"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)

Jumat, 04 November 2016

DURIAN : BUAH YANG KULITNYA BERDURI

    Durian (Durio zibethinus) adalah nama spesies tumbuhan dikotil dari suku Bombacaceae yang kulit buahnya berduri, sedangkan daging buahnya memiliki rasa dan aroma khas. Tanaman tropis ini sangat populer di Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand. Oleh sebab itu, pohon durian seringkali dibudidayakan dalam skala besar di perkebunan.
    Pohon durian tumbuh pada dataran rendah sampai daerah yang berketinggian tidak lebih dari 800 m di atas permukaan laut. Tanaman ini membutuhkan temperatur udara sekitar 20-30o C dan curah hujan 1.500 - 3.000 mm pertahun. Di Indonesia, durian ditanam di seluruh wilayah P.Jawa dan P.Sumatera, sedangkan di wilayah P.Kalimantan dan P.Papua tanaman ini terdapat di hutan dan di sepanjang aliran sungai.

Pohon Durian

Budidaya Durian
    Banyak varietas durian dibudidayakan oleh para petani, antara lain durian petruk (Jawa Tengah), Simas (Jawa Barat), Sitokong (Jakarta), Sukun (Jawa Tengah), Sunan (Jawa Tengah), Sidodol (Kalimantan Selatan), Sijapang (Jakarta), Sihijau (Kalimantan Selatan), Otong (Thailand), dan Kani (Thailand). Tanaman ini diperbanyak secara generatif (biji) maupun secara vegetatif (Okulasi, penyambungan dan pencangkokan).

Daging Buah
    Durian memiliki batang yang lurus dengan ketinggian sekitar 20-40 m. Daunnya berbentuk bulat memanjang dengan ujung meruncing. Permukaan atas daun licin dengan lapisan lilin, sedangkan permukaan bawahnya kasar. Bunganya tersusun dalam malai atau tandan. Masing-masing pohon menghasilkan 30-60 kuntum bunga yang berwarna putih kekuning-kuningan. Buah durian berbentuk bulat lonjong atau bulat telur. Kulit buahnya yang tebal memiliki duri-duri yang berbentuk kerucut. Daging buah yang berwarna putih kekuningan memiliki tekstur lunak, rasa yang manis dan aroma yang khas. Kandungan gizi yang terdapat dalam daging buah durian antara lain adalah karbonhidrat, protein, lemak, kalsium, zat besi, vitamin A dan vitamin C. Adapun biji durian memiliki kulit yang keras dan mengandung lembaga yang berwarna putih.

Lempok dan Tempoyak
    Daging durian dapat dimakan secara langsung atau diolah menjadi beberapa produk, seperti lempok atau dodol durian dan tempoyak (daging buah yang digarami dan diasamkan. Selain daging buah, bagian dari tanaman durian dapat dimanfaatkan untuk beberapa keperluan.Pohon durian berfungsi sebagai pencegah erosi tanah, terutama pada lahan-lahan miring. Batangnya berguna sebagai bahan bangunan dan bahan pembuatan alat-alat rumah tangga. Biji durian banyak mengandung pati berpotensi sebagai bahan pangan alternatif yang dapat menggantikan bahan makanan pokok. Setelah dikeringkan dan dibakar, kulit buah durian dapat dimanfaatkan sebagai abu gosok.

Beberapa Varietas Durian Budidaya

  1.     Durian Petruk : Durian ini berasal dari Randusari, Jepara Jawa Tengah. Tinggi pohonnya mencapai 18 m. Buahnya berduri kecil dan rapat serta berbentuk bulat telur terbalik. Daging buahnya berwarna kuning, agak lembek, manis dan aromanya tidak terlalu menyengat.
  2. Durian Simas : Durian ini berasal dari Rancamaya, Bogor (Jawa Barat). Tinggi pohonnya mencapai 15 m. Buahnya berwana kuning kemerah-merahan dan berbentuk lonjong denganbagian pangkal meruncing. Daging buah berwarna kuning menyala, tebal, rasanya manis dan beraroma harum.
  3. Durian Sitokong. Durian ini berasal dari Ragunan, Pasar Minggu (Jakarta). Tingginya sekitar 20 m. Buahnya bulat panjang, berwarna hijau kekuning-kuningan dan berduri rapat. Daging buah berwarna kuning, manis dan beraroma harum.
  4. Durian Sukun, Durian ini berasal dari Gempolan, Karanganyar (Jawa Tengah). Tinggi pohonnya mencapai 15 m. Buahnya berdaging tebal, manis, harum dan berwarna putih kekuning-kuningan.
  5. Durian Sunan: Durian ini berasal dari Gendol, Bayolali (Jawa Tengah). Cabang-cabang pohonnya rendah, mendatar dan rapat. Warna buahnya hijau kecokelat-cokelatan, sedangkan dagingnya tebal, manis dan berwarna kuning
 Durian Petruk

