"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)
Tampilkan postingan dengan label MACAN TUTUL JAWA (PANTHERA PARDUS MELLAS). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MACAN TUTUL JAWA (PANTHERA PARDUS MELLAS). Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 November 2015

MACAN TUTUL JAWA, SPESIES LEOPARD YANG HANYA ADA DI P. JAWA


   Macan Tutul Jawa (Phantera Pardus Mellas) Hanya ditemukan di Pulau Jawa, dan dibeberapa pulau-pulau kecil sekitarnya seperti P.Nusa Kambangan (Jawa Tengah), P.Sempu,dan P.Kangean (Jawa Timur). Anehnya Macan Tutul Jawa tidak ditemukan di pulau yang lebih besar dan menjadi jalan penghubung ke Asia pada zaman Pleistosen yaitu P.Sumatera dan Kalimantan. Beberapa teori para scentific tentang populasi Macan tutul Jawa yang hanya terpusat di P.Jawa diantaranya mengatakan Bahwa Leopard ini mungkin diintroducsikan dari Asia oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal penjajahan di abad ke 16. Namun teori ini terbantahkan tidak mungkin Macan Tutul Jawa hasil perkembangbiakan dari wilayah lain di Asia. Buktinya Macan tutul Jawa ini penyebarannya merata di seluruh Pulau Jawa bahkan sampai pada pulau-pulau kecil sekitar jawa. Jelas Leopard ini asli Pulau Jawa yang pada zaman Pleistosein terisolasi di Pulau Jawa setelah dangkalan Sunda terpecah karena fluktuasi muka laut sehingga terbentuklah Pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan.
  Macan Tutul Jawa (Phantera Pardus Mellas) memiliki dua corak warna kulit yaitu Kuning bertutul-tutul hitam yang umum disebut Macan Tutul dan berwarna kulit Hitam legam yang dikenal dengan nama Macan Kumbang. Kedua jenis Macan ini sebenarnya sama satu spesies hanya corak warna kulitnya saja yang berbeda . Ini terlihat pada saat bayi corak tutul dan hitam itu ada pada kedua Leopard ini dan mereka sering berjalan beriringan dalam satu keluarga yang sama. Buat saya perjumpaan dengan Leopard ini ketika mendaki gunung dulu adalah hal yang membahagiakan, karena ternyata hewan ini tidak seganas Harimau Sumatra dan cenderung menghindar apabila berjumpa dengan manusia. Tidak ada catatan serangan Macan tutul di pulau Jawa yang memangsa manusia, kecuali ternak. Ini membuktikan bahwa Macan Tutul Jawa mempunyai kemampuan bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan cukup baik. Leopard ini ada di semua vegetasi di P.Jawa baik dataran rendah berhutan tropis lebat, dataran rendah yang tandus dan gersang, Hutan Jati, Hutan pinus, hutan pegunungan dan semua Gunung-gunung yang ada di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur. Kemampuan beradaptasi ini yang mungkin menjadi harapan kita bahwa Macan Tutul Jawa akan eksis dan lestari di Pulau jawa: Pulau yang begitu padat penduduknya.
Kita berharap Leopard ini tidak mengalami nasib tragis seperti saudara tuanya Harimau Jawa (Phantera Tigris Sundaica) yang sudah dinyatakan punah.
  Dibawah ini artikel yang ditulis Bapak Didik Raharyono,SSi tentang sebaran Habitat Macan Tutul Jawa di P.Jawa, seorang pemerhati dan peneliti alam liar yang peduli akan kelestarian Carnivora Jawa.

DISTRIBUSI HABITAT MACAN TUTUL JAWA (PANTHERA PARDUS MELAS)

Peta Penyebaran Habitat Macan Tutul Jawa (Panthera Pardus Melas) merata di seluruh Pulau Jawa
Keterangan Lokasi

