"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)

Sabtu, 29 Oktober 2016

KINA : TANAMAN OBAT MALARIA

    Kina termasuk dalam kelompok tumbuhan berkayu dari marga Chinchona yang kulit batangnya dimanfaatkan sebagai obat, khususnya obat malaria. Anggota suku Rubiaceae ini berasal dari pegunungan Andes, Amerika Selatan. Selain sebagai obat, kina juga digunakan dalam industri kosmetika dan penyamakan kulit.
    Sekitar 40 spesies kina, seperti Cinchona officinalis dan Cinchona calisaya tersebar di wilayah tropis. Tumbuhan ini banyak dibudidayakan di Equador, Peru, Bolivia, India dan Sri Lanka. Kina tumbuh secara optimum pada daerah dengan ketinggian sekitar 800-2.000 m di atas permukaan laut, curah hujan 2.000-3.000 mmpertahun, dan temperatur udara 13-21oC. Tanaman ini memerlukan penyinaran matahari yang tidak terlalu terik.

Kulit Batang
    Tinggi pohon kina dapat mencapai 9 m, sedangkan batangnya bisa berdiameter 8-15 cm. Daun tumbuhan ini berbentuk jorong (bulat panjang) dan tersusun secara berhadapan. Bunganya yang berbentuk tabung tersusun dalam malai, berwarna putih atau merah muda dan berbau harum. Buah kina berbentuk bulat telur dengan biji yang bersayap. Bagian daripohon kina yang banyak dimanfaatkan oleh manusia adalah kulit batangnya. Kulit batang pohon kina mengandung beberapa senyawa alkoloid, terutama kinin (quinine) dan Kinidin (quinidine).

Budidaya Kina
    Jenis tanaman kina yang banyak ditanam di Indonesia terdiri dari dua spesies yaitu kina suci ( C.succirubra) dan kina ledger (C.Ledgriana). Kina suci memiliki sistem perakaran tunggang yang kuat tetapi sistem percabangannya tidak banyak. Adapun kina ledger memiliki banyak cabang  dan dapat tumbuh dengan cepat, namun sistem perakarannya tidak begitu kuat. Oleh sebab itu, kedua jenis kina ini biasanya diperbanyak dengan cara setek sambung, yakni dengan memanfaatkan kina suci sebagai batang bawah dan kina ledger sebagai batang atas.
    Pertumbuhan kina dapat terganggu dengan adanya hama, penyakit dan gulma (tanaman pengganggu). Hama yang menyerang tanaman ini antara lain ulat jengkal Boarmia bhurmitra, penggerek pucuk Alcalides cinchonae dan kutu putih Pseudaulacaspis pentagona. Penyakit yang dapat menginfeksi tanaman kina antara lain kanker batang garis (akibat jamur Upasia salmonicolor), sedangkan gulma pada kina antara lain adalah rumput lempuyang (Panicum repens) dan babandotan (Ageratum conyzoides)

Kinin dan Kinidin
    Sejak abad ke 16, kulit batang pohon kina telah dimanfaatkan untuk mengobati atau menyembuhkan malaria, yaitu penyakit yang dibawa oleh nyamuk Anopheles sp. Selain itu, kulit batang kina juga digunakan oleh sebagian orang untuk menggosok gigi. Senyawa kinin yang terkandung dalam kulit batang kina dimanfaatkan untuk menurunkan demam dan mengurangi rasa sakit. Adapun senyawa Kinidin berguna untuk mengobati gangguan jantung.

Perkebunan Kina
    Di Indonesia kina mulai ditanam oleh masyarakat Cibodas (Jawa Barat) sejak tahun 1854. Sejak saat itu, tumbuhan ini meluas ke wilayah pulau Jawa dan Sumatera. Pada tahun 1939 Indonesia menjadi negara pemasok kina terbesar di seluruh dunia dengan luas area perkebunan sekitar 17.000 Ha dan jumlah produksi sekitar 11.000 ton kulit kering pertahun. Sebagai akibat Perang Dunia ke 2, perkebunan Kina di Indonesia , perkebunan kina di Indonesia ditebang oleh pemerintah pendudukan Jepang sehingga produksinya menurun secara drastis.

