"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)

Jumat, 11 Januari 2013

MASIHKAH ADA MACAN TUTUL DI GUNUNG CIREMAI ?


SEEKOR macan tutul melintas dan tertangkap lensa salah satu kamera trap otomatis di lereng Gunung Ciremai yang selama ini dipasang Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, untuk mengamati keberadaan berbagai jenis binatang di gunung tersebut. Foto hasil rekam kamera trap BTNGC di Blok Sigedong tahun 2011.*

KUNINGAN, (PRLM).- Kebakaran yang telah melalap ratusan hektare kawasan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai dalam tiga pekan terakhir, telah membunuh berbagai jenis flora dan fauna. Namun, berbagai pihak meyakini macan tutul dan macan kumbang tidak sampai ada yang mati terjebak api serta masih bisa hidup aman dalam kawasan hutan rimba di lereng gunung tersebut.
Kecuali itu, fauna berupa binatang melata, katak gunung, anak-anak burung dalam sarang, dan serangga dalam areal terbakar, dipastikan banyak yang terjebak api mati terbakar. Sementara, flora yang mati terbakar sebagian besar berupa alang-alang, rumput, serta berbagai jenis perdu atau semak belukar. Pasalnya, areal yang telah terbakar sebagian besar hanya berupa lahan padat tumpukan batu keropos, minim tanah lengang tegakan pohon.
  Sementara itu, terkait dengan keberadaan macan tutul dan kumbang di gunung tersebut, sejumlah anggota tim operasi penanggulangan kebakaran Ciremai, menduga kuat beberapa areal yang telah terbakar di lereng utara kaki Gunung Ciremai itu, merupakan salah satu tempat jenis binatang buas itu hidup dan mencari mangsanya.
"Selama kami ikut menanggulangi kebakaran di seputar area ini, saya dan beberapa orang teman saya, pada dua minggu ini sempat memergoki macan kumbang hitam lompat dan lari menjauhi kami," kata Cineur (36) salah seorang dari sejumlah anggota Lembaga Swadaya Masyarakat Aktivitas Anak Rimba (Akar) Kuningan, yang sedang membuat alur sekat bakar di lereng utara Ciremai sekitar Blok Batuarca, pada ketinggian sekitar 850 meter di atas permukaan laut, Rabu (26/9/12) pagi.
  Pengakuan serupa juga diungkapkan Piit (40) dan beberapa orang anggota Akar lainnya, serta beberapa orang masyarakat desa yang tergabung dalam tim pembuat sekat bakar di blok tersebut. "Kemarin malam, di sini saya dan rekan tim dari unsur masyarakat peduli api (MPA), juga sempat melihat ada dua ekor macan kumbang lari melintas," ujar Piit, yang menyertai "PRLM" menuju Blok Batuarca tempat berkemah tim pembuat sekat bakar, saat melintasi jalur masuk hutan di sekitar Blok Karangdingding, lereng utara gunung tersebut, Selasa (25/9/12) malam.
Keberadaan macan tutul dan macan kumbang di kawasan gunung Ciremai, sebelumnya juga sempat diyakinkan beberapa orang pejabat Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC). Bahkan menurut Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Kuningan dari BTNGC Mokh. Ridwan Efendi, dan Kepala Satuan Polisi Hutan BTNGC Mufrizal, kamera trap otomatis yang dipasang pihaknya di beberapa titik lereng Ciremai, dalam setahun terakhir sempat merekam beberapa objek foto macan tutul dan macan kumbang, melintas depan lensa kamera tersebut.
"Di antaranya ada juga hasil tangkapan kamera trap yang dipasang di sekitar Blok Batuarca," ujar Mokh. Ridwan Efendi, seraya menjelaskan foto hasil rekaman kamera trap di beberapa titik lereng Gunung Ciremai itu, merupakan bukti bahwa di kawasan gunung berapi tertinggi di Jawa Barat itu, masih dihuni kedua jenis macan tersebut.
Namun, ujar Mokh. Ridwan menambahkan, jumlah populasi kedua jenis macan tersebut sejauh ini pihaknya belum diketahui pasti. "Untuk mengetahui populasi, perkembangbiakan, termasuk habitat macan tutul dan kumbang di Gunung Ciremai, masih memerlukan langkah pengamatan dan penelitian lebih lanjut," katanya. (A-91/A-108)

Macan Tutul Tertangkap di Kaki Gunung Ciremai

MACAN tutul (panthera pardus) dewasa yang masuk dan tertangkap di halaman rumah warga Desa Kalapagunung, Kec. Karamatmulya, Kab. Kuningan, saat siuman setelah dibius pingsan selama lebih kurang 40 menit dalam kerangkeng besi pengamannya, Selasa (16/10/2012). 