1.        Alas Purwo (KK:TN)
2.        Meru Betiri (KK:TN)
3.        Gn. Raung – Gn. Ijen – Gn.Merapi Ugup-ungup – Maelang (KNK)- Baluran(KK:TN)
4.        Gn. Lamongan (KNK) – Gn. Argopuro (KK:SM) – Gn. Beser (KNK)
5.        Gn. Bromo – Gn.Semeru (KK:TN)
6.        Gn. Arjuno – Gn. Wlirang (KNK)
7.        Malang Selatan – Blitar Selatan (KNK)
8.        Gn. Liman – Gn. Wilis (KNK)
9.        Alas Ketonggo (KNK)
10.     Pegunungan Kendeng Utara (KNK)
11.     Gn. Muria (KNK)
12.     Pegunungan Kendeng Tengah (KNK)
13.     Gn. Lawu (KNK)
14.     Pegunungan Kendeng Selatan (Gunungkidul – Wonogiri – Pacitan – Trenggalek) (KNK)
15.     Gn. Merapi – Gn. Merbabu (KK:TN)
16.     Gn. Ungaran (KNK)
17.     Gn. Slamet – Pegunungan Dieng (KNK)
18.     Gn. Sindoro – Gn. Sumbing (KNK)
19.     Pegunungan Kapur Kulonprogo – Purworejo (KNK)
20.     Hutan Banyumas (KNK)
21.     P. Nusakambangan (KK:CA & KNK)
22.     Pegunungan Pembarisan (KNK)
23.     Hutan Kedungbantheng (KNK & KK:CA)
24.     Gn. Ciremai (KK:TN)
25.     Priyangan Selatan (Gn. Tilu – Ciamis Selatan) (KNK & KK:CA)
26.     Priyangan Utara (KNK)
27.     Hutan Kerawang Selatan (KNK)
28.     Gn. Gede – Pangrango (KK:TN)
29.     Sukabumi Selatan (KNK)
30.     Pandeglang (KNK)
31.     Ujung Kulon (KK:TN)
32.     Pulau Kangean (KNK) Lokasi: di sisi Timur Pulau Madura (dlm peta di atas tidak terlihat).
Pola Pengelolaan:
1.        Blok I       = meliputi kawasan: 1, 2, 3 & 4.
2.       Blok II       = meliputi kawasan: 5, 6 & 7
3.       Blok III      = meliputi kawasan: 8, 13 & 14
4.       Blok IV      = meliputi kawasan: 9, 10 & 12
5.       Blok V        = meliputi kawasan: 11
6.       Blok VI      = meliputi kawasan: 15
7.       Blok VII     = meliputi kawasan: 16, 17, 18, 19, 20 & 23
8.       Blok VIII    = meliputi kawasan: 21
9.       Blok IX      = meliputi kawasan: 22 & 24
10.     Blok X       = meliputi kawasan: 25
11.     Blok XI      = meliputi kawasan: 26 & 27
12.     Blok XII     = meliputi kawasan: 28 & 29
13.     Blok XIII   = meliputi kawasan: 30 & 31
14.     Blok XIV   =  meliputi kawasan 32

Keterangan
KNK         = Kawasan Non-Konservasi
KK:TN      = Kawasan Konservasi, Taman Nasional
KK:SM     = Kawasan Konservasi, Suaka Margasatwa
KK:CA      = Kawasan Konservasi, Cagar Alam
Literatur: Dirangkum dari berbagai sumber (Cetak & Elektronik, Survei Lapang penulis, Informasi Pemburu lokal).
Peta Sebaran Macan Tutul Di Jawa Tengah

Sumber Referensi : Peduli Karnivora Jawa

Kamis, 10 Oktober 2013

MACAN KUMBANG DI TENGAH HUTAN

 
    Macan kumbang atau macan tutul jawa (Panthera pardus melas)  merupakan salah satu hewan langka yang telah dilindungi undang-undang. Macan ini terancam punah akibat  perburuan liar dan habitatnya di hutan tropis di Pulau Jawa mulai berkurang. Berapa jumlah macan kumbang yang masih tersisa di hutan-hutan di Pulau Jawa? Tak ada yang tahu karena populasi hewan liar ini di hutan sangat sulit dihitung.
   Namun, diperkirakan macan kumbang ini masih hidup di hutan-hutan taman nasional di Pulau Jawa. Seperti di Gunung Halimun Salak, Gunung Gede Pangrango, Ujung Kulon, Gunung Ceremai, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Bromo, Gunung Semeru, Meru Betiri, Baluran, dan Alas Purwo.
   Di kebun-kebun binatang, jumlah macan kumbang ini tidak seberapa. Di Eropa, jumlah macan ini diperkirakan hanya 14 ekor. Di kebun binatang Indonesia, jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 20 ekor.  Penelitian yang dilakukan tahun 2001 sampai 2004 di Gunung Halimun dengan menggunakan kamera otomatis memperkirakan populasi macan tutul di daerah tersebut ada sekitar 50- an ekor.Macan kumbang adalah macan tutul hitam meskipun mempunyai bulu yang berbeda yakni hitam. Orang sering kali menganggap macan kumbang sebagai spesies macan yang berbeda. Namun nyatanya, macan kumbang merupakan satu spesies dan hanya merupakan varian dari macan tutul (Panthera pardus).
Macan kumbang sering ditemui sebagai varian dari macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Macan kumbang atau sering juga disebut sebagai macan hitam juga sering dijumpai sebagai varian dari subspesies macan tutul india (Panthera pardus fusca).
   Karena merupakan spesies yang sama, antara macan tutulbiasa yang berbulu coklat bertotol hitam dengan macan kumbang yang berwarna hitam dapat melakukan perkawinan dengan anak yang dihasilkan terkadang berwarna tutul dan terkadang hitam. Macan kumbang atau macan hitam merupakan varian macan tutul.

Ciri dan Perilaku Macan Kumbang.