 Pohon Kina
 Bunga dan daun Kina
Biji buah Kina

COKELAT : TANAMAN ASAL HUTAN AMAZON

    Cokelat atau kakao (Theobroma cacao) adalah spesies tumbuhan dikotil dari suku Sterculiaceae yang bijinya dapat diolah menjadi bubuk coklat, mentega coklat, dan kembang gula cokelat. Tanaman anggota bangsa Malvales ini berasal dari hutan Amazon dan lembah sungai Orinoco, Amerika Selatan. Nama cacao berasal dari bahasa latin yang berarti makanan dari Tuhan. Pohon cokelat telah dibudidayakan oleh suku maya, Toltek dan Aztek sejak 3.000 tahun lalu. Christopher Colombus (1451-1506) kemudian membawa tanaman ini ke Spanyol sepulang dari ekpedisi keempatnya pada 1502. Sejak saat itu, cokelat dikenal di Eropa dan menyebar ke seluruh dunia. Di Indonesia perkebunan cokelat skala besar terdapat di Sumatera Utara, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Morfologi Cokelat
    Tinggi pohon cokelat mencapai sekitar 6-12 m. Daunnya berbentuk bulat lonjong berwarna hijau dan berbulu halus. Panjang daun cokelat sekitar 25 cm, sedangkan lebarnya sekitar 9 cm. Tanaman cokelat memiliki bunga sempurna yang berdiameter 1,5 cm dan berwarna putih keunguan. Buahnya berbentuk lonjong dengan ujung melancip dan bagian pangkal yang sedikit mendatar. Buah cokelatyang berdaging tebal dan berbiji banyak memiliki panjang 10-15 cm dan diameter sekitar 6-8 cm. Kulit buahnya beralur dan berwarna merah keunguan ketika matang. Biji cokelat (cocoa bean) berbentuk bulat pipih, berwarna putih dan berdiameter sekitar 1 cm.

Criollo, Forastero dan Trinitario
    Budidaya cokelat membutuhkan penyinaran matahari yang tidak terlalu terik, curah hujan antara 1.100-3.000 mm/tahun dan temperatur udara sekitar 25-26oC. Tiga kultivar cokelat yang ditanam di Indonesia adalah Criollo, Forestero dan Trinitario. Kultivar Criollo menghasilkan biji cokelat bermutu tinggi yang disebut fine flavour cacao atau choiced cocoa. Forastero menghasilkan biji bermutu sedang yang dikenal sebagai ordinary cocoa atau bulk cocoa. Adapun Trinitario adalah hibrida alami criollo dari forastero yang menghasilkan biji bermutu tinggi atau bermutu sedang. Pantai Gading, Brazil, dan Ghana adalah negara pengekspor cokelat terbesar di dunia. Adapun Belgia, Swiss dan Inggris merupakan negara produsen cokelat olahan terkemuka di dunia.

Produk Olahan Cokelat
    Beragam produkolahan cokelat dibuat dengan berbagai bentuk dan rasa.Produk ini dapat diklasifikasikan menurut tekstur, rasa, warna dan aromanya. Oleh sebab itu produk olahan cokelat memiliki harga yang beragam. Cokelat padat yang berkualitas tinggi memiliki rasa yang tidak terlalu manis dan tekstur yang lembut di lidah, namun tidak menempel di langit-langit mulut ketika dimakan. Cokelat biasanya diolah dengan menambahkan gula dan susu. Perbandingan antara bubuk cokelat, gula dan susu sangat menentukan kualitas produk cokelat.
    Cokelat mengandung zat feniletilamin yang dapat meningkatkan serapan triptopan ke dalam otak. Hal tersebut akan merangsang pembentukan dopamin yang mampu memunculkan perasaan senang dan tenag serta meningkatkan gairah seksual bagi seseorang yang mengkonsumsi cokelat. Selain itu , cokelat juga mengandung zat antioksidan polifenol, khususnya flavonoid, yang berkhasiat untuk mencegah tekanan darah tinggi (hipertensi).

Tahap Pengolahan Biji Cokelat

  1. Pembelahan buah cokelat
  2. Fermentasi biji cokelat dengan cara menyimpan biji di dalam wadah tertutup selama 4-5 hari dengan derajat keasaman (ph) sekitar 4,8
  3. Pengeringan biji dengan bantuan panas matahari atau oven.
  4. Penggilingan biji cokelat sehingga menghasilkan bubuk cokelat halus dan beraroma khas. Bubuk cokelat ini siap untuk diseduh menjadi minuman atau diolah menjadi produk makanan lainnya.
 Tanaman Cokelat
 Buah Cokelat (Kakao)
Bibit muda tanaman Cokelat