KUNINGAN, (PRLM).- Seekor macan tutul (panthera pardus) jantan ukuran dewasa, masuk dan tertangkap hidup di halaman belakang rumah Hj. Kiah (67) di lingkungan RT 2 RW 1, Desa Kalapagunung, Kec. Karamatmulya, Kab. Kuningan, Selasa (16/10). Masyarakat di desa bawahan kaki Gunung Ciremai menduga macan berwarna bulu kuning kecoklatan dengan bintik-bintik berwarna hitam itu, berasal dari kawasan hutan Gunung Ciremai.
"Boa-boa macan ieu turun ti Gunung Ciremai, nandakeun Gunung Ciremai rek bitu boa (Siapa tahu macan ini turun dari Gunung Ciremai dan siapa tahu sebagai tanda-tanda Gunung Ciremai mau meletus)," ujar Yudi (44) seorang warga Kec. Cilimus, Kuningan yang sedang menyaksikan proses penangkapan macan di halaman rumah warga desa tersebut diikuti celoteh ungkapan senada dari sejumlah warga lainnya.
   Sebagian warga di antaranya, menduga macan itu keluar dari kawasan hutan Gunung Ciremai karena habitatnya baru-baru ini terganggu kebakaran hutan. Di balik itu, ada juga masyarakat dari beberapa kalangan menduga macan itu macan peliharaan yang lepas dari kandangnya.
Ketua Pos Pengamat Gunung Api Gunung Ciremai Maman Sukirman, kepaad "PRLM" menyatakan sejauh ini aktivitas vulkanik Gunung Ciremai teramati tidak mengalami gejala peningkatan. Maman Sukirman menyatakan, sampai saat ini status Gunung Ciremai masih tetap aktif normal, tanpa mengalami gejala peningkatan aktivitas vulkanik.
"Jadi, kalau pun, macan itu turun dari Gunung Ciremai, bukan karena aktivitas vulkanik Gunung Ciremai. Mungkin dia (macan tersebut-red.) turun gunung karena kurang makanan atau habitatnya terganggu, tapi bukan terganggu karena aktivitas vulkanik Ciremai," ujar Maman, seraya menegaskan kembali bahwa aktivitas vulkanik Ciremai selama ini tidak mengalami gejala-gejala mengalami peningkatan.
Sementara, posisi Desa Kalapagunung berada di sebelah timur dari Gunung Ciremai. Jika ditarik garis lurus berjarak sekitar 5 kilo meter dari batas hutan terbawah kaki gunung tersebut, tersekat lima wilayah desa lainnya, dari arah Ciremai ke timur masing-masing Desa Sukamukti, Kec. Jalaksana, kemudian Desa Pajambon, Ragawacana, Gandasoli, dan Desa Cibentang, Kec. Karamatmulya.
Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah III Ciamis pada Balai Besar KSDA Jawa Barat Rajendra Supriadi, yang turun membantu pihak Kepolisian Resor (Polres) Kuningan, menangkap hidup macan tersebut, menyatakan pihaknya belum berani menyimpulkan asal-usul macan tersebut. (A-91/A-26).

Harimau Jawa masih ada di Gunung Ciremai ?