   Karena merupakan spesies yang sama dengan macan tutul, macan kumbang mempunyai ciri-ciri dan perilaku yang mirip dengan macan tutul. Hanya saja bulu macan kumbang tampak berwarna hitam seluruhnya. Bulu macan kumbang yang berubah menjadi hitam tersebut disebabkan oleh pigmen melanistik sebagai bentuk adaptasi atas habitat hutan yang lebat dan gelap.
  Jika dicermati, warna pada macan kumbang tidaklah sepenuhnya hitam. Terdapat totol atau kembangan berbentuk bintik-bintik berwarna lebih gelap dibandingkan bulu dasarnya yang berwarna hitam mengkilat. Pola bintik-bintik gelap tersebut lebih mudah diamati saat di bawah cahaya terang.
Macan kumbang jawa (Panthera pardus melas) mempunyai ukuran tubuh berkisar antara 90 – 150 cm dengan tinggi 60 – 95 cm. Bobot badannya berkisar 40 – 60 kg. Dan sebagaimana jenis macan tutul lainnya, macan kumbang merupakan hewan nokturnal (beraktifitas di malam hari), pandai memanjat dan berenang.
  Macan kumbang pun seekor binatang karnivora yang memangsa buruannya seperti kijang, monyet ekor panjang, babi hutan, kancil dan owa jawa, landak jawa, surili dan lutung hitam. Hidup secara soliter dengan ruang gerak (teritorial) antara 5-25 km2 serta dapat bertahan hidup hingga usia 23 tahun.
  Persebaran, Populasi, dan Konservasi. Macan kumbang jawa (Panthera pardus melas) sebagai varian dari macan tutul jawa yang merupakan subspesies macan tutul yang hanya dapat ditemukan di pulau Jawa. Selain sering ditemui pada macan tutul jawa, varian macan kumbang juga sering didapati pada macan tutul india (Panthera pardus fusca).
   Saat ini macan kumbang bertahan di beberapa wilayah yang berbeda seperti di Taman Nasional (TN) Ujung Kulon, TN. Gunung Halimun Salak, dan TN. Gunung Gede (Jawa Barat) serta di TN. Meru Betiri, Baluran, dan Alas Purwo Jawa Timur. Jumlah populasinya (termasuk macan tutul jawa berbulu coklat) diperkirakan berkisar antara 250 – 500 ekor.
   Lantaran jumlah populasi yang semakin menurun dan habitat yang semakin sempit akibat kerusakan hutan dan alih fungsi hutan, IUCN Redlist memasukkan macan tutul jawa, termasuk macan kumbang, dalam status konservasi Critically Endangered (Kritis). Selain itu juga masuk dalam dalam CITES Apendik I yang berarti tidak boleh diperdagangkan.
Di Indonesia macan kumbang sebagai varian macan tutul pun termasuk satwa yang dilindungi dari kepunahan berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 dan PP No. 7 tahun 1999.
Nah, jika sekarang telah jelas bahwa macan kumbang atau macan hitam bukan jenis tersendiri dan hanya merupakan varian dari macan tutul, terus bagaimana dengan macan putih?. Lain kali saja kita bahas.
  Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Carnivora; Famili: Felidae; Genus: Panthera; Spesies: Panthera pardus; Subspesies: Panthera pardus melas.
   Untuk mengetahui aktivitas macan kumbang ini, para peneliti menangkap dua macan kumbang lalu dipasangi radio kontrol. Menurut penelitian, macan kumbang ini aktif di pagi hari, mulai jam 6 sampai jam 9. Sore, mulai jam 3 sampai jam 6. Mereka berburu hewan, seperti kijang, monyet, babi hutan, dan kancil.
   Baru-baru ini, lembaga penelitian kehutanan CIFOR(Center for International Forestry Research)  merilis foto istimewa macan kumbang di sebuah hutan taman nasional di Jawa Barat. Foto-foto tersebut merupakan hasil jepretan kamera otomatis yang dipasang di beberapa pohon di tengah hutan.
Dari foto-foto yang dihasilkan, dapat diketahui jumlah macan yang berada di wilayah tersebut, juga jenis hewan yang menjadi mangsanya.
Macan Kumbang Terekam Kamera Trap di G.Salak
   Untuk memasang kamera otomatis ini, perlu keahlian, keberanian, dan kesabaran, selain biaya yang cukup besar. Bagaimana biayanya tidak besar. Kamera yang digunakan jumlahnya banyak dan  harganya tidak murah.Untuk memasang kamera di tempat-tempat strategis yang diperkirakan dilalui hewan liar, perlu keahlian dan keberanian.Setelah kamera dipasang, secara berkala baterai kamera harus diganti dan memori kamera harus diambil untuk diunduh ke komputer. Bisa jadi, kamera yang telah dipasang berhari-hari atau berbulan-bulan, tidak menghasilkan satu pun gambar karena tidak ada hewan yang melintas. Perlu kesabaran ekstra.
Namun, ketika kamera berhasil mengambil gambar yang diinginkan, kegembiraan itu tidak bisa dikatakan lagi. Oya, apakah anda pernah melihat macan kumbang ini di kebun binatang? Beberapa Kebun Binatang di Indonesia juga mengoleksi Macan Hitam ini, termasuk Taman Safari di Puncak, Jawa Barat. Kebetulan lokasi Taman Safari berada disekitar habitat Spesies Panthera Pardus Melas ini yang kadang-kadang malah mendekati lokasi dimana Teman-temannya ditampung di Pusat rehabilitasi di sekitar area Gunung Gede Pangrango. O ya, sekali lagi diingatkan kembali kepada anda pembaca semua bahwa Macan Kumbang Jawa dan Macan Tutul Jawa itu sama ya, satu Sub spesies dengan nama latin Panthera Pardus Melas.