 Durian Simas
 Durian Sitokong
 Durian Cani
Durian Simas

DELTA : PULAU HASIL SEDIMENTASI SUNGAI

    Delta adalah tanah endapan (Pasir halus, tanah liat, kerikil, lumpur, dan sedimen lain) berupa dataran rendah dan berbentuk segitiga di muara sungai yang terdiri atas bahan sedimentasi dari daerah aliran sungai. Wilayah delta merupakan tanah subur sehingga banyak digunakan sebagai lahan pertanian.
    Sejak zaman prasejarah, delta berperan penting bagi kehidupan manusia. Banyak peradaban manusia berawal dan berkembang di delta, seperti Delta Nil di Mesir, delta Eufrat-Tigris di Iraq, delta Mississiphi di Amerika Serikat, dan delta Brahmaputra di Bangladesh. Delta terbentuk oleh sungai yang mengalir bersamaan dengan mengikis dan membawa bahan sedimentasi dari daratan yang dilaluinya.
Variasi Delta
    Delta bervariasi dalam ukuran, struktur, dan komposisinya. Faktor yang mempengaruhi karakter delta antara lain adalah kondisi iklim, sumber endapan ekologis di daerah aliran sungai, stabilitas tektonik, karakteristik banjir, kemiringan sungai, proses erosi, serta jangkauan gelombang dan pasang. Kombinasi dari beberapa faktor ini menimbulkan berbagai bentuk delta. Adanya delta merupakan pertanda bahwa kekuatan pengendapan bahan erosi sungai lebih kuat daripada gelombang dan arus laut. Delta terdiri atas tiga komponen yaitu delta hulu, delta tengah dan delta sub-akuatik yang menjorok ke laut dan membentuk permukaan bawah laut.

Sumber Delta
    Bagian sungai yang dibatasi dinding lembah (dataran aluvial) merupakan sumber sedimentasi yang hanyut ke laut. Pada tempat tertentu aliran sungai melebar dan terpecah menjadi beberapa cabang. Inilah awal terjadinya delta hulu. Dataran ini terletak pada ketinggian diatas jangkauan air pasang dan terbentuk oleh terjadinya proses anak sungai. Kawasan di antara satu aliran dan aliran lain biasanya membentuk rawa air tawar (danau dangkal). Delta hilir secara berkala dibanjiri air pasang naik dan daratannya terbentuk dari interaksi air sungai dan air laut.

Klasifikasi Delta
    Delta muncul dalam banyak bentuk. Karakteristiknya ditentukan oleh keseimbangan antara energi dan kandungan sedimen sistem fluvial dan dinamika samudera. Klasifikasi delta didasarkan pada bentuk delta ketika karakteristiknya terbentuk. Berdasarkan klasifikasi ini delta dapat dibagi atas dua jenis yaitu delta sangat kontruktif dan delta sangat destruktif.

  1. Delta sangat Konstruktif  . Delta sangat konstruktif berkembang ketika kegiatan fluvial dan proses pengendapan mendominasi sistem aliran sungai. Delta jenis ini terjadi dalam dua bentuk yaitu delta kaki burung seperti delta Mississiphi dan delta dari masa Holosen (2 juta tahun silam hingga kini) pada sungai Mississiphi yang berbentuk membulat seperti kaki burung berselaput. Kedua jenis delta ini terbentuk dari pasokan bahan endapan, dan ketika bertemu dengan proses gelombang laut, endapan tersebut cenderung melebar di sepanjang garis pantai.
  2. Delta Sangat Destruktif  Adapun delta sangat destruktif terbentuk di garis pantai dengan banyak gelombang laut. Bahan endapan yang dibawa sungai diterpa gelombang laut sebelum mengendap. Delta yang terbentuk oleh sungai misalnya sungai Nil, digolongkan sebagai delta yang didominasi gelombang laut. Pada delta sangat destruktif sedimentasi mengendap sebagai penghalang pasir berbentuk melengkung dekat muara sungai. Dalam bentuk lainnya, yang disebut juga delta yang didominasi pasang, arus pasang membentuk sedimentasi menjadi gundukan pasir yang berbentuk garis lurus memanjang dari muara sungai. Pada jenis delta ini lumpur dan kerikil mengendap di gundukan pasir. Biasanya kawasan tersebut berbentuk rawa yang ditumbuhi hutan bakau.