   Balai Taman Nasional Gunung Ciremai sejak sepekan lalu menempatkan satu unit kamera trap di titik ketinggian sekitar 2.960 meter di atas permukaan laut lereng barat daya kawasan puncak Gunung Ciremai. Kepala Resort Cigugur lingkup BTNGC Idin Abidin menyebutkan, penempatan kamera otomatis itu dilakukan menyusul adanya informasi bahwa di lokasi tersebut belakangan ini sering dilintasi harimau.
  "Kamera trap yang saya pasang di sana seminggu lalu, kami fokuskan untuk mengamati keberadaan harimau. Selain itu juga untuk mengamati aneka satwa lainnya yang masih sering terlihat berkeliaran di seputar lereng puncak Ciremai," ujar Idin Abidin, saat ditemui "PRLM" di kantor Resort Cigugur.
Idin menyebutkan, informasi keberadaan harimau di kawasan lereng puncak gunung berapi tertinggi di Jawa Barat itu, diperoleh pihaknya dari Kristianto (54) seorang pertapa warga Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebagaimana diberitakan, Kristianto alias Krisna Jaya Wisesa belum lama ini sempat bertapa disertai melakukan pengembaraan selama 38 hari di kawasan puncak gunung tersebut.
Saat turun gunung, pertapa berambut gondrong itu, kepada "PRLM" pun memang sempat meyakinkan bahwa selama mengembara di kawasan puncak Ciremai itu, dirinya telah berulangkali melihat persis seekor harimau melintas di sekitar area yang kini dipasangi kamera tersebut.
"Sosok hewan yang telah beberapa kali saya saksikan melintas di sana, jelas adalah harimau bukan macan. Corak warna bulunya juga terlihat jelas belang hitam dan kuning, bukan totol-totol," kata Kristianto, lalu menyatakan dirinya melihat sosok harimau itu dalam jarak pandang kurang dari 20 meter.
  Temuan sosok harimau tersebut, ketika itu juga sempat dilontarkan dan diyakinkan Kristianto kepada sejumlah pejabat dan jajaran petugas di kantor BTNGC. Menyikapi itu pula, Kepala Resort Cigugur Idin Abidin, sepekan yang lalu berangkat mendaki dan memasang kamera otomatis tersebut pada titik lokasi sebagaimana disebutkan Kristianto.
  Idin Abidin menyebutkan pengamatan keberadaan harimau di gunung tersebut juga didasari beberapa petunjuk lainnya. Di antaranya atas adanya keterangan penduduk yang menyatakan dalam beberapa tahun terakhir masih ada warga yang sempat melihat harimau dalam kawasan hutan Gunung CIremai.
Selain itu, pada tahun 1968 pernah ada seekor harimau keluar dari hutan Gunung Ciremai dan tertangkap mati oleh penduduk. "Meskipun pada tahun 1990-an pihak WWF telah menyatakan harimau jawa di Gunung Ciremai punah, tetapi dengan adanya keterangan-ketarangan dari masyarakat tadi, pembuktian masih ada tidaknya harimau di Gunung Ciremai masih perlu diteliti kembali. Bisa saja, selain harimau jawa yang telah dinyatakan punah, di Gunung Ciremai ini ada harimau sumatera," kata Idin Abidin.
    Namun menurut pendapat admin pribadi, yang telah beberapa kali menjelajahi Gunung Ciremai tahun 1988,1989,1990 kenampakan Harimau Jawa dekat puncak Ciremai pada ketinggian 2950 meter adalah suatu yang tidak mungkin, karena Harimau Jawa lebih sering menjelajah pada hutan-hutan dilereng bawah. Besar kemungkinan yang dilihat oleh Kristianto itu adalah sosok Macan Tutul Jawa yang secara sepintas memang mirip Harimau apabila dilihat dari jarak jauh. Yang jelas Macan Tutul menyukai habitat di tempat-tempat tinggi dekat tebing-tebing curam ataupun gua-gua di tepi jurang yang jarang dijamah manusia. Walaupun ada pengakuan warga yang sempat ditemui admin masih melihat sosok Harimau Jawa dan bukti fisik ofsetan Kepala Harimau Jawa dari Gunung Ciremai, admin menduga Harimau Jawa sudah punah dari Gunung Ciremai, sedangkan yang dilihat oleh penduduk dan pendaki gunung hanyalah salah persepsi, karena sebenarnya yang mereka lihat adalah Macan Tutul Jawa bukan Harimau Jawa.

