"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)
Tampilkan postingan dengan label METEOROLOGI DAN KLIMATOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label METEOROLOGI DAN KLIMATOLOGI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Oktober 2017

PELANGI : GEJALA OPTIK YANG INDAH

    Pelangi atau bianglala adalah gejala optik dan meteorologi berupa cahaya beraneka warna saling sejajar yang tampak di langit atau medium lainnya. Di langit, pelangi tampak sebagai busur cahaya dengan ujungnya mengarah pada horizon pada suatu saat hujan ringan. Pelangi juga dapat dilihat di sekitar air terjun yang deras.
Pembentukan Pelangi Menurut Para Ilmuwan
    Pada abad ke-17, ilmuwan Inggris Isaac Newton, (1642 -1727) menemukan bahwa cahaya putih matahari sebenarnya adalah perpaduan cahaya berbagai warna. Dia bersinar sedikit sinar matahari melalui prisma segitiga kaca (balok kaca) di ruangan gelap.
    Bentuk prisma membuat sinar membelok dan kemudian dibagi menjadi pita lebar cahaya. Dalam band ini, Newton melihat tujuh warna yang disebut spektrum. Warna-warna ini adalah merah, oranye, kuning, hijau, biru, nila dan ungu (sebutan hanya “mejikuhibiniu”).
    Semua cahaya bergerak dalam gelombang. Panjang gelombang adalah yang menentukan warna cahaya. Kadang-kadang, pelangi kedua dimmer dapat terlihat di atas pelangi utama karena cahaya telah tercermin atau dibiaskan lebih dari sekali dalam tetes hujan. Warna pelangi terbalik, merah dan ungu di bagian luar. Warnanya tidak seterang pelangi primer karena setiap kali cahaya tercermin, ada sedikit cahaya hilang.
   
Pada tahun 1852, ilmuwan Jerman Ernst Von Brucke, menyatakan bahwa warna langit biru yang disebabkan oleh partikel di atmosfer terpencar sinar matahari ketika memasuki atmosfer. Kemudian, dua fisikawan Inggris Lord Rayleigh (1842-1919) dan John Tyndall (1820-1893) memiliki penjelasan lain.Rayleigh berpendapat bahwa bagian biru dari sinar matahari disebarkan oleh debu dan uap air, tapi dia salah. Air molekul sendiri yang menyebarkan cahaya. Namun demikian kita masih menyebut jenis Sebarkan ini  Tyndall efek, atau penyebaran Rayleigh, sesuai dengan kedua nama ilmuwan.
    Pelangi dan efek cahaya lainnya di langit disebabkan oleh cahaya dibiaskan dan terdistorsi dari partikel. Ketika matahari terbenam, langit berubah merah karena sinar matahari yang melewati atmosfer lebih tebal daripada ketika matahari tinggi di langit pada siang hari. Cahaya biru tersebar jalan cahaya, dan kita melihat panjang gelombang merah.
    Cahaya matahari adalah cahaya polikromatik (terdiri dari banyak warna). Warna putih cahaya matahari sebenarnya adalah gabungan dari berbagai cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Mata manusia sanggup mencerap paling tidak tujuh warna yang dikandung cahaya matahari, yang akan terlihat pada pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan violet.
     Panjang gelombang cahaya ini membentuk pita garis-garis paralel, tiap warna bernuansa dengan warna di sebelahnya. Pita ini disebut spektrum warna. Di dalam spektrum warna, garis merah selalu berada pada salah satu sisi dan biru serta violet di sisi lain, dan ini ditentukan oleh perbedaan panjang gelombang.
    Proses dasar terjadinya pelangi adalah pembiasan. dibelokkan cahaya atau lebih tepatnya, perubahan arah ketika bepergian dari satu medium ke lainnya. hal ini terjadi karena cahaya bergerak pada kecepatan yang berbeda di media yang berbeda.
   Proses pelangi untuk mengerti mengapa cahaya berubah, bayangkan Anda mendorong keranjang belanja di tempat parkir. Parkir adalah salah satu “media” untuk keranjang belanja Anda. jika Anda memberikan gaya (energi) adalah konstan, kecepatan keranjang belanja tergantung pada medium melalui mana permukaan dalam hal ini, area parkir permukaan beraspal. apa yang terjadi ketika Anda mendorong keranjang belanja dari tempat parkir ke daerah berumput.
   Rumput adalah “media” yang berbeda ke keranjang belanja. jika Anda mendorong langsung keranjang diatas rumput, maka keranjang akan memperlambat kecepatan. rumput Media lebih banyak perlawanan, sehingga dibutuhkan lebih banyak energi untuk memindahkan keranjang belanja.
    Tetapi ketika Anda mendorong gerobak ke daerah rumput di sudut, itu terjadi untuk menjadi berbeda. jika roda menyentuh rumput benar pada kali pertama, roda kanan akan memperlambat saat roda kiri masih di trotoar. karena roda kiri bergerak satu menit lebih cepat dari roda kanan, keranjang belanja akan berbelok ke kanan ketika bergerak ke rumput. juga di sebaliknya, jika Anda bergerak di sudut dari daerah berumput yang mengarah ke area beraspal, satu roda akan bergerak lebih cepat sebelum roda yang lain dan arah keranjang akan berubah.
     Sama, seberkas cahaya berubah ketika memasuki prisma kaca. ini adalah penyederhanaan, tetapi kita dapat memprediksi seperti ini: satu gelombang cahaya melambat, sehingga sinar berubah arah pada batas antara udara dan kaca (terang benar-benar tercermin pada permukaan prisma, tetapi kebanyakan dapat melewati sebuah prisma). maka balok akan mengubah arah lagi ketika keluar prisma, karena salah satu swangsit gelombang cahaya bergerak lebih cepat.
   Disamping tikungan cahaya keseluruhan, prisma memisahkan cahaya putih menjadi warna komponennya. warna cahaya yang berbeda memiliki frekuensi yang berbeda, yang menyebabkan mereka untuk menyebarkan pada kecepatan yang berbeda ketika mereka bergerak melalui media.
warna yang bergerak lebih lambat dalam gelas akan berubah lebih tajam ketika berjalan melalui dari udara ke kaca, karena perbedaan kecepatan yang lebih besar. warna yang bergerak lebih cepat di kaca tidak akan banyak untuk memperlambat, sehingga akan tikungan kurang tajam. dengan cara ini, warna yang membentuk cahaya putih dipisahkan berdasarkan frekuensi ketika mereka melewati kaca. jika tikungan lampu kaca dua kali, seperti dalam prisma, Anda dapat melihat warna dipisahkan lebih mudah. ini disebut dispersi.
     Pelangi tidak lain adalah busur spektrum warna besar berbentuk lingkaran yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air. Ketika cahaya matahari melewati butiran air, ia membias seperti ketika menembus prisma kaca dan keluar menjadi spektrum warna pelangi. Jadi di dalam tetesan air, kita sudah mendapatkan warna yang berbeda-beda berderet dari satu sisi ke sisi tetesan air lainnya. Beberapa dari cahaya berwarna ini kemudian dipantulkan dari sisi yang jauh pada tetesan air, kembali dan keluar lagi dari tetesan air. 