CENGKEH : TUMBUHAN REMPAH DAN OBAT

    Cengkeh (Syzygium aromaticum atau Eugenia caryophyllata) adalah spesies tumbuhan dikotil dari suku Myrtaceae yang kuncup bunganya memiliki aroma khas sehingga dijadikan sebagai bahan campuran rokok kretek. Tumbuhan yang berasal dari Indonesia ini tersebar di beberapa negara termasuk Tanzania, Madagaskar, Filipina dan Malaysia. Selain sebagai campuran rokok, bunga cengkeh juga dapat dimanfaatkan sebagai rempah dan obat.
    Cengkeh tumbuh pada tempat yang berketinggian 0-900 m di atas permukaan laut. Tanaman ini memerlukan curah hujan sekitar 1.500 - 4.500 mm pertahun, temperatur udara sekitar 22-30oC, dan kelembabban udara 60-80%. Perbanyakan cengkeh umumnya dilakukan secara generatif, yaitu dengan penyemaian biji.

Minyak Cengkeh
    Salah satu senyawa yang banyak terdapat pada beberapa bagian tanaman cengkeh adalah minyak asiri, yaitu minyak esensial pada tumbuhan yang bersifat mudah menguap pada temperatur rendah. Minyak tersebut menyebabkan cengkeh mempunyai aroma dan rasa yang khas. Minyak asiri pada cengkeh terdiri dari senyawa euganol. carryophyllen, dan eugenol asetat. Minyak asiri diperoleh melalui proses penyulingan atau destilasi. Proses tersebut dilakukan dengan cara memanaskan ekstrak cengkeh yang telah dilarutkan dengan suatu pelarut. Uap hasil pemanasan selanjutnya ditampung dan didinginkan pada sebuah tempat. Minyak yang diperoleh dari hasil penyulingan dikenal sebagai minyak cengkeh. Minyak ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dan bahan campuran pada industri makanan dan minuman, pembuatan parfum serta industri farmasi.

Rokok Kretek
    Penggunaan cengkeh untuk bahan campuran rokok kretek dimulai sejak awal abad ke 20. Rokok kretek di Indonesia dirintis oleh H.Djamahi,pengusaha asal Kudus (Jawa Tengah) yang berekperimen  dengan cara mencampurkan rajangan bunga cengkeh pada tembakau. Rokok dengan bumbu bunga cengkeh tersebut selanjutnya dikenal sebagai rokok kretek. Adapun produksi rokok kretek secara massal dirintis oleh Nitisemito, pengusaha yang membuat rokok dengan merk Bola Tiga pada tahun 1906.

Bunga Cengkeh
    Pohon cengkeh berbentuk seperti kerucut yang memanjang. Tinggi tanaman ini mencapai sekitar 5-10 m. Helaian daunnya berbentuk bulat memanjang dengan ujung meruncing.Permukaan daun bagian atas mengkilat. Buah cengkeh berbentuk seperti buah buni yang bulat memanjang, kecil dan padat atau berbentuk seperti telur terbalik. Bunga cengkeh yang tersusun dalam malai atau tandan muncul pada ujung tangkai.

Bunga Fungisida
    Selain bunga, bagian tanaman cengkeh yang bermanfaat secara ekonomis adalah daunnya. Kandungan eugenol pada daun cengkeh bersifat toksik bagi jamur sehingga bagian ini dapat diolah menjadi bahan fungisida. Pada penerapannya, ekstrak daun cengkeh efektif untuk membunuh jamur Fusarium yang menyebabkan penyakit busuk batang pada tanaman vanili.

Beberapa Kultivar Cengkeh

  1. Cengkeh Siputih, Jenis ini memiliki helaian daun besar dan berwarna kuning atau hijau muda. Cabangnya kurang rimbun. Bunga berukuran besar, berwarna kuning dan berjumlah belasan per rumpun.
  2. Cengkeh Sikotok. Cengkeh Sikotok memiliki helaian daun kecil dan berwarna hijau tua. Cabangnya rimbun sehingga semua ranting tertutup oleh daun. Bunga berwarna kuning kemerahan dan berjumlah  20-50 kuntum per rumpun.
  3. Cengkeh Zanzibar. Jenis cengkeh yang bermutu tinggi ini memiliki bentuk daun yang panjang dan berwarna hijau gelap. Selain produksinya yang tinggi, cengkeh zanzibar menghasilkan bunga yang lebih merah daripada cengkeh sikotok.
 Daun cengkeh
 Bunga Cengkeh
Tanaman Cengkeh