"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)

Jumat, 27 Juli 2018

GERHANA BULAN TOTAL 28 JULI 2018 , TERLAMA DI ABAD KE 21

   
   Peristiwa gerhana, baik itu gerhana bulan ataupun gerhana matahari, sebenarnya merupakan peristiwa langit yang tergolong biasa saja dalam astronomi. Tidak ada yang spesial, melainkan hanya ditutupinya matahari oleh bulan atau bulan oleh bayangan bumi. Namun, di era modern seperti sekarang ini, rupanya masih banyak masyarakat kita yang berpikiran bahwa peristiwa gerhana adalah peristiwa yang tidak biasa. Hal ini pula yang mungkin membuat sebagian dari kita bertanya-tanya; mengapa sekarang sering terjadi gerhana? Apakah ini tanda kiamat?
    Perlu diketahui, peristiwa gerhana bukan termasuk dalam peristiwa langka. Di tahun 2018 ini saja, setidaknya ada lima kali gerhana yang terjadi, dua gerhana bulan dan tiga gerhana matahari. Namun, tidak semuanya teramati di Indonesia. 

Apa Itu Gerhana? 
   
Gerhana Bulan (Supermoon)
    Dalam astronomi, gerhana adalah peristiwa yang terjadi ketika sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Di Bumi, peristiwa ini terjadi pada dua benda terdekat planet kita, yakni matahari dan bulan, dan hanya dapat terjadi ketika mereka hampir berada dalam garis lurus, atau yang dikenal sebagai posisi syzygy.
    Gerhana matahari misalnya, hanya bisa terjadi ketika bulan, dalam mengelilingi bumi, melintasi persimpangan antara matahari dan bumi. Sementara gerhana bulan hanya bisa terjadi ketika bumi secara tepat melintasi persimpangan antara matahari dan bulan. 
   Gerhana matahari bisa terjadi di fase bulan baru, sementara gerhana bulan hanya terjadi di fase bulan purnama. Penyebab tidak adanya gerhana matahari tiap fase bulan baru dan tidak adanya gerhana bulan tiap fase bulan purnama adalah; bidang orbit bulan miring sekitar lima derajat terhadap ekliptika bumi.

Seberapa Sering Gerhana Terjadi?
Terjadinya Gerhana Matahari
   
Gerhana Matahari
    Ada sebuah kesalahpahaman yang populer di masyarakat yang menganggap bahwa fenomena gerhana matahari adalah kejadian langka. Faktanya, justru sebaliknya. Sekitar sekali setiap 18 bulan (rata-rata), gerhana matahari total selalu terjadi dan bisa terlihat dari beberapa tempat di permukaan Bumi. Mungkin, gerhana matahari dianggap langka karena tidak sering terjadi di Indonesia. Terakhir kali terjadi pada 9 Maret 2016, gerhana matahari baru terjadi lagi di Indonesia pada 26 Desember 2019. Tapi, jarangnya peristiwa gerhana matahari di Indonesia bukan berarti tidak terjadi gerhana matahari di tempat lain. 
    Pada 13 Juli 2018 beberapa hari yang lalu, gerhana matahari terjadi. Peristiwa gerhana matahari parsial tersebut bisa teramati di pesisir selatan Australia, Selandia Baru, hingga Antartika. Indonesia? Tidak kebagian. Bahkan informasi gerhana tersebut saja tidak tersebar layaknya hoaks bumi datar, atau hoaks aphelion yang membuat suhu mendingin. 

Bagaimana dengan gerhana bulan?
    Menurut perhitungan yang dilakukan oleh ahli matematika astronomi, Jean Meeus dan Fred Espenak, dalam periode 5.000 tahun antara tahun 2000 SM hingga 3000 M, akan ada 12.064 kali gerhana bulan. Dari jumlah ini, 3.479 di antaranya merupakan gerhana bulan total, dan sisanya akan menjadi gerhana bulan parsial atau gerhana bulan penumbra. Bila dihitung lagi, rata-rata akan terjadi 2 sampai 3 gerhana bulan per tahun! Dengan kata lain, akan terjadi peristiwa gerhana bulan yang bisa terlihat di sisi malam Bumi sekitar sekali setiap 17 bulan atau lebih. 
   
Gambaran terjadinya tabrakan Benda-benda Langit
    Tapi, mengapa gerhana bulan juga dianggap langka? Saya rasa alasannya sama: gerhana bulan tidak sering terjadi di Indonesia, sehingga kita cenderung menganggap gerhana yang belakangan terjadi ini merupakan sebuah keanehan. Padahal, gerhana hanyalah peristiwa biasa. Jadi, tidak perlu panik dengan gerhana yang sering terjadi sekarang ini, karena memang gerhana adalah peristiwa yang tergolong sering terjadi, kita saja yang kurang wawasan dan gemar mengaitkan gerhana terhadap suatu hal yang mistis. Kecuali apabila lintasan bumi dan Bulan tiba-tiba berubah dan menjadi satu arah yang berakibat terjadinya tabrakan antar Bumi dan Bulan, yang tentunya prediksi ini akan menyebabkan kehancuran pada keduanya dan memusnahkan segala kehidupan di planet Bumi. Hanya Allah, Tuhan yang maha tahu yang dapat merubah skenario pergerakan benda-benda langit yang berakibat terjadinya kiamat, akhir dari kehidupan !

Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018
    Pada Tahun 2018 ini, di Indonesia mengalami dua kali Gerhana Bulan Total, yaitu pada 31 Januari 2018 yang lalu dan malam nanti tanggal 28 Juli 2018. Namun ada dua perbedaan pada dua kejadian gejala alam langka di Indonesia ini. Perbedaan pertama antara gerhana Bulan 31 Januari dengan 28 Juli 2018 adalah, waktu kejadiannya. Gerhana Bulan 31 Januari 2018 6 bulan lalu terjadi di awal malam, bahkan mulai dari senja. Sementara gerhana Bulan 28 Juli terjadi selepas tengah malam. Dengan begitu, kita harus begadang untuk mengamatinya. Perbedaan kedua mungkin adalah jarak Bulan dengan Bumi. Pada gerhana Bulan 31 Januari 2018, Bulan berada di terdekat dengan Bumi, atau yang dalam astronomi dikenal sebagai lunar perigee. Sementara untuk gerhana Bulan 28 Juli 2018, Bulan akan berada di jarak terjauhnya dari Bumi, yang mana dikenal sebagai lunar apogee.
    Apa dampaknya? Diameter sudut Bulan akan lebih kecil. Walau begitu, durasi totalitasnya akan lebih panjang, yakni 1 jam 43 menit. Durasi ini merupakan durasi totalitas gerhana Bulan terpanjang di abad ke-21. Durasi yang panjang ini disebabkan karena Bulan akan melintasi bagian tengah bayangan umbra Bumi, sehingga Bulan akan butuh waktu yang lebih lama untuk meninggalkan umbra.

    Gerhana Bulan ini tidak hanya teramati di Indonesia, melainkan juga di seluruh sisi malam Bumi, yakni seluruh Asia, Australia, Eropa, dan Afrika. Sementara untuk Benua Amerika, untuk gerhana kedua ini kurang beruntung, mereka tidak kebagian. Selain menjadi gerhana dengan durasi totalitas terpanjang abad ini, ia juga akan terjadi di awal musim kemarau. Dengan begitu, cuaca berpotensi lebih cerah ketimbang cuaca saat pengamatan gerhana Bulan total 31 Januari 2018 yang lalu.
   Kita bisa mulai mengamatinya mulai pukul 00.14 WIB, saat Bulan purnama mulai memasuki bayangan penumbra Bumi. Selanjutnya, gerhana parsial/sebagian bisa diamati mulai pukul 01.24 WIB. Sekitar satu jam kemudian, atau tepatnya pukul 02.30 WIB, gerhana total akan dimulai. Bulan akan sepenuhnya masuk bayangan umbra Bumi pada pukul 03.21 WIB, yang mana ini merupakan puncak gerhana total, Bulan sedang merah-merahnya. Gerhana total akan terus berlangsung hingga pukul 04.31 WIB, menyisakan gerhana parsial yang akan berlangsung hingga 05.19 WIB. Kita akan melihat gerhana mulai dari ketika Bulan masih berada di langit sekitar atas kepala hingga Bulan akan terbenam. Dengan begitu, pengamatan disarankan dari lokasi yang pandangan ke arah baratnya luas. Tidak dibutuhkan alat bantu pengamatan untuk melihatnya. Mengamati dengan mata telanjang pun bisa-bisa saja. Namun, penggunaan teleskop akan jauh lebih baik. Anda bisa melihat perubahan yang menakjubkan pada wajah Bulan saat gerhana berlangsung.
    Keistimewaan lain dari gerhana Bulan total 28 Juli 2018 ini adalah, gerhana akan berlangsung berbarengan dengan peristiwa hujan meteor Delta Akuarid dan peristiwa oposisi Mars. Hujan meteor sendiri merupakan peristiwa masuknya puing-puing yang ditinggalkan oleh sebuah komet ke atmosfer Bumi. Ketika komet mendekati Matahari, ia akan menguap, meninggalkan sisa-sisa penguapannya sebagai puing-puing meteoroid kecil di angkasa. Dalam waktu-waktu tertentu, Bumi kita melintasi jalur bekas orbit komet ini, sehingga puing-puing yang berjumlah cukup banyak tadi akan menyala di atmosfer bagaikan hujan meteor.