Sumber Referensi : Alemendah.Org

Jumat, 27 September 2013

REKAMAN VIDEO MACAN TUTUL JAWA

         
Video Macan Tutul Jawa yang tertangkap warga di Cianjur, Jawa Barat Diduga Macan       ini berasal dari hutan sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

                  Macan Tutul Jawa tertangkap di Garut, Jawa Barat, diduga berasal dari lereng Gunung Cikuray.

Macan Tutul terlihat diatas saluran pipa gas di Pangalengan Bandung, satu ekor lagi yang berkulit hitam (Macan Kumbang) tampak menyeberangi jalan dari arah hutan.

Warga Kuningan panik, Macan Tutul Jawa masuk ke pemukiman. Diduga Macan Tutul berasal dari lereng Gunung Ciremai yang belum lama ini mengalami kebakaran hutan.

Melalui Kamera Trap, tertangkap foto-foto Macan Tutul Jawa yang sedang bersantai di lantai hutan Gunung Salak, Bogor Jawa Barat

Jumat, 11 Januari 2013

MASIHKAH ADA MACAN TUTUL DI GUNUNG CIREMAI ?


SEEKOR macan tutul melintas dan tertangkap lensa salah satu kamera trap otomatis di lereng Gunung Ciremai yang selama ini dipasang Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, untuk mengamati keberadaan berbagai jenis binatang di gunung tersebut. Foto hasil rekam kamera trap BTNGC di Blok Sigedong tahun 2011.*

KUNINGAN, (PRLM).- Kebakaran yang telah melalap ratusan hektare kawasan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai dalam tiga pekan terakhir, telah membunuh berbagai jenis flora dan fauna. Namun, berbagai pihak meyakini macan tutul dan macan kumbang tidak sampai ada yang mati terjebak api serta masih bisa hidup aman dalam kawasan hutan rimba di lereng gunung tersebut.
Kecuali itu, fauna berupa binatang melata, katak gunung, anak-anak burung dalam sarang, dan serangga dalam areal terbakar, dipastikan banyak yang terjebak api mati terbakar. Sementara, flora yang mati terbakar sebagian besar berupa alang-alang, rumput, serta berbagai jenis perdu atau semak belukar. Pasalnya, areal yang telah terbakar sebagian besar hanya berupa lahan padat tumpukan batu keropos, minim tanah lengang tegakan pohon.
  Sementara itu, terkait dengan keberadaan macan tutul dan kumbang di gunung tersebut, sejumlah anggota tim operasi penanggulangan kebakaran Ciremai, menduga kuat beberapa areal yang telah terbakar di lereng utara kaki Gunung Ciremai itu, merupakan salah satu tempat jenis binatang buas itu hidup dan mencari mangsanya.
"Selama kami ikut menanggulangi kebakaran di seputar area ini, saya dan beberapa orang teman saya, pada dua minggu ini sempat memergoki macan kumbang hitam lompat dan lari menjauhi kami," kata Cineur (36) salah seorang dari sejumlah anggota Lembaga Swadaya Masyarakat Aktivitas Anak Rimba (Akar) Kuningan, yang sedang membuat alur sekat bakar di lereng utara Ciremai sekitar Blok Batuarca, pada ketinggian sekitar 850 meter di atas permukaan laut, Rabu (26/9/12) pagi.
  Pengakuan serupa juga diungkapkan Piit (40) dan beberapa orang anggota Akar lainnya, serta beberapa orang masyarakat desa yang tergabung dalam tim pembuat sekat bakar di blok tersebut. "Kemarin malam, di sini saya dan rekan tim dari unsur masyarakat peduli api (MPA), juga sempat melihat ada dua ekor macan kumbang lari melintas," ujar Piit, yang menyertai "PRLM" menuju Blok Batuarca tempat berkemah tim pembuat sekat bakar, saat melintasi jalur masuk hutan di sekitar Blok Karangdingding, lereng utara gunung tersebut, Selasa (25/9/12) malam.
Keberadaan macan tutul dan macan kumbang di kawasan gunung Ciremai, sebelumnya juga sempat diyakinkan beberapa orang pejabat Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC). Bahkan menurut Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Kuningan dari BTNGC Mokh. Ridwan Efendi, dan Kepala Satuan Polisi Hutan BTNGC Mufrizal, kamera trap otomatis yang dipasang pihaknya di beberapa titik lereng Ciremai, dalam setahun terakhir sempat merekam beberapa objek foto macan tutul dan macan kumbang, melintas depan lensa kamera tersebut.
"Di antaranya ada juga hasil tangkapan kamera trap yang dipasang di sekitar Blok Batuarca," ujar Mokh. Ridwan Efendi, seraya menjelaskan foto hasil rekaman kamera trap di beberapa titik lereng Gunung Ciremai itu, merupakan bukti bahwa di kawasan gunung berapi tertinggi di Jawa Barat itu, masih dihuni kedua jenis macan tersebut.
Namun, ujar Mokh. Ridwan menambahkan, jumlah populasi kedua jenis macan tersebut sejauh ini pihaknya belum diketahui pasti. "Untuk mengetahui populasi, perkembangbiakan, termasuk habitat macan tutul dan kumbang di Gunung Ciremai, masih memerlukan langkah pengamatan dan penelitian lebih lanjut," katanya. (A-91/A-108)

