"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)

Selasa, 20 September 2011

BIAWAK KOMODO : REPTIL PURBA YANG TERSISA

 
      Biawak komodo (Varanus komodoensis) adalah spesies kadal terbesar yang masih hidup sampai saat ini. Hewan reptilia yang termasuk suku Varanidae ini hanya terdapat di wilayah Indonesia, khususnya Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Flores. Biawak komodo digolongkan sebagai hewan endemik dan langka yang dilindungi pemerintah Indonesia.


 Komodo menjelajahi pantai pulau komodo
     Panjang tubuh biawak komodo dapat mencapai 3 m, sedangkan bobotnya mencapai 135 kg. Permukaan tubuhnya ditutupi dengan sisik. Hewan ini memiliki leher dan ekor yang panjang, cakar kuat, dan gigi tajam. Lidah biawak komodo bercabang seperti garpu. Habitat asli hewan ini adalah padang sabana (padang rumput dengan beberapa pepohonan) atau hutan tropis yang berkelembaban tinggi. Biawak komodo sering berjemurdi bawah sinar matahari untuk meningkatkan temperatur tubuhnya.
Komodo mengeluarkan lendir dari liurnya
Air Liur
    Biawak komodo memiliki penciuman yang tajam sehingga dapat mencium bau busuk bangkai binatang dari jarak yang sangat jauh hingga 2 km. Biawak komodo pada umumnya berburu mangsa pada siang hari. Setiap hari hewan ini bisa berjalan berkilo-kilo meter dari liangnya untuk mencari mangsa. Hewan ini memiliki kecepatan dan kekuatan untuk menangkap mangsa. Selain itu, air liur biawak komodo mengandung bakteri yang beracun. Bakteri tersebut dapat membunuh mangsa yang terluka dalam beberapa hari. Biawak komodo memangsa berbagai binatang seperti kambing, rusa, babi, ular, kerbau, bahkan sesamanya. Beberapa laporan juga menyebutkan bahwa biawak komodo menyerang manusia. Meskipun demikian, sebenarnya biawak yang masih muda hanya memakan serangga, baru kemudian memakan hewan kecil bertulang belakang (vertebrata).

Beberapa komodo memangsa Kerbau
Telur
    Umur biawak komodo dapat mencapai 100 tahun. Hewan ini bereproduksi dengan cara bertelur. Telur yang dihasilkan berjumlah sekitar 15-30 butir. Sebelum bertelur, komodo betina menggali liang sedalam 9 m untuk meletakkan telurnya. Setelah bertelur, lubang tersebut ditutupi dengan tanah. Telur biawak komodo akan menetas setelah 8-9 bulan, biasanya pada bulan April atau Mei. Setelah menetas, anak biawak komodo biasanya tinggal selama beberapa bulan di pepohonan. Selama hidup di pohon, anak biawak komodo memangsa serangga sebagai makanan utamanya.

Taman Nasional Pulau Komodo
Taman Nasional Pulau Komodo
   Pada saat ini, populasi biawak komodo terancam punah karena beberapa faktor, antara lain kerusakan habitat aslinya, perburuan, dan penurunan jumlah mangsa. Untuk melestarikan hewan ini pemerintah Indonesia menetapkan Pulau Komodo di Provinsi Nua Tenggara Timur sebagai Taman Nasional. Taman Nasional Pulau Komodo mencakup kawasan seluas 520 km2. Taman Nasional ini dibangun pada tahun 1980 dan dihuni sekitar 1.000 biawak komodo. Selain di Taman Nasional ini, biawak komodo juga bisa dilihat di sejumlah tempat lain, seperti di Kebun Binatang Ragunan Jakarta dan Taman Safari, Cisarua, Jawa Barat.

Pertarungan dua ekor biawak komodo

Senin, 19 September 2011

PEMBENTUKAN HUJAN

Proses terbentuknya hujan masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan..

Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, "bahan baku" hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk. Akhirnya, curahan hujan terlihat.

Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas dalam Al-Qur’an berabad-abad yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan,

"Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" (Al Qur'an, 30:48)
Pembentukan Hujan

Gambar di atas memperlihatkan butiran-butiran air yang lepas ke udara. Ini adalah tahap pertama dalam proses pembentukan hujan. Setelah itu, butiran-butiran air dalam awan yang baru saja terbentuk akan melayang di udara untuk kemudian menebal, menjadi jenuh, dan turun sebagai hujan. Seluruh tahapan ini disebutkan dalam Al Qur'an.
Kini, mari kita amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.

TAHAP KE-1: "Dialah Allah Yang mengirimkan angin..."

Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut "perangkap air".

TAHAP KE-2: “...lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal..."

Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.

TAHAP KE-3: "...lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya..."

Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel -partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’anlah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.

Dalam sebuah ayat, informasi tentang proses pembentukan hujan dijelaskan:

"Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (Al Qur'an, 24:43)

Para ilmuwan yang mempelajari jenis-jenis awan mendapatkan temuan yang mengejutkan berkenaan dengan proses pembentukan awan hujan. Terbentuknya awan hujan yang mengambil bentuk tertentu, terjadi melalui sistem dan tahapan tertentu pula. Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut:

TAHAP - 1, Pergerakan awan oleh angin: Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.

