"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)
Tampilkan postingan dengan label KECELAKAAN DI GUNUNG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KECELAKAAN DI GUNUNG. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 April 2017

PENDAKI GUNUNG TEWAS TERSAMBAR PETIR


Petir Membahayakan keselamatan Pendaki Gunung

Wonosobo - 11 orang pendaki gunung tersambar petir saat mendaki di kawasan Gunung Prau, Wonosobo, Jawa Tengah. Tiga orang meninggal dunia dan lainnya luka-luka akibat kejadian ini.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Djarot Padavoka mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar, Minggu (23/4/2017) pukul 15.00 WIB. Tiga dari 11 orang pendaki gunung itu meninggal dunia setelah tersambar petir.
"Iya lagi naik Gunung Prau Dieng, saat mendaki gunung mereka tersambar petir. Tiga meninggal dunia dan enam lainnya luka-luka," kata Djarot saat dikonfirmasi detikcom,
Menurutnya, wilayah Wonosobo dan sekitarnya sedang hujan deras. Polisi masih melakukan evakuasi para korban dari atas gunung.
"Tadi memang sedang hujan deras. Sampai saat ini kita juga masih melakukan upaya evakuasi," tutupnya. 
 Tiga orang pendaki gunung meninggal disambar petir saat mendaki Gunung Prau, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. 2 orang mengalami luka cukup serius dan 6 orang berhasil selamat.
"Iya masih kita evakuasi, laporan masuk sekitar pukul 17.30 WIB tadi," kata Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Djarot Padavoka saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (23/4/2017).
Hamparan Bunga di Gunung Prahu, Jawa Tengah
Peristiwa nahas terjadi itu terjadi pukul 14.00 WIB tadi. Saat itu, 11 orang pendaki tiba di Base Camp Gunung Prau yang ada di Desa Patakbanteng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Rombangan melanjutkan perjalanan. Ketika tiba di dekat Tower Kawasan Gunung Prau, mereka tersambar petir.
Akibat peristiwa itu, 3 orang pendaki meninggal dunia sementara lainnya terluka. Dari foto yang diterima detikcom, anggota kepolisian tampak tengah mengevakuasi para pendaki dengan menggendong mereka menuruni gunung dan dibawa menuju Rumah Sakit Umum Kabupaten Wonosobo."2 orang mengalami luka serius, dan 6 orang lainnya berhasil selamat. Mereka semua termasuk 3 orang korban meninggal dibawa ke RSU Kabupaten Wonosobo," jelas Djarot.
Dengan bantuan SAR dan masyarakat setempat, polisi melakukan proses evakuasi. Selain itu hujan deras yang mengguyur Wonosobo juga menyulitkan proses evakuasi.
   11 orang pendaki gunung tersambar petir saat mendaki Gunung Prau, Dieng, Jawa Tengah. Mayoritas rombongan pendaki itu berasal dari Jakarta.
Berdasarkan informasi dari Kabid Humas Polda Jawa tengah Kombes Djarot Padavoka, 11 orang pendaki gunung yang tersambar petir itu berasal dari Jakarta. Sedangkan beberapa orang lainnya berasal dari Depok dan Kendal.
"Mayoritas dari Jakarta, sementara dua orang dari Depok dan Kendal," kata Djarot kepada detikcom, Minggu (23/4/2017).

Berikut identitas tiga orang pendaki yang meninggal dunia:

1. Deden Hidayat Maulana (31), alamat Jl Benuang VI No 44 RT 08 RW 11 Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat.
2. Aditya Agung Darmawan (30), alamat Jl Cipinang Muara II RT 18 RW 02 Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.
3. Adi Setiawan (31), Jl Cipinang Muara II No 33 RT 05 RW 02 Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Puluhan Tenda Pendaki Gunung di Lereng Gunung Prahu
Sedangkan dua korban lainnya tengah menjalani perawatan intensif di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Setjonegoro. Dua orang tersebut adalah Saiful Ulum (31) asal Kendal dan Danang (28) dari Cipinang, Jakarta Timur.
"Saiful Ulum mengalami luka bakar ringan, sementara Danang luka bakar di leher dan punggungnya," sambung Djarot.
Ditambahkan Djarot, keenam korban lainnya yang berhasil selamat mengalami luka ringan dan syok setelah tersambar petir. Berikut identitasnya:
1. Fadilah(29) alamat Jalan Kemang Utara D No 66 Kelurahan Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
2. Abdul Muhiz (27) alamat Jalan Kompleks UK RT 05/RW 08 Kecamatan Tugu utara, Koja, Jakarta Utara.
3. Arif Hidayat (23) alamat Jalan Pancoran Barat nomor 7 gang Haji Abdul Mutolib, Jakarta Selatan.
4. Muhammad Ikbal (29) alamat Sunter, Jakarta Utara.
5. Ifan Dimas Pambudi (21) alamat Jalan Raya Bogor KM 20 No 50 Karangjati, Jakarta Timur.
6. Novi Ferdiansah (32) alamat Jalan Cipinang RT 07 RW 02 Kelurahan Duren sawit, Jakarta Timur.
(adf/idh)

Sumber : Detik News 

Sabtu, 08 April 2017

9 PENDAKI DUNIA YANG GUGUR DI EVEREST

 
  Sebagai gunung tertinggi seantero planet Bumi, Gunung Everest memiliki magnet tersendiri bagi para pecinta pendakian. Tentu saja jika bisa menaklukkan gunung bernama lain Sagarmatha dan Chomolungma ini bisa memberikan suatu kebanggaan tersendiri. Orang-orang dari seluruh dunia menyebut gunung ini sebagai salah satu gunung yang harus ditaklukkan. 
  Namun gunung berketinggian puncak 8.848 meter di atas permukaan laut ini tak selalu bersahabat bagi para pendakinya. Cuaca tak terduga menyebabkan tak sedikit yang tercatat sekarat bahkan meninggal di gunung ini. Penanganan terbaik bagi mereka yang kehilangan nyawa di Everest adalah menguburkan di tempat itu, sebab membawa mayat turun ke bawah adalah suatu hal yang sangat berbahaya. 
Berikut ini adalah orang-orang yang wafat di gunung yang berlokasi di Solukhumbu District, Sagarmatha Zone, Nepal, itu, seperti dikutip brilio.net dari Top Tenz, Rabu (30/9): 

1. Karl Gordon Henize (1993)
Pria kelahiran Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, 17 Oktober 1926 ini adalah seorang profesor astronomi di Universitas Northwestern. Pendakiannya ke Gunung Everest dilaksanakan pada bulan Oktober 1993 ketika usianya 66 tahun. Dalam perjalanan American Expedition itu ia ingin menguji alat dari NASA untuk mengukur radiasi. Namun nahas, Henize meninggal pada ketinggian 6.400 meter dikarenakan High-altitude pulmonary edema (HAPE) pada 5 Oktober 1993. Dia dimakamkan di tempat wafatnya sesuai keinginannya.

2. Peter Kinloch (2010)
  Spesialis IT asal Inggris ini punya impian mendaki tujuh puncak terkenal. Gunung di Nepal ini merupakan puncak impian kelimanya. Kinloch yang kala itu berusia 28 tahun telah berhasil mencapai puncak dan mulai berjalan turun gunung. Kejadian tak menguntungkan baginya itu terjadi pada Mei 2010, sekitar pukul 01.00 waktu setempat. Saat itu ia mulai menunjukkan gejala high altitude cerebral oedema (HAPO), yang merupakan pembengkakan otak yang terjadi di dataran tinggi. Dia mengalami kesulitan melihat, sebelum akhirnya akan buta. Selama 12 jam rekan-rekan memberinya obat-obatan dan oksigen dan mencoba menuntunnya yang telah buta itu turun gunung. Sayangnya, mereka tidak bisa melakukan lebih lama lagi sebab cuaca menjadi buruk. 
  Kinloch terpaksa ditinggalkan pada ketinggian sekitar 8.600 m dan akhirnya meninggal. Setahun kemudian salah seorang temannya mendapati tubuh Kinloch yang sudah meninggal. Tubuhnya diikat sebelum ia meninggal, sehingga kemungkinan ia akan tetap ada di masa mendatang. Menurut penuturan rekannya itu, Kinloch tampak damai, seperti ia berbaring dan tidur siang.

3. Marty Hoey (1982)
  Pada tahun 1982, Marty Hoey mengambil liburan dari pekerjaannya sebagai kepala patroli keamanan di sebuah resor ski di Utah untuk mendaki Gunung Everest. Satu-satunya perempuan ini mendaki bersama 16 laki-laki dalam Whittaker American Expedition. Kejadian malang itu terjadi pada 15 Mei 1982, sekitar pukul 05.30 waktu setempat, dimana Hoey memanjat bagian curam gunung sekitar 8.100 kaki dan seketika gesper keselamatan dirinya dalam posisi terlepas. Rekan-rekan satu timnya hanya bisa menyaksikan tubuh Hoey turun hingga 1.800 m ke jurang. Tubuh Hoey pun tidak pernah bisa ditemukan sampai saat ini. Hoey meninggal pada usia 31 tahun. 

4. Francys Arsentiev (1998)
   Pasangan suami-istri berdarah Rusia Sergei Arsentiev dan Francys Arsentiev mencoba menaklukkan puncak Gunung Everest pada Mei 1998 setelah pernah gagal dalam dua kali percobaan. Percobaan ketiga ini mereka akhirnya berhasil mencapai puncak bahkan tanpa menggunakan tangki oksigen. Namun pada malam 23 Mei ketika perjalanan turun, Francys dan Sergei terpisah. Ketika Sergei menemui tim pendaki lain, diketahui bahwa istrinya masih tertinggal darinya. Sergei pun meminta bantuan oksigen dan obat-obatan pada rombongan kemudian kembali untuk menemukan istrinya. Dia tidak pernah terlihat lagi sejak 23 Mei 1998.
   Adapun Francys, ia ditemukan oleh pendaki Ian Woodall dan Cathy O'Dowd pada pagi hari 24 Mei. Francys menderita kedinginan dan kelelahan yang membuatnya perlahan-lahan mati. Dia memohon bantuan, tapi tidak ada yang bisa dilakukan Woodall dan O'Dowd. Mereka menunggui Francys beberapa lama lantas terpaksa pergi membiarkan perempuan 40 tahun itu mati karena cuaca buruk datang. Kata-kata terakhir Francys adalah, "Jangan biarkan aku mati di sini."
  Pada tahun 2007, Woodall dan O'Dowd kembali ke Everest untuk menguburkan tubuh Francys di rute Northeast Ridge. Sebab selama bertahun-tahun mereka merasa diganggu oleh perempuan yang telah berkebangsaan Amerika Serikat itu.

5. David Sharp (2006)
Pendaki berusia 34 tahun asal Inggris ini berusaha mencapai puncak Gunung Everest sendirian pada Mei 2006 dengan hanya membawa dua tangki oksigen. Puncak Everest berhasil dicapai pada 15 Mei. Namun nahas, Sharp turun saat malam paling dingin sepanjang tahun. Tanpa tim dan radio, pria kelahiran 15 February 1972 ini memilih berlindung di sebuah ceruk kecil yang dikenal Green Boots Cave. Menurut pengakuan pendaki asal New Zealand, Mark Inglis, setidaknya 40 pendaki menempuh perjalanan naik maupun turun yang melewati Sharp tidak berinisiatif untuk membantu. Sharp meninggal karena kedinginan dengan tangan melingkari kaki dalam posisi duduk.

6. Hannelore Schmatz (1979)
  Perempuan Jerman ini berhasil menjejakkan kaki di puncak Everest pada 2 Oktober 1979 di bawah tim Gerhard Schmatz German Expedition yang dipimpin oleh suaminya. Dalam perjalanan turun, rombongan berhenti sekitar 100 meter di atas Camp IV di ketinggian 8.400 meter (terdapat empat kamp sebelum puncak), di mana Schmatz pingsan dan kemudian meninggal karena kelelahan di usianya 39 tahun. Seorang pendaki lain dari tim, Ray Genet, juga meninggal.
  Tubuh Genet tertutup salju sehingga tak tampak oleh pendaki, sedangkan tubuh Schmatz membeku dalam posisi duduk, bersandar ranselnya dengan mata terbuka dan rambutnya tertiup angin. Pada 1984, dua orang asal Nepal, Yogendra Bahadur Thapa dan Sherpa Ang Dorje mencoba ke Everest dengan maksud mengurus tubuh Schmatz namun mereka ikut wafat. Jasad Schmatz tersapu badai dan turun dari posisi semula. 

