"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)
Tampilkan postingan dengan label PENDAKI YANG TEWAS DAN HILANG DI CIREMAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDAKI YANG TEWAS DAN HILANG DI CIREMAI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Januari 2013

LAGI PENDAKI TEWAS DI CIREMAI (BAGIAN 3)

Pendaki Gunung Ciremai Tewas, Diduga Kelelahan


KUNINGAN, (PRLM).- Ian Ahdiansyah (22) mahasiswa tingkat akhir jurusan keperawatan Sekolah Tinggi Kesehatan Kuningan (STIKKU) meninggal dunia dalam perjalanan turun sehabis mendaki puncak Gunung Ciremai di Kab. Kuningan, Jumat (4/1/13) siang. Warga Dusun Manis, RT 2 RW 1, Desa Segong, Kec. Karangkancana, Kab. Kuningan itu, diduga mengalami kelelahan dan kedinginan di gunung dan meninggal dunia ketika tengah dilarikan dari Pos Pendakian menuju rumah sakit Cigugur, Kuningan.
Menurut keterangan yang diperoleh "PRLM" dari Pos Pendakian Gunung Ciremai Jalur Palutungan, korban berangkat mendaki Ciremai bersama empat orang rekan sekampusnya. Masing-masing Ipang Abdulharis (21), Nursoleman (21), Sastriadi (22), dan Asep Triana (22).
Kelompok pendaki beranggotakan lima orang mahasiswa tingkat akhir jurusan Keperawatan STIKKU itu, berangkat mendaki dari Dusun Palutungan Kamis (3/1) siang sekitar pukul 12.00 WIB., setelah sebelumnya mendaftar dulu dan membayar tiket pendakian di Pos Palutungan. Saat itu mereka melakukan perjalanan pendakian langsung menuju puncak Ciremai berketinggian sekitar 3.078 meter di atas pemukaan laut (mdpl).
"Kami berlima kemarin tiba di puncak Ciremai malam hari sekitar pukul 19.00 WIB. Di puncak kami hanya sebentar. Setelah masak dan makan, kami berlima segera turun lagi menuju Pos Palutungan," ujar Ipang dengan nada bicara terbata-bata menahan kepiluan atas kepergian rekannya itu, di kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) Resort Cigugur, Jumat (4/1/13) sore.
Namun, menurut Ipang dan tiga rekannya, saat tiba di Pos Pasanggrahan (2.450 mdpl), Ian yang baru pertama kali mendaki gunung mengeluh menyatakan mengantuk dan sakit kepala. "Karena itu, kami memutuskan beristirahat dan menggelar tenda di Pasanggrahan, dan Ian pun sempat tidur beristirahat selama sekitar satu jam di dalam tenda," kata Ipang, dibenarkan tiga rekannya.
Setelah itu, Ian terbangun dari tidurnya dan menyatakan sudah bugar kembali. Atas kesepakatan bersama, malam itu Ian bersama empat rekannya lalu membongkar tenda dan melanjutkan perjalanan turun gunung.
Dalam perjalanan melanjutkan turun melewati sejumlah pos atau tempat peristirahatan pendaki, menurut mereka, kondisi fisik Ian terlihat stabil melangkah tanpa keluhan mengimbangi rekan-rekannya. Bahkan, masih mampu membawa ransel berisi perelengkapan mendaki serta sisa logistik perbekalannya.
Akan tetapi, ketika sudah melewati Pos Kuta (1.575 mdpl.) mendekati Pos Cigowong (1.450 mdpl.)Ian kembali mengeluh ngantuk dan sakit kepala, bahkan kondisi fisiknya melemah hingga tidak mampu lagi berjalan sendiri. "Karena pos Cigowong sudah sangat dekat, saat itu Ian kami gendong ke Pos Cigowong. Kemudian setibanya di Pos Cigowong kami segera menggelar tenda dan menidurkan Ian di dalam tenda," ujar Ipang, seraya menyebutkan mereka tiba di Pos Cigowong menggelar tenda Jumat (4/1/13) dini hari sekitar pukul 1.00 WIB.
Namun, beberapa saat kemudian di dalam tenda itu Ian mengalami pingsan dan hingga menjelang terbit matahari, tak kunjung siuman. Khawatir terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap Ian, dua rekannya segera turun ke Palutungan dan meminta bantuan kepada Sandi Aditia (Baron) salah seorang anggota Mitra Pengelola Pendakian Gunung Ciremai (PPGC) Palutungan.
Mendapat laporan tersebut, Baron disertai 10 personel PPGC Palutungan segera berangkat mendaki ke Pos Cigowong. "Ketika kami tiba di Cigowong sekitar pukul 8.00 WIB., kami menemui Ian dalam kondisi pingsan ditunggui tiga rekannya di dalam tenda," ujar Baron.
Baron bersama 10 rekannya, kemudian mengevakuasi Ian ditandu turun dan tiba di Pos Palutungan, sekitar pukul 11.15 WIB., dan langsung dilarikan menuju rumah sakit Sekarkamulyan Cigugur menggunakan mobil angkutan umum. Saat dievakuasi ke Palutungan hingga dinaikan ke mobil yang membawanya, menurut Baron dan Ipang, Ian masih bernafas. Namun sebelum tiba ke rumah sakit tersebut, Ian keburu menghembuskan nafas terakhirnya.
Kasus kematian pendaki tersebut juga dibenarkan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Kuningan dari BTNGC Mokh Rifdwan Effendi. Ia menyatakan, Ian dan kelompoknya mendaki Ciremai dengan cara mendaftar resmi. "Penyebab pasti kematiannya sementara ini belum kami ketahui, dan saat ini masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian," ujar Mokh Ridwan, seraya menyatakan pihaknya akan segera mengurus santunan asuransi atas kematian pendaki tersebut.
Sementara itu, jenazah Ian Jumat siang telah dibawa pulang keluarganya ke Karangkancana untuk dimakamkan di alamat desanya. Sementara, empat rekannya Jumat sore telah dijemput dan dibawa pulang oleh Dosen Pembina Kemahasiswaan STIKKU Didin Saefudin, dari kantor BTNGC Resort Cigugur. (A-91/A-108)***