Sumber Refernsi : Harian Pikiran Rakyat Online

MENDAKI GUNUNG DAN PENGETAHUAN DASAR SURVIVAL (BAGIAN 2)


  Pendakian gunung atau mountaineering yang di Eropa dikenal dengan Alpinism adalah olahraga, profesi dan rekreasi yang di dalamnya termasuk panjat tebing. Mendaki gunung adalah bentuk yang lebih menantang daripada sekedar jalan kaki naik turun gunung untuk menikmati pemandangan atau hiking.
Ada banyak alasan mengapa para pendaki terlibat dalam kegiatan ini. Salah satunya adalah dalam olahraga ini menuntut tantangan individu pada kemampuan dan keterampilan yang dimiliki; selain itu juga dituntut kemampuan seorang pendaki dapat menyatu dengan alam.

Yang tidak kalah penting adalah para pendaki gunung juga dituntut kemampuan dalam hal panjat tebing. Tetapi secara umum tujuan orang - orang yang mendaki gunung adalah menggapai tempat - tempat tertinggi untuk menikmati keindahan dimana tidak setiap orang bisa mendapatkannya.

Ada 3 bentuk dasar pendakian yang disesuaikan dengan irama kebutuhannya.
  1. Pendakian gunung yang melibatkan panjat tebing ( Rock Climbing ) yang begitu popular di kalangan pendaki. Dimana pendakian melibatkan pemanjatan pada lereng - lereng batu dan tebing.
  2. Pendakian Gunung salju. Pendakian ini memiliki resiko yang lebih membahayakan dan membutuhkan kemampuan mengenali medan. Biasanya diperlukan peralatan khusus untuk melakukannya.
  3. Kombinasi dari keduanya di atas. Untuk melakukan hal ini biasanya seorang pendaki harus memiliki pelatihan dan pengalaman yang cukup baik.
Walaupun cedera dan kecelakaan sering terjadi di gunung, namun kenyataannya kegiatan ini tetap  menyenangkan. Berbagai masalah dapat dihindari melalui persiapan, baik pelatihan dan kondisi fisik yang baik.

Juga kemampuan pendaki dalam Tim pendakian untuk dapat bekerjasama  mengantisipasi kejadian yang tidak terduga. Selain itu, dalam dunia pendakian gunung 'pengalaman adalah guru yang terbaik'. Bergabung dengan kelompok - kelompok pendaki serta membaca buku - buku dan artikel gunung juga sangat bermanfaat untuk memulai petualangan kita.

MENGAPA MENDAKI GUNUNG?
Mendaki gunung adalah kombinasi olahraga dan kegiatan rekreasi untuk mengatasi tantangan dan bahaya pada lereng dan jurang untuk mendapatkan pemandangan yang indah dari puncaknya walaupun harus melewati kesulitan ataupun memanjat tebing menjelang puncaknya. Ada beberapa alasan mengapa orang terlibat dalam kegiatan ini:
  1. Mendaki gunung adalah menyelesaikan tantangan dan mengukur kemampuan individu dalam skala yang berbeda. Orang yang mencintai petualangan, olahraga ini akan memberikan rasa antusias dan pemenuhan rasa menaklukkan dunia pada saat tiba di puncaknya. Menyaksikan pemandangan yang indah biasanya adalah hasil dari semuanya.
  2. Mendaki gunung adalah kegiatan fisik yang sangat baik untuk kesehatan. Ini merupakan bentuk latihan di mana ketika kita menikmati tantangan juga harus mengeluarkan energi yang besar pada saat yang sama. Efek dari olahraga juga akan meningkatkan kekuatan tubuh dan daya tahan.
  3. Mendaki gunung menawarkan eksplorasi keindahan alam. Sebagian besar pecinta kegiatan ini menemukan rasa cinta kepada alam bebas melalui kegiatan ini, Kegiatan ini juga membawa mereka lebih dekat kepada kebebasan dan kehidupan liar. Selain itu, perjalanan ke puncak gunung akan menyajikan keindahan alam yang begitu sempurna
  4. Mendaki gunung mengembangkan beberapa keterampilan dan melatih kita melakukan persiapan menghadapi masalah, memberikan kewaspadaan, kesabaran, kepercayaan diri, dan kerja kelompok. Dalam hal ini kegiatan mendaki gunung dapat dilihat sebagai refleksi dari kehidupan nyata di mana kita harus bekerja keras untuk mencapai tujuan kita. Menekankan disiplin begitu penting sebagai nilai tambah di setiap pendakian.
  5. Mendaki gunung juga merupakan kegiatan untuk membangun persahabatan antara sesama pendaki dan petualang. Pendakian yang menyenangkan adalah sebuah petualangan yang menyenangkan dalam berbagi dan mengikat rasa persahabatan. Kepekaan kebutuhan dalam sebuah kelompok ada akhirnya membentuk sebuah ikatan yang kuat.
  6. Mendaki gunung merupakan bentuk relaksasi. Meskipun kegiatan ini menuntut fisik yang kuat namun akan menjauhkan kita dari rasa bosan terhadap rutinitas kegiatan setiap hari. Lingkungan yang indah dapat menghilangkan stres dari besarnya tanggung jawab pekerjaan kantor dan rutinitas harian. Mendaki gunung biasanya dipakai sebagai alat keluar dari keramaian dan hiruk pikuk kehidupan kota.
Di dalam kegiatan mendaki gunung, diperlukan pengetahuan dan ketrampilan dasar yang didapatkan dari latihan-latihan dasar Club Pecinta Alam, diantaranya kemampuan bertahan hidup di alam liar atau Survival. Pada bagian kedua ini dibahas Pengetahuan dasar Survival yang harus dimiliki oleh seorang pendaki gunung yang berjiwa petualang. Admin membahas dalam dua topik yaitu kemampuan bertahan di alam dengan membuat Bivak alam dan makanan yang bisa diperoleh langsung dari alam liar.