7. George Mallory (1924)
Guru asal Inggris yang lahir pada 18 Juni 1886 di Cheshire ini 'kalah' pada pendakiannya yang ketiga pada 1924. Pada tahun 1921 dan 1922, ia adalah bagian dari British Mount Everest Expedition. George Herbert Leigh Mallory dan tim memulai pendakian pada 6 Juni 1924 dan pada 8 Juni mereka telah mencapai ketinggian sekitar 8.168 meter. Ternyata keberangkatan pada pagi 8 Juni 1924 ke puncak Everest adalah terakhir kalinya orang-orang melihat mereka hidup. Tubuh Mallory ditemukan 75 tahun setelahnya oleh pendaki China di ketinggian 8.156 meter, tapi tubuh Irvine tak pernah ditemukan. 

8. Rob Hall (1996)
  Pendaki gunung berpengalaman asal Selandia Baru ini memimpin delapan pendaki gunung amatir ke puncak Gunung Everest pada Mei 1996. Pada 11 Mei sekitar pukul 16.30 waktu setempat, salah satu dari tim Hall pingsan. Cuaca memburuk ketika badai datang dan mereka terjebak di ketinggian 8.686 meter. Pada 12 Mei sore Hall menggunakan telepon satelit untuk menghubungi istrinya yang sedang mengandung anak pertama. Kata-kata terakhir yang terucap adalah, "Aku mencintaimu. Tidurlah dengan tenang, kekasihku. Jangan terlalu khawatir". Tubuh Hall telah jatuh lebih dari 3.650 meter karena dirinya mengalami hipotermia. 
   Setelah Hall, tujuh orang lain meninggal dalam bencana badai salju itu. Satu-satunya yang selamat dan bahkan telah mencapai puncak hari sebelumnya, Jim Krauker, menuliskan kisah mereka dalam Into Thin Air. 

9. Tsewang Paljor (1996)
Dari warna sepatu gunung yang masih menempel di kaki, jasad polisi perbatasan asal India ini dijuluki 'green boots'. Bersama tim yang terdiri dari enam orang ekspedisi Indo-Tibetan Border Police, Tsewang Paljor mendaki pada Mei 1996. Pada tanggal 11 Mei, mereka dilanda badai salju yang menjadi penyebab kematian Rob Hall. Paljor dan dua rekan tim berhasil sampai puncak, sementara tiga lainnya berbalik. Pada perjalanan turun, Paljor bersembunyi di gua, namun dia akhirnya meninggal karena kedinginan dengan mengenakan sepatu yang berbeda dari sebelumnya di ketinggian 8.600 m. Dua rekannya, Dorje Morup dan Tsewang Samanla pun ikut wafat. 

10. The Rainbow Valley
The Rainbow Valley bukanlah nama seorang pendaki, namun tempat megah untuk menghabiskan waktu dalam ketenangan. Lembah ini terletak di Gunung Everest pada ketinggian 7.925 meter yang merupakan salah satu kuburan massal terbesar di dunia karena menampung orang-orang meninggal dari pendakian gunung tertinggi di dunia tersebut. Dinamai pelangi sebab dipenuhi mayat yang masih mengenakan jaket dengan warna-warna cerah bagai pelangi.

Sumber Referensi : Www.Brilio.Net

Senin, 19 Oktober 2015

7 PENDAKI TEWAS DI GUNUNG LAWU


GUNUNG LAWU. Pemandangan matahari terbit dan Gunung Lawu terlihat dari Gunung Merapi. Foto oleh Olivier Laban-Mattei/AFP
GUNUNG LAWU. Pemandangan matahari terbit dan Gunung Lawu terlihat dari Gunung Merapi. Foto oleh Olivier Laban-Mattei/AFP
MAGETAN, Indonesia — Tim Search and Rescue (SAR) gabungan telah berhasil mengevakuasi tujuh pendaki yang tewas dalam musibah kebakaran di Gunung Lawu, Senin, 19 Oktober.
"Laporan petugas hingga Senin dini hari evakuasi terus dilakukan. Setelah itu berhenti karena gelap dan pagi harinya dilanjutkan lagi," ujar Kepala Pelaksana BPBD Magetan Agung Lewis, Senin.
Para korban ditemukan berada di antara pos 3 dan 4 jalur pendakian Cemoro Sewu dengan ketinggian sekitar 1.500 hingga 2.500 meter dari permukaan air laut.
"Saat ditemukan petugas, kondisi para korban sangat mengenaskan. Mereka sudah terpanggang dengan posisi tergeletak di sejumlah titik," kata Agung.
Selain mengevakuasi korban tewas, petugas juga mengevakuasi dua korban kritis. Mereka lalu langsung dibawa ke RSUD dr Sayidiman Magetan untuk mendapatkan perwatan medis lebih lanjut.
Empat dari korban tewas telah berhasil teridentifikasi, sedangkan sisanya masih proses identifikasi oleh petugas RSUD dr Sayidiman Magetan. Mereka adalah Rita Septi Nurika (21) warga Paron, Ngawi; Nanang Setia (16) warga Beran, Ngawi; Marwan warga Beran, Ngawi; dan Joko Prayitno (31) warga Kebun Jeruk, Jakarta.
Selain tujuh pendaki tewas, kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu juga menyebabkan sejumlah pendaki lainnya kritis akibat luka bakar di atas 50 persen. Pendaki yang dalam keadaan kritis adalah, Eko Nurhadi (45) warga Karangjati, Ngawi, dan Novi Dwi (14) warga Beran, Ngawi.
Setelah dirawat di RSUD dr Sayidiman, korban luka Eko dirujuk ke RSUD dr Soedono Madiun, sedangkan Novi Dwi dirujuk ke RSUD dr Moewardi Solo, Jawa Tengah.
Tim SAR gabungan dari BPBD Magetan, Kodim 0804/Magetan, Polres Magetan, dan relawan Anak Gunung Lawu terus melakukan penyisiran untuk mengantisipasi kemungkinan masih adanya pendaki yang terjebak kebakaran hutan di lereng gunung yang berada di perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah tersebut.
Sementara, sejak dua pekan terakhir, kebakaran kembali melanda hutan di lereng Gunung Lawu. Kebakaran tersebut merupakan kebakaran yang ke dua kalinya selama musim kemarau setelah kebakaran hutan melanda lereng setempat pada Agustus 2015 lalu.
Pendaki tidak tercatat
"Berdasarkan data yang ada, para pendaki korban tewas dan luka tersebut tidak tercatat di buku pendaftaran pos Cemoro Sewu," ujar Agung.
Kepastian itu diperoleh menyusul penutupan jalur pendakian Gunung Lawu melalui pos Cemoro Sewu yang telah dilakukan sejak 16 Oktober 2015.
"Para pendaki korban tewas dan luka akibat kebakaran hutan di lereng Lawu tersebut dipastikan tidak berangkat melalui jalur pendakian Cemoro Sewu. Hal itu karena jalur pendakian Cemoro Sewu telah ditutup per tanggal 16 Oktober," kata Agung.
   Penutupan jalur pendakian tersebut dilakukan oleh petugas karena di sekitar jalur tersebut terjadi bencana kebakaran hutan yang dapat mengancam keselamatan pendaki.
Diperkirakan, para pendaki tersebut naik Gunung Lawu melalui sejumlah jalur lain yang ada. Di antaranya jalur Cemoro Kandang di Karanganyar, Jawa Tengah, jalur Candi Ceto, ataupun jalur Jogorogo.  

Laporan dari Antara/Rappler
Ini Foto dan Pesan Terakhir Rita, Pendaki Cantik yang Tewas di Gunung Lawu
20 Oct 2015 15:07:38 WIB
Sebelum dirinya berangkat ke Gunung Lawu, rupanya Rita sempat mengirim pesan dan mengunggah foto terakhirnya.
  Wanita berusia 21 tahun tersebut tak pernah menyangka kalau perjalanannya ke Gunung Lawu bersama saudaranya akan menjadi akhir dari hidupnya. Sebelum dirinya berangkat ke   Gunung Lawu, rupanya Rita sempat mengirim pesan dan mengunggah foto terakhirnya.
Dalam salah satu foto yang diunggah di media sosialnya, Rita tampak berpose dengan latar belakang pantai yang indah. Selain itu, ada pula screen capture BBM Rita pada temannya yang minta diberi tulisan penyemangat saat berada di puncak gunung.
  Sesaat sebelum mendaki, wanita asal Ngawi ini juga sempat berpamitan pada temannya yang ternyata menjadi BBM terakhir Rita. Keluarga dan teman-temannya tentunya merasa sangat kehilangan sosok Rita, terlebih ia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-21 pada bulan lalu.
   Sementara itu, kebakaran di petak 73 KPH Gunung Lawu pada Minggu (18/10) diduga terjadi bukan hanya disebabkan faktor alam. Namun, karena adanya perapian atau api unggun yang tidak dimatikan oleh pendaki. (wk/kr)

Senin, 05 Oktober 2015

PENDAKI CANTIK ITU TELAH PERGI


Diana Agustina Rahman, 19 tahun Mahasiswi Universitas Pasundan yang ditemukan tewas di Gunung Semeru, menambah daftar panjang anak muda Indonesia yang meninggal karena kecelakaan di gunung. Mereka meninggal dalam usia sangat muda , usia yang seharusnya menghasilkan kreativitas dan karya yang bisa menjadi bekal di masa depan. Walaupun prosentase kecelakaan di gunung lebih banyak terjadi pada pendaki pria (90%) karena kaum pria ini yang paling banyak mendaki gunung, namun kematian pada pendaki wanita pada dua tahun terakhir cukup mengagetkan dan membuat rasa sedih. Kematian pendaki gunung berparas Cantik Shizuko Ramadhani di Pos Kandang Batu Gunung Gede Pangrango Desember 2012 masih belum lepas dari ingatan. Remaja putri berusia 16 tahun siswi SMAN 6 Bekasi blasteran Jawa-Jepang ini meninggal karena Hypothermia. Disusul bulan Januari 2014 Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Surabaya, Dian berusia 18 tahun ditemukan meninggal di Gunung welirang dalam latihan orientasi dan Navigasi Mahasiswa Pencinta Alam. Dan masih ada beberapa peristiwa kecelakaan di gunung yang tak disebutkan disini.
   Yang menjadi perhatian disini adalah mereka para pendaki wanita, dan kebetulan berparas cantik.Mendaki gunung sebenarnya merupakan gabungan olahraga dan rekreasi yang membutuhkan stamina yang kuat disamping paling tidak menjadi bagian dari kegiatan Club-Club Pencinta alam. Seharusnya mereka sudah mendapat pelatihan dasar-dasar Pencinta alam misalnya Survival, Navigasi, Penggunaan tali temali untuk Rock Climbing atau Rapeling, orientasi medan, dan tentu saja latihan fisik yang membutuhkan tenaga yang kuat.
   Booming pendakian karena terinspirasi Film 5 Cm, bisa dikatakan positif dan negatif. Film ini telah membuat banyak anak muda yang ingin mendaki gunung terutama G.Semeru tanpa mengetahui bahaya dibalik kegiatan mendaki gunung. Seharusnya ada Film yang dibuat dengan mengambil kisah nyata kecelakaan di Gunung sehingga informasinya berimbang. Sehingga anak muda yang ingin mendaki gunung tampa dibekali ketrampilan dan pengetahuan dapat berpikir lebih jauh lagi terutama untuk persiapan bekal dan stamina yang membutukan kekuatan fisik dan mental.
   Memang ajal hanya Allah yang tahu, dimana, kapan dan bagaimana itu terjadi kita tidak pernah tahu kapan datangnya.Peristiwa kecelakaan yang terjadi pada Diana Agustin terjadi pada bulan agustus lalu beberapa saat sebelum mencapai puncak mahameru. Diana meninggal karena longsoran Batu mengenai kepalanya pada saat istirahat dan dia tdak siap menghindar karena fisiknya sudah terkuras karena kelelahan. Mirip dengan Film 5 Cm yang sempat booming beberapa tahun yang lalu. Melihat foto-foto Diana yang pernah mendaki gunung lain sebelumnya, berarti dia bukanlah pemula. 
    Meninggalnya Diana paling tidak mengingatkan masa lalu saya yang pernah melakukan pendakian gunung bersama. Dan kebetulan teman dekat saya ini cantik. Dia bukan anggota pencinta alam namun sering hadir pada saat kita berlatih Climbing, Mountenering maupun merayap menyeberangi sungai diatas tali. Sebelum berpisah dia minta naik gunung bersama ,permintaan yang cukup berat dituruti. Namun akhirnya kita lakukan dengan mengambil lokasi yang aman, tidak berat dan tidak beresiko.
Kini dia sudah pergi dan meninggalkan kenangan yang cukup dalam. Dan terus menjadi bayang-bayang masa lalu yang sulit dilupakan 
    Kenangan bersamanya seperti kembali ketika Almarhum Pak Abdul Latif teman guru yang meninggal di bulan Agustus mengajak saya melakukan survey Raker tahun 2011 di gunung Salak. Maaf Pak Latif kalau saat itu kita berdebat dan sempat salah paham karena saya menolak keras tempat yang ditawarkan almarhum, tanpa sempat menjelaskan kenapa saya menolak bahwa tempat ini dulu membawa kenangan yang indah tapi juga kesedihan buat saya. Namun saya yang ditunjuk sebagai ketua Raker juga harus bertanggung jawab pada keamanan teman-teman guru lain, karena dalam sejarah SMPN 29 inilah raker satu-satunya yang dilakukan di bibir gunung. Saya memang harus melepaskan bayang-bayang masa lalu, dan itu saya buktikan dengan mengajak beberapa teman melakukan hiking di gunung ini. Walau tidak sampai puncaknya lagu Tinggal Kenangan yang dulu saya buat di gunung ini seperti mengiringi, mungkin ini pesan Almarhum Pak Latif buat saya untuk melupakan masa lalu.
    Lagu TINGGAL KENANGAN yang saya pernah buat juga disukai pak Edi Santosa, teman Guru yang meninggal juga di bulan Agustus lalu. Pak Edi sempat memainkan gitar mengiringi lirik lagu yang saya nyanyikan. Saya tidak tahu kenapa pak Edi menyukai lagu ini, alasannya lagu ini keren walau mellow . Tapi liriknya yang menyentuh sempat membuat basah mata bu Inti dan Bu Nuryanti yang tiba-tiba masuk ke ruang kami berdua. Lagu ini Privasi dan saya tidak pernah bermain gitar lagi sejak 25 tahun yang lalu . Hanya Pak Edi yang saya percaya untuk memainkan lagu yang pernah saya buat, karena almarhum adalah sahabat dan teman curhat saya yang paling baik terutama masa lalu saya yang cukup kelam. Lagu Bersahabat dengan alam, Setangkai edelweis, Elang Jantan yang terluka, Alam yang liar sempat saya berikan filenya ke pak Edi, namun tak tahu kenapa Pak Edi lebih menyukai lagu ini walaupun lagu ini bertema kehilangan dan kematian. Saya sempat bercerita hampir meninggal pada usia muda di gunung . Tapi kini terjawab, ini adalah pertanda bahwa pak Edi yang baik, sahabat yang baik, akan pergi meninggalkan saya terlebih dahulu. 