Senin, 11 Juni 2012

PENDAKI HILANG DI GUNUNG CIREMAI (BAGIAN2)

Senin, 20 Februari 2012 22:34 WIB

Petugas Berhasil Temukan Empat Pendaki Yang Tersesat

Gunung Ciremai
KUNINGAN, (CNC).- Tim Satgas dari Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Linggarjati, Senin (20/2) sekitar pukul 08.30 WIB, menemukan empat pendaki Gunung Ciremai asal Jakarta yang dilaporkan hilang Minggu malam.
Keempat pendaki tersebut yaitu Sabda Anugerah (23 tahun), Aga Prasetyadi (20 tahun), Alan Maulani (20 tahu), dan Yusuf Sumantri (26 tahun), semuanya warga Jalan Kalipasir, Cinere, Jakarta Pusat. Keempat pendaki tersebut tersesat saat turun gunung karena keluar jalur akibat petunjuk arah yang hilang akibat banyak pohon tumbang.
"Kami turun dari puncak sekitar pukul 02.00 WIB dengan mengambil jalur Linggarjati. Namun saat memasuki daerah Bapatere, kami mulai bingung karena banyak petunjuk arah yang hilang karena tertimpa pohon tumbang. Solusinya kami hanya mengandalkan kompas yang ada pada handpone kami," ungkap Sabda saat tiba di Pos Pendakian Linggarjati.
Menurut Sabda, pendakian dimulai pada hari Sabtu siang melalui jalur Apuy, Majalengka. Mereka tiba di puncak Gunung Ciremai pada hari Minggu sekitar pukul 10.00 WIB, kemudian setelah beristirahat sebentar, langsung melanjutkan perjalanan untuk pulang sekitar pukul 14.00 WIB. Dengan mengandalkan kompas pada handphone dan peta buta yang terdapat pada brosur yang diberikan petugas saat di Pos 1 Apuy, keempat pendaki ini berusaha turun. Namun bukan jalan pulang yang mereka lalui, melainkan jalan yang membawa mereka semakin jauh dari jalur hingga berada di tengah hutan Ciremai yang berkabut.
Menyadari perjalanan mereka tersesat, sekitar pukul 18.00 WIB, salah seorang pendaki memutuskan mencari pertolongan dengan menghubungi nomor telepon Pos Pendakian yang terdapat pada brosur. Namun ternyata nomor teresebut tidak dapat dihubungi karena tidak terdaftar. Kemudian mereka pun menghubungi keluarganya di Jakarta untuk meminta bantuan pihak kepolisian dan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) untuk pencarian.
"Beruntung handphone kami masih aktif dan ada sinyal, sehingga kami pun menghubungi orang tua kami untuk minta bantuan pencarian. Untuk menjaga komunikasi tetap lancar, kami melakukan komunikasi hanya melalui SMS agar batere tidak cepat habis," kata Sabda yang masih berstatus mahasiswa di Jurusan Teknik Informatika STMIK Jakarta.
Sementara itu Pos 1 pendakian jalur Linggarjati yang mendapat laporan dari keluarga, segera melakukan pencarian. Sebanyak lima orang petugas berangkat melakukan pencarian pada hari Senin dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.
Para pendaki tersebut ditemukan di daerah Pangalap pertengahan atau sekitar 2 Km dari jalur seharusnya. Mereka ditemukan dalam keadaan perbekalan hanya tersisa 3 bungkus mie instan dan sedikit air mineral dalam botol. (Yuri/Job)

Tersesat di Ciremai

Korban Selamat: Pendakian Dalam Rangka Pelatihan Kader PKS

Reno Nugroho - detikNews
Selasa, 26/05/2009 16:04 WIB
Kuningan Widianto, korban selamat dari pendakian kader PKS di Gunung Ciremai berbagi cerita. Dia menuturkan bila kegiatan yang dilakukan dalam rangka pelatihan kader.

"Kita sedang melakukan pelatihan, dan sebenarnya sudah selesai dan hendak pulang," kata pria yang akrab disapa Widi saat ditemui di RS 1945 Kuningan, Jawa Barat, Selasa (26/5/2009).

Saat itu, di kawasan Sangga Buana, pada Sabtu 23 Mei sore sebenarnya rombongan sudah hendak pulang. Tapi saat tengah beristirahat, pimpinan rombongan tertimpa musibah.

"Ustadz Iwan tiba-tiba berdiri dan jalan, kemudian menjatuhkan diri ke jurang," kata Widi.

6 Anggota yang lain panik, kemudian melakukan pertolongan mengangkat Iwan, yang juga pengurus PKS di Kota Bekasi dari jurang sedalam 7 meter.

"Ustadz luka parah, kemudian kami memutuskan untuk mencari pertolongan," tutur Widi yang masih mengenakan kaus PKS ini.

5 Rekan Widi, termasuk Iwan berdiam di Sangga Buana, sedang dia dan seorang pemandu warga setempat bernama Fredi turun ke bawah. Dan saat turun ke bawah, mereka tersesat.

"Kami sempat bertemu seorang petani, berusia 60 tahun yang memakai baju putih dan berambut putih, saat kami tanya arah dia mengaku tidak tahu," tambah Widi.

Konon, cerita penduduk setempat kakek itu merupakan salah satu penunggu Gunung Ciremai. Dan bila pendaki menyapa kakek tersebut akan semakin tersesat.

"Akhirnya kami lemas dan tersesat, sampai ditemukan Tim SAR," tutupnya.

Widi masih menjalani perawatan karena kelelahan dan faktor penyakit radang ususnya. Diperkiarkan lusa dia bisa pulang ke Bekasi. Kini di rumah sakit, sejumlah kader PKS juga ikut menunggui Widi.