 Delta Daube di Rumania
 Delta Okivongo, di Botswana, Afrika
 Delta Orinoco, di Amerika Selatan
 Delta Volga, di Rusia
Delta Dnieper, Eropa Timur
Delta Achen di Jerman

KUMBANG : SERANGGA DENGAN SAYAP BERWARNA-WARNI

    Kumbang merupakan serangga dari bangsa Coleoptera yang memiliki sayap luar yang keras dan sayap dalam yang berupa membram atau selaput. Golongan hewan ini terdiri dari sekitar 350.000 spesies. Kumbang dapat ditemukan di hampir semua ekosistem, kecuali di laut dan di padang salju. Tubuh kumbang terbagi menjadi tiga bagian yaitu kepala (caput), dada (thorax), dan perut (abdomen). Kutikula atau kulit kumbang dilindungi oleh kitin, yaitu lapisan keras yang terbuat dari bahan tanduk. Kepala kumbang dilengkapi dengan sepasang antena, mata dan mulut. Bagian dada tersusun atas tiga segmen yang masing-masing mempunyai sepasang kaki. Sayap luar yang disebut elytra, tertanam pada segmen pertama. Adapun sayap dalam terlindung oleh elytra yang keras. Sayap dalam ini berfungsi utuk terbang. Adapun bagian perut kumbang terletak dibawah dada. Perut kumbang berisi organ-organ pencernaan dan reproduksi.
Antena dan Setae
    Antena dan Setae merupakan organ sensoris pada kumbang. Antena digunakan untuk mendeteksi makanan dan feromon (zat kimia yang dilepaskan oleh hewan untuk menarik perhatian pasangan). Adapun Setae (bulu halus pada tubuh) mampu mendeteksi sentuhan, bunyi, bau, rasa dan kilatan cahaya.

Tempayak
     Selama hidupnya, kumbang mengalami metamorfosis sempurna yang terdiri dari empat fase, yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Kumbang betina yang telah dibuahi akan meletakkan telurnya di dekat sumber makanan. Setelah beberapa hari, telur menetas menjadi larva yang disebut tempayak. Pada tahap ini Tempayak mengalami proses pertumbuhan dan pergantian kulit. Setelah pertumbuhannya maksimal , kumbang memasuki fase pupa dengan membentuk kepompong. Fase pupa sering disebut fase istirahat karena kumbang seolah-olah tidak melakukan aktivitas. Meskipun demikian, beberapa tahap pembentukan organ tubuh terjadi pada fase ini. Fase dewasa ditandai dengan keluarnya kumbang dari kepompong. Pada fase ini sayap dalam dan elytra keluar dari dalam kepompong.

Parasit
    Makanan kumbang bervariasi. Sebagian besar kumbang memakan bagian-bagian tenaman seperti daun, akar dan bunga. Beberapa jenis kumbang merupakan pemakan bangkai dan pemangsa hewan invertebrata seperti serangga dan siput. Sekitar 100 spesie kumbang menjadi hewan parasit bagi manusia. Serangga ini menyebabkan kerusakan beberapa komoditas pertanian seperti kentang dan perkebunan seperti kentang, kapas, dan kayu. 
    Selain itu, kumbang juga menjadi vektor atau perantara berbagai penyakit. Meskipun demikian, beberapa jenis kumbang bermanfaat bagi manusia. Para petani menggunakan kumbang kepik (suku Coccinellidae) sebagai predator alami yang memangsa kutu daun pada tanaman. Adapun kumbang tanah (suku Carabidae) memangsa ngengat dan ulat pada tanaman kentang dan tanaman kayu.

Simbiosis Mutualisme
    Kumbang juga dapat ditemukan di sarang semut atau rayap. Kumbang menjadikan sarang tersebut untuk berlindung dari pemangsanya. Sebagai imbalannya, kumbang membersihkan sarang dengan cara memakan kotoran semut atau rayap. Hubungan ini disebut simbiosis mutualisme (hubungan saling menguntungkan antara dua organisme)

Kumbang Koksi
 Kumbang Emas
 Kumbang Koksi Kuning
 Kumbang Kura-kura Emas
Kumbang Tanduk

Sumber : Ensiklopedi Umum Untuk Pelajar dan Pustaka Alam Life : Serangga