Jumat, 07 Februari 2014

PENDAKI TEWAS DI GUNUNG SALAK DAN GUNUNG WELIRANG

   TEMPO.CO, Bogor - Mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, Helmi Dwi Apriyanto, 19 tahun, tewas saat melakukan pendakian di Gunung Salak bersama sembilan rekannya, Selasa, 21 Januari 2014. Mahasiswa semester IV ini meregang nyawa di puncak gunung. Sebelum mengembuskan nafas terakhirnya, korban sempat menderita sakit. Diduga ia tidak kuat menahan udara dingin.
  Menurut teman dekat korban, Imam Khamain, pendakian dilakukan sejak 15 Januari 2014. Helmi jatuh sakit saat berada di puncak Salak. Kondisi fisik warga Jalan Lio RT 05 RW 12 Blok C1, Kelurahan Kedung Waringin, Kecamatan Bojonggede, Bogor, itu terus memburuk karena cuaca ekstrem yang membuat udara sangat dingin.
Gunung Salak
  "Helmi sempat koma saat masih di puncak gunung pada Selasa sore. Dia terlambat dibawa ke rumah sakit karena saat itu cuaca sedang ekstrem. Almarhum meninggal di tengah hutan pangrango," Imam menjelaskan kepada wartawan, Rabu, 22 Januari 2014
   Tetangga korban, Toto Sugiwanto, 47 tahun, menceritakan jenazah Helmi dibawa turun gunung oleh rekan-rekannya pada Selasa sore. Mereka sampai di kaki Gunung Salak menjelang malam. Para mahasiswa pencinta alam ini mendapat pertolongan warga setempat yang langsung membawa korban ke Rumah Sakit PMI Bogor.
   Pihak keluarga mendapat kabar bahwa Helmi sudah meninggal dunia dalam pendakian di Gunung Salak. Tetangga dan orang tua korban lantas datang ke rumah sakit. "Waktu kami ambil ke PMI, jenazah dibungkus sarung. Ditubuhnya banyak lumpur dan rumput," Toto menceritakan. "Almarhum sudah dikebumikan tadi pagi."
Adapun sembilan rekan Helmi masih mendapat perawatan serius di Rumah Sakit PMI Bogor.

Selasa,  28 Januari 2014  −  16:05 WIB

Hobi jemput kematian Alif di Gunung Welirang 

Sindonews.com - Isak tangis keluarga mewarnai pemakaman Alif Hazen Rahmansyah (24), mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya, yang ditemukan tewas saat melakukan pendakian di Gunung Welirang, Kota Batu, Malang.

Ibunda almarhum, Hasinah (45), tak henti-hentinya menahan tangis saat jenazah putra sulungnya dibawa ke lokasi pemakaman umum di Desa Sido Kumpul, Kecamatan Kota, Kabupaten Gresik.

Suasana haru juga menggelayuti rumah duka yang dibanjiri keluarga, kerabat, dan teman almarhum, di Jalan Pahlawan, Kecamatan Kota, Kabupaten Gresik.

"Almarhum Alif Hazen di mata kerabat dan teman-temannya dikenal sebagai sosok pemuda yang disiplin, berjiwa sosial tinggi, memiliki kepedulian dan bertanggung jawab terhadap sesama," tutur paman Alif, Amir Mahmud, Selasa (28/1/2014).
Gunung Welirang

Sejak duduk di bangku SMA, putra sulung dari tiga bersaudara pasangan Muhammad Hamim (55) dan Hasanah (45) ini memang sangat mencintai alam. Dia sangat menggandrungi pendakian ke gunung. "Tak disangka dia tewas di hobi yang digemarinya," tuturnya.

Sebelumnya, Alif Hazen Rahmansyah (24) dan Dian (18), dua pendaki Gunung Welirang yang hilang sejak Minggu 19 Januari 2014 lalu ditemukan tim Search and Rescue (SAR) gabungan.

Keduanya ditemukan sudah tak bernyawa di gunung yang memiliki ketinggian 3.156 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kedua mahasiswa yang tengah mengikuti kegiatan orientasi pengenalan anggota muda Mapalas Stiesia Surabaya ditemukan di lereng barat Gunung Kembar 2, kawasan Tahura.

Dua pendaki Gunung Welirang ditemukan tak bernyawa

Sindonews.com - Alif Hazen Rahmansyah (24) dan Dian (18), dua pendaki Gunung Welirang yang hilang sejak Minggu 19 Januari 2014 lalu akhirnya berhasil ditemukan tim Search and Rescue (SAR) gabungan, siang ini. 

Keduanya yang merupakan mahasiswa asal Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (Stiesia) Surabaya itu ditemukan sudah tak bernyawa di gunung yang memiliki ketinggian 3.156 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kedua mahasiswa yang tengah mengikuti kegiatan orientasi pengenalan anggota muda Mapalas Stiesia Surabaya ditemukan di lereng barat Gunung Kembar 2, kawasan Tahura.

"Mereka ditemukan di tempat terpisah, namun sudah meninggal," kata Kepala UPT Tahura R Soerjo wilayah Malang-Pasuruan, Gatot Sundoro, Senin (27/1/2014).

Menurut Gatot, saat ini tim SAR sedang melakukan evakuasi terhadap dua jenazah korban. Rencananya, dua jenazah akan dievakuasi melalui Pos Cangar, Batu.

Alif dan Dian merupakan peserta kegiatan orientasi pengenalan anggota muda Mapalas Stiesia Surabaya. Keduanya berpisah dengan rombongan, dengan hanya berbekal kamera dan sebotol air mineral.
Sumber Referensi : Sindo News, Tempo.Com

Jumat, 10 Januari 2014

PENDAKI TEWAS DI GUNUNG GEDE-PANGRANGO

 
Siluet Gunung Gede-Pangrango
    Sindonews.com - Shizuko Rizmadani bin Ananto Haryono (15), siswi SMAN 6 Bekasi, meninggal dunia setelah mengalami kedinginan atau hipotermia di atas gunung yang baru dijejakinya pertama kali.
  Ia bersama ke-26 teman-temannya memang sengaja datang ke Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat (Jabar) untuk sekedar liburan. Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun, selain kedinginan Shizuko meninggal lantaran penyakit diabetes yang diidapnya.
  Warga Jalan Listar 35 a RT1/13, Desa Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Bekasi, itu dikatakan Kepala Seksi Perlindungan, Pengawetan, dan Perpetaan (P3) Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Ardi Andono, melakukan pendakian Selasa (24/12) sekira pukul 21.00 Wib.
"Diduga, korban mengalami sakit deabetes dan kedinginan," ungkapnya.
   Ia tewas saat tiba di Pos Kandang Batu Gunung Gede Pangrango di ketinggian 2.600 meter dari permukaan laut (MdPL). Saat itu, Shizuko bersama teman-temannya memang memutuskan untuk beristirahat.
Kawah Gunung Gede dengan Latar Belakang Gunung Pangrango
“Saat tim kami datang ke lokasi kondisi korban sudah meninggal dunia. Kemungkinan akibat tidak kuat menahan cuaca yang dingin,” lanjut Ardi Andono.
Kata dia, rombongan korban bersama rekanya berangkat dari Pos pintu masuk Cibodas pada Minggu (22/12) lalu. Sejumlah alumni SMAN 6 Bekasi, turut ikut bersama rombongan korban selaku pendamping.
“Mereka berjumlah 27 orang terdiri dari sembilan wanita dan 18 pria. Korban kemungkinan mengalami kedinginan yang hebat, hingga korban diduga mengalami hipotermia,” ujarnya.
   Proses evakuasi dilakukan setelah adanya laporan dari beberapa rekan korban yang turun memberitahukan kepada petugas Jagawana. Tim evakuasi yang berangkat selepas Maghrib baru tiba di lokasi kejadian sekira pukul 21.00 Wib.

Pendaki Remaja Meninggal di Gunung Gede, Ini Imbauan Bagi Pemula
Indra Subagja - detikNews
Jakarta - Shizuko Rizmadhani (15) meninggal dunia dalam pendakian di Gunung Gede. Siswi SMA 6 Bekasi ini mengalami hipotermia. Dia meninggal pada Selasa (24/12) malam. Perlengkapan yang kurang dan ketidaksiapan fisik menjadi kendala.
"Agar memakai pakaian dan perlengkapan pendakian yang memadai, personal use, peralatan dan obat-obatan pribadi. Punya pengetahuan yang cukup tentang pendakian, bisa dibuktikan dengan KTA pecinta alam, dan lainnya," saran Kepala Polisi Hutan TNGP Ida Rohaida kepada pendaki pemula saat berbincang dengan detikcom, Jumat (27/12/2013).
Para pendaki sebenarnya bisa meminta bantuan dari relawan, polisi hutan atau ranger, yang biasa berada di Gunung Gede untuk menemani pendakian.
"Dalam tim pendaki harus ada P3K dan pengetahuan yang cukup untuk penanggulangan keadaan darurat pendakian. Membawa alat komunikasi bisa HP atau HT," imbuh pria yang belasan tahun menjadi polisi hutan ini.

Berikut kronologi meninggalnya Shizuko dari data polisi hutan TNGP:

1. Korban adalah siswa kelas X SMAN 6 Kota Bekasi yang melakukan pendakian pada 22–23 Desember 2013, terdaftar sebagai salah satu pendaki yang telah mendapat persetujuan orang tua, karena sesuai ketentuan simaksi (surat ijin masuk kawasan konservasi) pendakian di Gn. Gede Pangrango harus minimal 17 tahun, jika tidak ada surat pernyataan dari orang tua/wali.