Macan Tutul Tertangkap di Kaki Gunung Ciremai

MACAN tutul (panthera pardus) dewasa yang masuk dan tertangkap di halaman rumah warga Desa Kalapagunung, Kec. Karamatmulya, Kab. Kuningan, saat siuman setelah dibius pingsan selama lebih kurang 40 menit dalam kerangkeng besi pengamannya, Selasa (16/10/2012). 

KUNINGAN, (PRLM).- Seekor macan tutul (panthera pardus) jantan ukuran dewasa, masuk dan tertangkap hidup di halaman belakang rumah Hj. Kiah (67) di lingkungan RT 2 RW 1, Desa Kalapagunung, Kec. Karamatmulya, Kab. Kuningan, Selasa (16/10). Masyarakat di desa bawahan kaki Gunung Ciremai menduga macan berwarna bulu kuning kecoklatan dengan bintik-bintik berwarna hitam itu, berasal dari kawasan hutan Gunung Ciremai.
"Boa-boa macan ieu turun ti Gunung Ciremai, nandakeun Gunung Ciremai rek bitu boa (Siapa tahu macan ini turun dari Gunung Ciremai dan siapa tahu sebagai tanda-tanda Gunung Ciremai mau meletus)," ujar Yudi (44) seorang warga Kec. Cilimus, Kuningan yang sedang menyaksikan proses penangkapan macan di halaman rumah warga desa tersebut diikuti celoteh ungkapan senada dari sejumlah warga lainnya.
   Sebagian warga di antaranya, menduga macan itu keluar dari kawasan hutan Gunung Ciremai karena habitatnya baru-baru ini terganggu kebakaran hutan. Di balik itu, ada juga masyarakat dari beberapa kalangan menduga macan itu macan peliharaan yang lepas dari kandangnya.
Ketua Pos Pengamat Gunung Api Gunung Ciremai Maman Sukirman, kepaad "PRLM" menyatakan sejauh ini aktivitas vulkanik Gunung Ciremai teramati tidak mengalami gejala peningkatan. Maman Sukirman menyatakan, sampai saat ini status Gunung Ciremai masih tetap aktif normal, tanpa mengalami gejala peningkatan aktivitas vulkanik.
"Jadi, kalau pun, macan itu turun dari Gunung Ciremai, bukan karena aktivitas vulkanik Gunung Ciremai. Mungkin dia (macan tersebut-red.) turun gunung karena kurang makanan atau habitatnya terganggu, tapi bukan terganggu karena aktivitas vulkanik Ciremai," ujar Maman, seraya menegaskan kembali bahwa aktivitas vulkanik Ciremai selama ini tidak mengalami gejala-gejala mengalami peningkatan.
Sementara, posisi Desa Kalapagunung berada di sebelah timur dari Gunung Ciremai. Jika ditarik garis lurus berjarak sekitar 5 kilo meter dari batas hutan terbawah kaki gunung tersebut, tersekat lima wilayah desa lainnya, dari arah Ciremai ke timur masing-masing Desa Sukamukti, Kec. Jalaksana, kemudian Desa Pajambon, Ragawacana, Gandasoli, dan Desa Cibentang, Kec. Karamatmulya.
Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah III Ciamis pada Balai Besar KSDA Jawa Barat Rajendra Supriadi, yang turun membantu pihak Kepolisian Resor (Polres) Kuningan, menangkap hidup macan tersebut, menyatakan pihaknya belum berani menyimpulkan asal-usul macan tersebut. (A-91/A-26).

Harimau Jawa masih ada di Gunung Ciremai ?