(ndr/irw)

Sumber Referensi : Detik.News

Senin, 04 Juni 2012

PENDAKI TEWAS DI GUNUNG CIREMAI (BAGIAN 2)

KUMPULAN BERITA DARI GUNUNG CIREMAI

Terjungkal ke Kawah Ciremai, Kuswandi Tewas




Evakuasi Jenazah Kuswandi

Liputan6.com, Kuningan: Kuswandi, seorang pendaki asal Cirebon tewas setelah terjungkal ke kawah Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Jenazah korban yang dinyatakan hilang tiga hari silam tersebut baru bisa dievakuasi, Kamis (1/11) petang, karena medan yang sulit dan cuaca buruk. Saat ditemukan, kondisi korban sangat mengenaskan dengan luka di kepala serta patah tangan dan kaki.

Proses evakuasi dilakukan Tim Search and Rescue (SAR) dari Kelompok Akar Kuningan, Wanadri Bandung, Keluarga Besar Pecinta Alam Pandawa, dan Mapala Amic Cirebon sejak Kamis siang dan selesai malam hari. Penyebab lamanya evakuasi tersebut adalah keberadaan jenazah korban sejauh 300 meter di bawah bibir kawah. Menurut Komandan Tim SAR Aktivitas Anak Rimba Amalo, korban mendaki gunung tertinggi di Jabar tersebut sejak Jumat pekan silam, bersama lima temannya.

Saat itu, mereka menempuh jalur Sadarehe, Kecamatan Rajagaluh yang jarang dilalui pendaki. Untungnya, mereka selamat sampai Puncak Ciremai. Namun, ketika meniti bibir kawah, Kuswandi terpeleset dan jatuh ke dalam kawah. Berdasarkan catatan SCTV, dalam waktu 10 tahun terakhir sebanyak 20 orang tewas di Gunung Ciremai sejak 1990 silam hingga 2001 ini. Dari rentang waktu tersebut, korban terbanyak ada pada 1990, ketika sembilan peziarah asal Karawang tewas di tempat tersebut.(SID/Ridwan Pamungkas)

MEREKA YANG TEWAS DI CIREMAI

Tewasnya Mad Rizal menambah daftar pendaki yang tewas di gunung. Tim SAR Wanadri pada periode 2000-2002 mencatat beberapa peristiwa kecelakaan gunung. Umpamanya, pada 11 Februari 2001, lima orang meninggal akibat tersesat dan terjebak badai di Gunung ini. Sebulan kemudian, tepatnya pada 23 Maret, satu orang tewas akibat tersesat . Masih di tahun yang sama, dua bulan kemudian (20 Juli), Gunung Ciremai (3078 mdpl) meminta korban dua orang tewas terjatuh ke kawah.

Sementara, yang tidak diketahui tanggal pastinya, ada tiga peristiwa. Antara lain tahun 2002 (3 orang tersesat, 2 di antaranya tewas), sedangkan (1 orang tewas terjatuh ke jurang).
Berdasarkan Catatan Tim Sar Kuningan sejak tahun 1973 hingga tahun 2009 jumlah korban tewas di Gunung Ciremai sudah melebihi 50 orang pendaki, terbanyak jatuh kedalam kawahnya yang sangat dalam. Sisanya karena terserang badai, tersesat, kedinginan dan tahun 2010 2 pendaki tewas karena tertimpa pohon pinus.

 NUSANTARA - JABAR
Minggu, 14 Agustus 2011 , 01:12:00
Kritis Dua Pendaki Ciremai Dievakuasi

CIREBON – Juarni (22), mahasiswa pecinta alam (Mapala) Pataga Untag 45 Samarinda, Kalimantan, tergeletak lemas di RSUD Gunung Jati, Sabtu (13/8). Selain Juarni, pendaki lainnya yakni Peni dari Himapa Bandung, jatuh pingsan. Keduanya dievakuasi dari kawasan puncak pendakian, karena kritis terkena Hipotermia. 
 
Keduanya bersama lima teman lainnya berencana mendaki puncak Gunung Ciremai menjelang 17 Agustus. Hanya, karena kondisi kesehatan dua pendaki tersebut, pendakian ke puncak Gunung Ciremai diurungkan. Beruntung, kedua korban berhasil diselamatkan tim evakuasi dari Mapala Wilayah Cirebon bersama Pengelola Pendakian Gunung Ciremai (PPGC). Meskipun proses evakuasi kedua korban harus dipandu dari mulai kawasan Palutungan.

Menurut Arif, anggota Mapala Gunati Unswagati Cirebon, tim pendakian Gunung Ciremai berjumlah 7 orang, 2 anggota Mahapeka IAIN SNJ Cirebon, 1 anggota Pataga Cirebon, 2 anggota Pataga Samarinda, 1 anggota Mahameru, dan 1 anggota Himapa Bandung.    
Sebelum mencapai puncak, tim pendaki mengabarkan kepada Mapala yang berada di Cirebon dan Kuningan, Jumat malam (12/8), sekitar pukul 21.00. ”Saat itu juga kami langsung meluncur ke lokasi sekitar pukul 02.00 dini hari,” kata pria yang juga menjadi salah satu tim evakuasi korban, kepada Radar Cirebon (JPNN Group).

Arif menuturkan, proses evakuasi dilakukan dengan sistem estapet. “Untuk menghemat tenaga tim evakuator. Karena harus melewati empat pos dari lokasi kejadian, dalam proses evakuasi,” ujarnya.
Hari Sabtu (13/8) sekitar pukul 11.30, kata Arif, korban baru bisa dievakuasi di Palutungan dan kemudian dilarikan ke RSUD gunung Jati Cirebon.

Terkait dengan jatuhnya korban, Otang, anggota Mapala Gunati berharap, kepada Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), untuk lebih meningkatkan safety procedure untuk semua pendaki. “TNGC juga mestinya membuat TIM SAR pendakian. Karena selama ini belum ada penanganan sistematis dari TNGC ketika ada korban,” katanya.