Membuat Bivouck (Shelter)

Membuat bivouck atau shelter perlindungan dalam keadaaan darurat sebenarnya bertujuan untuk untuk melindungi diri dari angin, panas, hujan, dingin dan gangguan binatang.
Macam –macam bivouck :
  1. Shelter asli alam ; Gua [yang bukan tempat persembunyian binatang, tidak ada gas beracun dan tidak mudah longsor]. Ingat ! didalam gua jangan berteriak karena dapat meruntuhkan dinding gua.
  2. Shelter buatan dari alam ; daun-daunan yang lebar, ranting kayu, atau separuhnya alam dan separuhnya butan [misalnya ponco di kombinasi dengan ceruk batu atau pohon tumbang atau ranting kayu]
Syarat bivouck :

  • Hindari daerah aliran air [bila terpaksa, maka gunakan bivouck panggung]
  • Di atas bivouck / shelter tidak ada dahan pohon mati/rapuh
  • Bukan sarang nyamuk/serangga
  • Bahan kuat
  • Jangan terlalu merusak alam sekitar
  • Terlindung langsung dari angin

Mengatasi Gangguan Binatang

Nyamuk ; Obat nyamuk, autan, dll , Bunga kluwih dibakar, Gombal / kain butut [dalam keadaan memaksa, penulis pernah memotong lengan baju kaos sebagai pengganti gombal] dan minyak tanah dibakar kemudian dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk , Gosokkan sedikit garam pada bekas gigitan nyamuk. Laron ; Mengusir laron yang terlalu banyak dengan cabe yang digantungkan
Disengat Lebah ; Oleskan air bawang merah pada luka bekas sengatan berkali-kali, Tempelkan tanah basah/liat di atas luka sengatan, Jangan dipijit-pijit, Tempelkan pecahan genting panas di atas luka, Olesi dengan petsin untuk mencegah pembengkakan
Gigitan Lintah ; Teteskan air tembakau pada lintahnya, Taburkan garam di atas lintahnya, Teteskan sari jeruk mentah pada lintahnya, Taburkan abu rokok di atas lintahnya, Membuang [mengais] lintah upayakan dengan patahan kayu hidup yang ada kambiumnya.
Semut Gatal ; Gosokkan obat gosok pada luka gigitan, Letakkan cabe merah pada jalan semut, Letakkan sobekan daun sirih pada jalan semut
Kalajengking dan lipan; Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar, Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit, Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka, Taburkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka, Taburkan garam di sekeliling bivouck untuk pencegahan
Ular dll ; Untuk mencegah dan mengobati secara darurat gigitan dan sengatan binatang berbisa mematikan harus mempelajari Emergency Medical Care [EMC]

