnya berkumpul semua unsur, kehidupan kita manusia juga merupakan bagian dari unsur alam yang menyatu dan saling terkait. Alam kita ini senantiasa akan memberikan kita penghidupan, jika manusia sendiri harus bersahabat dengan alam dalam bentuk tindakan terhadap alam, berbagai potensi alam sangat bermanfaat bagi manusia, sungai yang deras dapat diubah menjadi energi yang dapat mengerakkan generator yang menghasilkan listrik, suhu panas atau geotermal juga dapat dijadikan energi listrik, angin yang kencang dapat dijadikan pengerak kincir angin yang juga menghasilkan listrik. Dan berbagai potensi alam lainnya seperti berbagai potensi laut yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.
   Berbagai tumbuhan di alam juga menjadi sumber penghidupan bagi manusia, sungguh luar biasa ciptaan Tuhan, baik berupa bahan makanan, maupun obat-obatan, namun manusia kadang terlalu serakah dan tamak dalam memanfaatkan alam, tanpa memperhatikan kestabilan ekosistem alam, berbagai tindakan manusia mulai dari merambah hutan, mengeruk bahan tambang, membakar hutan dan sebagainya, tindakan tersebut membuat kestabilan ekosistem kehidupan di alam maupun iklim alam menjadi tidak seimbang, akhirnya berbagai musibah dan kemarahan alam terjadi, manusia selalu mengatakan ini takdir, padahal tangan-tangan mereka sendirilah yang menyebabkan kerusakan alam yang berimbas pada musibah pada manusia sendiri, bencana tanah longsor, banjir, badai dan topan semuanya tidak lepas dari perbuatan tangan-tangan manusia terhadap alam.

  Padahal manusia dapat mengatur keseimbangan terhadap alam dengan memanfaatkan potensi alam sebijaksana mungkin, melakukan reboisasi hutan gundul, menjaga hutan lindung dan menjaga ekosistem alam, semuanya akan membawa kenyaman bagi manusia sendiri dalam keberlangsungan hidup.
  Banyak potensi alam yang perlu digunakan secara bijak dan tidak berlebihan, kebijakan para pemangku kekuasaan, dalam menjaga potensi alam sangat menentukan bagaimana alam kita selanjutnya, alam kita harus dimanfaatkan sebaik mungkin, jangan hanya berpikir untuk merambah hutan, namun kekayaan hutan dapat dijadikan sebagai potensi wisata dan berbagai potensi lainnya tanpa harus menganggu ekosistem alam, malah keberagaman ekosistem alam yang kita jaga akan menambah nilai lebih dari potensi alam kita, dan mungkin saja bisa menjadi objek kekayaan tersendiri, sehingga orang-orang luar tertarik untuk melihat akan kekayaan ekosistem alam kita.
   Alam kita harus dijaga agar tidak menimbulkan bencana di kemudian hari, musibah demi musibah melanda manusia melalui faktor alam, jika manusia tidak bersahabat dengan alam, maka tidak akan ada tempat untuk manusia, ibarat perang maka alam akan menumpahkan rasa marahnya melalui berbagai bentuk musibah yang kita tidak sadari, potensi alam harus dijaga dan bukan berarti tidak boleh digunakan, namun harus memperhatikan efek yang akan terjadi.
  Manusia harus bersahabat dengan alam, tindakan manusia pada saat ini menentukan keberlangsungan lingkungan dan kehidupan di alam. Ancaman alam nyata kita lihat dan rasakan, ini semua karena tangan-tangan manusia melalui perbuatan yang tidak mencintai dan bersahabat dengan alam, oleh karena itu marilah kita senantiasa bersahabat dengan alam, tindakan kecil kita menentukan masa depan kehidupan kita sendiri di alam ini.
  Melalui tulisan ini admin ingin mengajak semuanya untuk senantiasa menjaga alam dan bersahabat dengan alam, perbuatan yang mungkin kita lakukan yang dapat mencemari alam, membuang sampah, membuang plastik, menggunakan energi listrik ataupun dalam menggunakan kendaraan, dapat dilakukan sebijaksana mungkin dan kita harus berpikir apakah apa yang aku lakukan ini dapat menyebabkan kerusakan alam.
   Semuanya kembali kepada kita manusia, dan keberlangsungan ekosistem alam yang didalamnya ada manusia tergantung dari perbuatan kita terhadap alam, tindakan kecil manusia menjadi akumulasi dari kemarahan alam, seperti banjir, andai sungai bersih dari sampah maka aliran air tidak akan menyebabkan kebanjiran, andai hutan tidak ditebang, bencana tanah longsor tidak akan terjadi, pembakaran hutan dan penggunaan energi yang menghasilkan gas rumah kaca digunakan seminimal mungkin, maka bencana perubahan iklim global tidak sampai menjadi badai yang ganas seperti di amerika yang terjadi baru-baru ini.  
   Marilah kita menjaga alam, dengan minimal memperhatikan tindakan kecil kita dilingkungan, menggunakan sepeda untuk jarak dekat, menanam pohon untuk kerindangan rumah, membuang sampah ditempatnya, mengunakan listrik sehemat mungkin dan sebagainya adalah bagian dari menjaga kestabilan alam, karena kegiatan manusia selalu menghasilkan karbondioksida yang memunculkan efek gas rumah kaca yang dapat mengakibatkan perubahan kestabilan alam.
   Mulai sekarang, teruslah memohon perlindungan dari Allah, agar tidak tergolong orang-orang yang kufur nikmat atas manfaat yang diberikan oleh-Nya. Mensyukurinya dengan memelihara dan menjaga alam agar tetap lestari. Dan hal itu bisa kita mulai dengan mengikrarkan diri sebagai sahabat alam. Ayo, segera kila lakukan agar nantinya tak ada kata menyesal. Selamatkan alam, selamatkan kehidupan ini! Dan Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2018 !