Juarni, saat ditemui Radar di ruang perawatan, Kembang Sepatu, kamar 3 RSUD Gunung Jati mengaku masih merasakan mual-mual. Saat kejadian, dirinya mengalami penurunan daya tubuh. “Sebenarnya, dari bawah tidak ada masalah, tapi saat mendekati puncak suhu udara semakin dingin, saya tidak kuat,” ucapnya. (hsn)

Sumber Referensi : Liputan6.Com,Nusantara.Com

Minggu, 03 Juni 2012

PENDAKI HILANG DI GUNUNG CIREMAI

Lima Pendaki Ciremai Berhasil Dievakuasi  

  KUMPULAN BERITA DARI GUNUNG CIREMAI

TEMPO Interaktif, Kuningan - Sebanyak lima pendaki Gunung Ciremai yang sempat dinyatakan tersesat dan hilang akhirnya berhasil dievakuasi. Seorang pendaki kondisinya sangat parah bahkan hingga mengalami muntah darah.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun tim SAR akhirnya berhasil melakukan evakuasi terhadap lima pendaki pada Selasa malam (5/1) sekitar pukul 22.30 WIB di Kampung Cisabrang, Desa Trijaya, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan. Mereka langsung dibawa ke RSUD 45 Kuningan di Jalan Raya Bandorasa, Cilimus menggunakan empat ambulans.
Gunung Ciremai
Berdasarkan pantauan, dari lima pendaki yang sempat tersesat hanya seorang pendaki yang terlihat masih dalam kondisi sehat yaitu Mahu, 22. Sedangkan tiga lainnya langsung diinfus untuk memberikan cairan ke dalam tubuh mereka. Kondisi terparah dialami Maskom. Ia mengalami kedinginan dan selalu menggigil, di hidungnya keluar darah segar dan juga berkali-kali muntah darah. Ia pun langsung dirawat intensif namun langsung dirujuk di RSUD Gunung Jati, Cirebon untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.
Ketua Basarnas Cirebon, Suyatno, menjelaskan pos sempat kehilangan kontak dengan tim SAR pencari di Gunung Ciremai. "Cuaca yang tidak mendukung, kabut tebal dan hujan deras sempat membuat kami kehilangan kontak dengan tim pencari," katanya.
Namun pada Selasa sore sekitar pukul 18.00 WIB komunikasi sudah normal dan diketahui kondisi pendaki sudah sangat memprihatinkan. "Akhirnya diputuskan malam itu juga harus langsung dilakukan evakuasi," katanya.
Namun pada Selasa sore sekitar pukul 18.00 WIB komunikasi sudah normal dan diketahui kondisi pendaki sudah sangat memprihatinkan. "Akhirnya diputuskan malam itu juga harus langsung dilakukan evakuasi," katanya.
Seorang pendaki yang masih dalam kondisi sehat, Mahu, mengungkapkan mereka tersesat. "Kami tidak tahu harus jalan kemana, karenanya seorang di antara mereka langsung mengirimkan sms ke keluarganya untuk memberitahukan ke pos penjaga jika mereka tersesat. "Kami sempat bertemu dengan tim pencari di Pengasinan, dan Alhamdulillah sekarang sudah bisa turun dengan selamat," katanya.
Seperti diberikan sebelumnya lima pendaki asal Desa Gempol, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon masing-masing Mahu,22, Budiman,25, Kadnila,22, Maskom,18 serta Wahyu,17 bermaksud untuk melewatkan malam tahun baru di Gunung Ciremai. Mereka berangkat pada Kamis (31/12) lalu namun melalui jalur pendakian ilegal, yaitu jalur Pajajar, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka.
Pada Senin (4/1) mereka sebenarnya berhasil ditemukan di Blok Pengasinan atau sekitar 2.700 meter diatas permukaan laut sekitar pukul 10.30 WIB. Namun evakuasi baru berhasil dilakukan pada Selasa malam (5/1). 

TIM SAR SELAMATKAN EMPAT PENDAKI CIREMAI

Kuningan [SuaraMajalengka] - Empat pendaki Gunung Ciremai, tersesat dalam perjalanan turun dari puncak gunung tersebut sejak Senin (9/4/12) siang. Beruntung keempat pendaki berstatus mahasiswa itu berhasil ditemukan Selasa (10/4/12) pagi. Mereka diselamatkan tim Search And Rescue (SAR). Keempat pendaki tersebut, dua di antaranya laki-laki Alya Izet (20), mahasiswa tingkat II jurusan Manajemen, Universitas Indonesia (UI), warga Jalan Srengseng Sawah, Jagaraksa, Jakarta Selatan, dan Ihsan Averroes (20) mahasiswa tingkat II Jurusan Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung, Jalan Gandaria, Jagaraksa, Jakarta Selatan.
Puncak CiremAdd caption

Dua orang lagi perempuan, masing-masing Muthia (20) mahasiswi tingkat II jurusan Akuntansi UI, warga Jalan Halmahera, Kelurahan Beji, Kota Depok, dan Anisa Triwardani (19) mahasiswi tingkat II, Fakultas Ekonomi UI, warga Jatiwaringin Asri, Pondok Gede, Bekasi.

Saat ditemui "PRLM" dalam perjalanan turun dalam panduan Tim SAR di lereng Ciremai, Selasa (10/4/12) sore, mereka menyebutkan, keempatnya memulai pendakian menuju Puncak Ciremai dari Pos Pendakian Desa Linggasana, Kec. Cilimus, Kab. Kuningan, pada Sabtu (7/4/12) pukul 7.00 WIB.

Dari desa itu mereka langsung meniti jalur pendakian Linggasana (jalur pendakian resmi baru di sebelah selatan jalur Linggajati yang bertemu dengan jalur Lingajati di sekitar tanjakan Kondangamis pada ketinggian sekitar 1.350 meter di atas permukaan laut (mdpl), menuju puncak 3.078 mdpl.

"Dalam perjalanan pendakian itu, kami sempat ngekamp (kemping istirahat-red.) dulu semalam di sekitar Blok tanjakan Bapa Tere mendekati Blok Batu Lingga, dan baru sampai ke puncak pada Minggu (8/4) sore sekitar pukul 14.30 WIB.," ujar Alya Izet dibenarkan tiga rekannya itu.(pr/sm)


"Para Pendaki Harus Ditemukan Hari Ini"

Lima pendaki dalam keadaan lemas. "Jika tidak cepat ditemukan, mungkin ada yang tewas."

Selasa, 26 Mei 2009, 09:27 WIB
 
BERITA TERKAIT
BEKASI (Pos Kota)-Tujuh pendaki gunung yang tersesat di kawasan Gunung Ciremai, adalah kelompok pengajian yang juga simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Bekasi.