2. Menurut laporan rekan korban a.n. Mohammad Renaldi yang melaporkan kondisi korban ke Resort Mandalawangi pada hari Selasa 24 Desember pukul 18.30 WIB, korban sudah tidak sadarkan diri sejak pukul 16.30 WIB di jalur pendakian Kandang Batu sekitar ketinggian 2.500 meter dpl. Next 

INILAH.COM, Cianjur - Shizuko Rismadani (15), seorang pendaki asal Bekasi ditemukan tewas di Kandang Batu di kawasan Gunung Gede Pangrango. Diduga, pelajar SMA Negeri 6 Bekasi itu mengalami hipotermia saat mendaki bersama puluhan rekannya
 Tewas, Shizuko Rizmadhani baru sekali mendaki gunung

Dari informasi yang berhasil dihimpun, nasib nahas yang dialami Shizuko bermula ketika Minggu (22/12/2013) sebanyak 27 orang siswa SMAN 6 Bekasi hendak mendaki Gunung Gede. Mereka sempat mencapai puncak Gunung Gede. Usai mencapai puncak, korban dan rekan-rekannya bermalam di Pos 12 Kandang Badak.

Namun saat turun gunung, korban mengalami kedinginan serta kesurupan. Dalam keadaan tubuh menggigil dan kesurupan itu, korban ditinggal teman-temannya. Hanya seorang rekannya yang menemani di sebuah tenda yang dipasang di Pos 10 Kandang Batu, Selasa (24/12/2013) sekitar pukul 05.00 WIB.

"Berdasarkan pengakuan rekan yang menemaninya itu diketahui jika korban ditinggalkan di tenda karena mengamuk akibat kesurupan. Padahal kondisinya tengah kebasahan dan tubuhnya menggigil," ujar volunteer Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Kemi Irdian kepada wartawan, Kamis (26/12/2013).
ShizukoRamadhani, Pendakian Pertama berakhir tragis

Pihaknya menerima laporan dari pendaki sekitar pukul 18.30 WIB. Perempuan blasteran Indo-Jepang itu baru dievakuasi Selasa (24/12/2013) sekitar pukul 21.00 WIB disaksikan salah seorang rekannya yang waktu itu menjauh dari tenda.

"Waktu kita periksa, korban sudah tidak bernyawa. Tubuhnya membeku, wajah biru selain itu perutnya keras. Dia diperkirakan mengalami hipotermia karena pakaiannya basah dan tubuhnya kedinginan. Tewasnya saat dia turun gunung dan baru jalan 4 pos dari 14 pos yang harus dilewati," terangnya.

Dia mengaku, jika para pendaki memilih tidak menggunakan jasa guide. Padahal kondisi cuaca terus diguyur hujan siang dan malam.

"Hampir setiap hari hujan tapi mereka memilih tidak menggunakan jasa volunteer/guide. Jadi tidak tahu persisnya keberadaan mereka di atas saat itu," terangnya.

Pascakejadian insiden pendaki tewas, pihak TNGGP tetap membuka jalur pendakian. Kejadian itu kini tengah dalam penyelidikan Polsek Pacet.

"Sebelumnya korban sempat di bawa ke RSUD Cimacan pada Rabu (25/12/2013) pukul 02.00 WIB, kemudian dijemput keluarga pukul 04.00 WIB. Sudah diserahkan biodata serta kejadiannya kepada pihak berwajib," tambah Humas TNGGP, Didin Saripudin kepada wartawan.

Sementara itu, Kepala Seksi Bina Usaha Kepariwisataan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cianjur Neneng Rahman mengaku, prihatin atas insiden kematian pelajar itu. Jauh sebelumnya, kata Neneng, pihaknya selalu mewanti-wanti agar ada usulan pemandu pendakian.

"Kita inginnya itu para pendaki itu tidak terancam keselamatan dengan memakai guide pendakian. Namun usulan bersama dengan TNGGP itu mendapat penolakan dari masyarakat," tandasnya. 

Sumber Referensi : Sindo News,Detik.Com

Selasa, 21 Mei 2013

EKO , PENDAKI ASAL DEPOK MENINGGAL DI GUNUNG ARJUNA

  Eko Wahyudi, seorang pendaki asal Cimanggis Depok, Jawa Barat, menghembuskan nafas terakhirnya di puncak Gunung Arjuna. Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab meninggalnya Eko Wahyudi. Tim SAR hingga kini masih melakukan evakuasi untuk menurunkan jenazah dari puncak gunung.
   Kabar terakhir yang di dapat Eko meninggal di pinggir sungai.
Rencananya jenazah akan di bawa ke Jakarta besok pagi menggunakan pesawat kargo dari Malang.
Eko Wahyudi adalah seorang guru di SMP Fatahillah Depok. Di mata teman-temannya, ia adalah seorang yang baik, sabar, pekerja keras dan soleh. Sebagai seorang guru, ia adalah guru Pramuka sejati dan seorag motivator yang baik.
  “Eko Wahyudi Alm, waktu saya menikah, bermalam di rumah, bantu cuci karpet, ngepel, begitu juga ketika bapak mertua saya meninggal” kenang @MrJakaLelana, rekan Eko, melalui twitter.
Sebelum berangkat ia sempat menulis status di facebook miliknya. Berikut catatan status FB milik Eko Wahyudi :
“Untuk mereka yang selalu bertanya kepadaku : Mengapa Anda masih saja mendaki gunung? Aku akan menjawab: Mendaki gunung adalah pekerjaan jati diri,karena aku tidak ingin dan tak layak untuk mati di atas tempat tidur.”
“Caraku menaklukan kesombongan diri adalah dengan mendaki gunung dan mengembalikan sisi kebinatangan dalam diri pada habitatnya. Alam adalah tempat yang jujur dalam mengajarkan arti kejujuran dalam diri.”
“Tenanglah dan bersabarlah
Hanya itu yang dapat kukatakan saat ini
Mendekatlah pada Tuhan sedekat-dekatnya
Maka akan berlalu semua luka dan duka”
“Panggilan itu kian menggema "Jemput separuh jiwa yang dulu kau tinggal di hutan lali jiwo dan bangunlah tenda diatas puncak ogal agil lalu suarakan adzan dalam keheningan yang menyerukan ketulusan cinta, sisi humanisme yang agung,pembongkaran hierarki sosial dan kesewenangan penguasa atas nama agama dan pemerintahan"
Selamat jalan Eko Wahyudi, semoga engkau Tenang di sisi Allah SWT.
Gunung Arjuna,Jawa Timur
   Pendaki asal Depok Eko Wahyudi tewas di dekat puncak Gunung Arjuna, Malang, Jawa Timur diduga akibat kelelahan dan dehidrasi.
Warga Jalan Radar Auri Gang H Sofian RT 004/RW 011, Mekarsari, Cimanggis, Kota Depok Jawa Barat itu pergi mendaki pada Sabtu (11/05) bersama 11 orang lainnya.
"Selama mendaki, Eko terlihat sehat dan tidak mengeluhkan sakit apapun," kata adik Eko, Imam di Depok, Senin.
Ia mengatakan Eko memang kelelahan dan dehidrasi. Dia juga tidak mengidap penyakit apa-apa. Jadi kondisinya sehat.
Imam mengatakan kakaknya sudah sering mendaki dan sudah mengetahui seluk beluk mendaki gunung.
Ia mengatakan dugaan kuat keluarga, Eko meninggal karena dehidrasi, karena Eko hanya membawa sedikit air minum saja.
Terlebih dia pergi ke puncak gunung hanya seorang diri. Dan tidak ada orang yang bisa dimintai tolong.
"Ia sendirian tidak ada yang menemani. Hanya berangkatnya saja dia bersama pemetik teh," ujar Imam.
Berita meninggalnya Eko baru diterima pihak keluarga pada Minggu (19/05) pukul 22.00 WIB.
Eko adalah guru Bahasa Inggris di SMP Fatahilah di Jalan Raya Bogor KM 31. Dia juga guru yang disukai murid-muridnya.

Berita sedih diatas dikutip dari Antara News, saya coba membahasnya disini, mohon maaf dan ikut berduka cita atas musibah ini pada keluarga yang ditinggalkan, dan semoga Pak/Mas Eko dilapangkan jalannya dan diterima semua amal kebajikannya. Amiin...

HYPOTERMIA
Analisa sementara penyebab meninggalnya Eko adalah kelelahan dan dehidrasi, namun melihat kondisi jenajah pada saat ditemukan  (maaf : setengah telanjang, hanya memakai celana hitam pada waktu ditemukan) nampaknya bukan faktor itu yang menjadi penyebab utama. Beberapa kejadian kecelakaan digunung yang menyebabkan pendaki gunung tewas rata-rata adalah hyportemia. Beberapa kasus yang pernah terekam dalam ingatan saya banyak pendaki gunung yang meninggal ditemukan dalam keadaan telanjang.
Pendaki Yang Terkena Hyphotermia

Tahun 1987 ketika terjadi kecelakaan di gunung Salak yang menimpa 6 siswa STM Pembangunan dan kebetulan saya juga ikut terlibat dalam pencarian (Hanya ikut satu hari) hilangnya 6 pendaki  digunung Salak ini melibatkan pencarian yang melibatkan TIM SAR, Club Pencinta Alam, Warga masyarakat dan aparat  setempat. Akhirnya setelah lebih dari 17 hari pencarian yang melelahkan, 4 siswa STM berhasil ditemukan di jurang Orok sedalam kurang lebih 400 m dalam kondisi meninggal dekat aliran anak sungai yang berbatu-batu. Dan yang membuat tim pencari tersentak kaget ke 4 jenajah ditemukan dalam keadaan telanjang terpisah tidak berjauhan disekitar aliran sungai itu. 2 pendaki lainnya ditemukan satu bulan kemudian dalam kondisi meninggal dengan posisi satu orang duduk bersandar dibawah pohon, dan satu lainnya terbaring disemak belukar tak jauh dari pemukiman warga terdekat (kurang lebih 2 Km). Pada masa itu belum ada ponsel dan alat komunikasi yang bisa digunakan meminta bantuan apabila terjadi kecelakaan atau kehilangan arah. Yang tersedia alat navigasi seperti kompas atau peta kontur yang kita peroleh dari Baskortanal sehingga mungkin saja ke 6 siswa STM ini tersesat dan mencoba mengikuti aliran anak sungai yang mereka temui walaupun itu harus menuruni tebing/jurang yang dalam. Dalam latihan Survival dan navigasi memang ada tehnik manual apabila kehilangan arah. Tak ada kompas, lumut dipohon bisa menjadi petunjuk dan anak sungai berbatu bisa  jadi pedoman untuk kita ikuti . Namun anak sungai yang curam dan terjal dengan sesekali jeram adalah tantangan yang sulit dilewati, belum lagi batu yang licin dan tajam serta binatang melata seperti ular banyak melintas disekitar anak sungai. Tantangan berat ini ditambah cuaca yang kurang bersahabat seperti hujan badai dan angin yang datang tiba-tiba . Pendaki gunung yang kelelahan dan pasti juga kelaparan akan mudah drop kondisi fisik tubuhnya. Pakaian yang basah tanpa salinan mempercepat pendaki terserang Hyportemia. Jadi tidak mengherankan banyak pendaki gunung yang meninggal karena Hypotermia ditemukan dalam keadaan telanjang bulat.
Kecelakan seperti di Gunung Ciremai, G. Slamet , G. Lawu dan gunung-gunung lainnya pada tahun 1985-1990 juga demikian banyak pendaki gunung yang tewas dalam kondisi telanjang bulat. Kecuali mereka yang meninggal karena terperosok ke dalam Jurang atau kawah (Tahun 1990 ada 9 pendaki gunung asal Kerawang tewas terjatuh kedalam kawah ciremai dan tahun 1988 6 pendaki gunung asal Jatibarang meninggal di tempat yang sama).
Hyportemia adalah gejala penyakit yang menyerang organ dalam tubuh karena cuaca yang dingin, pendaki gunung yang kedinginan karena serangan badai atau hujan justru merasa tubuhnya panas terbakar dan akhirnya membuka seluruh pakaiannya . Seperti kejadian di Gunung Salak, 4 siswa STM berendam di aliran sungai dalam kondisi telanjang karena mereka mengalami hyportemia seolah tubuh mereka terbakar padahal justru sebaliknya tubuh mereka kedinginan sehingga organ-organ tubuh bagian dalam tidak lagi berfungsi.
Demikian juga Mahasiswa Universitas Budiluhur yang meninggal ketika mengikuti Latihan Dasar Pencinta alam di Gunung Salak Januari 2012 juga merasakan hal yang sama, berteriak kepanasan dan meronta-ronta meminta bajunya dilepas. Tragis memang, namun seharusnya kejadian seperti itu tidak perlu berulang lagi apabila kita memiliki dasar-dasar survival dan persiapan matang dengan perlengkapan yang memadai.