    Cahaya keluar kembali dari tetesan air ke arah yang berbeda, tergantung pada warnanya.         Warna-warna pada pelangi ini tersusun dengan merah di paling atas dan ungu di paling bawah pelangi.
Pelangi terlihat sebagai busur dari permukaan bumi karena terbatasnya sudut pandang mata, jika titik pandang di tempat yang tinggi misalnya dari pesawat terbang dapat terlihat sebagai spektrum warna yang lengkap yaitu berbentuk lingkaran. Pelangi hanya dapat dilihat saat hujan bersamaan dengan matahari bersinar, tetapi dari sisi yang berlawanan dengan si pengamat. Posisi si pengamat harus berada di antara matahari dan tetesan air dengan matahari di belakang orang tersebut. Matahari, mata si pengamat, dan pusat busur pelangi harus berada dalam satu garis lurus. 

    Melihat pelangi menjadi hal yang menyenangkan. Pelangi adalah gejala optik dan meterologi yang berupa cahaya beraneka warna saling sejajar yang tampak di langit atau medium lainnya. Tapi sayang, kita tidak bisa melihat pelangi setiap waktu. Lalu muncullah pertanyaan, mengapa pelangi jarang terlihat?
   Dalam ilmu fisika, pelangi dapat dijelaskan sebagai sebuah peristiwa pembiasan alam. Pembiasan merupakan proses diuraikannya satu warna tertentu menjadi beberapa warna lainnya melalui suatu medium tertentu pula. Proses terurainya warna terjadi ketika cahaya Matahari yang berwarna putih terurai menjadi spektrum warna melalui media air hujan. Adapun spektrum warna yang terjadi terdiri atas warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. 

    Sebuah pelangi muncul tidak bergantung pada jenis atau lebatnya curah hujan yang turun, tetapi lebih kepada penutup awan yang menerima sinar Matahari. Jika sinar Matahari bersinar di atas hujan, air hujan mereflesikan cahaya dan membiaskan bermacam-macam warna. Tapi jika tidak, maka jangan harap akan muncul pelangi. Itulah sebabnya kenapa pelangi jarang terlihat dan tidak muncul setiap kali sehabis hujan.
   Pelangi biasanya terbentuk hanya beberapa ratus kaki dari pengamatnya, sehingga curah hujan dan munculnya sinar matahari jaraknya tidak terlalu jauh. Jika curah hujan tidak mengisi udara di wilayah yang cukup besar, hanya sebagian pelangi yang akan terbentuk.

    Pelangi terbesar terlihat ketika Matahari berdekatan dengan cakrawala. Dan waktu terbaik untuk melihat pelangi adalah ketika sore hari, sambil memandang ke arah timur. Selain itu, karena pelangi jarang terlihat kita bisa membuat pelangi buatan sendiri, dengan cara menyemprotkan air ke udara sementara Matahari bersinar begitu cerahnya.

Jenis-Jenis Pelangi
Sebagaiman dapat dirasakan bahwa pelangi merupakan suatu objek pemandangan yang sungguh luar biasa. Dengan warnanya yang tidak menyilaukan mata yang sungguh disukai manusia.
Berdasarkan riset yang dilakukan ada 7 jenis pelangi diantaranya:
1. Pelangi Kabut
Pelangi kabut adalah pelangi yang terjadi karena kabut namun prinsipnya sama seperti pelangi hujan. Perbedaannya hanya pada mediumnya saja yakni butiran awan.
Warna pelangi kabut cenderung berwana merah lembut (soft red) di sisi luarnya dan di sisi dalamnya berwana biru. Akan tetapi warna pelangi kabut lama kelamaan akan redup seiring besarnya lengkungan di masing-masing warna.
Pelangi kabut bisa ditemukan di daerah perairan yang disebabkan oleh udara dan air dingin. Namun tempat ini bersifat umum. Artinya asalkan di daerah tersebut memiliki kabut yang tipis maka cenderung membentuk kabut pelangi.
2.Pelangi ganda
Pelangi ganda adalah pelangi yang terjadi karena proses pembiasan yang berklai-kali pada butiran hujan sehingga menghasilkakn bentuk warna pelangi yang berulang.
Dengan adanya pelangi ganda ini maka hasil dari pelangi akan tidak berurut. Misalnya saja untuk pelangi yang pertama dimulai dari ungu hingga merah.
Maka urutan pelangi kedua dimulai dari merah hingga ungu. Dan begitu seterusnya hingga nantinya urutan warna pelangi kembali ke pelangi pertama.