VIVAnews - Sampai tadi malam, lima pendaki masih dinyatakan hilang di Gunung Ciremai, Jawa Barat. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Mukhtadin Nafari, pemerintah berinisiatif membentuk tim gabungan untuk mencari mereka.

"Tim gabungan memaksakan hari ini harus ketemu," kata Mukhtadin ketika dihubungi VIVAnews, Selasa 26 Mei 2009. Seba, menurut keterangan dua orang yang selamat yakni Fredy (27) pemandu lokal yang beralamat di  Desa Cupang, Cirebon dan Widi (35), warga Perumnas Master, Karangsatria, Tambun Selatan, kelima rekannya dalam keadaan lemas.
Jalur Menanjak Gunung Ciremai


Saking lemasnya, kelimanya tidak bisa bergerak. Fredy dan Widi lantas meninggalkan mereka di sebuah ceruk, lalu keduanya turun mencari bantuan. "Jika tidak cepat ditemukan, mungkin ada yang tewas," kata Mukhtadin.

Ditambahkan dia, tim saat ini bergerak cepat. Sejak pagi tadi, tim gabungan yang terdiri dari Wanadri, SAR, tim kesehatan, TNI, satuan kehutanan, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, dan sejumlah sukarelawan sudah naik gunung mencari keberadaan kelima pendaki yang tewas tersebut. "Kami harus bertindak cepat," tambah dia.

Lima pendaki yang masih dinyatakan hilang adalah  Iwan (35) warga Perumnas III Bekasi, Dedi (28) warga Perumnas III, Bekasi, Darso (36) warga Perumnas Master, Karangsatria, Tambun Selatan,  Abdul Hatni (33) warga Perumnas III, Jalan Maluku, Bekasi, dan Gembong (27) warga Jalan Irigasi, Margahayu, Bekasi Timur.

Menurut keterangan, para pendaki yang merupakan grup pengajian berangkat bersama-sama menuju puncak Gunung Ciremai pada Jumat 22 Mei 2009, mereka menggunakan jalur resmi pendakian.

Gunung Ciremai secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Gunung tersebut memiliki ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut.

7 Simpatisan PKS Tersesat di Gunung Ceremai

7 Simpatisan PKS Tersesat di Gunung Ciremai
Kepastian itu setelah Chaidir Agam, Humas PKS Kota Bekasi saat dihubungi Pos Kota membenarkan. “Mereka bukan pengurus, hanya simpatisan dan kader PKS saja,” ujarnya. Dia juga mengaku kepergian mereka untuk mendaki bukan atas nama kader, apalagi PKS. “Mereka hanya ingin refresing,” ujarnya.
Ketujuh orang yang tersesat itu Iwan Kurniawan, 30, Widi, 26, Darso, 27, Abdul Hatni, 26, Gembong, 27, Predi, 28,  dan Didi Kusuma, 26. Belakangan Iwan, warga Durenjaya Bekasi Timur, berhasil selamat dan melapor ke Poskot SAR Gunung Ciremai. (saban)
PKS Bentuk Tim Pencari
BEKASI (Pos Kota)-Tim SAR PKS Kota Bekasi, bersama belasan tim lannya berusaha ke lokasi kadernya yang tersesat di Gunun Ciremai, Kuningan Jawa Barat.
Kerangka Pendaki di Gunung Ciremai
Menurut Chaidir Agam, Tim PKS bergabung dengan berbagai pencinta alam, di antaranya Wanadri, LSM Akar, FMGC dan aparat Polhut dan Koramil. Lokasi yang ditunjukan Iwan, pimpinan rombongan, mereka berada di Sangga Buana II. “Karena tim dibagi beberapa bagian,” ujar Chaidir, yang terus memantau proses evakuasi.
Tim dibagi dengan jalan darat dan jalan gunung. Jalan darat melalu Palutungan ke Linggarjati dengan kendaraan dan waktu yang ditempuh sekitar 3 jam. Sedangkan melalui jalur huta waktu tempuh mencari 10 jam.
Tujuh pendaki yang tersesat itu Iwan Kurniawan, 30, Widi, 26, Darso, 27, Abdul Hatni, 26, Gembong, 27, Predi, 28, dan Didi Kusuma, 26. Belakangan Iwan, warga Durenjaya Bekasi Timur, berhasil selamat dan melapor ke Poskot SAR Gunung Ciremai. (saban/B)
Masuk Tanpa Izin
KUNINGAN- SURYA-Sebanyak tujuh pendaki gunung asal Bekasi Timur dilaporkan tersesat di Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat sejak Sabtu (23/5). Dari hasil kontak terakhir Sabtu malam, mereka dalam kondisi tanpa makanan, korek api, dan salah satu di antara mereka cedera berat karena terjatuh dari jurang.
Para pendaki itu adalah Didi Kusmana selaku ketua regu pendakian, Iwan dilaporkan jatuh ke jurang dan terluka di kepala, kemudian Widhi, Darso, Hatni, Gembong, serta Fredi, pemandu dari Cirebon.
Menurut Kepala Taman Nasional Gunung Ciremai, Muhtadin Nafari, ketujuh orang itu hanya membeli tiket dari Perum Perhutan untuk berkemah, tetapi tidak untuk mendaki. “Jika mereka mau mendaki, tentu ada karcis khusus dan dibekali pemandu lokal,” katanya.
Ketujuhnya naik dari jalur Palutungan dan diketahui hanya membawa satu tenda, dan sleeping bed. Berdasarkan kontak terakhir mereka sudah kehabisan makanan dan tanpa korek api. “Tadi malam, kami masih bisa kontak mereka karena telepon genggam mereka masih bisa dipakai. tetapi kami khawatir baterai mereka tak mencukupi sampai hari Minggu ini,” kata Muhtadin.
Mereka diperkirakan berada di area Sanggabuana di ketinggian 2000 meter diatas permukaan tanah. Tetapi dipastikan tidak berada di jalur pendakian karena tak bisa menemukan penanda apapun di jalan. Di ketinggian itu juga tak terdapat mata air.
Ada tiga tim yang bergerak, yakni tim penyelamat yang membawa perbekalan makanan, tim penjemput, dan tim pemandu. Tim penyelamat, menurut Muhtadin sudah mulai bergerak ke lokasi tempat mereka tersesat, sejak Sabtu pukul 22.30 namun untuk menjangkau daerah tersebut butuh waktu sekitar tujuh hingga delapan jam.
Tim kedua juga bergerak sekitar pukul 12.00 untuk membawa turun mereka ke ketinggian 1000 meter. Tim ketiga akan mebawa turun mereka ke tempat aman.
Gunung Ciremai memang mengundang keinginan para pendaki menaikinya. Dengan ketinggian mencapai 3.078 meter di atas permukaan laut (m dpl) atau 2.578 meter di atas Kota Kuningan membuatnya menjadi gunung tertinggi di seantero Jabar.
Kendati masuk kategori jajaran 80 gunung aktif di P Jawa, namun dibandingkan gunung-gunung lainnya, G Ciremai memiliki tabiat yang paling “kalem” dan “ramah”.
Hanya saja keindahan G Ciremai itu terkadang melenakan pendaki. Tercatat, pada bulan Juni 2007, satu dari 11 orang pendaki asal Indramayu pernah tersesat jalur. Bahkan, salah seorang pendaki, Nurdianto, 18, akhirnya tewas karena hipotermia atau kedinginan saat ia berusaha berlindung di sekitar Gua Walet atau sekitar tanaman edelweis. 