    Nah, hujan meteor Delta Akuarid sendiri berasal dari Komet 96P Machholz. Bumi akan melintasi jalur bekas orbit komet ini pada 27-28 Juli 2018. Walaupun cahaya Bulan yang terang akan meredupkan meteor-meteor kecil, bukan berarti kita tidak bisa mengamatinya. Meteor-meteor diprediksi sesekali akan melesat di langit saat kita sedang kagum mengamati gerhana. Peristiwa lainnya adalah oposisi Mars. Dalam astronomi, oposisi memiliki arti "berlawanan". Dengan kata lain, Mars akan berada pada titik yang berlawanan dari Matahari di langit Bumi. Hal ini terjadi karena Matahari-Bumi-Mars berada segaris lurus di bidang edar tata surya.
    Oposisi Mars adalah peristiwa di mana Planet Merah akan berada di jarak terdekatnya dengan Bumi, sehingga ia akan tampak lebih terang dari biasanya (tidak, Mars tidak akan muncul sebesar Bulan!). Peristiwa oposisi Mars sendiri terjadi pada tanggal 27 Juli 2018, satu hari sebelum gerhana Bulan total, di mana saat itu jarak antara Mars dan Bumi mencapai 57,6 juta kilometer saja. Sementara itu, Mars baru akan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi pada 31 Juli 2018, yakni pada jarak 57,4 juta kilometer. Mars tidak mencapai jarak terdekat dengan Bumi saat oposisi karena orbitnya yang berbentuk elips. Puncak terangnya Mars bisa dinikmati lima hari dari 27-31 Juli 2018. Yang menarik, pada momen gerhana Bulan total, planet Mars akan berada di samping selatan Bulan persis seperti ilustrasi di bawah ini:

    Jangan lewatkan gerhana Bulan total pada 28 Juli 2018. Sebab bila anda melewatkannya, kita di Indonesia harus menunggu setidaknya tiga tahun lagi untuk melihat peristiwa yang sama.

Gerhana Bulan Total Tahun 2019
    Tepatnya pada 26 Mei 2021, peristiwa gerhana Bulan total akan teramati lagi di Indonesia setelah gerhana Bulan 28 Juli 2018. Sungguh akan jadi penantian yang sangat panjang bila anda sengaja melewatkan gerhana malam ini. 
   Memang, pada 21 Januari 2019 nanti, gerhana Bulan total akan terjadi juga, tapi sayangnya Indonesia tidak kebagian. Negara kita berada di sisi siang hari Bumi sehingga tidak berkesempatan melihat gerhana Bulan karena Bulan ada di nadir.
Berikut infografik gerhana Bulan total 21 Januari 2019:

   Dari infografik di atas, kita bisa melihat bahwa peta Indonesia diarsir hitam. Itu tandanya, kita masuk ke area yang tidak kebagian gerhana Bulan total 21 Januari 2019. Hanya Benua Amerika, Afrika, Eropa, Asia Barat, dan Timur Tengah saja yang berkesempatan mengamatinya. Pada saat gerhana Bulan total 21 Januari 2019 dimulai (yakni saat kontak pertama Bulan memasuki bayangan umbra), Indonesia sudah pagi menjelang siang hari, tepatnya pukul 10:33 WIB, yang mana saat itu Bulan sudah tidak ada lagi di langit, terbenam sejak Matahari terbit. Alhasil, kita hanya bisa "mengamatinya" lewat siaran langsung daring dari negara-negara yang berkesempatan melihatnya.

Gerhana Bulan Total Tahun 2021
Lalu, bagaimana dengan gerhana Bulan total 26 Mei 2021?

    Dilihat dari infografik di atas, Indonesia masuk dalam wilayah arsiran putih hingga abu-abu muda. Itu artinya, kita berkesempatan melihat gerhana ini dari awal malam. Tapi, berbeda dengan gerhana Bulan total 28 Juli 2018 yang bisa diamati dari awal fase gerhana hingga gerhana berakhir, gerhana 26 Mei 2021 ini hanya bisa diamati mulai fase gerhana parsial untuk Indonesia timur dan mulai fase gerhana total untuk Indonesia bagian tengah dan barat.
    Gerhana Bulan total 26 Mei 2021 terjadi saat Bulan baru saja terbit di Indonesia. Jadi, pandangan ke arah timur harus terbebas dari bangunan tinggi atau pengunungan. Gerhana ini dimulai pukul 16:44 WIB, yaitu saat Bulan masuk ke bayangan umbra. Puncak gerhana Bulan 26 Mei 2021 akan terjadi pukul 18:18 WIB, lalu gerhana akan berakhir saat Bulan meninggalkan bayangan penumbra Bumi pada pukul 20:49 WIB.

Selain Gerhana Total
    Bila gerhana Bulan total baru akan terjadi lagi tiga tahun dari sekarang, Indonesia masih kebagian gerhana Bulan parsial dan gerhana Bulan penumbral sambil menunggu gerhana 26 Mei 2021 terjadi.Gerhana-gerhana tersebut terjadi pada 17 Juli 2019 (gerhana parsial), 11 Januari 2020 (gerhana penumbral), 6 Juni 2020 (gerhana penumbral), dan 30 November 2020 (gerhana penumbral). Namun tentu saja gerhana-gerhana ini terasa kurang spesial dibandingkan gerhana Bulan total. 
    Maka dari itu, saya hanya mengingatkan sekali lagi, jangan lewatkan gerhana Bulan total 28 Juli 2018 malam ini atau anda hanya bisa menyesal nantinya.

Sumber Referensi : Www.Infoastronomi.Com

Kamis, 26 Juli 2018

HARI MANGROVE SEDUNIA TAHUN 2018

   
   Tanggal 26 Juli telah dicanangkan UNESCO sebagai Hari Mangrove Sedunia. Pada peringatan the International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem yang pertama di tahun 2016, UNESCO menekankan pentingnya melindungi mangrove sebagai bagian dari Agenda for Sustainable Development. Dalam menyambut peringatan Hari Mangrove sedunia, marilah kita mengenal secara umum tentang tanaman ini khususnya hutan bakau dari kajian geografis, geomorfologis, botanis, zoogeografis dan ekologis.

Diskripsi Umum
  Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di air payau,dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
  Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya abrasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.

Luas dan penyebaran
Hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika. Luas hutan bakau di Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha) (Spalding dkk, 1997 dalam Noor dkk, 1999). Luas bakau di Indonesia mencapai 25 persen dari total luas mangrove di dunia. Namun sebagian kondisinya kritis.
   Di Indonesia, hutan mangrove yang luas terdapat di sekitar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Yakni di pantai timur Sumatra dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan. 
  Di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.