Sumber Referensi : Indonesia Chalange Org, Wakafdt.Org

Selasa, 22 Mei 2018

HARI KEANEKARAGAMAN HAYATI DUNIA (BIODIVERSITAS) TAHUN 2018

   
Kabut berarak di Hutan Hujan Tropis Sumatra
   Keanekaragaman Hayati adalah keanekaragaman makhluk hidup dari semua sumber, termasuk diantaranya, daratan, lautan dan ekosistem akuatik lain serta kompleks-kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya; mencakup keanekaragaman di dalam spesies, antara spisies dan ekosistem. Tanggal 22 Mei ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai Hari Keanekaragaman Hayati (Hari Kehati) Sedunia yang menandai waktu diselesaikannya naskah final Convention on Biological Diversity (CBD) atau Konvensi mengenai Keanekaragaman Hayati pada 22 Mei 1992. Tanggal ini merupakan perubahan dari awal penetapan yaitu tanggal 29 Desember yang merupakan hari pertama berlakunya Convention on Biological Diversity. Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia dimaksudkan untuk mendorong masyarakat dalam memahami dan menyadari hal-hal yang berkenaan dengan keanekaragaman hayati.

Sejarah Hari Keanekaragaman Hayati. 
   Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati (The International Day for Biological Diversity) diperingati pertama kali pada tanggal 29 Desember 1993 berdasarkan penetapan Komite Kedua Majlis Umum PBB pada tahun 1993. Penetapan tanggal 29 Desember sebagai Hari Keanekaragaman Sedunia bertepatan dengan pelaksanaan Konvensi Tentang Kenaekaragaman Hayati (COP- Convention on Biological Diversity).
Air Terjun ditengah Hutan Hujan Tropis Indonesian
   Namun pada Deseber 2000, PBB mengadopsi tanggal 22 Mei sebagai Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati (The International Day for Biological Diversity). Hal ini berkaitan dengan banyaknya negara yang kesulitan untuk merencanakan dan melaksanakan Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati pada tanggal 29 Desember mengingat bertepatan dengan liburan akhir tahun.
   Tanggal 22 Mei 1992 merupakan tanggal pengesahan Teks Kesepakatan Keanekaragaman (Nairobi Final Act of the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity). Pertemuan di Nairobi, Kenya yang berlangsung pada tanggal 11-22 Mei 1992 merupakan pertemuan terakhir sebelum pelaksanaan United Nations Conference on Environment and Development (3-14 Juni 1992) yang menghasilkan UN Convention on Biological Diversity (Konvensi Keanekaragaman Hayati).
   Semoga Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati (The International Day for Biological Diversity) dengan berbagai liku sejarah dan pelaksanaannya ini mampu menumbuhkan kecintaan seluruh manusia bumi terhadap biodiversitas (keanekaragaman hayati) di bumi.