MOUNTAIN SICKNESS
Mountain sickness juga menjadi penyebab kematian pendaki gunung selain hypotermia. Gejalanya pendaki mengalami pusing-pusing dan mual ketika mendaki. Dalam pendakian gunung Penyesuaian Kondisi fisik tubuh dengan bertambahnya ketinggian adalah faktor yang harus diperhitungkan. Adaptasi tubuh dengan iklim digunung yang semakin dingin ke puncak sementara tekanan udara bertambah untuk mereka yang belum berpengalaman naik gunung adalah bahaya besar . Pendaki pemula sebaiknya berlatih di gunung-gunung yang tidak memiliki kesulitan tinggi seperti gunung-gunung berketinggian dibawah 2500 m dan tidak memaksakan mengejar target pencapaian dengan memporsir tenaga yang terlalu berlebihan. Peristiwa meninggalnya pendaki gunung Ciremai di awal Januari 2013 Ian Ahdiansyah Mahasiswa STIKKU Kuningan kemungkinan besar karena kelelahan dan terserang Mountain Sickness.
Mountain Sickness diawali dengan gejala pusing
   Pendaki yang terserang Mountain Sickness akan merasa pusing-pusing, mual , muntah dan terserang kantuk bahkan pingsan tak sadarkan diri. Banyak kejadian pendaki gunung yang kelelahan beristirahat dan tertidur namun tidak bangun-bangun lagi. Kejadian ini pernah terjadi di Puncak Gunung Pangrango , walaupun sudah menggunakan Sleeping Bag tubuh pendaki yang terduduk tak bergeming saat dibangunkan dan ketahuan setelah tubuhnya akhirnya terdorong jatuh tak bergerak  diam kaku membeku.
    Saya sendiri pernah mengalami hal ini di alun-alun Mandalawangi Puncak Pangrango tahun 1985 saat duduk di kelas 2 SMA. Karena keletihan mendaki seharian dengan rombongan Pencinta Alam SMAN 29 saya tertidur tidak lama sekitar 10 menit , namun dalam 10 menit itu saya seperti berada ditempat yang sama sendirian.  Bahkan saya bermimpi bertemu dengan seorang gadis cantik yang memberikan saya setangkai edelweis. Pengalaman ini saya tuangkan dalam puisi yang saya ubah menjadi lagu berjudul Setangkai Edelweis (Lihat memory Juli : Label Memory dari Gunung) atau (lihat di Youtube : Ketik Setangkai Edelwis Juli 1985 pada search lalu enter) Dari Mimpi itu seolah Gadis itu berpesan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Terutama keutuhan perdu Edelweis yang ia tangisi banyak dipetik dan dirusak pendaki-pendaki gunung . Memang benar dalam kenyataannya pendaki Gunung yang katanya juga pencinta alam banyak juga yang menjadi oknum perusak lingkungan seperti memetik bunga Edelweis, Anggrek, Cantigi dan bahkan mencoret-coret inisial di batu-batu cadas Gunung. Belum lagi sampah-sampah yang berserakan disepanjang jalur pendakian, atau pendaki iseng yang mengisi kantong plastik dengan air seni. Hampir di semua gunung ini terlihat, sungguh memprihatinkan . Biasanya oknum ini bukan berasal dari kalangan Club Pencinta alam tapi dari pemuda yang tidak punya latar belakang pendidikan Cinta alam. Jadi tidak heran banyak kecelakaan di gunung sebagian besar korban berasal dari masyarakat awam yang tidak tahu seluk beluk gunung sebenarnya.

Selasa, 22 Januari 2013

PENDAKI TEWAS DI GUNUNG SUNDORO

Dua Pendaki Tewas di Gunung Sindoro Akibat Gas  

TEMPO.CO, Yogyakarta - Dua pendaki, yang belum diidentifikasi namanya, tewas di kawah utama Gunung Sundoro, perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Temanggung, Jawa Tengah. Dua pelajar itu tewas terkena gas beracun.

"Keduanya sudah meninggal dan telah dievakuasi tim SAR," kata Kepala Pos Gunung Sundono, Yuli Rahmatulloh, kepada Tempo, Selasa, 1 Januari 2013. Menurut Yuli, tewasnya pelajar SMP dan SMK itu akibat gas beracun merupakan peristiwa yang baru pertama kali terjadi.

Keduanya ditemukan tewas di dalam kawah utama dengan kedalaman 60 meter pada pukul 06.30. Gas beracun itu muncul akibat curah hujan yang tinggi. Lubang dalam kawah itu otomatis membawa uap gas beracun. "Gas beracun itu karena tidak berwarna, tidak bau, dan tidak kelihatan, maka sulit dideteksi," kata Yuli.
Gunung Sundoro diselimuti Awan

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, menyatakan gas beracun di kawah Gunung Sundoro disebabkan air hujan yang berubah menjadi uap gas bertekanan tinggi akan mendorong pula gas-gas lain ikut keluar. "SO2 jelas banyak. Jika di atas ambang aman, apa akan bisa bertahan pendaki yang letih, lelah, dingin, lapar, dan udara yang tipis," ujar Mbah Rono, panggilan akrabnya.

Untuk menghindari kejadian serupa, Surono meminta para pendaki menyiapkan diri, baik fisik maupun perlengkapan. "Please, naik gunung api aktif bukan seperti jalan-jalan di mal, harus punya perlengkapan yang memadai," katanya.

Surono meminta agar pendaki mendaki dengan rasionalitas yang terkontrol dan hati yang tulus. Menurut Surono, alam bukan ingin dan tidak harus ditaklukkan, namun diajak bersahabat. "Mengapa memaksa diri jika hati dan rasio tidak nyambung? Hal ini hanya akan membawa diri ke bahaya," katanya.

Minggu, 18/12/2011 21:22 WIB

Pendaki Gunung Papandayan Yang Tewas Mahasiswa Unas Jakarta

Mansur Hidayat - detikNews
Jakarta - Seorang pendaki gunung Papandayan Cisurupan, Kabupaten Garut Jawa Barat ditemukan tewas karena kedinginan saat melakukan camping di kawasan Pondok Saladah. Pendaki tersebut bernama Ahmad Hidayat Mahasiswa Universitas Nasional Jakarta.

"Kami sudah menghubungi pihak keluarga, terkait kabar tewasnya Ahmad," ujar Kapolsek Cisurupan, Kompol Edet Hermawan, kepada wartawan, Minggu (18/12/2011).
Asap Belerang keluar dari beberapa Kawah Gunung Papandayan


Ahmad Hidayat (19) warga Jalan H. Rian Rt 12, Rw 11 Desa Petukangsan Utara, Pasanggrahan Jakarta Selatan. Ahmad melakukan pendakian bersama 15 orang rekannya yang merupakan mahasiswa Unas, pada hari Sabtu 10 Desember 2011.

"Memang menurut mereka bahwa hari ini mereka mengagendakan pulang ke Jakarta," ungkap Edet.

Korban Ahmad meninggal dunia hari Minggu ini sekitar pukul 10.30 WIB. Kondisi kesehatan Ahmad memburuk akibat cuaca dingin di kawasan Pondok Saladah gunung Papandayan.

"Almarhum memiliki riwayat memiliki penyakit maag dan tidak tahan cuaca dingin," tambahnya.

Sementara itu ketua rombongan pendakian gunung Papandayan Amran Sani (21) berencana akan membawa jenazah Ahmad Hidayat malam ini ke Jakarta.

"Jadi kesepakan antara ketua rombongan dan orang tua korban bahwa, almarhum malam ini dibawa ke Jakarta," ucap Edet.

Sementara itu, Ahmad melakukan pendakian bersama 15 orang rekannya yang terdiri dari 12 laki-laki dan 3 orang perempuan ke kawasan Pondok Saladah gunung Papandayan melalui jalur hutan di kawasan Kecamatan Pamulihan Garut.

"Jadi mereka naik gunung Papandayan tidak melalui jalur kawah gunung Papandayan, sehingga kami tidak mengetahui keberadaan para pendaki tersebut," pungkas Edet.

Kawasan Gunung Papandayan Terlarang Bagi Pendakian dan Camping

Sejak gunung Papandayan yang berada di Kecamatan Cisurupan naik statusnya menjadi siaga, kawasan kawah gunung Papandayan terlarang bagi para pengunjung dengan radius 2 km dari kawasan kawah Papandayan.

"Apalagi hingga menginap melakukan camping, itu tidak diperbolehkan karena berbahaya," kata Kapolsek Cisurupan, Kompol. Edet Hermawan.

Jajaran Polsek Cisurupan tidak mengetahui keberadan sebanyak 16 orang mahasiswa Unnas Jakarta yang melakukan pendakian dan melakukan camping di kawasan Pondok Saladah gunung Papandayan.
Gunung Papandayan, Jawa Barat

"Berdasarkan informasi katanya mereka naik melalui jalur hutan dari Kecamatan Pamulihan, sehingga kami tidak tahu," ungkap Edet.

Hal yang sama juga disampaikan Kepala Bagai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) kabupaten Garut, Teguh Setiawan, bahwa kemungkinan para pendaki tersebut tidak melapor kepada petugas BKSD di gunung Papandayan dan aparat kepolisian setempat.

"Semua jalur pendakian ke gunung Papandayan semuanya sudah terpampang himbauan larangan untuk pendakian,"ucapnya.

Kawasan Pondok Saladah gunung Papandayan, termasuk merupakan kawasan berbahaya untuk dijadikan lokasi camping karena hanya termasuk pada radius 2 Km dari kawasan kawash gunung Papandayan.

"Ya kawasan Pondok saladah juga termasuk kawasan berbahaya," pungkas Teguh.

Sumber Referensi : DetikNews, Tempo.Com

Jumat, 18 Januari 2013

7 PENDAKI TEWAS DI G.RINJANI

Indosiar.com, Nusa Tenggara Barat - Sebanyak 7 orang pendaki gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB) kemarin ditemukan telah tewas. Mereka ditemukan di KM 11,5 tepatnya diantara kawasan Pelawangan Sembalun menuju kawasan Segara Anak. Diduga kuat korban tewas akibat buruknya cuaca dan kehabisan bekal.
  7 mayat para pendaki ini pertama kali ditemukan oleh Herawadi seorang porter barang hendak pulang dari Segara Anak menuju ke Posko Penjagaan Sembalun. Di KM 11 Irawadi pertama kali menemukan 3 korban pendaki dalam posisi tertelungkup dan sudah tewas.
Puncak Gunung Rinjani
Informasi penemuan mayat tersebut kemudian segera dilaporkan ke Posko Penjagaan Pintu Sembalun dan diteruskan ke pihak terkait. Tim SAR Nusa Tenggara Barat mengalami kesulitan mengevakuasi para korban karena sulitnya medan, cuaca buruk dan tiupan badai.
Minggu (11/03/07) malam, 3 jenazah pendaki gunung Rinjani telah berhasil dievakuasi. Sementara 4 jenazah lainnya yang juga ditemukan tidak jauh dari lokasi penemuan mayat pertama belum bisa dievakuasi.
   3 korban yang sudah berhasil dievakuasi masing-masing Anwar Sadat dan Herman yang tercatat sebagai mahasiswa serta Chairul Antoni yang hingga kini belum diketahui asalnya karena tidak masuk dalam rombongan mahasiswa tersebut. Ke 3 orang yang tewas kemudian dibawa ke Puskesmas Sembalun untuk diotopsi sebelum dibawa oleh pihak keluarga.
  Sementara 4 korban lainnya Andi Yusuf, M Fauzi, Siswandi serta Herman sementara ini masih berada di Posko Pelawangan Sembalun. Rencananya mereka akan dievakuasi Senin pagi ini. Sedangkan seorang pendaki lainnya Ahyanudin hingga kini belum bisa ditemukan.
  Kepala Konservasi Kawasan Hutan Taman Gunung Rinjani Muslim Arif mengatakan, 8 orang pendaki yang 7 diantaranya tewas ternyata tidak tercatat dalam buku kunjungan pendaki Gunung Rinjani. Karena sejak tanggal 3 Maret lalu Gunung Rinjani telah ditutup sementara hingga waktu yang tidak ditentukan untuk pendakian karena kondisi cuaca yang buruk. (Agus Zaeroni/Sup)