Lingkungan fisik dan zonasi
Pandangan di atas dan di bawah air, dekat perakaran pohon bakau, Rhizophora sp.Jenis tumbuhan hutan bakau ini berbeda-beda, karena bereaksi terhadap variasi (perubahan) lingkungan fisik di atas, sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu. Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah sebagai berikut :
Jenis tanah
Sebagai wilayah pengendapan, substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik. Akan tetapi di beberapa tempat, bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya; bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah gambut. 
Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi, atau bahkan dominan pecahan karang, di pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu karang.
Terpaan ombak
Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang.
Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai, yakni yang terletak di tepi sungai. Perbedaannya, salinitas di bagian ini tidak begitu tinggi, terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar.
Penggenangan oleh air pasang
Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian yang lainnya; bahkan kadang-kadang terus menerus terendam. Pada pihak lain, bagian-bagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan.
Menghadapi variasi kondisi lingkungan seperti ini, secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove; yang biasanya berlapis-lapis, mulai dari bagian terluar yang terpapar gelombang laut, hingga ke pedalaman yang relatif kering.
Jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian luar (yang kerap digempur ombak.) Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini.
Di bagian yang lebih dalam, yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui campuran bakau R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa ditemui nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.).
Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp.), teruntum (Lumnitzera racemosa), dungun kecil (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha).

Bentuk-bentuk adaptasi
  Menghadapi lingkungan yang ekstrem di hutan bakau, tetumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis.
  Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara. Pohon kendeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut (knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.
  Untuk mengatasi salinitas yang tinggi, api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. Sementara jenis yang lain, seperti Rhizophora mangle, mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar, sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan, diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun.
  Pada pihak yang lain, mengingat sukarnya memperoleh air tawar, vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Beberapa jenis tumbuhan hutan bakau mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik, sehingga mengurangi evaporasi dari daun.

Perkembangbiakan
   
Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Lingkungan yang keras di hutan bakau hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem, kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya.
   Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang dapat mengapung, sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. Selain itu, banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon.
   Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora), tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. Ketika rontok dan jatuh, buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya, atau terbawa air pasang, tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Kemungkinan lain, terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh.
   Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. Sementara buah api-api, kaboa (Aegiceras), jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon, meski tak tampak dari sebelah luarnya. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul.
   Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya, bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Propagul dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan, selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Jika akan tumbuh menetap, beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya, sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur.

Suksesi hutan bakau
   Tumbuh dan berkembangnya suatu hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan (forest succession atau sere). Hutan bakau merupakan suatu contoh suksesi hutan di lahan basah (disebut hydrosere). Dengan adanya proses suksesi ini, perlu diketahui bahwa zonasi hutan bakau pada uraian di atas tidaklah kekal, melainkan secara perlahan-lahan bergeser.
   Suksesi dimulai dengan terbentuknya suatu paparan lumpur (mudflat) yang dapat berfungsi sebagai substrat hutan bakau. Hingga pada suatu saat substrat baru ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove, dan mulailah terbentuk vegetasi pionir hutan bakau.
   Tumbuhnya hutan bakau di suatu tempat bersifat menangkap lumpur. Tanah halus yang dihanyutkan aliran sungai, pasir yang terbawa arus laut, segala macam sampah dan hancuran vegetasi, akan diendapkan di antara perakaran vegetasi mangrove. Dengan demikian lumpur lambat laun akan terakumulasi semakin banyak dan semakin cepat. Hutan bakau pun semakin meluas.
Pada saatnya bagian dalam hutan bakau akan mulai mengering dan menjadi tidak cocok lagi bagi pertumbuhan jenis-jenis pionir seperti Avicennia alba dan Rhizophora mucronata. Ke bagian ini masuk jenis-jenis baru seperti Bruguiera spp. Maka terbentuklah zona yang baru di bagian belakang.
Demikian perubahan terus terjadi, yang memakan waktu berpuluh hingga beratus tahun. Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan bakau, zona-zona berikutnya pun bermunculan di bagian pedalaman yang mengering.
   Uraian di atas adalah penyederhanaan, dari keadaan alam yang sesungguhnya jauh lebih rumit. Karena tidak selalu hutan bakau terus bertambah luas, bahkan mungkin dapat habis karena faktor-faktor alam seperti abrasi. Demikian pula munculnya zona-zona tak selalu dapat diperkirakan.
Di wilayah-wilayah yang sesuai, hutan mangrove ini dapat tumbuh meluas mencapai ketebalan 4 km atau lebih; meskipun pada umumnya kurang dari itu.

Kekayaan flora
Beraneka jenis tumbuhan dijumpai di hutan bakau. Akan tetapi hanya sekitar 54 spesies dari 20 genera, anggota dari sekitar 16 suku, yang dianggap sebagai jenis-jenis mangrove sejati. Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di lingkungan hutan mangrove dan jarang tumbuh di luarnya.
Dari jenis-jenis itu, sekitar 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia; menjadikan hutan bakau Indonesia sebagai yang paling kaya jenis di lingkungan Samudera Hindia dan Pasifik. Total jenis keseluruhan yang telah diketahui, termasuk jenis-jenis mangrove ikutan, adalah 202 spesies

Fungsi dan manfaat
Dari segi ekonomi, hutan mangrove menghasilkan beberapa jenis kayu yang berkualitas baik, dan juga hasil-hasil non-kayu atau yang biasa disebut dengan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), berupa arang kayu; tanin, bahan pewarna dan kosmetik; serta bahan pangan dan minuman. Termasuk pula di antaranya adalah hewan-hewan yang biasa ditangkapi seperti biawak air (Varanus salvator), kepiting bakau (Scylla serrata), udang lumpur (Thalassina anomala), siput bakau (Telescopium telescopium), serta berbagai jenis ikan belodok.
Manfaat yang lebih penting dari hutan bakau adalah fungsi ekologisnya sebagai pelindung pantai, habitat berbagai jenis satwa, dan tempat pembesaran (nursery ground) banyak jenis ikan laut.
Salah satu fungsi utama hutan bakau adalah untuk melindungi garis pantai dari abrasi atau pengikisan, serta meredam gelombang besar termasuk tsunami. Di Jepang, salah satu upaya mengurangi dampak ancaman tsunami adalah dengan membangun green belt atau sabuk hijau berupa hutan mangrove. Sedangkan di Indonesia, sekitar 28 wilayah dikategorikan rawan terkena tsunami karena hutan bakaunya sudah banyak beralih fungsi menjadi tambak, kebun kelapa sawit dan alih fungsi lain.