Membaca Jejak


Ada beberapa jenis jejak yang dapat diidentifikasi, yaitu jejak buatan, maksudnya adalah jejak yang dibuat oleh manusia dan jejak alami yaitu tanda jejak sebagai tanda keadaan lingkungan.
Jejak alami biasanya menyatakan tentang jenis binatang yang lewat dan ada disekitar, arah gerak binatang, besar kecilnya binatang, cepat lambatnya gerak binatang. Untuk membaca jejak alami [binatang] dapat diketahui dari telapak yang ditinggalkan, kotoran yang tersisa, pohon atau ranting yang patah, lumpur atau tanah yang tercecer di atas rumput.
Air
Seseorang dalam keadaan normal dan sehat dapat bertahan sekitar 20 – 30 hari tanpa makan, tapi orang tersebut hanya dapat bertahan hidup 3 – 5 hari saja tanpa air.
Ada air yang tidak perlu dimurnikan, seperti air hujan langsung. Untuk memperoleh air hujan langsung dalam keadaaan sirvive di alam bebas, maka dapat dengan cara memampung dengan ponco atau daun yang lebar dan alirkan ke tempat penampungan [nesting atau phipless]
Air dari tanaman rambat/rotan atau bambu. Cara memperolehnya, yaitu potong setinggi mungkin lalu potong pada bagian dekat tanah, air yang menetes dapat langsung ditampung atau diteteskan ke dalam mulut.
Selain rotan, bambu dan tumbuhan rambat, air juga dapat diperoleh pada bunga (kantung semar) dan lumut.
Air yang harus dimurnikan terlebih dahulu antara lain adalah air sungai besar, air sungai tergenang, air yang didapatkan dengan menggali pasir di pantai (+ 5 meter dari batas pasang surut). Untuk mendaptkan air di daerah sungai yang kering, caranya dengan menggali lubang di bawah batuan
Berikutnya air juga dapat diperoleh dari batang pisang, caranya tebang batang pohon pisang, sehingga yang tersisa tinggal bawahnya [bongkahnya] lalu buat lubang ditengahnya maka air akan keluar, biasanya dapat keluar sampai 3 kali pengambilan.

Makanan


Dalam kondisi hidup dialam bebas ada berbagai makanan yang dapat di konsumsi, tetapi harus memperhatikan beberapa syarat dan patokan berikut :

  • Makanan yang di makan kera juga bisa di makan manusia
  • Hati-hatilah pada tanaman dan buah yang berwarna mencolok
  • Hindari makanan yang mengeluarakan getah putih, seperti sabun kecuali sawo dan pepaya.
  • Tanaman yang akan dimakan di coba dulu dioleskan pada tangan, lengan, bibir dan atau lidah, tunggu sesaat. Apabila terasa aman bisa dimakan.
  • Hindari makanan yang terlalu pahit atau asam
Catatan ;

Hubungan air dan makanan; Untuk makanan yang mengandung karbohidrat memerlukan air yang sedikit, Makanan ringan yang dikemas akan mempercepat kehausan, Makanan yang mengandung protein butuh air yang banyak.

Tumbuhan yang dapat dimakan dapat diketahui dari ciri-ciri fisik, misalnya : Permukaan daun atau batang yang tidak berbulu atau berduri, tidak mengeluarkan getah yang sangat lekat, tidak menimbulkan rasa gatal, hal ini dapat dicoba dengan mengoleskan daunnya pada kulit atau bibir dan tidak menimbulkan rasa pahit yang sangat [dapat dicoba di ujung lidah].
Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa batangnya :

  • Batang pohon pisang (putihnya)
  • Bambu yang masih muda (rebung)
  • Pakis dalamnya berwarna putih
  • Sagu dalamnya berwarna putih
  • Tebu
Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa daunnya :

  • Selada air
  • Rasamala (yang masih muda)
  • Daun mlinjo
  • Singkong

Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa akar dan umbinya :

Ubi jalar, talas, singkong
Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa Buahnya :
Arbei, asam jawa, juwet

Tumbuhan yang dapat dimakan seluruhnya :

  • Jamur merang, jamur kayu. Tetapi ada beberapa jenis jamur mempunyai beracun yang ciri-cirinya adalah :
  • Mempunyai warna mencolok
  • Baunya tidak sedap
  • Bila dimasukkan ke dalam nasi, nasinya menjadi kuning
  • Sendok menjadi hitam bila dimasukkan ke dalam masakan
  • Bila diraba mudah hancur
  • Punya cawan/bentuk mangkok pada bagian pokok batangnya
  • Tumbuh dari kotoran hewan
  • Mengeluarkan getah putih