                                      Video proses evakuasi jenajah pendaki di gunung Rinjani

Rabu, 24 Oktober 2012

PENDAKI TEWAS DI GUNUNG LAWU, SALAK DAN CIREMAI

PENDAKI TEWAS DI GUNUNG LAWU
VIVAnews -- Dua pendaki tewas dan satu orang kritis di temukan di kawasan pendakian Gunung Lawu di Karanganyar, Jawa Tengah. Sementara korban lainnya yang diduga berjumlah hampir 70 pendaki masih dalam pencarian Tim SAR.
Informasi yang diterima menyebutkan, bahwa korban yang tewas di duga akibat kedinginan saat melakukan pendakian. Dari total jumlah rombongan 70 pendaki, baru tiga orang itu yang diketahui nasibnya.
Gunung Lawu
Karena memang cuaca saat itu sangat ekstrem dan berbahaya bagi pendakian.
"Dua yang tewas, dan satu yang kritis sudah dievakuasi, yang kami ketahui tim SAR sudah menuju puncak gunung dan pukul 01.00 siang," kata salah seorang warga setempat di Purwodadi, Jawa Tengah, saat dikonfirmasi, Senin 28 Desember 2009.
   Para pendaki gunung Lawu memulai pendakian dari jalur Jogorogo (Ngawi). Namun sebelum sampai di puncak, rombongan kedinginan dan kelelahan. Saat dalam keadaan kedinginan mereka ditemukan oleh warga Purdadi Jawa tengah.
Laporan: M.Ridwan | antv-Ngawi

PENDAKI TEWAS DI GUNUNG SALAK (TRAGEDI TAHUN 1987)
Maut di Ketinggian Sunyi (Gn.Salak 1987)
Majalah Tempo 21 Maret 1987

HINGGA Selasa pagi pekan itu, dua liang masih menganga terbuka di Taman Pemkaman Umum (TPU) Penggilingan, Rawamangun, Jakarta. Itulah pertanda bahwa Irvan Supandi dan Ahmad Rudiat masih berada jauh tinggi di sana, di Gunung Salak, entah mati entah hidup. Itu juga berarti ratusan pecinta alam masih terus menyusur Sungai Cibadak di gunung itu, tempat jenazah rekan mereka — yang sudah mengisi empat kuburan baru di sebelah kedua liang kosong tadi — ditemukan dalam keadaan mengenaskan.
   Sebuah akhir cerita hidup yang menyedihkan, memang. Padahal, tak ada firasat buruk muncul di awal pendakian nahas ini. Ia bermula ketika delapan siswa kelas dua STM Pembangunan Jakarta Timur mencari ide untuk mengisi hari libur yang tiba-tiba menubruk mereka. Pasalnya, pada hari Jumat, 20 Februari lalu itu, sekolah mereka kebanjiran hingga tak ada kegiatan belajar. Ditambah lagi keesokan harinya para guru berniat mengadakan rapat, yang menyebabkan murid bebas belajar. Wajar jika di pagi itu tiba-tiba muncul ide untuk mendaki Gunung Salak keesokan harinya.
Gunung Salak
   Secara spontan, perencanaan pun didiskusikan dan kata sepakat dicapai untuk berkumpul di depan sekolah esok harinya, pukul 8 pagi. Adalah nasib jua yang membuat Yumarsanto, 17, ternyata terlambat bangun. Toh ia masih mencoba pergi ke tempat rendezvouz tersebut. Tapi ia cuma menjumpai tukang mi langganan mereka, yang menginformasikan bahwa ia telah ditinggal. 
   Belakangan, Yumarsanto mengetahui ia tak sendirian. Boyke Zulkarnaen, yang tadinya juga merencanakan berangkat, ternyata, urung ikut. Alhasil, hanya 6 orang yang berangkat: Ahmad Rudiat, 19, Chaerudin, 18, Eddy Pujianto, 18, Irvan Supandi, 16, Mulyadi, 19, dan Wisnu Herwanto, 18. Besar dugaan, Ahmad Rudiat alias Adit menjadi pemimpin tak resmi rombongan ini. “Kata teman-temannya, ia memang paling berpengaruh,” tutur Djukardi Adriana alias Bongkeng, anggota Wanadri yang menjadi on scene commander operasi SAR di Gunung Salak ini. Adit memang punya modal untuk memimpin. Hanya dia dan Mulyadi yang anggota resmi pecinta alam di sekolah mereka, karena itu berhak memakai syal segitiga biru berinisial klub itu. Lagi pula, ia berpengalaman mendaki Gunung Cermai di Cirebon dan Gunung Gede–Pangrango di kawasan Puncak. Hingga, ayahnya pun Letkol Drs. A.R Sabirin, mudah saja memberi izin anaknya mendaki Gunung Salak kendati istrinya keberatan. “Dia cuma minta uang Rp 6.000 dan bilang hari Minggu sudah pulang,” kata Sabirin. Agaknya, kepemimpinan Adit yang dibantu Mulyadi ini yang menyebabkan rombongan kemudian memilih jalur pendakian yang tak umum. 
Alasannya, memang, khas anak muda. Mereka tampaknya ingin membuat jalur pendakian baru menuju pancuran tujuh, yaitu air terjun dekat puncak Gunung Salak yang masih jarang dikunjungi orang. Mulyadi pernah merintis rute ini, Desember 1986, tapi sampai di pancuran ketiga kehabisan perbekalan. Maka, terpaksa perintisan rute ditangguhkan dan rombongan Mulyadi saat itu turun kembali. Tapi mereka sempat meninggalkan tanda berupa ikatan tali rafia biru di pohon yang mereka lalui. Rencananya, klub STM mereka yang bernama Teknik Pembangunan Pencinta Alam (Tepepa) akan melanjutkan penelusuran. Ketua Tepepa, Kelly Daryono, merencanakan melakukan ekspedisi ini sehabis pemilu nanti, dan rute itu akan di namakan rute STM Pembangunan. Ada dugaan, rombongan Adit dkk. ini ingin mendahului Kelly.
Tebing Gunung Salak Yang Curam
   Maklum, menurut rekan-rekan mereka, kedua siswa ini memang bersaing. Sayangnya, semangat kompetitif yang sehat itu tak didukung persiapan yang matang. Perlengkapan mereka sangat tak memadai untuk ekspedisi membuka jalur baru: tak ada kompas, pakaian, dan makan yang mencukupi. “Yang paling fatal, sebagai pendaki yang ingin menemukan rute baru, mereka tak membawa peta,” kata Bongkeng. Perbekalan diperkirakan hanya disiapkan untuk dua hari, sedangkan pakaian pelindung hujan terabaikan. Mulyadi, misalnya, berangkat dalam pakaian seragam sekolah dan tak membawa jaket. Belakangan terbukti, hal yang kelihatan sepele ini menjadi penyebab utama perjumpaan mereka dengan sang maut. Padahal, medan Gunung Salak tergolong sulit. Banyak lembah dan jurang, dengan sungai berair terjun yang diapit dinding yang curam.
   Di dinding curam ini ada hutan-hutan yang ditumbuhi rotan, belitan tamiang (pohon rambat), dan onak. Hingga saat ini, masih belum jelas bagaimana sebenarnya rute yang mereka tempuh. Bila mereka meneruskan jalur rafia biru, berarti mereka masuk dari Sukamantri dan terus naik ke arah selatan, hingga ikatan rafia biru itu habis. Ini berarti mereka telah mendaki sekitar tujuh jam. Mungkin mereka lalu meneruskan perjalanan menerabos semak ke selatan. Ini terbukti dari ikatan rafia kuning yang mereka tinggalkan. Sementara itu, terjalnya pendakian mungkin memaksa mereka mengarah ke barat daya. 
   Bisa jadi, di ujung ikatan rafia kuning ini ditemukan — sekitar satu setengah hari pendakian dari Sukamantri — mereka mulai tersesat. Entah karena kehabisan tali rafia kuning sebagai petunjuk atau mereka tergoda untuk menuruni gunung ke arah timur. Maklum, arah itu sekilas terlihat landai dan lampu perumahan di lereng gunung dapat terlihat jelas.
   Bisa dibayangkan, dalam kondisi lelah, lapar, dan kedinginan, sinar lampu perumahan itu terasa mengundang mereka untuk segera datang. Tanpa peta, mereka tak menyadari bahwa di depan menghadang jurang yang dalam dan tebing yang terjal.
   Padahal, hujan terus mengguyur selama pendakian itu. Suasana panik atau tergesa-gesa terkesankan dari ditemukannya banyak barang tercecer di daerah ini, seperti sarung tangan, sapu tangan, sumbu kompor, dan supermi utuh. Apa yang terjadi sesudah itu memang masih sulit diduga. Letkol Sabirin mulai merasa waswas ketika anaknya tak kembali ke rumah hari Minggu, 22 Februari lalu. Sampai Minggu malam, Sabirin masih berharap anaknya tertidur kelelahan di rumah temannya. Tetapi ketika esok siangnya Adit masih belum muncul, Sabirin mulai mengambil tindakan.
Gunung Salak Yang Terjal
    Mula-mula, ia menghubungi orangtua Mulyadi, yang ternyata malah tak tahu anaknya mendaki gunung. Lantas, ia mencoba menghubungi rumah teman Adit yang lain. Tanpa hasil. Maka, Selasa pagi, 24 Februari, Sabirin mencari keterangan ke sekolah. Ternyata, pihak sekolah tak tahu ada muridnya yang mendaki Gunung Salak. Bahkan baru hari itu mereka tahu bahwa di kelas Adit ada enam siswa yang tidak hadir sejak Senin. Alhasil, Sabirin langsung berangkat ke Bogor dan menghubungi Polsek Ciomas, di kaki Gunung Salak. Pengumpulan informasi pun dilakukan dari masyarakat sekitar dan didapat keterangan memang ada satu grup STM pergi mendaki, tetapi tak jelas dari STM mana. Lantas, dengan ditemani Kapolsek Ciomas, Letda Budi Setiadi, dan 20 penduduk, Sabirin mendaki Gunung Salak untuk mencari anaknya.
   Hasilnya nihil. Maklum, menyisir Gunung Salak memang bukan pekerjaan kaum amatir. Atas saran Kapolsek, Sabirin pun segera menghubungi SAR pusat, di Jakarta, dan awal pencarian besar-besaran terhadap keenam pendaki itu pun dimulai. Sayang, awalnya kurang menggembirakan. Pasalnya, mereka mendapatkan informasi dari kelompok Wanadri Jakarta dan SMAN 8 Jakarta yang mendaki pada hari yang sama dengan Adit dkk. bahwa mereka bertemu dengan kelompok STM antara Warung Loa dan puncak Gunung Salak. Karena itu, pencarian pun dilakukan sekitar Warung Loa itu. Baru pada 1 Maret tim SAR menyadari bahwa grup STM itu bukanlah Adit dkk. Hal ini terungkap setelah Kelly Daryono bersama tujuh anggota Tepepa lainnya dan seorang guru merintis jalur Sukamantri. Mereka malah kemudian tersesat. Untung, hubungan radio handy talky yang mereka bawa dengan posko SAR bisa terjalin. Mulanya, mereka disarankan untuk menunggu regu penjemput, tapi Kelly dkk memutuskan mencoba jalan sendiri. Dibimbing dengan hubungan radio komunikasi itu, akhirnya, mereka sampai di posko SAR.
   Dari penuturan Kelly inilah tim SAR menyadari kekeliruan mereka. Apalagi Kelly dkk. berhasil pula menemukan jejak yang meyakinkan, seperti tulisan “MUL” (dari Mulyadi) di tepi sungai. Beberapa pihak menyayangkan Kelly tak melaporkan ini lebih dini. Namun, ada juga yang heran mengapa tim SAR percaya begitu saja bahwa Adit dkk. mendaki dari Warung Loa. “Memang, data yang masuk dari Warung Loa itu yang membingungkan dan kami terlambat mendengar mereka masuk dari Sukamantri,” kata Ir. Gustav Adolf “Ocim” Husein dari Wanadri.  
   Walhasil, pengorbanan tim SAR berdingin-dingin dan berletih-letih selama seminggu di sekitar Warung Loa terhitung sia-sia belaka. Dengan petunjuk baru yang lebih meyakinkan ini, daerah pencarian pun dipindahkan ke sekitar daerah habisnya rafia kuning. Sementara itu, pemberitaan media pun mulai gencar meliput upaya SAR ini. Dampak positif pemberitaan adalah mengalirnya sumbangan sukarela dari masyarakat baik berupa materi maupun tenaga sukarelawan yang bagai tak ada hentinya itu. Kendati jenazah yang ditemukan tim SAR 12 – 13 Maret lalu telah rusak parah, penemuan ini menghentikan perasaan tidak pasti yang mengimpit sanak keluarga mereka. 
   Sukarelawan baru terus berdatangan, termasuk tim Skygers yang dipimpin Harry Suliztiarto.
Tim manusia cecak, yang pernah menaklukkan tebing Eiger di Pegunungan Alpen, itu kini menyusuri jeram-jeram Sungai Cibadak untuk mencari Irvan dan Adit. Kehadiran mereka memang sangat diharapkan, mengingat jeram ini 80-an meter tingginya dengan keterjalan tinggi. Apakah mereka akan berhasil menemukan Adit dan Irvan, yang telah hampir sebulan ini berdingin-dingin di ketinggian nan sunyi, jauh di sana? 
(Bambang Harymurti, Laporan Toriq Hadad & Farid Gaban)