Kekurangan dari pelangi ganda ini adalah mudahnya memudar yang disebabkan butiran air yang mudah meluas sehingga dengan begitu banyak cahaya yang lolos dan tidak terbiaskan secara sempurna.
Sehingga berpengaruh pada pelangi utama yang akan menjadi lebih kecil daripada pelangi kedua maupun ketiga
3. Pelangi Sirkular
Pelangi sirkular juga sering disebut dengan pelangi lingkaran. Karena pelangi ini membentuk lingkaran penuh di langit dan udara. Namun manusia hanya dapat melihat pelangi ini sebagian lengkungannya saja.
Hal ini didasari oleh posisi manusia saat memandang pelangi berada di atas dataran rendah sehingga dengan begitu manusia tidak bisa melihat pembiasan cahaya yang berada di bagian setengah lingkaran lainnya.
Pada posisi setengah ini tidak terdapat butiran air yang membantu proses terjadinya pelangi. Akan tetapi pelangi sirkular ini hanya dapat dilihat pada posisi terntentu.
Yaitu pada dataran tinggi seperti halnya bukit, gunung atau lereng dan gedung-gedung tinggi. Sewaktu butiran yang berada di udara cukup maka akan dibiaskan secara sempurna sehingga membentuk satu lingkaran penuh.
Uniknya pelangi sirkular dapat memberikan berbagai variasi warna baik warna kembar, ganda ataupun extra warna. Dan umumnya pelangi ini muncul beringinan dengan pelangi kabut.
4. Pelangi Kembar
Pelangi kembar terjadi karna pembiasan butiran hujan yang jatuh ke bumi tidak sama ukurannya dan perbedaan ukuran ini bisa disebabkan oleh perbedaan tekanan udara pada iklim tertentu.
Adapun butiran hujan yang besar akan menjadi rata apabila diberi tekanan udara yang besar juga. Nah, apabila hujan yang turun ke bumi dengan ukuran yang berbeda maka akan membentuk pelangi kembar.
Pelangi kembar merupakan pelangi yang sangat langka hanya terjadi pada daerah terentu saja. Namun perlu diketahui pelangi kembar berbeda dengan pelangi ganda.
Kalau pelangi ganda tercipta dari adanya pembiasan beberapa pelangi yang sejajar. Sedangkan pelangi kembar tercipta dari pembiasan yang tidak sejajar. Akan tetapi urutan warna pada pelangi kembar tetap sama.

Dan terkadang kedua pelangi kembar ini saling bertemu dan menciptakan suatu bentuk irisan dengan warna yang lebih cerah dan intens.
5. Pelangi Satu Warna

Pelangi satu warna disebut karena pelangi ini hanya terjadi pada sore hari saja dengan satu warna yakni merah. Adapun proses terjadinya pelangi satu warna adalah saat hujan turun yang kemudian diiringi dengan munculnya sinar matahari sehingga membentuk gelombang cahaya yang lebih pendek.
Gelombang cahaya yang pendek ini akan membentuk spektrum warna yang saling menghilangkan. Pemecahan spektrum warna ini disebabkan oleh hujan sehingga menghasilkan satu warna saja yakni merah. Dan ini merupakan fenomena yang langka terjadi.
6. Pelangi Ekstra Warna
Pelangi ekstra warna adalah pelangi yang terdiri dari berbagai variasi warna dan keindahan yang terjadi karena beberapa proses pembiasan.  Pembiasan cahaya ini berada pada jalur butir air yang berbeda.
Pelangi ini akan sangat mudah dilihat apabila dibantu dengan penyemprotan air dengan sedikit angin. Kemudian angin ini akan mengarahkan arah butiran air yang akan menghasilkan warna pelangi.
Disebut pelangi ekstra warna karena ada tambahan warna yaitu hijau ataupun nilai yang berada pada sisi dalam pelangi utama. Nama lain dari pelangi ekstra warna adalah pelangi bertumbuh yang terdiri dari beberapa warna.
Warna ekstra selalu berada pada sisi luar pelangi dan lebih sering lagi berada di dalam lengkungan. Umumnya warna pelangi yang sering muncul yaitu ungu, hijau dan nila.
7. Pelangi Bulan
Pelangi bulan yakni pelangi yang terjadi karena bantuan dari sinar bulan. Namun proses pembiasannya sama dengan cahaya matahari akan tetapi cahaya akan lebih redup karena pencahayaannya hanya mengandalkan cahaya bulan.
Warna pelangi bulan sama seperti pelangi biasa namun mata manusia tidak cukup sensitif untuk menangkap spektrum warna dari pelangi dan hanya warna putih saja yang bisa dilihat dari kejauhan.
Proses terbentuknya pelangi bulan juga termasuk lama karena kurangnya cahaya pada proses pembiasan. Uniknya dari pelangi bulan adalah warna yang dihasilkannya yakni putih saja.
Inilah ketujuh jenis pelangi yang terjadi di alam semesta yang sudah sepantasnya semakin menambah kesyukuran dan keimanan kita terhadap Sang Pencipta.

Sumber Referensi : Dosen Pendidikan.Com, Berkah Khair.Com,Wikipedia, National Geografic

Rabu, 20 September 2017

AWAN : JENIS DAN PROSES TERBENTUKNYA

    Kumpulan partikel-partikel air atau kristal-kristal es di atmosfer disebut awan. Selain berpengaruh terhadap penentuan cuaca, awan juga berperan dalam siklus air di bumi. Akan tetapi, awan yang disertai oleh badai dapat menghancurkan benda-benda dan mahluk hidup di atas permukaan bumi.

Altokumulus adalah awan pegunungan
    Awan terbentuk dari proses evaporasi atau penguapan air di permukaan bumi. Uap air tersebut naik ke atmosfer dan membentuk awan. Pada saat temperatur atmosfer turun, awan berubah menjadi titik-titik air melalui proses kondensansi yaitu perubahan benda gas menjadi benda cair. Titik-titik air ini selanjutnya jatuh ke permukaan bumi dalam bentuk hujan dan salju.