Ciri-ciri Hutan Bakau

Secara fisik, hutan bakau ini memang berbeda dengan hutan lainnya. Hutan bakau ini sangat berbeda dengan jenis hutan yang lainnya. Hal ini bisa dilihat dari tanamannya yang tumbuh, yakni tanaman bakau. Selain dari tanaman bakaunya sendiri, hutan bakau ini juga mempunyai karakteristik lainnya yang menjadi ciri khasnya. Beberapa karakteristik atau ciri- ciri  hutan bakau antara lain sebagai berikut:
  1.  Biasanya terdiri dari satu jenis pohon, yakni pohon bakau. Salah satu ciri khas dan yang paling melekat dengan nama hutan bakau ini adalah karena mayoritas atau sebagian besar dari tanaman yang hidup di hutan tersebut adalah tanaman bakau itu sendiri. Oleh sebab itu maka hutan ini dinamakan sebagai hutan bakau. Sehingga apabila dilihat dengan mata kepala atau secara fisik, hutan bakau ini mayoritas tumbuhannya adalah tanaman bakau itu sendiri. Baca juga: jenis-jenis hutan
  2. Mempunyai akar pohon yang tidak beraturan (pneumatofora) . Pohon atau tanaman bakau ini merupakan salah satu tanaman yang khas. Ke khasan tanaman bakau ini adalah mempunyai akar- akar yang menyembul ke permukaan air sehingga akar tersebut terlihat kasat mata. Akar- akar yang menyembul ke permukaan inilah yang merupakan khas dari tanaman bakau. Akar bakau yang menyembul ke permukaan ini mempunyai fungsi tertentu untuk tanaman bakau itu sendiri, yakni untuk bernafas. Jika kita melihat banyak tanaman yang bergerombol dan akar- akarnya mencuat ke permukaan, sudah dapat dipastikan itu adalah tanaman bakau. Dan segerombolan tanaman itu dinamakan hutan bakau.
  3. Jenis pohon lain yang berada di dalam hutan sangat sedikit. Hutan bakau ini merupakan hutan yang banyak ditumbuhi oleh pohon- pohon bakau. Selain tanaman bakau itu sendiri, hutan ini sangat memiliki sedikit sekali jenis tanaman lainnya. Jika kita pergi kesana, sepanjang mata memandang mungkin kita hanya bisa melihat pohon bakau dalam jumlah yang banyak. Selain pohon bakau itu sendiri, kita akan sulit menemukan tanaman lain yang tumbuh di sekitaran tanaman yang akarnya mencuat tersebut.
  4. Mempunyai tanah yang berlumpur atau berlempung. Apabila dilihat secara fisik, ciri khas yang dimiliki oleh hutan bakau ini adalah mempunyai tanah yang bertekstur lumpur atau lempung. Tanah jenis itu memanglah habitat atau tempat hidup pohon bakau itu sendiri. Tanah yang berlumpur atau tanah lempung ini bisa terbentuk kemungkinan disebabkan karena tananhya selalu basah akibat adanya air yang menggenagi daerarah hutan tersebut. Akibatnya akan banyak menimbulkan tanah berlumpur, tanah berlempung, ataupun tanah berpasir. Namun yang perlu diingit bahwasannya tanah ini merupakan tanah yang sangat lembab karena tergenangi oleh air. 
  5. Lahan hutan ini selalu digenangi oleh air. Hutan bakau mempunyai salah satu fungsi yakni menghalangi ombak yang datang dari lautan yang bisa mengikis pantai. Itulah sebabnya mengapa hutan bakau ini seringkali kita temui  berada dipesisir pantai. Keberadaan hutan bakau ini bisa disebabkan karena sengaja ditanam oleh manusia, namun bisa  karena alami dibentuk oleh alam. Selain di pesisir pantai, hutan ini juga biasanya terdapat di daerah rawa- rawa ataupun daerah yang memiliki banyak air payau. Hutan bakau memang mempunyai ciri khas tersendiri yakni hidup di tanah perairan. Itulah sebabnya lahan hutan ini selalu berbentuk genangan air. Air yang menggenangi hutan bakaupun tidak hanya terdiri atas satu macam saja, namun bisa bermacam- macam, yakni air laut atau payau (campuran air tawar dan laut yang terada asin). Baca juga: jenis- jenis air. 
  6. Mempunyai banyak persediaan air tawar dari daratan. Hutan bakau ini merupakan salah satu hutan yang tidak hanya memiliki banyak persediaan air laut. Meski hutan bakau bisasnya terdapat di pesisir pantai, namun hutan bakau ini mempunyai pasokan atau persediaan air tawar. Air tawar yang berada di hutan bakau ini berasal dari daratan. Air tawar yang berasal dari darat ini berfungsi untuk menurunkan salinitas dan juga menambah pasokan unsur hara serta lumpur yang ada di hutan tersebut. Karena adanya air tawar yang bertemu dengan air laut, maka hutan bakau mempunyai banyak juga persediaan air payau. 
  7. Memiliki air payau yang mempunyai salinitas antara 2 – 22 ppm (1 ppm sama seperti 0,05%). Salah satu hal yang terdapat pada hutan bakau adalah adanya air payau yang mempunyai salinitas antara 2 hingga 22 ppm. Salinitas sendiri merupakan tingkat keasinan atau kadar garam yang larut di dalam air. Selain kadar di air, salinitas juga dapat dikatakan sebagai kandungan atau kadar garam yang ada di dalam tanah. Air payau memang tergolong air yang memiliki tingkat salinitas lebih besar dari 0,05%.
  8. Memiliki biji yang bersifat vivipar ataupun dapat berkecambah di pohonnya. Salah satu ciri khas selanjutnya yang dimiliki oleh tanaman atau pohon bakau adalah memiliki biji yang bersifat vivipar. Biji yang demikian ini akan dapat memunculkan kecambah di pohon bakau itu sendiri. 
  9. Memiliki lentisel di bagian kulit pohon. Ciri khas yang dimiliki oleh tanaman bakau lainya adalah tanaman tersebut memiliki lentisel yang ada di bagian kulit pohon. Sehingga memiliki lentisel di bagian kulit pohon menjadi salah satu ciri khas dari hutan bakau tersebut.

Itulah beberapa karakteristik atau ciri- ciri hutan bakau ini. sebagai salah satu jenis hutan, hutan bakau ini mempunyai banyak sekali manfaat untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Maka dari itu keberadaan hutan ini harus dilestarikan.

Fungsi hutan bakau :

  1. Sebagai sumber konsumsi. Beberapa buah, biji dan juga daun dari jenis – jenis tanaman yang hidup di dalam hutan bakau dapat dimanfaatkan untuk konsumsi sehari – hari. Jenis dedaunan seringkali diolah sebagai sayur ataupun lalapan, seperti jenis pakis laut. Biji – bijian dan juga buah dari tanaman yang terdapat di hutan bakau juga seringkali dimakan begitu saja, dan tentu saja juga memiliki nilai gizi yang tinggi.
  2. Apotek hidup. Pemanfaatan dari hutan bakau sebagai apotek hidup kini sudah mulai dilakukan. Bagaimana tidak, hampir semua jenis tanaman yang tumbuh dan juga hidup di dalam hutan bakau dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat alias apotek hidup. Dengan fungsi ini, maka secara tidak langsung hutan bakau bisa berperan sebagai apotek hidup yang dapat membantu mengatasi permasalahan kesehatan yang dialami oleh mereka yang tinggal di sekitar hutan bakau. 
  3. Menjaga kestabilan garis pantai. Fungsi penting lainnya dari hutan bakau adalah untuk membantu menjaga kestabilan dari garis pantai. Kestabilan garis pantai sangat penting untuk dijaga, karena apabila tidak terjaga, maka lama kelamaan garis pantai akan terkikis. Kondisi ini kemudian dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada lokasi daratan dan juga pantai, dimana akan terjadi abrasi yang disebabkan oleh air laut. Hal ini akan menyebabkan daratan menjadi lebih sempit dan juga terkikis, sehingga tentunya akan merusak kehidupan di sekitar pantai. 
  4. Mencegah tsunami. Aceh dan Jepang merupakan lokasi terjadinya tsunami yang dahsyat. Tsunami sendiri ternyata bisa dicegah, atau setidaknya direduksi dampak kekacauan yang ditimbulkannya dengan melestarikan dan mengembalikan fungsi dari hutan bakau. Dengan demikian, maka bencana tsunami pun dapat dicegah. 
  5. Mereduksi gelombang pasang air laut. Alasan utama mengapa hutan bakau dapat mencegah terjadinya bencana alam seperti tsunami adalah karena pohon – pohon danjuga tanaman yang terdapat did alam hutan bakau memiliki kemampuan yang sangat baik untuk mereduksi gelombang pasang air laut. Jadi, ketika air laut mengaami gelombang pasang, hutan bakau mampu untuk mereduksi akibat yang ditimbulkan. Setidaknya, 60% dari gelombang air laut bisa direduksi oleh keberadaan hutan bakau, sehingga wajar saja apabila keberadaan dari hutan bakau ini dapat membantu mencegah dan mengurangi dampak buruk dari terjadinya tsunami dan gelombang pasang tinggi. 
  6. Mencegah abrasi. Abrasi merupakan proses pengikisan daratan atau tanah, yang banyak terjadi karena faktor gelombang air laut. Ketika daratan terlalu sering mengalami gesekan dengan air laut, maka hal ini akan menyebabkan terjadinya abrasi, dimana daratan akan menjadi semakin terkikis dan menyempit. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya luas daratan, dan dapat menyebabkan air laut mudah naik ke permukaan. Hutan bakau lah yang menjaga agar hal ini tidak terjadi. Dengan adanya hutan bakau sebagai tameng dari suatu daratan dari air laut, maka kemungkinan terjadinya abrasi dapat diperkecil. 
  7. Pencegah intrusi air laut serta menahan lumpur. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, hutan bakau memiliki fungsi untuk mencegah intrusi air laut, atau masuk dan naiknya gelombang pasang air laut ke permukaan atau daratan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya banjir rob, ataupun sedimentasi dari lumpur yang ikut terbawa. Untuk mencegah hal ini terjadi, maka hutan bakau harus diptomalkan fungsinya untuk menjaga daratan dari intrusi air laut tersebut.
  8. Sebagai lokasi hidup bagi ikan laut. Daerah hutan bakau juga merupakan daerah yang masih berisi air laut dalam jumlah banyak. Hal ini membuat lokasi hutan bakau menjadi tempat tinggal dari beberapa hewan laut, seperti ikan, ubur – ubur dan kepiting. Beberapa hewan laut jug amemanfaatkan lokasi yang berada di area hutan bakau untuk mendukung proses pemijahan dan juga menjadikan hutan bakau sebagai nursery ground untuk membantu membesarkan anak – anak mereka. 
  9. Penghasil kayu untuk bahan bangunan dan kayu bakar. Pohon – pohon yang ada di dalam hutan bakau juga bisa dimanfaatkan persis seperti pohon yang terdapat pada hutan – hutan darat pada umumnya. Ya, kayunya bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti pembuatan papan – papan dan juga meubel dan furniture. Selain itu, kayu dari tanaman yang berada di dalam hutan bakau juga dapat dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai kayu bakar, yang dapat menghemat penggunaan bahan bakar fosil.
  10. Sebagai pulp atau bahan baku kertas. Sama seperti kayu lainya, kayu yang berasal dari tanaman di hutan bakau bisa juga dimanfaatkan sebagai bahan baku dari kertas atau pulp. Kertas yagn terbuat dari bahan dasar kayu yang ada di dalam hutan bakau memiliki kualitas yang sangat baik, tidak kalah dengan kualitas dari kertas yang dibuat dengan batang kayu dan juga kulit kayu seperti pada umumnya. 
  11. bahan baku tekstil. Kulit kayu pepohonan yang terdapat pada hutan bakau juga memilki fungsi lainnya, yaitu sebagai bahan baku dari pembuatan tekstil atau kain. 
  12. Sebagai pupuk. Para petani pun bisa juga memanfaatkan lokasi hutan bakau untuk mengambil pupuk. Biasanya sisa daun yang sudah mengendap bisa dimanfaatkan penggunaannya sebagai pupuk kompos yang dapat menbantu meningkatkan produksi pertanian. 
  13. Lokasi ekowisata. Seperti halnya manfaat sungai, sebagai ekowisata, merupakan fungsi umum dari sebuah hutan bakau. Banyak hutan bakau yang dimanfaatkan sebagai lokasi ekowisata. Hal ini membuat para wisatawan dan juga turis bisa berekreasi menikmati pemandangan hutan bakau yan alami dan asri, sekaligus menyadari bahwa keberadaan hutan bakau sangatlah penting bagi kehidupan dan juga kepentingan ekosistem. Jadi, sambil berwisata, para turis bisa ikut berpartisipasi dalam program penanaman dan penghijauan pada hutan bakau untuk membantu melestarikan keberadaan dari hutan bakau. 
  14. Sebagai lahan cadangan dari transmigrasi dan pemukiman. Merupakan fungsi lainnya dari hutan bakau, meskipun tidak direkomendasikan. Hbak bisa menjadi lahan cadangan dari pemukiman, dimana sebagian dari hutan bakau bisa diubah menjadi lahan tempat tinggal. Namun demikian, sebenarnya hal ini malahan bisa merusak fungsi utama dari hutan bakau itu sendiri dan kemungkinan malah dapat memusnahkan keberadaan dari hutan bakau . 
  15. Dikonversi sebagai lahan tambak. Beberapa lokasi hutan bakau juga dapat dimanfaatkan sebagai lahan tambak ikan. Kondisi air yang baik merupakan salah satu hal yang dapat membuat hutan bakau sangat baik untuk dijadikan lahan tambak. Dengan adanya lahan tamak pada lokasi hutan bakau, maka para penambak tidak perlu repot mencari lahan tambak hingga ke tengah – tengah laut, yang tentu saja akan memakan waktu. 
Ternyata, fungsi hutan bakau sangatlah banyak dan juga beragam. Hutan bakau juga sangat penting dalam mendukung kehidupan manusia dan juga segala keanekaragaman hayati, terutama hewan – hewan laut. Karena itu, kita pun harus bisa menjaga dan juga melestarikan hutan bakau agar tetap berguna bagi kehidupan kita dan juga keseimbangan lingkungan.