   Balai Taman Nasional Gunung Ciremai sejak sepekan lalu menempatkan satu unit kamera trap di titik ketinggian sekitar 2.960 meter di atas permukaan laut lereng barat daya kawasan puncak Gunung Ciremai. Kepala Resort Cigugur lingkup BTNGC Idin Abidin menyebutkan, penempatan kamera otomatis itu dilakukan menyusul adanya informasi bahwa di lokasi tersebut belakangan ini sering dilintasi harimau.
  "Kamera trap yang saya pasang di sana seminggu lalu, kami fokuskan untuk mengamati keberadaan harimau. Selain itu juga untuk mengamati aneka satwa lainnya yang masih sering terlihat berkeliaran di seputar lereng puncak Ciremai," ujar Idin Abidin, saat ditemui "PRLM" di kantor Resort Cigugur.
Idin menyebutkan, informasi keberadaan harimau di kawasan lereng puncak gunung berapi tertinggi di Jawa Barat itu, diperoleh pihaknya dari Kristianto (54) seorang pertapa warga Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebagaimana diberitakan, Kristianto alias Krisna Jaya Wisesa belum lama ini sempat bertapa disertai melakukan pengembaraan selama 38 hari di kawasan puncak gunung tersebut.
Saat turun gunung, pertapa berambut gondrong itu, kepada "PRLM" pun memang sempat meyakinkan bahwa selama mengembara di kawasan puncak Ciremai itu, dirinya telah berulangkali melihat persis seekor harimau melintas di sekitar area yang kini dipasangi kamera tersebut.
"Sosok hewan yang telah beberapa kali saya saksikan melintas di sana, jelas adalah harimau bukan macan. Corak warna bulunya juga terlihat jelas belang hitam dan kuning, bukan totol-totol," kata Kristianto, lalu menyatakan dirinya melihat sosok harimau itu dalam jarak pandang kurang dari 20 meter.
  Temuan sosok harimau tersebut, ketika itu juga sempat dilontarkan dan diyakinkan Kristianto kepada sejumlah pejabat dan jajaran petugas di kantor BTNGC. Menyikapi itu pula, Kepala Resort Cigugur Idin Abidin, sepekan yang lalu berangkat mendaki dan memasang kamera otomatis tersebut pada titik lokasi sebagaimana disebutkan Kristianto.
  Idin Abidin menyebutkan pengamatan keberadaan harimau di gunung tersebut juga didasari beberapa petunjuk lainnya. Di antaranya atas adanya keterangan penduduk yang menyatakan dalam beberapa tahun terakhir masih ada warga yang sempat melihat harimau dalam kawasan hutan Gunung CIremai.
Selain itu, pada tahun 1968 pernah ada seekor harimau keluar dari hutan Gunung Ciremai dan tertangkap mati oleh penduduk. "Meskipun pada tahun 1990-an pihak WWF telah menyatakan harimau jawa di Gunung Ciremai punah, tetapi dengan adanya keterangan-ketarangan dari masyarakat tadi, pembuktian masih ada tidaknya harimau di Gunung Ciremai masih perlu diteliti kembali. Bisa saja, selain harimau jawa yang telah dinyatakan punah, di Gunung Ciremai ini ada harimau sumatera," kata Idin Abidin.
    Namun menurut pendapat admin pribadi, yang telah beberapa kali menjelajahi Gunung Ciremai tahun 1988,1989,1990 kenampakan Harimau Jawa dekat puncak Ciremai pada ketinggian 2950 meter adalah suatu yang tidak mungkin, karena Harimau Jawa lebih sering menjelajah pada hutan-hutan dilereng bawah. Besar kemungkinan yang dilihat oleh Kristianto itu adalah sosok Macan Tutul Jawa yang secara sepintas memang mirip Harimau apabila dilihat dari jarak jauh. Yang jelas Macan Tutul menyukai habitat di tempat-tempat tinggi dekat tebing-tebing curam ataupun gua-gua di tepi jurang yang jarang dijamah manusia. Walaupun ada pengakuan warga yang sempat ditemui admin masih melihat sosok Harimau Jawa dan bukti fisik ofsetan Kepala Harimau Jawa dari Gunung Ciremai, admin menduga Harimau Jawa sudah punah dari Gunung Ciremai, sedangkan yang dilihat oleh penduduk dan pendaki gunung hanyalah salah persepsi, karena sebenarnya yang mereka lihat adalah Macan Tutul Jawa bukan Harimau Jawa.