Kisah Pencarian oleh Kelly Daryono dan PA TEPEPA
Edwin hibiki (plus.google.com/111739634583097515897)

Berikut kisah dari sudut pandang Kelly Daryono (Pendiri dan ketua Pencinta Alam TEKNIK PEMBANGUNAN PENCINTA ALAM) dalam usahanya bersama Pencinta Alam TEPEPA melakukan pencarian para junior mereka yang hilang di Gn. Salak 1987:
Kawah Ratu, Gunung Salak
Sudah 29 tahun yang lalu kisah ini terjadi pada diri saya dan baru hari ini saya menemukan dan membaca  artikel yang pernah saya alami, itu pun saya dikirimi artikel ini oleh seorang anak muda dimana pada  bulan april 2015 kami bertemu dan mendaki bareng ke puncak gunung rengganis dan argopuro.  Beberapa anak muda yang saat melakukan pendakian argopuro dan rengganis memiliki semangat tinggi walaupun dr ilmu pendakian dan jelajah alam masih  kurang mempuni akan tetapi karena rasa  ingin tahu dan belajar yang kuat terlihat dari pandangan matanya. Saat itu saya tidak ingin menggurui atau mendidik secara langsung tetapi cukup dengan cerita pengalaman saya selama mendaki gunung dari pertama kali saya mendaki kelas 5 SD hingga sekarang. Dari cerita saya yang  panjang , ada bagian cerita yang menarik perhatian anak muda yang baru saya kenal itu  "TRAGEDI GUNUNG SALAK 1987" yang hingga kini kisah itu tidak akan pernah saya lupakan dan akan selalu saya kenang karena merupakan pelajaran yg amat berharga dalam hidup saya.                                                        
Saya  bernama KELLY DARYONO (085810 221122) pendiri dan ketua Pencinta Alam TEPEPA ( TEKNIK PEMBANGUNAN PENCINTA ALAM )  1984 akhir  s/d 1987  dan akan sedikit mengkoreksi  dan menambahkan bagian bagian kisah Tragedi gunung salak 1987   yang mungkin belum atau kerena keterbatasan informasi  yang diterima  sehingga penulis tidak menceritakan di dalam kisah ini :
I. Desember 1986 .
Saat  di kisahkan oleh penulis , MULYADI  (almarhum) ikut merintis membuka jalur pendakian gunung salak pada bulan desember 1986,  Cerita sebenarnya mulyadi tidak ikut dlm ekspedisi buka jalur  karena expedisi tersebut merupakan program senior senior pencinta alam sekolah kami (TEPEPA) TEKNIK PEMBANGUNAN PENCINTA ALAM. Dan program itu akan di jadikan ajang pemilihan ketua pencinta alam  sebagai pengganti saya yg  akan berakhir jabatan karena kelulusan sekolah.  Kala itu saya  duduk di kelas 4 STM PEMBANGUNAN JAKARTA,  Mulyadi dan Ahmad Rudiat masih duduk di kelas 2.  Saya merupakan pendiri dan sekaligus menjabat KETUA  Pencinta Alam di sekolah kami ,selama 2 tahun lebih (pendirian PA saat saya duduk di bangku kelas 2 akhir). Program pemilihan ketua pencinta alam untuk mencari jalur yang saya buka bersama rekan rekan seangkatan saya saat itu ternyata bocor ke anggota PA dan seperti yg dikisahkan oleh penulis, MULYADI dan AHMAD RUDIAT merupakan anggota PA yang  berambisi menjadi ketua PA oleh karenanya mereka bersama ke 4 rekan sekelasnya mencoba dan mencari jalur yg kami rintis dan belom selesai itu pada ketingian  ( 1600 MDPL ) dan akan kami lanjutkan setelah pemilu selesai. Kemungkinan langkah ini diambil oleh mereka karena berdua  memang berambisi, untuk menjadi ketua PA , jabatan ketua PA kala itu merupakan jabatan bergengsi dan menjadi ajang rebutan dari semua siswa   yang ada di sekolah kami.
Hutan Gunung Salak
II.  Senin 23 februari 1987
Orang tua Ahmad Rudiat datang ke sekolah kami menanyakan tentang keberadaan Ahmad Rudiat dan saat itu pula saya di panggil kepala sekolah ( Bapak Harmaen ) untuk menanyakan anggota PA apa ada kegiatan pendakian gunung , saat itu saya jawab tidak ada akan tetapi orang tua AHMAD RUDIAT menginformasikan bahwa anaknya pada hari sabtu yang lalu mendaki Gunung Salak dan hingga kini belum kembali . Maka saya pun kaget , dan merasa bersalah  atas kepergian  AHMAD RUDIAT cs  tersebut, karna saya tidak tahu menahu  kalau ada anggota pencinta Alam  yang  mendaki gunung tanpa izin organisasi PA.
III.  Selasa 24 februari 1987.
Saya bolos sekolah dan pergi ke Terminal bogor seorang diri dan bertanya kepada seluruh supir angkot ( bemo / kendaraan roda 3  ) dengan pertanyaan yang sama apakah hari sabtu 21 februari ada 6 orang siswa yang naik bemo dan akan mendaki gunung salak , pencarian informasi di terminal itu saya lakukan dari pagi hari hingga sore hari untuk memastikan semua supir bemo mendapat pertanyaan yang sama ,dan akhirnya saya mendapat jawaban dari salah seorang supir bemo jawabanya ADA dan turun di pertigaan Sukamantri. Selanjutnya saya pergi ikut supir bemo tsb,   ke pertigaan desa Sukamantri  dimana AHMAD RUDIAT cs turun dari bemo itu. Dan saya kemudian jalan dan bertanya kepada penduduk  yg ada di sekitar jalan itu dan mendapat jawaban yang sama dgn supir bemo. Selanjutnya saya bergegas pulang ke rumah karena hari sudah malam.
IV .  Rabu 25 februari 1987.
Saya datang ke sekolah seperti biasanya dan saya menghadap bapak kepala sekolah  dan melaporkan pencarian informasi awal yang saya  jalani seorang diri. Dan ternyata bapak kepala sekolah memerintahkan kepada saya untuk ikut bergabung dengan  Team SAR yg kala itu di pimpin KANG BONGKENG sebagai koordinator SAR. Dan saat itu saya di beri uang saku Rp. 300.000 untuk membeli perbekalan pendakian. Ditemani 5 orang rekan seangkatan saya dan 1 orang guru olah raga yang saat itu sebagai pembina Pencinta Alam ( bapak JOKO). 
V . Kamis 26 februari 1987
Perjalanan ke ke Gunung Salak saat itu  kami diantar menggunakan mobil dari sekolah dan di perjalanan kami berdiskusi dgn rekan rekan dan PAK JOKO yang ikut dalam team yang di bentuk oleh sekolah kami, apakah kita bergabung dgn team SAR yg sudah ada atau kita melakukan  pencarian sendiri.  Dari hasil diskusi team , kami memutuskan pencarian kita lakukan sendiri tanpa melapor ke team SAR, hal  Ini dengan pertimbangan  informasi kami yang kami punya dan  masih mentah ini  tidak akan didengar oleh team SAR yg sudah bekerja 3 hari lalu di desa WARUNGLOWA karena team SAR yg sudah ada merupakan  orang orang hebat  dan terlatih seperti WANADRI ,MAPALA UI  bahkan BASARNAS dan anggota tentara  anak buah orang tua AHMAD RUDIAT.
Tanjakan Iblis, Gunung Salak
Pencarian kami awali dari desa SUKAMANTRI dengan menyusuri tali rafia yang mana pada bulan desember ( 2 bulan ) lalu saya ikat pada batang batang pohon  dan  pada ketinggian 1400 MDPL team yang kami pimpin itu  mulai menemukan titik titik terang seperti bungkus permen , puntung roko , bungkus supermi dsb. Semua ini terlihat masih baru di buang dan umurnya tidak lebih dari 1 minggu. Dan pada ketinggian itu kami awali untuk berkomunikasi dgn team SAR yg ada di desa WARUNGLOA dan menginformasikan kalau kami dari Team STM PEMBANGUNAN yang di pimpin oleh KELLY DARYONO menemukan tanda tanda kalau anggota kami  yang hilang melalui  jalur desa SUKAMANTRI. Saat itu kami diperintahkan menunggu di lokasi pada ketinggian 1400 MDPL dan team SAR menginformasikan akan menyusul, kami memutuskan membuka tenda dan bermalam di ketinggian 1400 MDPL,  sambil menunggu team SAR yg menyusul. Akan tetapi hingga  pagi hari bahkan siang hari team yg akan menyusulpun belum bertemu kami , apalagi baterai HT yg kami bawa pun akhirnya habis ( drop ) dan kami tidak  dapat lagi berkomunikasi dengan team SAR. DAN DISINILAH KAMI DINYATAKAN OLEH TEAM SAR yang ada di posko WARUNGLOA  KAMI ROMBONGAN KEDUA YANG BERJUMLAH 7 ORANG HILANG. Karena tidak ada komunikasi lagi  kami memutuskan  kembali melanjutkan pencarian  hingga pada  ketinggian 1600 MDPL.  Dan pada ketinggian itu, terdapat dimana sebelah kanan jalur kami sungai Ciapus dan sebelah kiri adalah sungai Cibadak.  Kami juga menemukan beras tercecer pada permukaan tanah yang sedikit landai, serta ada bekas sisa pembakaran kayu dan tempat bermalam, kami semakin yakin bahwa AHMAD RUDIAT CS sempat bermalam di ketinggian ini, dan di dekat bakaran kayu tepatnya di  bibir jurang sungai Ciapus ini ada bekas prosotan seperti orang terpeleset , dan kami berpikir kalau AHMAD RUDIAT CS kehabisan air dan menuruni jurang itu untuk mengambil air di aliran sungai Ciapus, dengan pemikiran itu kami memutuskan  untuk menuruni jurang dengan kedalaman  800 s/d 900 meter dengan kemiringan rata rata 70 s/d 80 derajat dan kami perkirakan dapat kami tempuh 1 s/d 2 jam perjuangan dgn merayap.  Ternyata perkiraan kami meleset jauh karena teramat sulitnya medan jurang itu untuk di turuni,  bahkan sampai pukul +- 19 .00 dan hari sudah gelap, kami belum juga sampai di tepi sungai Ciapus .  Kami pun  memutuskan  bermalam di tebing itu dgn cara badan kami diikat degan tali yang sudah kami bawa,  kemudian kami ikatkan ke batang batang pohon tumbang yg ada di sekitar kami agar tubuh kami tidak  merosot saat tertidur pulas, malam itu team yang kami pimpin tidur dgn posisi duduk dan beratap langit karena tidak mungkin kami dapat mendirikan tenda, tidur saja dengan posisi duduk.
Curug Nangka, di Kaki Gunung Salak
Singkat cerita, pagi hari kami melanjutkan menuruni jurang ini sampai ke tepi sungai ciapus dan baru tiba pada  siang hari, ternyata prosotan yg kami telusuri pada jurang ini terdapat BABI HUTAN mati karena terpeleset  dan jatuh dari ketinggian 1600 MDPL . Kemudian kami menelusuri tepian sungai dan akhirnya ketemu penduduk asli gunung salak yang kemudian kami di bawa ke posko di desa WARUNGLOA.  Disinilah kami berdiskusi dgn orang orang hebat yg memiliki keahlian tentang  alam dan hutan , dari hasil diskusi esok harinya POSKO TEAM SAR DI PINDAH KE DESA SUKAMANTRI .  Dan kami  KELLY DARYONO  dgn di temani KANG BONGKENG BESERTA kurang lebih 50  personil sukarelawan pencinta alam dari berbagai perguruan tinggi di JABODETABEK menelusuri jalur yg kemarin baru saja saya telusuri bersama rekan rekan dan 1 orang guru dari team STM PEMBANGUNAN , hingga ketinggian 1600 MDPL  dan mendirikan  POSKO BAYANGAN  di ketinggian ini selanjudnya  pencarian di lanjutkan pada ketinggian 1800 MDPL dan pada ketinggian ini kami dan team SAR berkonsentarasi ke arah kiri jalur kami dan dari ketinggian ini suara azan  dari masjid  perkampungan bawah terdengar jelas dan lampu lampu penerangan rumah pun terlihat jelas sehingga   terkesan dekat dengan perkampungan penduduk . pada ketinggian ini pula team membentuk barisan sisir agar lebih teliti dan akurat dalam menyisir lokasi , dan ternyata benar terdapat prosotan yg mengarah sungai  CIBADAK yg akhirnya di temukan 4 jenasah  anggota Pencinta ALAM TEPEPA ( TEKNIK PEMBANGUNAN PENCINTA ALAM ) yang jaraknya tidak berjauhan , 3 jenasah di temukan pada hari ke 28  dan 1 jenasah pada hari ke 29  sejak keberangkatan pendakian AHMAD RUDIA cs.
VI  Pencarian 2 anggota  TEPEPA
Setelah evakuasi  ke 4 jenazah anggota TEPEPA  yang dilakukan oleh sekarelawan PA dan dibantu  penduduk setempat melakukan evakuasi, serta membawa  ke 4 jenazah ke RS PMI BOGOR untuk dilakukan  otopsi  dilanjutkan pemakaman  seperti di jelaskan oleh penulis  ( TPU penggilingan rawamangun ) , maka pencarian dilanjutkan dgn mendaki punggungan dan menuruni jurang   gunung salak dan hasilnya TEPAT pada hari ke 40 ditemukan kembali 2 jenasah rekan ( anak buah ) kami  anggota Pencinta Alam TEPEPA , di mana lokasi ditemukannya 2 jenasah yang berdekatan itu tidak jauh dari kebun nanas penduduk yang jaraknya hanya 1 s/d 1,5 jam . Selanjutnya ke 2 jenazah di perlakukan sama seperti ke 4 jenazah yg terlebih dahulu di temukan.
11 April 1987
Keenamnya meninggal sudah
Gunung Salak sepi kembali dari tim ~SAR. Sabtu pekan lalu dua terakhir, dari enam siswa STM Pembangunan yang hilang, sudah ditemukan. Dua jenazah yang ditemukan hari itu dipastikan sebagai Achmad Rudiat dan Irfan Supandi. Kedua siswa meninggal di ketinggian 1.375 meter sekitar 1 kilometer dari jenazah empat rekannya terdahulu, dipisahkan oleh dua punggungan bukit dan lembah yang terjal. Diduga, seorang siswa jatuh terpeleset di sungai, atau terempas dari punggung barat Sungai Cibadak. Rudiat dan Irvan mencoba mencari bantuan, sementara tiga rekannya menunggu. Kelaparan dan kelelahan yang sangat membuat Chaerudin, Mulyadi, dan Wisnu tak kuasa bertahan. Mereka meninggal berdekatan di pinggir sungai berbatu yang lebarnya tak sampai 5 meter. Adit dan Irvan, mestinya sudah berhasil mendaki tebing 150 meter, dan tiba kembali di punggung barat Cibadak. Mereka menyisir punggung itu ke arah Loji di timur. Suara radio penduduk pun, dari ketinggian di situ, terdengar. Tapi, makin ke timur, mereka mendapati medan yang makin curam.
Plakat Tragedi G.Salak 1987
Tentunya, mereka lalu bergerak ke barat. Celakanya, justru tebing-tebing di barat lebih curam. "Kalau mereka jalan ke selatan sekitar 100 meter lagi, pasti akan ketemu jalan setapak ke Loji," tutur Herry Macan dari Wanadri, kepada Didi Sunardi dari TEMPO. Rasa putus asa dan kelelahan yang sangat membuat kedua siswa menyerah. Kerangka jenazah keduanya bukan ditemukan oleh SAR, tapi tim PHPA Taman Nasional Cibodas, yang sebelumnya tak pernah ikut mencari. Achmad Suyani, pimpinan rombongan PHPA itu, memang dikenal sebagai "orang pandai". Menurut sumber TEMPO, dia juga dulu yang menemukan jenazah Robby di Gunung Gede Pangrango. Waktu itu Achmad naik gunung setelah tim SAR mulai putus asa. Seperti juga kini, Achmad hanya butuh waktu sehari untuk menemukan korban. Daerah ditemukannya korban sebenarnya adalah daerah jelajah tim SAR. Agaknya, justru banyaknya yang ikut mencari, sementara kemampuan berbagai kelompok pecinta alam yang sukarela menyumbang tenaga itu beragam, menyebabkan daerah sapuan ada bolongnya. Rafiq Pontoh, Koordinator SAR, tak sia-sia meninggalkan pekerjaannya hampir dua bulan. Gunung Salak sepi kembali.