Fungsi Hutan Bakau Berdasarkan Jenis Tanamannya

Hutan bakau sendiri atau mangroove memiliki beragam jenis tanaman yang unik dan tidak kita temui pada hutan – hutan biasa. Kesemua tanaman yang hidup pada hutan bakau biasanya memiliki daun berwarna hijau terang dan juga memiliki danu yanglebat, serta akar tanaman yang besar dan juga kokoh. Berikut ini adalah beberapa jenis tanaman yang bisa kita jumpai pada hutan bakau :
  • Avicennia. Avicennia atau yan juga sering dikenal dengan nama api api merupakan daftar tanaman pertama yang banyak menghiasi hutan bakau. Tanaman ini merupakan jenis tanaman yang mudah diidentifikasi, dimana tanaman ini selalu tumbuh di tepi laut ataupun daerah tepi sungai. Ukuran dari tanaman ini cenderung sedang hingga besar, dimana memiliki buah atau biji yang kecil – kecil. Banyak yang mengatakan bahwa tanaman ini memiliki banyak khasiat kesehatan, salah satunya adalah dapat membantu : Mengobati sakit gigi, juga dapat dijadikan salep sebagai obat luka. 
  • Acrostichum Aureum.
    Tanaman kedua yang biasa kita jumpai pada hutan bakau adalah tanaman Acrostichum Aureum atau yang juga sering kita kenal dengan nama tanaman paku laut. Sesuai namanya, tanaman ini mirip seperti tanaman paku yang biasa kita temui di daratan, namun demikian, paku laut ini hidup pada daerah hutan bakau yang terbuka dan sering terkena cahaya matahaari. Sama seperti tanaman paku lainnya, daun dari tanaman ini bisa dimasak dan dikonsumsi untuk dijadikan sayur.
  • Acanthus . Tanaman lainnya yang dapat kita temui pada hutan bakau adalah tanaman Acanthus atau dikenal juga dengan istilah jeruju. Tanaman ini merupakan salah satu jenis tanaman yang berad di dalam hutan bakau yang memiliki fungsi utama untuk tanaman obat. Tanaman ini mampu untuk membantu : Menghentikan pendarahan akibat luka, ataupun gigitan ular, serta dapat membantu menghilangkan rasa nyeri. Selain itu, rebusan daunnya juga dapat mebantu mengobati perut kembung. 
  • Bruguiera Tanaman berikutnya yang bisa kita temui pada daerah hutan bakau adalah tanaman Bruguiera ataua yang juga sering dikenal dengan nama tanaman tanjang. Tanaman ini memiliki bentuk seperti pohon besar, dengan ketinggian bisa mencapai 30-an meter. Biasa tumbuh di bagian hutan bakau yang memiliki lumpur tebal. Beberapa spesies dari pohon ini juga bisa dimanfaatkan untuk pengobatan dan juga konsumsi dari manusia. 
  • Ceriops Tanamn ceriops atau tengar merupakan tanaman berikutnya yang ada di dalam hutan bakau. Tanaman ini memiliki bentuk seperti pohon beringin, dengan mahkota yang besar dan cenderung membulat. Ukurannya termasuk sedang, tidak terlalu besar ataupun kecil. Tanaman ini ternyata juga dapat dimanfaatkan untuk : Mengobati bisul, dan juga sering digunakan sebagai pewarna dari kain batik.
  • Excoecaria Agallocha Merupakan jenis pohon lainnya yang terdapat pada hutan bakau. Tanaman ini sering disebut dengan nama buta – buta, karena apabila racun dari pohon ini terkena mata, akan menyebabkan kebutaan. Pohon ini memiliki batang yang kecil dan lurus, mirip seperti pohon jati namun tidak tinggi dan berukuran sedang. 
  • Rhizopora  Inilah tanaman yang paling sering ada di dalam hutan bakau. Nama tanaman ini adalah tanaman bakau, dimana memiliki bentuk batang yang menyeruai akar, dengan mahkota pohon yang lebat. Pohon ini temasuk ke dalam ukuran besar, karena dapat mencapai tinggi 40 m, dengan daun yang sangat hijau. Tanaman ini juga bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan, karena dapat membantu : mencuci luka, dan bisa juga dimanfaatkan sebagai pengusir nyamuk. 
  • Sonneratia. Merupakan tipe pohon yang umum ditemukan pada hutan bakau, tanaman sonneratia atau yang dikenal dengan nama pedada banyak djumpai di dalam hutan bakau. Bentuknya mirip tanaman merambat dengan daun yang lebar dan hijau. Sama seperti tanaman sebelumnya, jenis tanaman ini dapat dijadikan : jamu, pengobatan tradisional, serta bisa dimanfaatkan untuk membantu menghaluskan kulit. 
  • Xylocarpos. Merupakan salah satu tanaman hutan bakau yang terletak pada bagian perbatasan antara habitat yang memiliki banyak koral dan juga habitat yang berlumpur tebal. Tanaman ini berukuran sedang dan juga banyak dijumpai pada hutan bakau.
    Presiden SBY dan Ronaldo tanam Bakau
Itu adalah beberapa jenis tanaman yang paling banyak kita temui pada daerah hutan bakau. Semua tanaman tersebut memegang peranan dan juga fungsi yang amat penting di alam hutan bakau. Dengan adanya tanaman tersebut, maka hutan bakau akan sangat bermanfaat.Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semua dan juga dapat menambah wawasan anda mengenai fungsi hutan bakau. Selamat hari Mangrove 2018, dan salam lestari.

