"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)

Rabu, 20 Januari 2010

TAPIR : MAMALIA BERKUKU GANJIL

    Tapir adalah kelompok mamalia berkuku ganjil dari suku Tapiridae yang memiliki tubuh gemuk, kaki pendek, dan mocong berbentuk belalai pendek. Anggota ordo Perissodactyla ini hidup di hutan dan rawa-rawa di Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Asia Tenggara. Saat ini empat spesies tapir yaitu tapir melayu (Tapirus indicus), tapir gunung (Tapirus pinchaque) tapir baird (Tapirus Bairdii) dan tapir Amerika Selatan (Tapirus terrestis) dikatagorikan sebagai hewan yang terancam mengalami kepunahan.
    Tinggi bahu tapir mencapai 2-2.5 m. Kaki depannya terdiri dari 4 jari, sedangkan kaki belakangnya terdiri dari 3 jari. Tapir memiliki mata yang kecil  serta telinga yang pendek dan bulat. Belalai pendek yang terdapat diatas mulut dilengkapi dengan lubang hidung. Tapir memiliki indera pendengaran dan penciuman yang tajam.
Induk Tapir Dan Anaknya
Anak Tapir
    Tapir termasuk hewan yang pemalu. Hewan ini akan melarikan diri dengan cara berlindung di balik semak-semak atau berendam di dalam air apabila diganggu atau terancam bahaya. Tapir biasanya keluar untuk mencari makan pada malam hari. Pakan tapir berupa rumput, daun-daunan, ranting pohon dan buah-buahan. Masa hidup tapir bisa mencapai30 tahun. Selain diburu manusia, tapir sering menjadi mangsa dari Harimau dan Jaguar.
    Setelah mengalami masa kehamilan selama 13 bulan , tapir melahirkan seekor anak. Ketika dilahirkan anak tapir memiliki bobot tubuh sekitar 8-13 Kg. Induk tapir kemudian melindungi  dan menutupi anaknya dengan daun-daunan agar terhindar dari predator. Setelah beberapa minggu, anak tapir mengikuti induknya untuk mencari makan. Meskipun anak tapir memakan daun-daunan dan buah-buahan namun pakan utamanya berupa susu dari induk tapir.

Tapir Melayu
    Tapi melayu hidup di Asia Tenggara terutama di Pulau Sumatera, semenanjung Malaka dan Thailand bagian Selatan. Spesies terbesar ini memiliki bobot tubuh sekitar 380 Kg. Bulu tapir melayu berwarna hitam dengan kombinasi putih. Tapir melayu tidak memiliki surai dan belalainya lenbih panjang daripada spesies lainnya. 
Tapir Melayu

Tapir Gunung
    Tapir gunung memiliki bulu yang paling tebal diantara ketiga jenis tapir lainnya. Tapir yang berwarna hitam atau cokelat kemerahan ini hidup di wilayah pegunungan Andes (Amerika Selatan) dan di hutan-hutan Kolombia, Equador, dan Peru. Bobot tubuh tapir gunung mencapai 165 Kg.
Tapir Gunung

Tapir Baird
    Tapir baird mempunyai bobot tubuh sekitar 350 kg. Hewan ini biasanya berwarna abu-abu kecokelatan dengan kombinasi awrna putih di bagian pipi, leher dan dada. Tapir baird terdapat di Equador, Kolombia, Guatemala, Nikaragua dan Meksiko tenggara.
Tapir Baird

Tapir Amerika Selatan
    Bobot tubuh tapir Amerika selatan mencapai 200-250 Kg. Seluruh tubuhnya berwarna cokelat. Tapir Amerika Selatan memiliki surai di bagian tengkuk. Hewan ini hidup di hutan-hutan Amerika Selatan terutama di Brazil, Kolombia, Paraguay dan Argentina.
Tapir Amerika Selatan

Selasa, 19 Januari 2010

ASAS-ASAS EKOLOGI


 Hujan turun membentuk Ekosistem Danau
    Didalam Asas-asas Ekologi yang akan kita bahas disini adalah tentang Habitat dan Relung dan berikut ini pengertian tentang Habitat dan Relung

Habitat
Ekosistem air

Habitat adalah tempat organisme itu hidup, atau tempat kemana seseorang harus pergi untuk menemukan organisme tersebut. Istilah habitat banyak digunakan , tidak saja dalam ekologi tetapi dimana saja. Tetapi pada umumnya istilah ini diartikan sebagai tempat hidup suatu makhluk hidup.

Habitat
Berbagai jenis tumbuhan mempunyai habitat yang berbeda-beda, serupa atau sama sesuai dengan preferensi ekologinya. Berdasarkan kondisi habitatnya dikenal 2 tipe habitat, yaitu :

1. Habitat mikro

merupakan habitat lokal dengan kondisi lingkungan yang bersifat setempat yang tidak terlalu luas, misalnya, kolam, rawa payau berlumpur lembek dan dangkal, danau, dan sebagainya.

2. Habitat makro

merupakan habitat bersifat global dengan kondisi lingkungan yang bersifat umum dan luas, misalnya gurun pasir, pantai berbatu karang, hutan hujan tropika, dan sebagainya.