Selain tumbuhan, berbagai hewan yang ditemukan di alam dapat dimakan juga, misalnya Belalang, Jangkrik, Tempayak putih (gendon), Cacing, burung, Laron, Lebah, larva, Siput/bekicot, Kadal [bagia belakang dan ekor], Katak hijau, Ular [1/3 bagian tubuh tengahnya], Binatang besar lainnya.
Ada beberapa ciri binatang yang tidak dapat dimakan, yaitu :


  • Binatang yang mengandung bisa : lipan dan kalajengking
  • Binatang yang mengandung racun : penyu laut
  • Binatang yang mengandung bau yang khas : sigung / senggung

Api


Bila mempunyai bahan untuk membuat api, yang perlu diperhatikan adalah jangan membuat api terlalu besar tetapi buatlah api yang kecil beberapa buah, hal ini lebih baik dan panas yang dihasilkan merata. Cara membuat api dalam keadaan darurat :

  • Dengan lensa / Kaca pembesar ; Fokuskan sinar pada satu titik dimana diletakkan bahan yang mudah terbakar.
  • Gesekan kayu dengan kayu ; Cara ini adalah cara yang paling susah, caranya dengan menggesek-gesekkan dua buah batang kayu sehingga panas dan kemudian dekatkan bahan penyala, sehingga terbakar
  • Busur dan gurdi ; Buatlah busur yang kuat dengan mempergunakan tali sepatu atau parasut, gurdikan kayu keras pada kayu lain sehingga terlihat asap dan sediakan bahan penyala agar mudah tebakar. Bahan penyala yang baik adalah kawul / sabut terdapat pada dasar kelapa, atau daun aren.

Survival kits


Survical kits adalah perlengkapan untuk survival yang harus dibawa dalam perjalanan sebagai alat berjaga-jaga bila terjadi keadaan darurat atau juga dapat digunakan selama perjalanan.
Beberapa contoh survival kits adalah :


  • Mata pancing /kait
  • Pisau / sangkur / vitrorinoc
  • Tali kecil
  • Senter
  • Cermin suryakanta, cermin kecil
  • Peluit
  • Korek api yang disimpan dalam tempat kedap air [tube roll film]
  • Tablet garam, norit
  • Obat-obatan pribadi
  • Jarum + benang + peniti
  • Ponco / jas hujan / rain coat
  • Lain-lain

Rabu, 09 Januari 2013

LAGI PENDAKI TEWAS DI CIREMAI (BAGIAN 3)