 Stratokumulus
 
 Cirrus
 
Kumulonimbus yang mendatangkan badai
Penggolongan Awan
    Awan dapat digolongkan menurut bentuk dan ketinggiannya. Berdasarkan bentuknya awan digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu stratus, sirus dan kumulus. Awan yang bentuknya berlapis-lapis disebut stratus. Awan yang bentuknya seperti serabut disebut sirus. Adapun awan yang bentuknya bertumpuk-tumpuk disebut dengan kumulus.
    Menurut ketinggiannya, awan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu awan rendah, awan menengah dan awan tinggi. Awan rendah berada pada ketinggian 0-2 km. Awan ini terdiri dari stratokumulus, stratus, kumulus dan kumolonimbus. Awan menengah terdiri dari altokumulus, altostratus dan nimbostratus. Awan-awan ini berada pada ketinggian 2-7 km. Adapun awan tinggi berada pada ketinggian 5-13 km. Awan ini terdiri dari sirus, sirokumulus dan sirostratus.
Altostratus
Nimbostratus
    Awan sering dihubungkan dengancuaca. Dalam banyak kasus, sistem udara bertekanan rendah bisa diidentifikasi dengan urutan pembentukan awan selama beberapa hari. Awan sirus yang terbentuk pertama kali berubah menjadi awan sirostratus. Selanjutnya, awan sirostratus diselubungi oleh lapisan awan altostratus di bawahnya. Lapisan awan menjadi lebih rendah ketika awan nimbostratus bergabung pada bagian dasar. Awan nimbostratus ini dapat mengakibatkan turunnya hujan dan salju.
Nimbostratus
Kumulonimbus
    Beberapa jenis awan sering muncul sebelum badai. Cuaca yang cerah dapat berubah secara cepat menjadi mendung. Awan Kumulus yang muncul pada saat temperatur semakin tinggi akan berkembang menjadi kumolonimbus. Apabila awan kumulonimbus telah terbentuk, maka hujan yang disertai dengan badai guntur dapat terjadi.
Kumulonimbus

Penyerapan dan Pelepasan Panas
    Awan juga berpengaruh dalam proses penyerapan dan pelepasan panas oleh bumi. Pada umumnya, hari yang berawan terasa lebih sejuk daripada hari yang cerah karena awan memantulkan sinar matahari ke angkasa sehingga panas matahari tidak seluruhnya diserap oleh bumi. Sebaliknya, awan juga menghalangi pelepasan panas bumi ke angkasa pada malam hari. Oleh karena itu malam yang berawan biasanya lebih panas daripada malam yang cerah.
Kumulus
Proses Pembentukan Awan
    Awan terbentuk dari air yang menguap dari danau, laut atau sungai. Uap air ini mengembang dan mendingin saat naik ke udara. Jika uap air cukup pada udara yang mengembang ini, maka uap akan berkondensasi dan membentuk awan. Awan juga terbentuk saat udara hangat serta lembab bergerak naik menyusuri lereng gunung. Udara terangkat dan menjadi dingin. Proses ini menyebabkan uap air berkondensasi dan membentuk awan yang menyelimuti pegunungan.

Sabtu, 25 Maret 2017

METEOROLOGI

    Meteorologi adalah cabang ilmu yang mempelajari fenomena atmosfer, khususnya cuaca dan kondisinya. Selain itu ahli meteorologi juga melakukan pengkajian terhadap bahan kimia di atmosfer, seperti karbon dioksida dan ozon yang mempengaruhi iklim di bumi.

 Gejala cuaca ekstrem dipelajari dalam Meteorologi
    Kata Meteorologi berasal dari Meteorologica, judul sebuah buku yang ditulis Aristoteles (469-399 SM ; filsuf Yunani kuno). Dalam buku ini Aristoteles menulis hasil pengamatannya mengenai cuaca. Akan tetapi observasi ilmiah tentang cuaca dimulai sejak 1593 ketika Galilei Galileo (1564-1642, ilmuwan astronomi Italia) menemukan sebuah alat sejenis termometer untuk mengukur suhu udara. Pada tahun 1700-an ditemukan peralatan cuaca lainnya untuk mengukur kelembaban udara, angin, tekanan udara dan presipitasi (kandungan kelembaban udara). Pada tahun 1800-an penggunaan peta cuaca memungkinkan ramalan cuaca secara ilmiah.

 Satelit Cuaca
    Pada awal tahun 1900-an Vilhelm Frimann Koren Bjerknes (1862-1951: ahli fisika Norwegia dan perintis meteorologi modern) menemukan zona-zona di dalam atmosfer yang kondisinya dapat berubah sewaktu-waktu yang disebut front. Ahli lainnya adalah Carl-Gustaf Rossby (1898-1957; ahli meteorologi Amerika kelahiran Swedia) yang mempelajari arus angin kencang di kawasan atmosfer, tidak lama setelah Perang Dunia II berakhir (1945).

Observasi
    Meteorologi berguna untuk meramalkan iklim dan cuaca. Ramalan ini berguna bagi petani untuk mengetahui kondisi ketersediaan air, perusahaan penerbangan untuk menentukan kemungkinan penerbangan, serta stasiun radio dan TV untuk mengetahui gangguan siaran. Para ahli meteorologi melakukan observasi cuaca di darat, laut dan udara, dengan menggunakan alat seperti termometer, barometer, dan higrometer untuk mengukur aspek-aspek dasar cuaca. Selain itu digunakan juga balon terbang sebagai pembawa alat-alat observasi ke udara untuk mengukur kondisi atmosfer di ketinggian atmosfer, dan radar yang dipakai untuk menentukan lokasi, ukuran, kecepatan dan arah badai.

Orbit Satelit Cuaca
Satelit Cuaca
    Satelit cuaca atau satelit meteorologi mengambil gambar bumi dari ketinggian atmosfer. Para ahli menggunakan gambar ini untuk membuat diagram gerakan awan. Satelit cuaca juga digunakan untuk mengukur suhu,kelembaban udara dan mendeteksi badai di samudera.
    Komputer juga digunakan untuk meramalkan peta cuaca di seluruh dunia. Perkiraan cuaca dengan komputer disebut ramalan cuaca numerik. Di samping itu teknik komputer juga dapat digunakan untuk meramalkan badai guntur, melakukan riset pengembangan peralatan meteorologi, menganalisis sebab-sebab peristiwa cuaca yang ekstrem (seperti tornado dan banjir), serta mempelajari cara-cara memodifikasi cuaca, misalnya untuk membuat hujan buatan pada musim kemarau.