Morrison (2002) mendefinisikan habitat sebagai sumberdaya dan kondisi yang ada di suatu kawasan yang berdampak ditempati oleh suatu spesies. Keadaan atau kondisi habitat dapat kita lihat pada ilustrasi gambar berikut :

Relung

Relung (niche) dalam ekologi merujuk pada posisi unik yang ditempati oleh suatu spesies tertentu berdasarkan rentang fisik yang ditempati dan peranan yang dilakukan di dalam komunitasnya.Konsep ini menjelaskan suatu cara yang tepat dari suatu organisme untuk menyelaraskan diri dengan lingkungannya. Habitat adalah pemaparan tempat suatu organisme dapat ditemukan, sedangkan relung adalah pertelaan lengkap bagaimana suatu organisme berhubungan dengan lingkungan fisik dan biologisnya. Ekologi dari suatu individu mencakup variabel biotik (makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan, manusia, baik yg mikro maupun yg makro) dan abiotik (benda tidak hidup).Relung menentukan bagaimana spesies memberi tanggapan terhadap ketersediaan sumberdaya hidup dan keberadaan pesaing dan pemangsa dalam suatu ekosistem.



Senin, 11 Januari 2010

OBSERVATORIUM: TEMPAT PENGAMATAN BENDA-BENDA ANGKASA

   Observatorium adalah tempat untuk melakukan berbagai pengamatan astronomi. Di tempat ini para astronom mempelajari planet, bintang, galaksi, dan obyek langit lainnya. Observatorium biasanya dilengkapi dengan teleskop dan peralatan lainnya untuk membantu pengamatan. Observatorium astronomi meliputi observertorium optik, observatorium radio dan observatorium antariksa.
   Biasanya sebuah observatorium terletak  di gunung atau di dataran tinggi. Tempat ini dipilih untuk menghindari polusi udara, gangguan dari cahaya kota, dan efek distorsi dari atmosfer. Semua gangguan tersebut dapat menyebabkan obyek langit seperti bintang-bintang menjadi tidak terlihat jelas. Tempat di dataran tinggi juga dapat memberikan pemandangan langit malam hari yang lebih cerah dan bersih. Adapun peralatan yang digunakan dalam observatorium selain teleskop adalah spektroskop (untuk mengamati cahaya), lingkaran meridian (untuk mengukur perubahan arah bintang), koronograf (untuk mengamati matahri), sel fotoelektrik (untuk mengukur kecerahan bintang) dan teleskop radio.
 Observatorium Bosscha, di Lembang, Jawa Barat
 Jenis Observatorium
    Observatorium astronomi pada umumnya terbagi dalam dua jenis, yaitu observatorium optik dan observatorium radio. Biasanya jika seseorang menyebut observatorium, maka yang dimaksud adalah observatorium optik. Observatorium ini berfungsi untuk mengamati benda-benda langit melalui gelombang elektromagnetik yang terlihat (gelombang optik). Peralatan utama dari observatorium ini adalah teleskop optik. Adapun observatorium radio berfungsi untuk mengamati obyek langit melalui gelombang radio. Peralatan utamanya adalah teleskop radio yang mempunyai bentuk seperti sebuah antena parabola.
Observatorium Ohio, Amerika Serikat
    Akan tetapi, pengamatan melalui gelombang optik dan gelombang radio dirasakan belum mencukupi, karena ternyata ada sebagian obyek langit yang memancarkan radiasi elektomagnetik berupa sinar X atau sinar ultra violet. Kedua sinar itu tidak dapat menembus permukaan bumi karena terhalang oleh atmosfer. Karena itu dibuatlah observatorium antariksa atau observatorium satelit untuk mengamati radiasi elektromagnetik dari benda-benda langit berupa kedua sinar tersebut. Observatorium ini ditaruh di luar atmosfer bumi dan berbentuk satelit. Beberapa observatorium satelit yang terkenal diantaranya adalah Teleskop Antariksa Hubble yang diluncurkan pada tahun 1990 untuk mengamati sinar infra merah dan radiasi ultraviolet. Observatorium Sinar Gamma Compton yang mengorbit bumi pada tahun 1991-2000. Observatorium Sinar X Chandra yang diluncurkan pada tahun 1999, dan fasilitas Teleskop Infra Merah Antariksa yang diluncurkan pada tahun 2002.

Ruangan peneropong bagian dalam Observatorium Bosscha, Lembang
Observatorium Bosscha
    Indonesia juga memiliki sebuah observatorium bernama Observatorium Bosscha. Observatorium ini terletak di Lembang, Jawa Barat. Observatorium ini didirikan pada tahun 1923 oleh Rudolf Bosscha, seorang astrono asal Belanda, bekerja sama dengan Persatuan Astronomi Hindia Belanda. Kini Observatorium Bosscha secara administratif berada di bawah pengelolaan Institut Teknologi Bandung (ITB). Secara geografis, letak observatorium ini sangat menguntungkan karena berada dekat garis khatulistiwa sehingga dapat mengamati langit belahan utara dan langit belahan selatan.

Observatorium Ulugh Beg
    Ketika ilmu astronomi berkembang di dunia Islam, para astronom muslim juga mendirikan banyak observatorium. Di antara sekian banyak observatorium yang pernah dibuat, yang terbaik adalah Observatorium Ulugh Beg yang dibangun di Samarkand (Uzbekistan) pada awal abad ke 15. Ulugh Beg adalah seorang penguasa keturunan mongol di Samarkand. Observatorium Ulugh Beg pernah menjadi observatorium termegah di dunia Islam. Setelah kematian Ulugh Beg, observatorium ini kemudian mengalami kehancuran.