Sumber Refernsi : Harian Pikiran Rakyat Online

Senin, 09 April 2012

MACAN TUTUL DI JAWA TENGAH

 
   Macan Tutul Jawa atau sering juga disebut macan kumbang memiliki nama latin Panthera pardus melas. Kucing besar ini merupakan salah satu dari subspesies macan tutul yang hanya bisa ditemukan di hutan-hutan tropis di Pulau Jawa. Dengan kata lain, Macan Kumbang merupakan salah satu hewan endemik Indonesia.
  Macan Tutul Jawa memiliki 2 variasi, yaitu berwarna terang, dan berwarna hitam. Namun sepertinya yang berwarna hitam lebih banyak. Nah, yang berwarna hitam inilah yang lebih dikenal dengan nama Macan Kumbang. Disebut demikian karena pada umumnya mereka memiliki bulu yang menyerupai warna sayap kumbang yang hitam mengkilap dengan bintik-bintik gelap yang hanya akan tampak jika berada di bawah cahaya.
   Hewan yang menjadi identitas Provinsi Jawa Barat ini merupakan jenis macan tutul yang berukuran paling kecil jika dibandingkan dengan spesies macan tutul lainnya yang ada di dunia. Ukuran tubuh macan kumbang jantan cenderung lebih besar dibandingkan dengan ukuran tubuh betinanya.
Hewan predator ini memiliki indera penciuman dan penglihatan yang tajam. Dan mereka adalah pemanjat pohon yang ulung. Warna bulu macan kumbang yang hitam akan membantunya beradaptasi dengan lingkungan hutan lebat yang gelap. Terlebih lagi karena binatang ini lebih aktif berburu di malam hari. Mangsa Macan Kumbang adalah hewan-hewan penghuni hutan yang ukurannya lebih kecil darinya.
   Hewan yang suka menyendiri (Soliter) ini merupakan satu-satunya spesies kucing besar di Pulau Jawa.yang masih tersisa. Sejak 2007, IUCN memasukkan Macan Kumbang sebagai salah satu hewan yang berstatus "Kritis". Dan terdaftar dalam status Appendix I oleh CITES.
   Saat ini, hewan yang dilindungi UU No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999 ini hanya dapat ditemui di beberapa cagar alam di Pulau Jawa, seperti Taman Nasional Gunung Merapi-Merbabu. Untuk penyebaran Habitat Macan Tutul ini di Jawa Tengah lainnya menyebar dari daerah dataran rendah, dataran tinggi dan pegunungan, bahkan dapat dijumpai dekat dengan perkebunan Jati masyarakat .
Penyebaran habitat Macan Tutul Jawa (Panthera Pardus Melas) di Jawa Tengah antara lain ...
  1. Pegunungan Pembarisan diperbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah antara lain di Gunung Sawal,  Gunung Kumbang, dan bukit-bukit disekitarnya.
  2. Pulau Nusa Kambangan sampai hutan rawa sepanjang aliran sungai Citanduy ke perbatasan Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. 
  3. Pegunungan Serayu terutama di hutan lembah antara sungai serayu. Tahun 1980-an masih ditemukan beberapa ekor, namun sekarang kebradaannya tidak terdengar lagi.
  4. Gunung Slamet dan sekitarnya.
  5. Pegunungan Dieng, perbatasan kabupaten Pekalongan, Wonosobo dan Purwokerto dan beberapa gunung- gunung skitarnya seprti G.Prahu dan G.Rogojembangan.
  6. Hutan karang bolong sekitar goa jatijajar, tahun 1980-an masih ada, sekarang keberadaannya tidak pernah  terdengar lagi.
  7. Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing
  8. Gunung Ungaran dan beberapa gunung kecil disekitarnya.
  9. Gunung Muria dan beberapa gunung disekitarnya.
  10. Pegunungan Kendeng Utara sampai batas kota Blora sebelah utara
  11. Gunung Merapi dan Merbabu.
  12. Gunung Lawu dan bebeerapa bukit sekitarnya.
  13. Pegunungan Sewu/kidul sampai perbatasan Jawa Timur
  14. Pegunungan Manoreh, perbatasan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta
  15. Banyumas Barat dan Banyumas Timur
  16. Perbatasan Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) dan Gunung Kidul (Yogyakarta)
  17. Pebukitan Semarang selatan dan Alas Roban
  18. Hutan sebelah Selatan wilayah Kabupaten Tegal dan Kendal
  19. Dan beberapa wilayah Hutan Jati lainnya 