Keanekaragaman Hayati di Indonesia
Bumi adalah tempat yang memiliki banyak ekosistem . Ekosistem- ekosistem ini memiliki keunikan serta ciri khas masing- masing. Ada ekositem sungai, ekosistem hutan, ekosistem gurun, ekosistem rawa, atau ekosistem laut. Perbedaan ekosistem ini, terjadi akibat bentuk relief permukaan bumi yang berbeda. Perbedaan bentuk muka bumi, akibat adanya tenaga pembentuk muka bumi. Tenaga ini, menyebabkan kerak bumi menjadi tidak rata. Akibatnya ekosistem di setiap daerah menjadi berbeda- beda.
Sunrise di Ranu Kumbolo, Semeru, Jawa Timur
Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah gunung api serta hutan hujan terbanyak di dunia. Selain itu, Indonesia adalah negara kepulauan dengan banyak laut. Hal ini menyebabkan ekosistem di Indonesia bermacam- macam. Lokasi dari Indonesia sendiri juga menyebabkan jenis flora dan fauna yang ada di Indonesia bermacam- macam. Indonesia adalah negara yang di apit oleh 2 benua dan dua samudra. 2 benua itu adalah benua Asia dan benua Australia. Sedangkan 2 samudra yang mengapit Indonesia adalah samudra Hindia dan samudra Pasifik. Lokasi yang strategis, menyebabkan sumber daya alam di Indonesia bermacam- macam.
Melintas di savana Gunung Semeru
Indonesia adalah salah satu negara yang beriklim tropis. Selain itu Indonesia juga adalah salah satu negara yang dilalui garis khatulistiwa. Hal ini juga adalah satu faktor banyaknya jenis flora dan fauna di Indonesia. Jenis flora dan fauna di Indonesia tersebar dan memiliki berbagai macam keunikan yang berbeda- beda di setiap daerah. Keanekaragaman hayati di Indonesia, dibagi menjadi dua, yaitu keanekaragaman hayati flora dan keanekaragaman hayati fauna. Sebagai daerah yang berpulau- pulau dan luas, persebaran fauna dan flora di Indonesia juga terbagi berdasarkan wilayah yang ada di Indonesia.

Keanekaragaman Flora di Indonesia
Indonesia adalah negara yang beriklim tropis, serta negara yang dilalui oleh garis khatulistiwa. Hal ini menyebabkan Indonesia memiliki tingkat curah hujan yang cukup tinggi. Selain itu, Indonesia adalah salah satu negara dengan gugusan gunung api yang panjang. Akibat adanya vulkanisme, tanah di Indonesia rata- rata memiliki tanah yang subur .
Sebagai negara dengan curah hujan yang tinggi dan tanah yang subur, membuat keanekaragaman flora di Indonesia sangat banyak. Selain itu, persebaran hutan di Indonesia juga tersebar dengan karakteristik masing- masing di tiap daerah. Persebaran hutan di Indonesia, dibagi berdasarkan jenis tanaman yang mendiami hutan tersebut. Persebaran hutan di Indonesia dibagi menjadi 4, yaitu:
1. Hutan Hujan Tropis

Hutan hujan tropis adalah jenis hutan yang paling banyak berada di Indonesia. Jenis hutan ini banyak ditemukan di kalimantan, sumatra dan papua. Karakteristik dari jenis hutan ini adalah tingkat curah hujan yang sangat tinggi. Sehingga hutan ini cenderung lembab. Selain itu, pohon- pohon yang mendiami hutan ini cenderung besar dan tinggi. Jenis tanaman pada hutan ini heterogen atau banyak macamnya. Contoh tanaman yang mendiami hutan ini adalah pohon kemenyan, pohon rotan, pohon kamper, pohon damar, pohon eboni, dan pohon meranti.
Keanekaragaman hayati di Sabana Alas Purwo, Jawa Timur
2. Hutan Musim

Hutan musim adalah hutan yang bermusim. Maksud dari musim ini adalah, hutan ini akan menggugurkan daunnya saat musim kemarau dan kembali menjadi hutan lebat saat musim hujan. Jenis hutan ini banyak ditemukan di pulau jawa. Tingkat curah hujan di hutan ini tidak terlalu tinggi, sehingga hutan tidak begitu lembab. Jenis pohon yang berada di hutan ini cenderung kecil dan tidak terlalu lebabt. Hutan musim biasanya hanya di isi oleh satu jenis pohon saja. Tanaman yang biasanya berada di hutan ini adalah pohon jati dan pohon cemara.
3. Sabana