Pendaki Gunung Ciremai Tewas, Diduga Kelelahan


KUNINGAN, (PRLM).- Ian Ahdiansyah (22) mahasiswa tingkat akhir jurusan keperawatan Sekolah Tinggi Kesehatan Kuningan (STIKKU) meninggal dunia dalam perjalanan turun sehabis mendaki puncak Gunung Ciremai di Kab. Kuningan, Jumat (4/1/13) siang. Warga Dusun Manis, RT 2 RW 1, Desa Segong, Kec. Karangkancana, Kab. Kuningan itu, diduga mengalami kelelahan dan kedinginan di gunung dan meninggal dunia ketika tengah dilarikan dari Pos Pendakian menuju rumah sakit Cigugur, Kuningan.
Menurut keterangan yang diperoleh "PRLM" dari Pos Pendakian Gunung Ciremai Jalur Palutungan, korban berangkat mendaki Ciremai bersama empat orang rekan sekampusnya. Masing-masing Ipang Abdulharis (21), Nursoleman (21), Sastriadi (22), dan Asep Triana (22).
Kelompok pendaki beranggotakan lima orang mahasiswa tingkat akhir jurusan Keperawatan STIKKU itu, berangkat mendaki dari Dusun Palutungan Kamis (3/1) siang sekitar pukul 12.00 WIB., setelah sebelumnya mendaftar dulu dan membayar tiket pendakian di Pos Palutungan. Saat itu mereka melakukan perjalanan pendakian langsung menuju puncak Ciremai berketinggian sekitar 3.078 meter di atas pemukaan laut (mdpl).
"Kami berlima kemarin tiba di puncak Ciremai malam hari sekitar pukul 19.00 WIB. Di puncak kami hanya sebentar. Setelah masak dan makan, kami berlima segera turun lagi menuju Pos Palutungan," ujar Ipang dengan nada bicara terbata-bata menahan kepiluan atas kepergian rekannya itu, di kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) Resort Cigugur, Jumat (4/1/13) sore.
Namun, menurut Ipang dan tiga rekannya, saat tiba di Pos Pasanggrahan (2.450 mdpl), Ian yang baru pertama kali mendaki gunung mengeluh menyatakan mengantuk dan sakit kepala. "Karena itu, kami memutuskan beristirahat dan menggelar tenda di Pasanggrahan, dan Ian pun sempat tidur beristirahat selama sekitar satu jam di dalam tenda," kata Ipang, dibenarkan tiga rekannya.
Setelah itu, Ian terbangun dari tidurnya dan menyatakan sudah bugar kembali. Atas kesepakatan bersama, malam itu Ian bersama empat rekannya lalu membongkar tenda dan melanjutkan perjalanan turun gunung.
Dalam perjalanan melanjutkan turun melewati sejumlah pos atau tempat peristirahatan pendaki, menurut mereka, kondisi fisik Ian terlihat stabil melangkah tanpa keluhan mengimbangi rekan-rekannya. Bahkan, masih mampu membawa ransel berisi perelengkapan mendaki serta sisa logistik perbekalannya.
Akan tetapi, ketika sudah melewati Pos Kuta (1.575 mdpl.) mendekati Pos Cigowong (1.450 mdpl.)Ian kembali mengeluh ngantuk dan sakit kepala, bahkan kondisi fisiknya melemah hingga tidak mampu lagi berjalan sendiri. "Karena pos Cigowong sudah sangat dekat, saat itu Ian kami gendong ke Pos Cigowong. Kemudian setibanya di Pos Cigowong kami segera menggelar tenda dan menidurkan Ian di dalam tenda," ujar Ipang, seraya menyebutkan mereka tiba di Pos Cigowong menggelar tenda Jumat (4/1/13) dini hari sekitar pukul 1.00 WIB.
Namun, beberapa saat kemudian di dalam tenda itu Ian mengalami pingsan dan hingga menjelang terbit matahari, tak kunjung siuman. Khawatir terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap Ian, dua rekannya segera turun ke Palutungan dan meminta bantuan kepada Sandi Aditia (Baron) salah seorang anggota Mitra Pengelola Pendakian Gunung Ciremai (PPGC) Palutungan.
Mendapat laporan tersebut, Baron disertai 10 personel PPGC Palutungan segera berangkat mendaki ke Pos Cigowong. "Ketika kami tiba di Cigowong sekitar pukul 8.00 WIB., kami menemui Ian dalam kondisi pingsan ditunggui tiga rekannya di dalam tenda," ujar Baron.
Baron bersama 10 rekannya, kemudian mengevakuasi Ian ditandu turun dan tiba di Pos Palutungan, sekitar pukul 11.15 WIB., dan langsung dilarikan menuju rumah sakit Sekarkamulyan Cigugur menggunakan mobil angkutan umum. Saat dievakuasi ke Palutungan hingga dinaikan ke mobil yang membawanya, menurut Baron dan Ipang, Ian masih bernafas. Namun sebelum tiba ke rumah sakit tersebut, Ian keburu menghembuskan nafas terakhirnya.
Kasus kematian pendaki tersebut juga dibenarkan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Kuningan dari BTNGC Mokh Rifdwan Effendi. Ia menyatakan, Ian dan kelompoknya mendaki Ciremai dengan cara mendaftar resmi. "Penyebab pasti kematiannya sementara ini belum kami ketahui, dan saat ini masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian," ujar Mokh Ridwan, seraya menyatakan pihaknya akan segera mengurus santunan asuransi atas kematian pendaki tersebut.
Sementara itu, jenazah Ian Jumat siang telah dibawa pulang keluarganya ke Karangkancana untuk dimakamkan di alamat desanya. Sementara, empat rekannya Jumat sore telah dijemput dan dibawa pulang oleh Dosen Pembina Kemahasiswaan STIKKU Didin Saefudin, dari kantor BTNGC Resort Cigugur. (A-91/A-108)***