Sumber Referensi : Wikipedia Indonesia

Rabu, 04 April 2012

PERJUMPAAN DENGAN MACAN TUTUL JAWA DI PROVINSI JAWA BARAT

 
    Populasi Macan Tutul Jawa sampai saat ini belum diketahui pasti jumlahnya, karna hingga saat ini belum ada sensus resmi pendataan populasi Macan Tutul Jawa (Panthera Pardus Melas). Namun secara Zoogeografis penyebaran merata di seluruh Provinsi di Pulau Jawa kecuali tentu saja DKI Jakarta.
   Berdasarkan pengalaman saya selama masih aktif di kegiatan Pencinta Alam sejak SMA tahun 1984 , keberadaan Macan Tutul Jawa hampir bisa dijumpai di seluruh Gunung- gunung di P.Jawa. Termasuk ketika masih kuliah di IKIP Jakarta dan melakukan KKL di Desa Darmasari, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak , Banten. Perjumpaan langsung terjadi pada tahun 1985 saat saya masih duduk di kelas 2 SMA ketika mencoba membuka rute baru ke puncak Gunung Salak I dari arah dusun Warung Loa, Ciapus. Perjalaanan satu jam dengan membuka jalur di hutan lebat yang berbatasan dengan aliran sungai tiba-tiba terhenti karena terbentur tebing dan jurang yang dalam. Pada saat beristirahat itulah dalam kegelapan malam kami mendengar suara geraman hewan sayup-sayup. Dan dari arah atas pohon terlihat dua cahaya kecil dalam kegelapan  yang kemudia langsung kami sorot dengan senter ternyata seekor macan tutul berkulit serba hitam sedang beristirahat di dahan pohon . Spesis ini dikenal dengan sebutan Macan Kumbang .
   Pada pendakian Gunung Pangrango yang kedua tahun 1986 lepas dari pos Kandang Badak sekitar jam 3 pagi (malam) ada sekelebatan hewan melintas didepan kami kurang lebih 20 meter kedepan, karena jalan agak mendaki dan terhalang rimbunnya pohon cantigi saya tidak bisa menebak hewan apa itu , apakah babi hutan, macan tutul atau anjing hutan.Apalagi pendakian yang kedua ini kami lakukan pada malam hari. Namun dalam pendakian gunung pangrango yang pertama kami menemukan jejak kaki macan tutul selepas pos kandang batu. Kami bisa melihatnya jelas karena pendakian yang pertama ini dilakukan mulai pagi hari dan sampai di puncak Pangrango jam 16.00 sore. Dalam pendakian Gunung Gede dengan rute yang sama dari Pos Kandang Badak dan dua lembah puncak Gunung Gede - Pangrango yaitu lembah (alun-alun) Suryakencana dan Mandalawangi mungkin saja Macan tutul pernah dijumpai pendaki - pendaki gunung disana.
Pada saat KKL di Hutan lindung Bayah, di pinggir aliran sungai Ci Pamubulan yang berbatasan dengan desa Sawarna kami menemukan jejak kaki beerukuran sedang dan dapat dipastikan itu adalah jejak Macan Tutul. Karena ukurannya lebih besar dari ukuran jejak Kucing Hutan. Didesa Darmasari ini selain Macan Tutul/Kumbang perjumpaan langsung dengan hewan liar adalah Owa Jawa  yang bergelantungan di atas pohon perbatasan hutan lindung dan Perkebunan Karet peninggalan Belanda yang kurang terawat. Jumlahnya sedikit dan kera ini termasuk penyendiri berbeda dngan monyet ekor panjang yang populasinya masih banyak ditemukan.
Foto KKL di Tepi Cimadur, Bayah Banten tahun 1990
   Hewan liar yang sering melintas di dekat Base Camp kami di Kantor desa  Darmasari adalah babi hutan yang melintas menyeberangi jalan menuju ke arah hutan lindung.
Semasa SMA dalam pendakian gunung-gunung di Banten dan Jawa Barat Macan Tutul Jawa tidak banyak prjumpaan langsung. Namun dari jejak telapak kaki dan bekas guratan di kulit pohon bisa dipastikan Macan Tutul dapat dijumpai di Gunung Gede, Gunung Pangrango, G.Salak, G.Ciremay, G.Patuha, G.Tangkubanperahu, G.Malabar, G.Karang, G.Papandayan, G.Cikuray, G.Burangrang, G.Aseupan, dan Gunung-gunung kecil lainnya di Jawa Barat. Bahkan pada saat saya mengikuti pendidikan dasar Pencinta alam di desa Cipanas, Lebak Banten beberapa kali kami diberitahu warga sekitar akan keberadaan Macan tutul disana. Distribusi macan tutul ditemukan di hutan-hutan Gunung Endut, Gunung Ciawitali, G.Jaya, dan gunung-gunung kecil lainnya tempat kami menjelajah disekitar wilayah yang sekarang termasuk kawasan Taman Nasional Gunung Salak-Halimun.

    Diluar Gunung-gunung tersebut Macan Tutul bisa dijumpai di Taman Nasional Ujung Kulon dalam jumlah segnifikan. Hutan Rawa Dano dan bukit-bukit sekitar Kota Serang Banten. Telaga warna puncak dan hutan hutan sekitarnya hingga puncak gunung Sanggabuwana Purwakarta yang berbatasan dengan Waduk Jatiluhur Jawa Barat. Pada tahun 1984 masih dijumpai macan kumbang dipebukitan tebing Ciseeng Parung Jawa barat tempat berlatih rock Climbing untuk kegiatan Pencinta Alam. Namun tempat-tempat yang dulu sering dijumpai Macan Tutul sudah tidak lagi terdengar berita keberadaan hewan itu. Ini menandakan terjadi kepunahan lokal dan penurunan populasi yang apabila tidak dicegah maka Macan Tutul jawa akan mengalami nasib yang sama dengan Harimau Jawa yang sudah terlebih dahulu punah.