Minggu, 13 Mei 2012

PENDAKI TEWAS DI GUNUNG CIREMAI

Satu lagi pendaki Gunung Ciremai jadi tumbal. Nurdiyanto, pelajar SMK 1 Jatibarang, Indramayu tewas di puncak Ciremai. Ia tewas setelah dihantam badai di ketinggian 2.400 di atas permukaan laut. Seperti apa keangkeran Gunung Ciremai?
Gunung Ciremai (3078 m)
PARA remaja yang mendaki Gunung Ciremai ini merupakan alumni SMP 1 Jatibarang, Indramayu. Mereka mendaki gunung dalam rangka reuni. Empat orang di antara mereka saat ini bersekolah di SMK 1 Jatibarang dan lima lainnya bersekolah di SMA Sliyeg, Indramayu. Kesembilan pendaki ini mulai mendaki Gunung Ciremai Selasa (26/6/2007) siang.
Rabu (27/6/2007) dinihari, mereka sampai di puncak gunung. Rabu sore mereka turun dari puncak. Saat turun dari puncak, Nurdiyanto, siswa SMK 1 Jatibarang, tiba-tiba mengalami sesak napas di Pos Cigorowong. Karena tidak kuat berjalan, Nurdiyanto ditandu temannya. Sampai di Pos Gua Lawet pukul 03.00 WIB, Kamis (28/6/2007), mereka berhenti, karena dihantam badai. Mereka berkemah menunggu badai reda. Begitu badai reda, mereka melanjutkan perjalanan. Pukul 07.00 WIB, mereka kaget ketika melihat Nurdiyanto tidak bernapas.
Tragisnya, delapan rekannya tak kuat membawa pulang jenazahnya. Untuk mencapai pos perkampungan perlu 10 jam perjalanan. Mereka turun, sementara jenazah Nurdiyanto ditinggalkan. Pukul 17.00 WIB, Jumat (29/6/2007), 15 orang dari LSM AKAR dan KURPALA menuju Pos Gua Lawet. Tim SAR gabungan tersebut menemukan mayat Nurdiyanto sudah kaku dan dalam keadaan telentang.
Mistik Gunung Ciremai
Gunung Ciremai yang berketinggian 3078 meter di atas permukaan laut memiliki banyak jenis tumbuhan. Mulai dari pohon pinus, pohon seruni, dan dan pohon kopi. Jenis margasatwa pun banyak berkeliaran. Dari sekian banyak tumbuhan dan jenis burung ada beberapa hewan yang dipercaya mempunyai kekuatan mistik. Mendekati puncak, banyak beterbangan ayam alas dengan bulunya yang bersih mengkilat. Gunung Ciremai identik dengan Sunan Gunung Jati, salah satu Walisongo, penyebar Islam di Jawa Barat.
Sekitar tahun 1521-1530, Sunan Gunung Jati diyakini bertapa di puncak Ciremai. Ketika itu, bangsa Portugis begitu kuat menekan para ulama, pejuang, dan rakyat kecil. Menjelang peperangan, Sunan Gunung Jati naik ke puncak Ciremai bertapa, menyendiri dan bermunajad kepada Tuhan. Tempat tapa dan pertemuan para wali itu bernama Batulingga dan diyakini oleh masyarakat Cirebon sebagai tempat ngalap berkah memberi manfaat dan membantu orang-orang yang dalam kesulitan.
Nyi Linggi dan Macan Tutul
Satu misteri yang selalu menjadi perbincangan masyarakat sekitar Gunung Ciremai adalah misteri Nyi Linggi dan dua macan kumbang. Menurut Maman, salah satu juru kunci Ciremai, setelah Sunan Gunung Jati tidak bertapa di Batulingga, maka Nyi Linggi datang ke tempat tersebut menggantikan Sunan Gunung Jati.
Namun kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga tidak sendirian, ia ditemani oleh dua binatang kesayangannya yaitu macan kumbang. Kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga ingin mendapatkan ilmu kedigdayaan. Tapi sayangnya Nyi Linggi gagal memperoleh ilmu yang diinginkan. Nyi Linggi meninggal dunia di Batulingga sementara dua temannya yaitu macan tutul hilang entah ke mana. Kabarnya masyarakat setempat menemukan mayat Nyi Linggi. Kejadian aneh sering terjadi di sekitar Batulingga, yaitu sosok Nyi Linggi dan dua macan tutul sering menampakkan diri.
Cikal Bakal Nenek Moyang
Selain sebagai tempat bertapanya Sunan Gunung Jati, ternyata Gunung Ciremai sejak ribuan tahun silam telah dihuni oleh manusia purba. Masyarakat Kuningan dan sekitarnya terutama mereka yang hidup di kawasan kaki Gunung Ciremai merasa bangga. Mereka yakin bahwa asal-usul orang-orang Jawa Barat datangnya dari Gunung Ciremai. Keyakinan tentang hal ini diperkuat oleh ditemukannya beberapa benda bebatuan yang diyakini zaman Batu Besar. Umurnya sekitar 3.000 tahun Sebelum Masehi.
Pada tahun 1972 ditemukan batu besar berbentuk peti mati. Penemuan itu mengandung makna bahwa di kaki Gunung Ciremai telah dihuni oleh manusia sejak ribuan tahun Sebelum Masehi. Dipercaya pula bahwa arwah nenek moyang berkumpul dan sering menampakkan diri. Para ahli peneliti sepakat bila wilayah Kuningan Gunung Ciremai merupakan tempat bermukim manusia tua usia. Mereka memuja arwah nenek moyang untuk meminta berkah kesuburan tanah, kemakmuran, dan kesejahteraan.