Sabana adalah padang rumput yang diisi oleh rerumputan serta pohon- pohon berjenis pendek. Di Indonesia sabana berada di wilayah Gayo Aceh dan Madura. Ciri khas dari sabana adalah bersuhu hangat. Hal ini diakibatkan tingkat curah hujan yang tidak tinggi, tapi juga tidak rendah. Sabana memiliki perbenaan sangat signifikan di musim hujan dan musim kemarau. Saat musim kemarau curah hujan di sabana sangat rendah, tapi tidah cukup rendah hingga dapat menjadi gurun. Dan saat musim hujan, curah hujan di sabana sangat tinggi tetapi tidak cukup tinggi untuk menjadi hutan hujan tropis.
Turis Mancanegara di Savana Sembalun Lawang
4. Stepa
Stepa adalah padang rumput yang sangat kering. Di Indonesia, stepa dapat di temukan di daerah dengan masa kemarau paling panjang, seperti Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Selain itu, iklim di stepa sangat kering akibat curah hujan yang tidak tinggi. Hanya saja, sedikitnya curah hujan ini, tidak membuat stepa menjadi gurun. Biasanya stepa tidak memiliki pohon. Stepa hanya diisi oleh rumput- rumput berjenis pendek.
Selain 4 persebaran hutan, Indonesia sendiri memiliki tanaman endemik yang hanya ada di Indonesia. Tanaman tersebut adalah jenis- jenis rafflesia, bedali, kepuh, bungur, nangka celeng, mundu, sawo kecik dan kluwak. Akan tetapi jenis tanaman bedali, kepuh, dan sawo kecik adalah jenis tanaman yang hampir punah.

Keanekaragaman Fauna di Indonesia
Sebagai daerah dengan jumlah persebaran hutan yang banyak, Indonesia juga memiliki kekayaan fauna yang jumlahnya tidak sedikit. Persebaran fauna di Indonesia di bagi berdasarkan garis wallace dan garis webber. Kedua garis ini membagi Indonesia menjadi 3 bagian. Bagian oriental, bagian peralihan, dan bagian australia. Pembagian ini dilihat berdasarkan kesamaan jenis karakteristik hewan yang ada di daerah tersebut dengan daerah yang lain. Garis wallace memisahkan antara Indonesia bagian oriental dan australia. Sedangkan garis webber adalah garis yang berada di antara oriental dan australia.
Hamparan Lavender di Gunung Semeru
1. Wilayah Oriental
Wilayah oriental meliputi daerah Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan. Hewan yang berada di wilayah ini, memiliki kesamaan karakteristik dengan hewan yang berada di daerah asia. Hewan pada daerah ini, biasanya mendiami daerah hutan hujan tropis. Jenis hewan yang mendiami daerah oriental biasanya berbadan besar atau berjenis primata.
Sedangkan burung yang mendiami daerah ini biasnya memiliki kicauan yang bagus tetapi memiliki bulu yang kurang berwarna. Jenis hewan pada bagian oriental ini adalah gajah, harimau, dan badak sumatra. Tapir, badak bercula satu, beruang madu, orang utan, tarsius, kukang, uwa- uwa. Sedangkan untuk jenis burung, ada burung rangkong, burung jalak bali, burung murai, burung elang putih dan burung elang jawa.
2. Wilayah Australia
Wilayah australia meliputi daerah papua, maluku, nusa tenggara, dan sulawesi. Hewan pada wilayah ini memiliki jenis yang hampir sama dengan wilayah australia. Hewan pada daerah ini memiliki ciri bertubuh kecil. Selain itu beberapa mamalia memiliki kantong. Untuk jenis burung di wilayah ini, memiliki warna bulu yang lebig beraneka ragam dan lebih banyak memiliki warna.
Dikarenakan memiliki kesamaan dengan daerah australia, hewan kangguru juga ditemukan di wilayah ini. Hanya saja jenis kangguru di Indonesia dan australia memiliki bentuk fisik yang sedikit berbeda. Selain kangguru jenis hewan di daerah ini adalah walabi, kuskus dan oposum. Sedangkan untuk jenis burung adalah cendrawasih, kasuari dan kakatua raja.
Dua tokoh Utama dalam Film 5 Cm
3. Peralihan
Wilayah peralihan adalah wilayah dimana hewan yang mendiaminya memiliki ciri yang berbeda dengan daeran oriental dan daerah australia. Wilayah peralihan meliputi sulawesi selatan hingga kepulauan aru. Hewan yang berada di wilayah ini dapat dikatakan sebagai hewan endemik Indonesia, karena tidak memiliki kesamaan dengan daerah lain. Hewan yang berada di wilayah peralihan adalah komodo, anoa, babi rusa, dan burung maleo.
Selain hewan di atas, beberapa binatang endemik Indonesia lainnya yang tidak berada di wilayah peralihan adalah tarsius, kukang, dan badak bercula satu. Sedangkan beberapa hewan di Indonesia yang masuk daftar terancam punah adalah badak dan harimau sumatra, tapir, elang jawa, burung rangkong, orang utan, komodo, beruang madu, bekantan, badak bercula satu, macan tutul, gajah sumatra, penyu hijau, jalak bali, cendrawasih, maleo, kakatua raja, kasuari, dan sanca hijau.
Akibat dari ulah manusia, banyak hewan dan tumbuhan yang terancam punah. Untuk mencegah kepunahan, dapat dilakukan dengan cara melestarikan flora dan fauna. Menjaga bumi adalah tugas dari manusia. Ekosistem perlu dijaga kesimbangannya, sehingga tidak terjadi dampak yang merugikan manusia.