Tornado api di Amerika Serikat

Sabtu, 02 Juli 2016

UNSUR-UNSUR CUACA DAN IKLIM (BAGIAN 2)

Iklim dan cuaca di suatu tempat dibentuk oleh beberapa unsur, diantaranya :

  1. Temperatur udara atau suhu udara
  2. Lengas Udara atau Kelembaban udara
  3. Curah hujan
  4. Angin
  5. Tekanan udara
  6. Penyinaran matahari
1. Temperatur udara ( Suhu Udara ).
   Suhu udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara di suatu tempat pada waktu tertentu. Suhu udara sebagian besar dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya panas matahari yang diterima bumi. Alat yang umum digunakan untuk mengukur suhu udara adalah termometer dengan satuan derajat. Skala termometer yang sering digunakan adalah derajat reamur (R), derajat Celcius (C) dan derajat Faranhait (F).
   Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. para ahli telah mampu membuat alat yang dapat mencatat suhu udara secara otomatis. Alat tersebut dinamakan Termograf. Data hasil rekaman termograf dinamakan termogram. Data hasil pengukuran suhu udara dalam satu hari dapat diselidiki dan dihitung rata-ratanya, kemudian dapat digunakan untuk menentukan rata-rata suhu udara harian. Pengukuran suhu udara dilakukan sepanjang waktu hingga kemudian dapat diketahui rata-rata suhu udara bulanan serta rata-rata suhu udara tahunan. 
   Berdasarkan hasil pengukuran suhu udara yang disajikan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika, keadaan udara di Indonesia dapat disimpulkan sebagai berikut :
  • Temperatur udara harian di pantai cukup tinggi, yakni sekitar 26o C dengan temperatur tertinggi terjadi sekitar pukul 14.00 dan temperatur terendah sekitar 24o C terjadi sekitar pukul 04.00 dini hari. Temperatur udara harian adalah rata-rata temperatur udara dalam satu hari.
  • Amplitudo harian lelatif kecil. Amplitudo harian adalah selisih temperatur udara tertinggi dan terendah dalam waktu satu hari.
  • Amplitudo tahunan relatif kecil. Amplitudo tahunan adalah selisih temperatur udara tertinggi dan terendah dalam waktu satu tahun. Amplitudo tahunan rata-rata hanya 10C karena lamanya siang dan malam hampir sama.


2. Kelembaban Udara (Lengas Udara)
   Kelembaban udara adalah banyaknya kandungan uap air yang terdapat di udara. Kelembaban udara dapat juga disebut sebagai tingkat kebasahan udara. Kelembaban udara dapat diukur dengan menggunakan alat yang disebut Higrometer. Kelembabn udara di satu tempat dengan tempat lainnya tidaklah sama, artinya ada suatu tempat yang kelembabannya tinggi dan ada juga yang kelembabannya rendah.
   Kelembaban udara dibedakan atas 3 macam yaitu :
  • Kelembaban absolut / mutlak adalah beratnya uap air atau berapa gram uap air yang dikandung setiap 1 m3 udara. Kadar kelembaban udara di Atmosfer dapat berubah-ubah, hal ini dapat dipengaruhi oleh naik dan turunnya suhu udara di sekitarnya yang berkaitan dengan penguapan.
  • Kelembaban spesifik adalah berat air per satuan berat udara, termasuk berat uap airnya. Kelembaban ini pada umumnya dinyatakan dalam gram air per kilo gram udara.
  • Kelembaban Relatif / Nisbi adalah perbandingan jumlah uap air yang ada di udara dengan jumlah maksimum uap air yang dapat dikandung udara pada temperatur yang dinyatakan dengan persen. Untuk menghitung krlrmbaban relatif dapat menggunakan Rumus :
                                                 Jumlah uap air tiap 1 m3
Kelembaban Nisbi    =               Udara pada suhu t o
                                         ______________________________
                                          Jumlah uap air maksimum tiap 1m3
                                                   Udara pada suhu t o


3. Curah Hujan
   Curah hujan adalah titik-titik air hasil pengembunan uap air di udara yang jatuh ke bumi. Dari hasil penelitian, rata-rata butir hujan mempunyai garis tengah antara 0,08 sampai 6 milimeter. Berdasarkan klasifikasi menurut butir-butir hujan jenis hujan antara lain hujan halus, hujan rintik-rintik dan hujan lebat.
   Intensitas hujan dapat diukur dengan alat pengukur hujan yang dinamakan Ombrometer. Parameter besar atau kecilnya hujan dinyatakan dengan satuan milimeter. Dari hasil pencatatan curah hujan secara terus menerus, maka dapat dibuat informasi rata-rata curah hujan yang dinyatakan dalam milimeter pertahun atau milimeter perbulan.


4. Angin
   Angin menurut Hukum Buys Ballot adalah udara yang bergerak dari daerah yang bertekanan udara maksimum ke daerah yang bertekanan udara minimum. Arah angin dapat berubah-ubah setiap saat tergantung perbedaan tekanan udara antara suatu tempat dengan tempat lainnya.
   Kecepatan angin dapat diukur dengan menggunakan alat yang dinamakan Anemometer. Parameter kecepatan angin dinyatakan dengan meter per detik.


5. Tekanan Udara
   Udara mempunyai massa atau tenaga yang menekan bumi. Pada ketinggian 0 meter di atas permukaan laut, udara memiliki massa 1.034 kg/cm2. Udara tidak hanya menekan benda dari atas, melainkan juga dari segala arah. Penekanan udara terhadap permukaan ini dinamakan tekanan udara. Tekanan udara diukur dengan suatu alat yang disebut Barometer dalam satuan milibar (mb).