Injak Bumi Hindari Hantu
Maman (juru kunci Ciremai yang mengantar posmo ke puncak Ciremai) selalu menghentikan langkahnya dan mengucapkan Assalamualikum ketika memasuki pos. Menurut Maman, jika ingin selamat dan tidak diganggu oleh dedemit nakal injak bumi sebanyak tiga kali lalu ucapkan salam. Ini bermakna bahwa penghuni pos atau dedemit penguasa tidak merasa tersinggung oleh datangnya manusia. ‘’Di sini (Ciremai) banyak manusia jadi korban. Tidak hanya manusia yang mati, tapi juga kuda. Mereka tidak kuat melaksanakan tugas yang dibebankan penjajah Belanda, hingga menemui ajalnya,’’ kata Maman.
Misteri Jalak Hitam
Ketika perjalanan sudah mencapai Pengalap atau pos VI, berarti pendakian telah mencapai separuh. Dan harus berhati-hati jika sudah memasuki Pengalap atau pos VI. Pengalap berarti jemputan. Di pos Pengalap setiap pendaki akan didatangi dua binatang yang sampai sekarang masih misteri keberandaannya, yaitu Jalak Hitam dan Tawon Hitam.
Maman yang mengaku naik ke puncak 3 kali setiap bulan, sampai sekarang mengaku belum tahu mengapa Jalak Hitam selalu mengiringi pendaki dari Pengalap ke Seruni. Dan, juga Tawon Hitam yang selalu datang mengganggu. Pengasinan berarti asin. Khusus bagi masyarakat Linggarjati bermakna bahwa siapa saja yang ingin mencapai puncaknya dengan cepat dan selamat sampai di rumah diharuskan membawa ikan asin.
Enam Belas Jam Menuju Puncak
Gunung Ciremai diapit dua kabupaten yaitu Kuningan sebelah timur dan Majalengka sebelah barat. Untuk mencapai puncak Ciremai bisa melalui tiga jalur yaitu Linggarjati dari arah timur, Pelutungan dari arah selatan, dan Majalengka dari arah barat. Medan paling berat dan menguras tenaga dan juga sangat berbahaya adalah jalur dari sisi timur melewati Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Jarak tempuhnya kurang lebih 8 km, 90 persen jalannya terjal.
Gunung Ciremai termasuk salah satu gunung paling berat di tanah Jawa. Masyarakat setempat dan juga para pendaki menyebutnya jalur maut. Untuk mencapai puncaknya butuh waktu sekitar 12 sampai 16 jam perjalanan. Tergantung kekuatan fisik pendaki. Gunung Ciremai memang tidak terlalu tinggi, hanya 3.078 mdpl. Namun start pendakian dimulai dari ketinggian sekitar 750 mdpl, maka perjalanan cukup panjang. Dengan demikian, sisa perjalanan menuju puncak Ciremai sekitar 2.350 meter garis vertikal atau sekitar 8 km melalui jalur. Perlu diketahuil, dari semua gunung yang ada di tanah Jawa hanya Gunung Ciremai-lah yang start pendakiannya dimulai dari ketinggian 750 mdpl. Jalur dakinya tidak ada jalan datar, 90 persen berjalur terjal dan sudut kemiringannya antara 70 sampai 80 derajat.
Pantangan di Gunung Ciremai
Menurut juru kunci gunung, pantangan di Gunung Ciremai tidak boleh mengeluh, memegang lutut, kencing dan buang air besar sembarangan. Setiap memasuki pos diharuskan mengucapkan salam sebagai tanda minta izin masuk dan pertanda kesopanan. Menurut Maman, setiap pos yang jumlahnya 12 pos banyak dihuni dedemit. Ucapan salam tidak hanya ketika datang tapi juga saat meninggalkan gunung. hartono
sumber : http://posmo.net/RUBRIK/427/peristiwa.html



Dua Pendaki Gunung Ciremai Tewas
KUNINGAN -- Misteri gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai kembali membuat bulu kuduk merinding. Senin malam 13 September, gunung berketinggian 3.708 Mdpl itu memakan dua korban jiwa.
Kedua korban tewas yakni, Topan 20, warga Desa Kandanghaur, Kabupaten Indramayu dan Adul, 19, warga Losari, Kabupaten Cirebon.

Selain itu, tiga orang terluka parah dalam kondisi patah tulang. Mereka adalah, Galuh, 18, dan Lufi, 17, warga Losari patah tangan. Satu lagi Putra 17 warga Kalibuntu patah kaki. Sedangkan enam temannya, Ipang, Yudi, Angga, Dandi, warga Losari, Ahmad dan Tanto warga Desa Kandanghaur dalam kondisi selamat.

Musibah maut itu berawal ketika rombongan berjumlah 11 orang itu tengah mendaki Gunung Ciremai. Rombongan berangkat sekitar pukul 19.30 melalui Posko Pendakian Linggarjati, Kecamatan Cilimus.

Pukul 21.00, di ketinggian 1225 Mdpl, tepatnya Blok Lewung Datar Gunung Ciremai, rombongan dikejutkan oleh tumbangnya pohon besar jenis pinus ke arah mereka. Karena jalan kecil dan licin akibat selesai diguyur hujan, mereka tidak berkutik untuk menghindar.