Sumber Referensi : Wikipedia Indonesia, Ilmu Geografi.Com

Senin, 16 Juli 2018

HARI ULAR SEDUNIA TAHUN 2018

   
    Hari Ini, Senin, tanggal 16 Juli merupakan hari penting untuk penyayang ular, Mungkin sebagian orang atau memang sebagian besar orang sangat ngeri bila dekat dengan satwa ini. Kebanyakan ular diburu atau dibunuh apabila kita menjumpainya. Ketidaktahuan tentang ular dan persepsi masyarakat turun temurun yang menganggap ular berbahaya mungkin sebagian penyebab orang menjadi paranoid akan satwa ini. Namun bagi hobies dan pecinta ular ketakutan itu tidak dirasakan justru keberadan ular menjadi suatu hobi yang menyenangkan. Para penyayang satwa ini di berbagai belahan dunia memperingati hari ular ini dengan berbagai acara seperti acara amal, permainan, pameran ular,dll. Untuk lebih mengenal tentang hewan ini, dalam postingan kali ini akan dibahas informasi umum tentang satwa unik ini sekaligus memperingati hari Ular sedunia sehingga kebencian dan ketakutan sebagian orang akan berkurang dan berbalik menjadi menyayangi dan peduli pada kelestariannya di planet bumi.
Ular Sapi Sunda Kecil
    Ular adalah reptilia tak berkaki yang bertubuh panjang. Ular memiliki sisik seperti kadal dan sama-sama digolongkan ke dalam reptil bersisik (Squamata). Perbedaannya adalah kadal pada umumnya berkaki, memiliki lubang telinga, dan kelopak mata yang dapat dibuka tutup. Akan tetapi untuk kasus-kasus kadal tak berkaki (misalnya Ophisaurus spp.) perbedaan ini menjadi kabur dan tidak dapat dijadikan pegangan. namun ular tetap dapat dibedakan karena ular tidak memiliki telinga dan kelopak mata.
Ular Welang

 Evolusi

Ular diperkirakan telah berevolusi dari kadal terestrial sejak pertengahan zaman Jurassic (174,1-163,5 juta tahun yang lalu). Fosil ular tertua yang diketahui, Eophis underwoodi, adalah ular kecil yang hidup di daratan Inggris selatan sekitar 167 juta tahun yang lalu.

Habitat

 
Sanca Hijau
Ular tanah, Calloselasma rhodostoma, salah satu contoh ular yang hidup di tanah (ular terestrial)Ular tambang, Dendrelaphis pictus, salah satu contoh ular yang hidup di pohon (ular arboreal) .Ular merupakan salah satu reptilia yang paling sukses berkembang di dunia. Di gunung, hutan, gurun, dataran rendah, lahan pertanian, lingkungan pemukiman, sampai ke lautan, dapat ditemukan ular. Kebanyakan spesies ular hidup di daerah tropis, sebagaimana umumnya hewan berdarah dingin, ular tidak dapat ditemui di tempat-tempat tertentu seperti di puncak-puncak gunung dan daerah padang salju atau kutub. Ular juga tidak bisa ditemui di daerah Irlandia, Selandia baru, Greenland, pulau-pulau terisolasi di Pasifik seperti Hawaii, serta Samudera Atlantik.
Red Snake
   Banyak jenis-jenis ular yang sepanjang hidupnya berkelana di pepohonan dan hampir tak pernah menginjak tanah. Banyak jenis yang lain hidup melata di atas permukaan tanah atau menyusup-nyusup di bawah serasah atau tumpukan bebatuan. Ada juga ular yang hidup di sungai, rawa, danau, dan laut.

Makanan

     Ular adalah hewan karnivora, mereka memangsa berbagai jenis hewan lebih kecil dari tubuhnya. Ular pohon dan ular darat memangsa burung, mamalia, kodok, jenis-jenis reptil yang lain, termasuk telur-telurnya. Ular-ular besar seperti ular sanca kembang dapat memangsa kambing, kijang, rusa dan bahkan manusia. Ular-ular yang hidup di perairan memangsa ikan, kodok, berudu, dan bahkan telur ikan.
Ular Gadung
    Ular memakan seluruh mangsanya tanpa sisa dan mampu mengkonsumsi mangsa tiga kali lebih besar dari diameter kepala mereka. Hal ini dikarenakan rahang mereka lebih rendah dan dapat terpisah dari rahang atas. Selain itu ular memiliki gigi menghadap kebelakang yang menahan mangsanya tetap di mulut mereka. Hal ini mencegah mangsa melarikan diri.

Ciri-ciri

   
Ular tidak memiliki daun telinga dan gendang telinga, tidak mempunyai keistimewaan atau ketajaman indra mata maupun telinga. Matanya selalu terbuka dan dilapisi selaput tipis sehingga mudah melihat gerakan di sekelilingnya, namun tidak dapat memfokuskan pandangannya. Ular hanya dapat melihat dengan jelas dalam jarak dekat. Indra yang menjadi andalan ular adalah sisik pada perutnya, yang dapat menangkap getaran langkah manusia atau binatang lainnya. Ular tidak membau mangsa melalui lubang hidung, melainkan menggunakan lidah mereka yang dapat mendeteksi bau di udara. Organ ini biasa disebut organ Jacobson. beberapa jenis ular juga dapat mengetahui perubahan suhu karena kedatangan makhluk lainnya, contohnya ular tanah memiliki ceruk pendeteksi panas yang peka sekali. Organ itu berfungsi untuk mendeteksi energi panas (kalor) yang terpancar dari badan hewan berdarah panas.

Perilaku

 
Ular Tikus
Ular mulut kapas, Agkistrodon piscivorus, salah satu contoh ular yang bisa merasakan panas badan mangsanya. Ular memakan mangsanya bulat-bulat, tanpa dikunyah menjadi keping-keping yang lebih kecil. Gigi di mulut ular tidak memiliki fungsi untuk mengunyah, melainkan sekadar untuk memegang mangsanya agar tidak mudah terlepas. Agar lancar menelan, ular biasanya memilih menelan mangsa dengan kepalanya lebih dahulu.
    Beberapa jenis ular, seperti sanca dan ular tikus, membunuh mangsa dengan cara melilitnya hingga tak bisa bernapas. Ular-ular berbisa membunuh mangsa dengan bisanya, yang dapat melumpuhkan sistem saraf pernapasan dan jantung (neurotoksin), atau yang dapat merusak peredaran darah (hemotoksin), dalam beberapa menit saja. Bisa yang disuntikkan melalui gigitan ular itu biasanya sekaligus mengandung enzim pencerna, yang memudahkan pencernaan makanan itu apabila telah ditelan.
   Seperti kebanyakan reptilia lain, untuk menghangatkan suhu tubuh dan juga untuk membantu kelancaran pencernaan, ular kerap kali berjemur (basking) di bawah sinar matahari. Sebagai hewan eksoterm, berjemur merupakan salah cara ular mempertahankan suhu tubuhnya secara eksternal. Ular yang hidup didaerah sub-tropis selalu berhibernasi selama musim dingin. Ular juga harus berganti kulit tiga sampai enam kali per tahun.