SARAN DAN PESAN SERTA PELAJARAN YANG DAPAT,DI AMBIL DARI PERISTIWA TRAGEDI GUNUNG SALAK  1987 :
1.  Jangan  pernah merasa kalau kita akan dapat menaklukan gunung dan alam yang akan kita daki/ jelajahi , karena dgn adanya perasaan itu kita akan memaksakan diri untuk mencapainya walaupun fisik dan kemampuan sudah menurun dan tidak mendukung lagi.   Nikmati keindahan dan hasil alam ini,  karena saya yakin kalau alam yg di ciptakan oleh YANG MAHA KUASA ini di ciptakan bukan untuk di taklukan tapi untuk di nikmati keindahannya dan hasilnya.
2 . Kami menghimbau kepada semua pendaki jangan pernah menghitung beban berat yang ada di pundak kita karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi 1 detik pun  di depan kita. Artinya bawalah perbekalan, ( air,makanan )  peralatan  standard yang dibutuhkan  untuk mendukung hidup kita selama pendakian berjalan dan bawalah  stok makanan berlebih untuk 2/3 hari kedepan melebihi jadwal pendakian,   walaupun beban itu akan semakin berat.
3 .Pelajari dan cari informasi terakhir  tentang karakter gunung alam yang akan kita jelajahi sebanyak banyaknya sebagai bekal kita sebelum expesisi pendakian kita lakukan.
4. Bekali diri kita dgn ilmu ilmu pendakian gunung atau jelajah alam seperti survival hidup di alam bebas, membaca kompas , cara mengatasi dan menghindari penyakit  ketinggian DLL.
5 . Jika memungkinkan lengkapi pendakian dgn peta terakhir gunung yang akan kita daki . Dan jangan pernah mencoba buka atau keluar dari jalur setapak yang sudah ada, jika kita tidak menguasai  / membaca peta gunung yang kita daki . Dan tinggalkan tanda tanda atau tali  yang warnanya mencolok jika kita ragu dgn jalur / jalan  yang kita telusuri.
6. Jika kita sudah kehilangan arah , kita perlu berdiam sejenak sambil beristirahat , tenangkan diri kita dan coba ingat kembali terakhir kita keluar dari jalur yang benar, dan jangan sungkan untuk kembali ke jalur awal walaupun jarak yang kita tempuh sudah cukup jauh.
TERIMAKASIH KEPADA SEMUA SUKARELAWAN PENCINTA ALAM  BAIK YANG TERGABUNG DALAM ORGANISASI MAUPUN PERORANGAN YANG  TELAH TURUT SERTA BERPARTISIPASI  DALAM PENCARIAN ANGGOTA  TEPEPA DIMANA BEGITU BANYAK PENGORBANAN BAIK MATERIAL MAUPUN TENAGA  HINGGA PROSES PENCARIAN  BERJALAN SELAMA 42 HARI .

BOGOR, 9 MEI 2015
KELLY DARYONO  ( 085810221122 )

Saat ini polisi tengah memeriksa mahasiswa Universitas Budi Luhur di Markas Kepolisian Sektor Parakansalak. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kronologi kejadian yang menyebabkan Fajar meninggal dunia.

Tertimpa Pohon Tumbang, Dua Pendaki Ciremai Tewas, Tiga Luka-luka

Selasa, 14/09/2010 - 21:43
KUNINGAN, (PRLM).- Diduga akibat tertimpa pohon pinus yang tumbang, dua orang pendaki Gunung Ciremai Kuningan tewas seketika dan tiga orang lainnya mengalami luka berat saat satu rombongan pemuda asal Cirebon dan Indramayu melakukan pendakian ke atas gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut, Selasa (14/9) dinihari.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh, dua orang korban tewas bernama Adul (19) warga Losari Kab.Cirebon dan Topan (20 tahun) asal Kandanghaur Kab.Indramayu. Sedangkan tiga korban yang mengalami luka parah masing-masing Galuh (18 tahun) penduduk Losari Cirebon, Lufi (17 tahun) asal Kalisari Cirebon dan Putra (17 tahun) warga Kalibuntu Cirebon. Enam orang pendaki lainnya yang masih satu rombongan dengan para korban tersebut, berhasil menyelamatkan diri, yakni Ipang (17), Yudi (17), Angga (16), Dandi (31) semuanya asal Losari Cirebon. Sementara, Achmad (19) dan Tanto (19 tahun) keduanya berasal dari Kandanghaur Kab.Indramayu.
Kawah Puncak Ciremai
Seperti dituturkan Yudi dan lainnya, peristiwa terjadi berawal saat rombongan pendaki yang terdiri dari para pelajar dan pemuda jebolan SMA berjumlah 11 orang itu, melakukan pendakian ke puncak Gunung Ciremai melalui jalur Linggarjati pada Senin (13/9) malam sekira pukul 19.30 WIB. Para pendaki ini merupakan gabungan pemuda yang berasal dari Indaramayu dan Cirebon, meski kondisi cuaca ketika itu kurang mendukung akibat sering hujan disertai angin kencang dan petir, namun mereka tetap nekad melakukan pendakian.
Diperkirakan pada pukul 21.30 WIB saat rombongan tengah mendaki gunung di Blok Leuweung Datar pada ketinggian sekira 1.225 meter di atas permukaan laut, tiba-tiba sebuah pohon pinus tumbang dan langsung menyambar tubuh para korban. Kontan saat itu terjadi kepanikan, apalagi dua orang di antaranya langsung terhantam badan pohon yang besar serta tiga lainnya terhantam pada bagian kaki dan tangan. Pada saat itu, para pendaki yang selamat menghubungi keluarga mereka dan diteruskan kepada petugas pos jaga pendakian.
Proses evakuasi korban membutuhkan waktu hingga berjam-jam dengan melibatkan puluhan petugas dari Tim SAR Badan Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), masyarakat setempat serta petugas pos jaga pendakian, aparat kepolisian dari Polres Kuningan dan unsur TNI setempat. Para korban yang ditandu dari gunung, langsung diangkut mempergunakan ambulan ke Rumah Sakit Umum Bandorasa (Cabang dari RSUD '45 Kuningan) yang berada di Cilimus.
"Para korban dievakuasi ke rumah sakit untuk divisum dan pada Selasa subuh seluruhnya sudah diserahkan kepada keluarganya masing-masing. Kami juga telah meminta keterangan terhadap anggota rombongan yang selamat dan petugas pos penjagaan Gunung Ciremai," papar Kapolres Kuningan Ajun Komisaris Besar Dra. Hj. Yoyoh Indayah didampingi Kasatreskrim Ajun Komisaris Polisi Sukirman, Selasa (14/9), (A-164/das)

Sumber Referensi : Tempo./Com, Pikiran Rakyat.Com,Viva.News