6. Penyinaran Matahari
    Penyinaran matahari adalah penerimaan energi matahari oleh permukaan bumi dalam bentuk sinar-sinar gelombang pendek yang menerobos Atsmosfer. Sinar matahari yang memancar ke Bumi sesungguhnya tidak sluruhnya diterima bumi. Sinar matahari sebelum sampai ke permukaan bumi sebagian hilang karena proses absorsi atau penyerapan oleh Atmosfer bumi.
   Salah satu alat pengukur sinar matahari adalah solarimeter Kipp. Parameter sinar matahari dinyatakan dengan milivolt gram kalori per cm3 per menit. Banyak atau sedikitnya sinar matahari yang diterima bumi dipengaruhi oleh beberapa hal sebagai berikut :
  • Besarnya sudut datang sinar matahari. Pada pagi hari, sudut datang sinar matahari yang sampai ditempat kita berdiri relatif kecil. Hal ini mengkibatkan panas yang diterima bumi relatif sedikit karena temperatur udaranya masih rendah/dingin. Semakin siang ketika matahari tegak lurus, sudut datang sinar matahari di tempat kita berdiri semakin besar. Hal ini mengakibatkan temperatur udara yang kita rasakan semakin tinggi/panas.
  • Lama penyinaran matahari yaitu penyinaran yang smpai di permukaan bumi (Insolasi) setelah mengalami proses melalui lapisan atmosfer. Panjang waktu penyinaran matahari di suatu tempat dengan tempat lainnya yang diterima bumi berlainan. Misalnya, pada saat posisi matahari berada di sekitar equator, penyinaran matahri di daerah lintang rendah (Iklim tropis dan sub Tropis) akan lebih lama jika dibandingkan dengan daerah lintang tinggi atau daerah beriklim dingin.
  • Jenis tanah atau benda yang disinari oleh matahari. Berdasarkan mineral yang ada dalam tanah, mengakibatkan tanah di muka bumi memiliki jenis dan warna yang sangat banyak. Jenis dan warna tanah tersebut jika menerima sinar matahari akan menimbulkan reaksi yang berbeda-beda. Jenis atau warna tanah yang gelap cenderung akan lebih banyak menyerap panas, dan jenis atau warna tanah yang cerah akan lebih banyak memntulkan sinar.
  • Keadaan awan pada waktu penyinaran. Penyinaran matahari ke permukaan bumi melalui proses yang panjang. Sinar matahari ketika melalui lapisan Atmosfer mengalami proses penghambatan antara lain absorbsi, refleksi dan pemencaran. Beberapa penghambat sinar matahari yang mencapai bumi salah satu diantaranya adalah awan. Oleh karena itu, dapat dirasakan pada saat matahari bersinar terik, suatu tempat yang terlindung awan temperatur udaranya akan lebih rendah dibandingkan dengan tempat lainnya yang mendapatkan penyinaran secara langsung.

PEMBAGIAN IKLIM DI MUKA BUMI

   Lokasi di permukaan bumi selalu berhubungan dengan iklim dan cuaca. Hal ini dapat terjadi karena lokasi tersebut dipengaruhi oleh lingkungan fisik. Beberapa pengaruh lingkungan fisik di permukaan bumi antara lain : 

  • Semakin dekat dengan Equator, temperatur udara akan semakin panas, sedangkan semakin mendekati Kutub Utara dan Kutub Selatan temperatur udara semakin dingin. Hal ini dapat terjadi karena posisi edar semu matahari senantiasa berada di sekitar daerah tropis, sehingga sinar matahari dapat diterima secara maksimum. Sedangkan di daerah Kutub, sinar matahari tidak dapat menjangkau secara maksimum seperti di daerah tropis.
  • Semakin tinggi letak suatu tempat, temperatur udara akan semakin dingin, sebatas pada lapisan troposfer.
  • Keadaan alam yang berupa lautan luas menjadikan temperatur tidak terlalu panas.
  • Keadaan alam yang berupa daerah gurun menjadikan temperatur panas.
  • Keadaan alam yang berupa dataran tinggi menjadikan temperatur sejuk.
Berdasarkan pengaruh lingkungan fisik tersebut, mengakibatkan keadaan iklim di muka bumi memiliki beberapa tipe, diantaranya adalah :
Iklim Matahari
A. Iklim Matahari
Iklim Matahari adalah iklim suatu tempat berdasarkan letak garis lintang atau berdasarkan garis edar semu matahari terhadap permukaan bumi. Berdasarkan pengertian tersebut, maka di permukaan bumi terdapat beberapa daerah iklim matahari, antara lain :
  1. Daerah Iklim Tropis ( Panas) terletak antara 23 1/2o LU sampai 23 1/2o LS.
  2. Daerah Iklim Sub Tropis terletak antara 231/2o LU - 40o LU dan 231/2oLS - 40o LS.
  3. Daerah Iklim Sedang terletak antara 40oLU - 661/2o LU dan 40oLS - 66 1/2o LS
  4. Daerah Iklim Dingin terletak antara 66 1/2o LU - 90oLU dan 66 1/2oLS - 90o LS
B. Iklim Fisis
Iklim Fisis adalah iklim suatu tempat yang dipengaruhi oleh lingkungan alam di sekitarnya atau kondisi fifiknya. Beberapa faktor yang mempengaruhi iklim tersebut adalah keadaan angin, arus laut, luas daratan, dan kondisi fisis lainnya. Tipe-tipe Iklim Fisis antara lain :
  1. Ikilm Darat (Kontinental) adalah iklim suatu tempat yang dipengaruhi atau selalu dilewati oleh angin kering dari daratan yang sangat luas.
  2. Iklim Laut adalah iklim suatu tempat yang dipengaruhi oleh angin laut.
  3. Iklim Ugahari adalah iklim yang memiliki ciri khusus, yaitu pada waktu siang hari suhu udara terasa sangat panas dan pada malam hari suhu udara terasa sangat dingin.
  4. Iklim pegunungan adalah iklim yang terdapat di daerah pegunungan dengan ketinggian yang ideal dan kondisi hutannya masih luas. Ciri-ciri iklim pegunungan adalah berudara sejuk.

Iklim menurut W. Koppen

C. Pembagian Iklim menurut beberapa ahli klimatologi
Pembagian Iklim menurut beberapa ahli Klimatologi diantaranya adalah :
1.Wladimir Koppen, 
    seorang ahli klimatologi dari Austria, membagi iklim di muka bumi atas dasar rata-rata suhu udara dan curah hujan bulanan atau tahunan. W.Koppen berpendapat bahwa suatu iklim termasuk basah atau kering ditentukan oleh indeks hujan. Klasifikasi iklim menurut Koppen terdiri atas :
  • Iklim A (Tropis), yaitu daerah bersuhu 18oC untuk bulan terdingin
  • Iklim B (Tundra dan Kutub), yaitu darah bersuhu 10oC untuk bulan terpanas
  • Iklim C dan D untuk iklim sedang atau iklim Ugahari
   Iklim C menempati pinggiran benua yang dipengaruhi iklim laut, sehingga disebut iklim sedang yang hangat. Iklim D menempati pedalaman benua, sehingga dinamakan iklim hutan salju atau boreal. Adapun batas antara iklim C dan D ada pada daerah bersuhu -3oC untuk bulan terdingin.
   Berdasarkan klasifikasi tersebut diatas, Indonesia termasuk Iklim A (Tropis). Menurut W.Koppen Iklim A dapat dikelompokkan menjadi beberapa daerah, sebagai berikut :
  • Iklim hujan tropis (Af) meliputi beberapa daerah yang bercurah hujan tinggi. Daerah yang bercurah hujan tinggi terdapat di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua.
  • Iklim Sabana (Aw) meliputi daerah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya.
  • Iklim Laut basah (Cf) meliputi hampir seluruh kepulauan Indonesia terutama Sumatera, Kalimantan dan Papua.
  • Iklim salju abadi (Ef) terdapat di puncak pegunungan Jayawijaya (Papua).