Akibatnya pohon tua itu menimpa lima anggota rombongan. Dua korban, Topan dan Adul tewas seketika dalam kondisi cukup mengerikan. Keduanya kena gencet batangan pohon besar itu. Tiga orang, Galuh, Lufi dan Putra juga kena hajar batang pohon sehingga mengalami patah tulang di bagian tangan dan kaki.

Suara teriakan histeris minta tolong terus terdengar. Ringisan tertahan karena kesakitan membuat suasana jadi mencekam. Beruntung beberapa korban selamat berhasil menghubungi petugas Posko Pendakian.

Puluhan polisi, petugas Tim SAR dari Badan Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) Kuningan dibantu masyarakat sekitar segera meluncur guna melakukan evakuasi. Karena jalan cukup terjal, proses evakuasi baru selesai, Selasa 14 September pukul 03.00 WIB.

Seluruh korban tewas, patah tulang dan korban selamat dibawa ke RSUD 45 Kuningan guna pemeriksaan fisum etrefertum. Para korban selamat juga dimintai keterangan oleh polisi termasuk petugas Pos Pendakian Gunung Ciremai. Selanjutnya semua korban dikembalikan ke pihak keluarga untuk diselamatkan.

Kapolres AKBP Yoyoh Indayah MSi, melalui Kasat Reskrim AKP Sukirman menjelaskan evakuasi korban tidak menemukan kendala berarti. Semua berjalan dengan baik. Mengenai korban, pihak keluarga juga sudah menyadari bahwa kejadian ini musibah. "Seluruh korban sudah kita kembalikan kepada pihak keluarga masing-masing," katanya.(jpnn)

LEBIH 50 PENDAKI TEWAS DI GUNUNG CIREMAI SEJAK TAHUN 1980-AN

 DI sekitar hutan Gunung Ciremai, terutama di bagian punggung atau bukit arah utara dan Barat (Majalengka), dengan bagian muka arah Timur (Kuningan) yang tampak bersih, ternyata dihuni mahluk haluspara leluhur petilasan dan pengikutnya.
Di alam ghaib mereka terus memantau dan menjaga Ciremai dari pengunjung yang ceroboh, gegabah, tidak beretika, serampangan.
“Itu bisa dijadikan pegangan, karena Saya sudah lama menjelajahi Ciremai. Merasakan ada hawa makhluk halus, meskipun tidak seratus persen percaya, namun sudah banyak buktinya. Contohnya, para pendaki yang ceroboh dan tidak mendengarkan petuah, banyak yang tersesat.
Sedangkan bagi wanita, jangan coba-coba mendaki ketika menstruasi, karena pasti akan kerasukan jin,”. Maman Aruman, anggota SAR PPGC Linggarjati
Masih soal etika, ternyata makhluk halus tidak suka terhadap manusia yang asal bicara, sesumbar dan marah, jika si pendaki memasuki kawasan Cibunar (camping ground) tidak mengucakan salam. Karena Cibunar yang merupakan pintu gerbang petilasan Buyut Imah, konon ia yang bernama asli Siti Khotimah tersebut tidak rela jika manusia memasuki petilasannya tersebut tiidak mengucapkan salam.
Kejadian tersebut tidak hanya menimpa kepada satu atau dua orang pengunjung saja, menurut Aruman, setiap pekan dengan jumlah pengunjung sekitar 100 orang, pasti ada saja yang sakit karena kemasukan makhluk halus. Tidak hanyna Buyut Imah, konon, di setiap titik (ada 11 titik) dihuni para roh leluhur.
Selain Nyi Mas Ratu Kunti, penguasa Sanggabuana, Ciremai dahulu kala pernah dijajaki dan merupakan tempat seminarnya para Wali Songo. Ketika penyebaran Islam mulai datang ke daerah Jawa Barat, para Wali Songo sempat linggih (duduk/singgah) di kawasan Linggajati.
Mereka tidak sendiri menapaki pegunungan tersebut, dari Wali Songo pertama hingga ke-sembilan selalu dipandu seorang ahli yang bernama Raja Soleman. Ia dengan gigihnya selalu mendampingi para wali dan mensejajarkannya dengan cara masuk ke dalam Kawah Ciremai.
Puluhan Orang Menjadi Korban
Sebagai manusia, kita percaya, umur ada di tangan Allah SWT. Termasuk puluhan orang dari pelosok negeri ini telah menghembuskan nafas di kawasan Gunung Ciremai. Dari tahun 1973 hingga tahun 2009, lebih dari 50 pendaki telah tewas di kawah gunung.
Seperti korban pendakian menimpa Julpi Noval dan Zaenal Arifin, dua siswa asal Ponpes Husnul Khotimah meninggal. Ke-dua korban berhasil dievakuasi satu bulan sejak laporan dari kedua orangtua korban. Belum lagi korban asal Jatibarang sebanyak enam orang dan Karawang tercatat sebanyak sembilan pendaki yang berhasil mencapai puncak namun harus terbentur di kawah Ciremai, hingga tewas.
Dari sekian korban, ada dua pendaki yang menghilang hingga 13 hari 13 malam dan disembunyikan makhluk halus. Sri dan Yansen, siswi SMU Tanjung Priok Jakarta berhasil memasuki alam lain pada tahun 1986. Mereka tersesat di Cadasngampar ketika perjalanan mendaki bersama rombongan. Ketika ditemukan, menurut Aruman, dalam keadaan selamat dan sehat, walaupun hanya berbekal sepotong roti dan tanpa air.
Menurut cerita, ketika kehilangan jejak, kedua remaja itu tiba-tiba berada di hutan yang banyak penduduk seperti layaknya disebuah pedesaan. Untungnya suasana itu menjadi buyar ketika ada suara tim SAR memanggil. Ke-dua pelajar langsung menyahut dan sadar selama beberapa hari itu. Sejak itu, setiap ada pendatang yang mendaki, Aruman selalu mengingatkan untuk berhati-hati dan beretika…’Memang apa susahnya Kita beretika?’.
Wallahu’alam . (Nunung Khazanah)*