Reproduksi


Ular Kobra
Sekitar 70% dari semua jenis ular berkembang biak dengan bertelur (ovipar). Jumlah telurnya bisa beberapa butir saja, hingga puluhan dan ratusan butir. Ular meletakkan telurnya di lubang-lubang tanah, gua, lubang kayu lapuk, atau di bawah timbunan daun-daun kering. Beberapa jenis ular diketahui menunggui telurnya hingga menetas; bahkan ular sanca ‘mengerami’ telur-telurnya.
    Sebagian ular, seperti ular kadut belang, ular pucuk dan ular bangkai laut ‘melahirkan’ anak. Sebetulnya, ular-ular ini tidak melahirkan seperti halnya mamalia, melainkan telurnya berkembang dan menetas di dalam tubuh induknya (ovovivipar), lalu keluar sebagai ular kecil-kecil. Sejenis ular primitif, yakni ular buta atau ular kawat (Indotyphlops braminus), sejauh ini hanya diketahui yang betinanya. Ular yang mirip cacing kecil ini diduga mampu bertelur dan berbiak tanpa ular jantan (partenogenesis).

Ular dan manusia

 
Dalam kitab-kitab suci, ular kebanyakan dianggap sebagai musuh manusia. Dalam Kitab Yudaisme dan Kristen Alkitab (Perjanjian Lama) diceritakan bahwa Iblis menjelma dalam bentuk ular, dan membujuk Hawa dan Adam sehingga terpedaya dan harus keluar dari Taman Eden. Dalam kisah Mahabharata, Kresna kecil sebagai penjelmaan Dewa Wisnu mengalahkan ular berkepala lima yang jahat. Dalam salah satu Hadits Rasulullah saw. pun ada anjuran untuk membunuh "ular hitam yang masuk/berada di dalam rumah".
    Anggapan-anggapan ini turut berpengaruh dan menjadikan kebanyakan orang merasa benci (jika bukan takut) kepada ular. Meskipun sesungguhnya ketakutan itu kurang beralasan, atau lebih disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang umumnya terhadap sifat-sifat dan bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh ular. Pada kenyataannya, kasus gigitan ular yang sampai menyebabkan kematian sangat jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kasus kecelakaan di jalan raya, atau kasus kematian oleh penyakit akibat gigitan nyamuk.
    Pada pihak yang lain, ular telah ratusan atau ribuan tahun dieksploitasi dan dimanfaatkan oleh manusia. Ular kobra yang amat berbisa dan ular sanca pembelit kerap digunakan dalam pertunjukan-pertunjukan keberanian. Empedu, darah dan daging beberapa jenis ular dianggap sebagai obat berkhasiat tinggi, terutama di Tiongkok dan daerah Timur lainnya. Sementara itu kulit beberapa jenis ular memiliki nilai yang tinggi sebagai bahan perhiasan, sepatu dan tas. Seperti halnya biawak, kulit ular (terutama ular sanca, ular karung, dan ular anakonda) yang diperdagangkan di seluruh dunia mencapai ratusan ribu hingga jutaan helai kulit mentah per tahun.
    Dalam kenyataannya, ular justru kini semakin punah akibat berbagai penangkapan, pembunuhan yang tidak berdasar, serta kerusakan habitat dan lingkungan hidupnya. Ular-ular yang dulu turut serta berperan dalam mengontrol populasi tikus di sawah dan kebun, kini umumnya telah habis atau menyusut jumlahnya. Maka tidak heran, di tempat-tempat yang sawah dan padinya rusak dilanda gerombolan tikus, seperti di beberapa tempat di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, petani setempat kini memerlukan untuk melepaskan kembali (reintroduksi) berbagai jenis ular sawah dan melarang pemburuan ular di desanya.
    Manusia sebenarnya tidak usah takut pada ular karena ular sendiri yang sebenarnya takut pada manusia. Ular tidak dapat mengejar manusia, gerakannya yang lamban bukan tandingan manusia. Rata rata ular bergerak sekitar 1,6 km per jam, jenis tercepat adalah ular mamba dari Afrika yang bisa lari dengan kecepatan 11 km per jam. Sedangkan manusia, sebagai perbandingan, dapat berlari antara 16–24 km per jam.
    Ada lebih dari 2.900 spesies ular. Dari jumlah tersebut, 375 spesies merupakan ular berbisa. Ular berbisa adalah sebutan umum bagi ular-ular yang memiliki venom. Jenis ular berbisa paling mematikan adalah ular taipan dari Australia. Dari kebanyakan ular yang berbisa, kebanyakan bisanya tidak cukup berbahaya bagi manusia. Umumnya, ular berusaha menghindar bila bertemu manusia.
   Ular-ular primitif, seperti ular kawat, ular karung, ular kepala dua, dan ular sanca, adalah jenis-jenis ular yang tidak berbisa. Ular-ular yang berbisa kebanyakan termasuk suku Colubridae, tetapi bisanya pada umumnya memiliki kadar venom yang lemah. Ular-ular yang berbisa kuat di Indonesia biasanya termasuk ke dalam salah satu suku Elapidae seperti ular sendok, ular belang, dan ular cabai. Kemudian yang termasuk dalam suku Hydrophiidae seperti ular laut, dan Viperidae seperti ular tanah, ular bangkai laut, dan ular bandotan.
   Pada Postingan menyambut Hari Ular sedunia ini mari kita mengenal 2 jenis Ular pembelit berukuran besar dan saat ini mulai populer sebagai hewan peliharaan dan kesayangan karena corak dan warna kulitnya yang eksotis banyak disukai penggemar satwa jenis reptil ini .

1. Sanca

   Sanca adalah nama umum bagi sekelompok ular-ular pembelit dari suku Pythonidae. Dikenal umumnya sebagai pythons dalam bahasa Inggris, kata ini sesungguhnya dipinjam dari bahasa Gerika python , yang mengacu pada ular yang sama. Sanca diketahui menyebar luas di Afrika, Asia dan Australia; beberapa jenisnya diketahui sebagai ular yang terpanjang di dunia. Meskipun umumnya publik mengenal jenis-jenis sanca sebagai ular yang tak berbisa, sejatinya pada kadar tertentu masih terdapat kandungan bisa pada liurnya.
Kebiasaan
   Kebanyakan jenis sanca merupakan predator penyergap, yang sabar menanti mangsanya sambil menyamar di antara dedaunan atau serasah, dan secara tiba-tiba menyerang mangsa yang lalu di hadapannya. Pada umumnya ular-ular ini tidak menyerang manusia jika tidak diganggu atau diprovokasi lebih dahulu; meskipun ular betina yang sedang melindungi telur-telurnya bisa berlaku agresif. Dahulu cukup sering terjadi serangan sanca pada manusia, sebagaimana dilaporkan dari Asia Selatan dan Tenggara, namun kini telah banyak berkurang.
Jenis-Jenis Ular Sanca
   Sanca menggigit dan memegang mangsanya dengan gigi-giginya yang tajam melengkung ke belakang, empat deret di rahang atas dan dua deret di rahang bawah, sebelum pada akhirnya membelit dalam beberapa lilitan untuk membunuh mangsanya itu. Berlawanan dengan pendapat umum, sanca --sekalipun yang berukuran besar seperti sanca kembang -- tidaklah meremuk mangsanya dengan belitan itu. Alih-alih, mangsa yang dibelitnya itu mati karena tak bisa bernafas, akibat tulang-tulang iganya tak bisa meregang tertahan oleh belitan yang semakin lama semakin mengetat.
   Ular-ular berukuran besar diketahui biasa memangsa hewan hingga seukuran kucing rumah, namun pernah tercatat pula mangsa-mangsa yang berukuran lebih besar. Sanca Asia diketahui pernah memangsa rusa dewasa, dan sanca afrika Python sebae tercatat pernah memangsa antelop. Mangsa-mangsa ini ditelan bulat-bulat, dan diperlukan waktu beberapa hari hingga beberapa minggu hingga ular itu dapat mencerna tubuh mangsa seluruhnya.
Reproduksi Sanca
   Ular-ular sanca bertelur (ovipar); dan ini yang membedakannya dengan ular-ular boa (suku Boidae) yang kebanyakan ovovivipar. Telur-telur ini kemudian dierami oleh induk sanca hingga menetas. Meskipun jenis-jenis ular dikenal sebagai ‘berdarah dingin’, induk sanca diketahui dapat meningkatkan suhu lingkungan di sekitar telur-telurnya. Sembari bergelung melingkari kumpulan telur-telurnya, ular betina menggerakkan otot-otot tubuhnya agar berkontraksi membangkitkan bahang untuk menghangatkan telur-telur dan udara di sekitarnya. Menjaga agar sedapat mungkin telur-telur itu berada pada temperatur yang konstan, adalah sangat penting bagi pertumbuhan embrio yang sehat. Selama masa mengerami itu, induk sanca tidak makan dan hanya meninggalkan telur-telurnya untuk berjemur di bawah matahari, untuk menaikkan suhu tubuhnya.
Konservasi Sanca
   Banyak jenis-jenis sanca yang menjadi sasaran perburuan manusia; yang berukuran besar untuk diambil kulitnya yang berharga tinggi, dan yang berukuran kecil untuk dijadikan hewan timangan. Beberapa jenisnya telah menjadi langka dan bahkan terancam kepunahan, seperti jenis-jenis sanca india (Python molurus), sanca bodo (P. bivittatus), dan di beberapa daerah juga sanca kembang (P. reticulatus).
  Sanca termasuk salah satu reptil timangan yang populer. Beberapa jenisnya telah berhasil ditangkarkan dan dikembangkan perdagangannya sebagai hewan timangan (pet). Akan tetapi jenis-jenis tertentu dapat tumbuh besar hingga mencapai ukuran yang dapat melukai atau membunuh manusia, sehingga pemeliharanya perlu berhati-hati menanganinya. Ada, meskipun jarang, catatan mengenai kasus terbunuhnya pemilik sanca oleh ular peliharaannya.