Iklim menurut Schmidt - Ferguson
2. Schmidt - Ferguson
   Membagi kriteria iklim sebagai berikut :
  • Bulan basah, artinya suatu daerah yang dalam satu tahun curah hujannya lebih besar dari 100 mm/ bulan.
  • Bulan lembab artinya suatu daerah yang dalam satu tahun curah hujannya antara 60 sampai dengan 100 mm/ bulan.
  • Bulan Kering, artinya suatu daerah yang dalam satu tahun memiliki curah hujan kurang dari 60 mm/bulan. 
Untuk menentukan iklim dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :
Q  =  Rata-rata bulan kering    x  100 %
         Rata-rata bulan basah
Contoh : 
Di daerah Wonogiri, Jawa Tengah antara tahun 1992 sampai tahun 2001 dalam waktu 10 tahun = 120 bulan tercatat bulan kering 34, jumlah bulan lembab 12, dan jumlah bulan basah 74. 
Dari data tersebut dapat dihitung sebagai berikut :
                          Q  = 3,4    x 100%  =  45,94%
                                  7,4
Dari hasil penghitungan tersebut diatas, menurut Schmidt - Ferguson, daerah Wonogiri termasuk iklim C atau agak basah.

3. Oldeman.
  Oldeman membagi kriteria iklim dengan pedoman jumlah bulan basah secara berurutan yaitu :
  • Bulan basah, artinya suatu daerah dalam satu tahun memiliki curah hujan lebih dari 200 mm/ bulan.
  • Bulan lembab, artinya suatu daerah dalam satu tahun memiliki curah hujan antara 100 sampai dengan 200 mm/ bulan.
  • Bulan kering artinya suatu darah dalam satu tahun memiliki curah hujan kurang dari 100 mm/ bulan.
Prinsip dasar penentuan iklim menurut Oldeman adalah jika bulan basah berturut-turut sebagai berikut :
  • Iklim A jika jumlah bulan basah suatu darah berturut-turut lebih dari 9 bulan.
  • Iklim B jika jumlah bulan basah suatu daerah berturut-turut antara 7-9 bulan.
  • Iklim C jika jumlah bulan basah suatu daerah berturut-turut antara 5-6 bulan
  • Iklim D jika jumlah bulan basah suatu daerah secara berturut-turut antara 3-4 bulan.
  • Iklim E jika jumlah bulan basah suatu daerah secara berturut-turut kurang dari 3 bulan.
Contoh :
Di daerah Wonogiri, Jawa Tengah antara tahun 1994 sampai tahun 2003 (dalam waktu 10 tahun) tercatat rata-rata data curah hujan sebagai berikut :
Jan
Feb
Mar
Apr
mei
Juni
Juli
Agst
Sept
Okt
Nop
Des
347
355
274
162
136
115
61
17
50
107
205
253
B
B
B
L
L
L
K
K
K
L
B
B
Keterangan :
B (Basah), L (Lembab),  K (Kering)
Memperhatikan data tersebut diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa di daerah Wonogiri, Jawa Tengah menurut Oldman termasuk Iklim C.

Iklim menurut Junghuhn
4. Junghuhn
  Klasifikasi Iklim menurut Junghun berdasarkan pada ketinggian suatu tempat dan jenis tumbuhan yang cocok tumbuh di suatu daerah. Junghuhn mengklasifikasikan daerah iklim di pulau Jawa secara vertikal sesuai dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan, yaitu sebagai berikut :
  • Daerah panas atau tropis, tinggi tempat antara 0 - 600 meter diatas permukaan laut, suhu udara antara 26o C - 22o C. Tanaman yang tumbuh antara lain : Padi, tebu, Kelapa, Jagung , karet dan tanman palawija
  • Daerah sedang, tinggi tempat antara 600 - 1500 meter diatas permukaan laut. Suhu udara antara 22o C - 17,1oC, tanaman yang tumbuh antara lain tembakau, teh, kopi, coklat, kina dan sayur-sayuran.
  • Daerah sejuk, tinggi tempat antara 1500 - 2500 meter diatas permukaan laut, Suhu udara antara 17,1o - 11,1o C. Tanaman yang tumbuh antara lain pinus dan cemara.
  • Daerah dingin, tinggi tempat lebih dari 2500 meter di atas permukaan laut, tidak ada tanaman budi daya kecuali semakbelukar, Cantigi, dan tumbuhan gunung lainnya.

Selasa, 03 Desember 2013

BADAI : GEJALA CUACA YANG MENYEBABKAN BENCANA

    Badai adalah gejala pada atmosfer yang ditandai dengan angin kencang beserta hujan, salju, debu, guntur atau petir. Kekuatan angin yang mencapai lebih dari 103 km perjam pada skala Beaufort sudah dapat dikatagorikan sebagai badai. Oleh karena itu, badai sering kali menimbulkan banyak kerusakan hebat.
Badai Petir
     Badai terjadi karena perbedaan tekanan atmosfer antara daerah pusat badai dan daerah badai. Daerah pusat badai mempunyai temperatur udara yang lebih tinggi daripada daerah badai. Selain itu tekanan atmosfer di daerah pusat badai juga lebih rendah dibandingkan daerah badai. Akibatnya, angin dengan kecepatan tinggi akan bertiup di daerah badai.
Puting beliung