Film 5 cm, Menginspirasi Cinta Alam dan Cinta Tanah Air
   Dalam sejarah Film di Indonesia, sangat sedikit Film yang mengangkat Keindahan Alam dan Kecintaan pada alam sebagai backgroundnya. Hingga saat ini Fim terbaik Indonesia bertema pendakian gunung adalah Film 5 cm yang disutradarai oleh Rizal Mantovani. Beberapa Film lain yang bertema sama sebelum dan sesudahnya misalnya pencarian terakhir atau Rinjani rasanya tidak bisa menandingi Film yang diangkat dari Novel  karya Donny Dirgantoro ini . Film 5 Cm sempat booming beberapa tahun lalu dan menginspirasi banyak anak muda melakukan trakking pendakian ke gunung terutama Mahameru. Walaupun banyak kejanggalan-kejanggalan yang admin temui di film ini, yang bila diikuti para pendaki pemula bisa beresiko fatal misalnya pakaian dan celana jeans tebal yang sulit kering bila terpapar air hujan maupun bekal air minum yang minim menuju puncak, namun admin akui film ini sangat bagus dan terlihat nyata. Bahkan rasanya tak bosan menonton film ini berulang-ulang kali.
Gunung Mahameru, Impian Banyak Pendaki Gunung
   Entah karena ada kemiripan karakter tokoh-tokoh dalam film ini dengan admin dan jalinan kisah persahabatan dan cinta yang berakhir sendu, namun tidak cengeng, Film ini merupakan film terbaik dan berkesan yang pernah admin saksikan sampai detik ini.  Film 5 Cm seperti membuka kenangan masa lalu yang mungkin juga dialami generasi masa lalu yang hoby mendaki gunung. Apakah ini kebetulan atau tidak , kemiripan itu antara lain tokoh Genta yang dipanggil onyet sebagai leader adalah panggilan admin waktu mahasiswa, tokoh Zafran yang jago melukis, bermain gitar, menulis puisi dan menciptakan lagu dan berteriak-teriak di gunung itu juga adalah karakter yang admin miliki saat muda, tampang Zafran (maaf agak geer) juga mirip admin sewaktu muda. Ian yang hoby membaca National geographic megazine dan videonya juga adalah kegemaran admin saat itu, apalagi Ian menyebut alamat rumahnya di Jl.Bumi, Blok E, Meyestik Kebayoran Baru, yang saat ini adalah alamat SMPN 29 Jakarta tempat admin bertugas serta tentunya ditambah yang paling mendekati adalah jalinan kisah persahabatan dibalut cinta terpendam yang berakhir menyesakkan dada.
Kisah Cinta Terpendam Yang menyesakkan dada
  Dibalik itu semua, Film 5 cm juga menyajikan panorama alam Indonesia yang Indah diwakili oleh keindahan Gunung Semeru yang tiada duanya, rasa nasionalisme dan cinta tanah air dengan kibaran bendera merah putih di puncaknya semakin menambah nilai sempurna untuk film ini. Abaikan kejanggalan-kejanggalan yang ada karena nilai positif yang didapat dari film ini lebih banyak . Persahabatan, Cinta dua insan, cinta alam dan lingkungan dan tentunya cinta tanah air bisa menjadi inspirasi yang akhirnya berujung kepada cinta sejati yaitu cinta kepada sang maha pencipta, Allah, Tuhan Yang maha esa. Dan di Hari keanekaragaman hayati tahun 2018 ini, marilah kita satukan tekad bersama untuk menjaga, memelihara, melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati yang ada di tanah air Indonesia sebagai wujud syukur kita atas limpahan karunia yang diberikan Allah yang maha besar kepada tanah air Indonesia.

 Sumber Referensi : Kementrian Lingkungan Hidup, Ilmugeografi.com