2. Boa

Boidae adalah kelompok (suku) ular pencekik primitif yang tersebar di Amerika, Afrika, Madagaskar, Mauritius, Eropa bagian selatan, sebagian Asia Barat, India, Indonesia Timur, dan Oseania. Nama umum ular ini adalah Boa atau ular boa. Ular ini berkerabat dekat dengan Pythonidae (Ular sanca), dan merupakan kelompok ular terdahulu (Henophidia).
Kata "boa" berasal dari kata bahasa Tupi, bahasa penduduk asli Brazilia yang tinggal di pedalaman hutan hujan Brazil, yakni kata Mbói, selain itu juga dari kata lain yakni jibóia dan boitatá. Awalnya, kata-kata tersebut digunakan oleh suku Amerindia III (Suku Indian di Amerika Selatan) untuk menyebut ular raksasa yang tinggal di Sungai Amazon yang sekarang dikenal dengan nama Anakonda.
Boa pohon Amerika (Bahasa latin: Corallus berasal dari kata corall="batu karang") adalah jenis-jenis ular boa pohon yang terdapat di Amerika Tengah dan Selatan. Nama umum mereka dalam bahasa Inggris adalah Neotropical tree boas.
Tubuh ular-ular ini panjang, ramping, kepala berukuran besar. Mata mereka berukuran besar dengan pupil vertikal yang terlihat jelas. Semua jenis dari genus ini tinggal di atas pohon dan aktif pada malam hari. Ular-ular ini memiliki sensor panas di sela-sela bibir (labial) mereka, organ itu digunakan untuk mendeteksi keberadaan mangsa mereka melalui energi panas (kalor) yang terpancar dari tubuh mangsanya. Mangsa utama mereka adalah burung.
Tersebar luas di Amerika Tengah, Amerika Selatan dan beberapa pulau di Hindia Barat. Di Amerika Tengah, mereka terdapat di Honduras, Guatemala, Nikaragua, Kosta Rika dan Panama. Di Amerika Selatan mereka tersebar luas di Kolombia, Ecuador, wilayah Amazon, Peru, Bolivia, Brasil, Venezuela, Isla Margarita, Trinidad, Tobago, Guyana, Suriname, dan Guyana Perancis. Di Hindia Barat, mereka terdapat di pulau Saint Vincent, Grenadines (Bequia, Ile Quatre, Baliceaux, Mustique, Canouan, Maryeau, Union Island, Petit Martinique, dan Carriacou), Pulau Grenada dan Kepulauan Windward (Lesser Antilles).
Boa hijau khatulistiwa adalah sejenis boa pohon Amerika yang warna dan bentuknya hampir mirip dengan Sanca hijau yang terdapat di Pulau Papua. Perbedaannya adalah pada punggung boa, terdapat beberapa motif garis melintang berwarna putih, sedangkan pada sanca tidak.
Nama spesifiknya, caninus yang berarti "seperti anjing", merujuk pada gigi boa ini yang panjang seperti gigi anjing. Gigi itu digunakan untuk mencengkram mangsanya. Warna tubuhnya hijau muda dengan belang-belang kecil berwarna pucat. Panjangnya mencapai 2,7 meter. Perut berwarna kuning pucat. Pada ular muda, warnanya bisa kuning bahkan oranye, seperti layaknya anak ular Sanca hijau.
Ular ini hidup di ranting-ranting pohon di hutan hujan Amerika Selatan, mangsanya adalah burung dan mamalia, juga hewan lain seperti kadal dan katak. Saat berburu, ular ini melacak keberadaan mangsanya dari perubahan suhu di sekitarnya, ia melacak menggunakan sensor panas di sela-sela bibir atasnya. Ular ini membunuh mangsanya dengan membelit. Ular ini berkembangbiak dengan melahirkan (ovovivipar), anaknya berjumlah 6-14 ekor.
Ular ini tersebar di daerah tropis Amerika Selatan, yakni Brazilia, Peru bagian timur, Ekuador bagian timur, Kolombia, Venezuela, Guyana Inggris, Suriname, Guyana Perancis, dan Bolivia bagian utara.
Candoia (Boa pasifik atau bernama lokal Mono), adalah genus yang meliputi 4 spesies ular boa. Ciri khas ular-ular ini adalah hidung mereka yang berbentuk kotak. Mereka tersebar di Maluku, Papua, dan Oseania (kecuali Tasmania, Selandia baru, dan Hawaii). Nama lokal ular ini adalah Mono atau Ular mono, sedangkan nama umumnya adalah Boa Pasifik. Dalam bahasa inggris disebut Bevel-nosed boa. Panjang ular ini mencapai 1,8 meter tergantung spesies. Tersebar luas di Maluku, Papua, Kepulauan Bismarck, Kepulauan Solomon, Melanesia, Fiji, dan Samoa.
Boa pohon Amazon adalah sejenis boa yang endemik di Amerika Selatan. Panjangnya mencapai 2 meter. Warna tubuhnya cokelat atau krem, terkadang dengan bercak-bercak hitam atau dengan tepian berwarnya cerah. Banyak pula spesimen dengan warna oranye atau merah polos. Ular ini adalah salah satu ular boa dengan variasi warna tubuh paling beragam di Benua Amerika.
Ular ini hidup di atas pohon atau di dahan-dahan tanaman-tanaman hutan yang rimbun. Makanannya adalah mamalia pohon, burung, dan kadal. Ia membunuh mangsanya dengan cara membelit seperti halnya boa pada umumnya. Berkembang-biak dengan beranak hingga sekitar 10 ekor. Persebaran geografis Ular ini  mulai di sebelah timur laut Barisan Andes, membentang mulai dari Peru, Brazilia, Kolombia, Venezuela, hingga Guyana Perancis dan Bolivia, serta di Pulau Trinidad dan Tobago. Populasi terbanyak terdapat di hutan sepanjang aliran Sungai Amazon dari hulu ke hilir.
    Demikianlah informasi sekilas tentang Ular terutama Jenis Ular Sanca dan Boa, semoga dengan dipostingnya tulisan ini bisa merubah image dan anggapan yang negatif tentang Ular yang ternyata bisa juga kita jadikan hobis sebagai satwa kesayangan. Dan kita berharap kelestarian jenis spesies ini tetap terjaga walaupun dari segi konservasi satwa ini cukup berlimpah jumlahnya dan cepat berkembang biak namun setidaknya kita tetap ikut berperan menjaga keberadaannya di alam liar dengan cara menjaga keutuhan habitat dan lahan hutan tempat mereka hidup dengan tidak merusak dan  mencemari lingkungan . Selamat Hari Ular sedunia tahun 2018. Salam Lestari !

Sumber Referensi : Wikipedia Indonesia