Taifun
    Badai siklon tropis atau taifun adalah badai yang terjadi di perairan tropis,sekitar 5o - 30o Lintang Utara (LU) dan Lintang Selatan (LS). Doldrum atau daerah di Khatulistiwa merupakan daerah pusat badai. Di daerah ini angin bertiup dengan kecepatan rendah atau sepoi-sepoi. Adapun di daerah badai, angin bertiup dengan kecepatan lebih dari 117 km per jam. Di belahan bumi selatan, angin bergerak searah jarum jam, sedangkan di belahan bumi utara angin bergerak berlawanan arah dengan jarum jam. Badai siklon tropis dapat menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang besar karena badai ini sering disertai dengan badai salju, banjir, dan tanah longsor.
Tornado

Tornado
    Dari semua jenis badai, tornado atau angin puyuh termasuk yang paling dahsyat. Angin ini berbentuk seperti corong udara yang tinggi di bawah awan badai. Tornado dapat berputar dengan kecepatan 480 km per jam sehingga mampu menyapu bangunan yang dilewatinya. Biasanya, tornado terjadi pada saat musim semi atau awal musim panas. Beberapa negara yang sering dilanda tornado antara lain Amerika Serikat (AS), Australia, Cina, India, Bangladesh, Rusia, Jerman dan Inggris. Badan meteorologi dapat meramalkan terjadinya tornado 12-48 jam sebelumnya melalui data satelit cuaca atau radar cuaca konvensional misalnya radar Doppler.
Badai Salju

Badai Salju
    Tiupan angin dingin yang kencang disertai turunnya salju dapat menyebabkan badai salju. Badai ini terjadi karena adanya aliran udara dingin dari daerah kutub ke daerah subtropis. Badai salju bertiup dengan kecepatan lebih dari 56 km per jam dan temperatur hingga -12o C. Negara-negara yang sering terjadi badai salju antara lain Amerika Serikat, Kanada dan Rusia. Badai ini mengakibatkan berhentinya kegiatan transportasi dan ekonomi selama beberapa hari.
Badai debu

Badai Debu
    Badai debu adalah angin kencang yang disertai dengan partikel-partikel debu yang mengambang di udara. Badai ini sering terjadi dilahan yang kering dan jarang ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan, misalnya gurun pasir. Badai debu dengan ketinggian sekitar 300 m bisa membawa sekitar 4.000 ton partikel per km2. Wilayah yang sering dilanda badai debu antara lain adalah Afrika bagian Utara dan Asia.

Penggolonagan Badai menurut Skala Saffir-Simpson

  • Golongan 1 kecepatan angin 74-95 mil/jam
  • Golongan 2 kecepatan angin 96-110 mil/jam
  • Golongan 3 kecepatan angin 111-130 mil/jam
  • Golongan 4 kecepatan angin 131-155 mil/jam
  • Golongan 5 kecepatan angin lebih dari 155 mil/jam

Rabu, 23 Maret 2011

EL NINO : GEJALA NAIKNYA TEMPERATUR BUMI

    El Nino adalah arus panas di Samudera Pasifik yang mengalir ke selatan di sepanjang pantai barat Amerika Selatan. Arus ini menghangatkan perairan dingin di lepas pantai Ekuador dan Peru. Arus ini disebut El Nino, yang dalam bahasa spanyol bermakna "sang bayi kristus", karena sering muncul di sekitar hari Natal.
    Suhu panas yang ditimbulkan El Nino dapat mematikan banyak ikan dan burung laut karena menghambat naiknya perairan dingin yang kaya nutrisi ke permukaan. Gerakan udara El Nino dapat membawa uap air yang mengakibatkan banjir dan topan, sementara gerakan udara panasnya mengakibatkan kekeringan dan meningkatkan suhu di beberapa tempat.

Gelombang El Nino di awali di Samudera Pasifik
Proses El Nino
    El Nino merupakan interaksi antara atmosfer tropis dan samudera tropis setiap dua hingga tujuh tahun sekali. Perubahan tekanan udara di atas Samudera Pasifik tropis menyebabkan angin tropis bertiup menuju khatulistiwa dari timur laut di belahan bumi utara atau dari tenggara di belahan bumi selatan. Hal ini mengakibatkan perairan hangat permukaan samudera bergerak dari Pasifik tropis barat menuju Pasifik tropis timur. Arus El Nino mengakibatkan suhu permukaan laut lebih rendah dari biasanya di Pasifik tropis barat dan menjadi lebih tinggi dari biasanya di Pasifik tropis timur.
 El Nino Mendatangkan Badai
    Perubahan suhu permukaan laut mengubah sirkulasi atmosfer pada kawasan lintang tengah tropis sehingga menimbulkan cuaca ekstrem. Hujan lebat membasahi daratan pesisir barat Amerika Selatan yang biasanya kering, musim kemarau berlangsung di Hawai dan Australia Timur, dan musim dingin lebih basah dari biasanya di sepanjang pesisir Teluk Meksiko.

 Perbandingan situasi normal dan pada saat terdampak El Nino

Proses terjadinya El Nino

La Nina
    La Nina adalah kebalikan dari El Nino, yaitu gejala menurunnya suhu permukaan laut di Samudera Pasifik. Pada umumnya El Nino selalu diikuti oleh La Nina. Arus La Nina mengakibatkan curah hujan menjadi tinggi dan dapat menimbulkan banjir. La Nina dalam bahasa Spanyol bermakna " gadis kecil ".
El Nino selalu diikuti dengan La Nina

Dampak El Nino dan La Nina
    Dampak fenomena El Nino dan La Nina tidak terbatas hanya pada daerah pantai Ekuador tetapi secara berkaitan akan mempengaruhi kondisi cuaca global. Gangguan terhadap pola cuaca lokal dapat memberikan konsekuensi yang merugikan perekonomian. Dampak lansung maupun tidak langsung dari El Nino dan La Nina adalah bertambahnya curah hujan dan kekeringan, terganggunya aktivitas transportasi darat, laut dan udara, terganggunya kegiatan pertanian, industri, lingkungan biotik dan abiotik, rusaknya infrastuktur serta terganggunya kondisi kesehatan.

Dampak kerugian akibat El Nino

    Intensitas dampak tergantung pada intensitas El Nino dan La Nina. Dampak El Nino yang paling buruk terjadi pada tahun 1982 dan 1983 yang mengakibatkan kemarau luar biasa panjang di Australia dan Indonesia. Selain itu juga, El Nino pernah juga menimbulkan badai dahsyat di California, Amerika Serikat pada tahun 1983.