TAHAP - 2, Pembentukan awan yang lebih besar: Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.

TAHAP - 3, Pembentukan awan yang bertumpang tindih: Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dsb. (Anthes, Richard A.; John J. Cahir; Alistair B. Fraser; and Hans A. Panofsky, 1981, The Atmosphere, s. 269; Millers, Albert; and Jack C. Thompson, 1975, Elements of Meteorology, s. 141-142)

Kita harus ingat bahwa para ahli meteorologi hanya baru-baru ini saja mengetahui proses pembentukan awan hujan ini secara rinci, beserta bentuk dan fungsinya, dengan menggunakan peralatan mutakhir seperti pesawat terbang, satelit, komputer, dsb. Sungguh jelas bahwa Allah telah memberitahu kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu.

Sumber : Harun Yahya : Keajaiban Al Qur'an

Senin, 12 September 2011

KARBON DIOKSIDA : GAS KE EMPAT TERBANYAK PROSENTASENYA DI UDARA

    Karbon dioksida (CO2) adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak beracun. Karbon dioksida disebut juga gas asam arang karena gas karbon dioksida atom karbon juga dikenal dengan nama arang.
    Kadar gas karbon dioksida (o,035%) dalam udara menempati urutan keempat setelah nitogen, oksigen dan argon. Karbon dioksida di udara sebagian besar berasal dari gas buang pada pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara dan gas alam). Sebagian lagi disuplai oleh kebakaran hutan dan pembakaran materi atau bahan organik yang mengandung unsur karbon (C). Karbon dioksida juga dikeluarkan oleh mahluk hidup pada saat bernafas.

 Pencemaran udara penyumbang terbesar CO2
  Fotosintesis
    Gas karbon dioksida dipakai oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis. Pada fotosintesis karbon dioksida akan dipakai tumbuhan untuk memproduksi karbohidrat dengan bantuan sinar matahari (6CO2 + 6H2O > C6H12O6 +6O2). Pada reaksi fotosintesis dibebaskan gas oksigen yang sangat diperlukan oleh mahluk hidup untuk bernapas dan untuk proses pembakaran (reaksi oksidasi). Pada proses pernapasan dan reaksi oksidasi akan dibebaskan gas karbon dioksida yang kemudian dipakai oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Dari dua persamaan reaksi di atas terlihat bahwa pada pemakaian gas karbon dioksida akan dihasilkan gas oksigen dan sebaliknya pemakaian gas oksigen akan menghasilkan gas karbon dioksida. Inilah yang disebut keseimbangan antara karbon dioksida dan Oksigen.
CO2 adalah Gas Efek Rumah kaca
Efek Rumah Kaca
    Efek rumah kaca (greenhouse effect) berasal dari kondisi yang terjadi pada rumah kaca. Sinar matahari dapat menembus kaca dan masuk ke dalam untuk memanaskan tanaman yang ada dalam rumah kaca. Tetapi sinar ini tidak dapat dipantulkan kembali ke luar melewati rumah kaca sehingga menyebabkan ruangan dalam rumah kaca tersebut semakin panas. Gas karbon dioksida dalam jumlah besar berperilaku seperti kaca yang menyelimuti bumi, sehingga bumi dapat dianggap berada di dalam sebuah rumah kaca yang sangat besar.

Dampak pemanasan global
    Dalam kondisi seperti ini sinar mataharai yang masuk ke bumi akan terjebak (tidak dapat keluar lagi melalui lapisan gas karbon dioksida), sehingga bumi mengalami pemanasan secara keseluruhan (pemanasan global). Pemanasan global dapat mengakibatkan lapisan es di kutub mencair dan mengubah iklim dunia, yang pada gilirannya nanti dapatmembahayakan mahluk hidup secara keseluruhan.

Penggunaan Karbon Dioksida
    Selain untuk proses fotosintesis,karbon dioksida juga dipergunakan dalam bidang lain. Roti, misalnya akan dapat mengembang dalam oven karena soda kue atau ragi dalam roti itu membebaskan karbon dioksida. Gas karbondioksida yang dilepaskan tertangkap oleh kantung gluten yang terdapat dalam tepung gandum dan menggembungkannya. Minuman ringan maupun bir berbusa karena karbon dioksida yang larut dalam minuman itu melepaskan diri. Karbondioksida cair juga digunakan sebagai bahan pemadam kebakaran, karena gas ini tidak dapat dibakar. Karbon dioksida disembunyikan menyelimuti api, sehingga oksigen tidak bersentuhan dengan bahan yang terbakar dan akhirnya api akan padam.
Komposisi gas di Atmosfer
Lebih Berat dari Gas Lain
    Gas karbon dioksida lebih berat dari gas lain di udara, sehingga sering gas ini memisah dan mencari tempat yang lebih rendah, seperti dasar jurang atau sumur tua. Komposisi gas lain seperti oksigen pada daerah ini sangat sedikit. Apabila mahluk hidup termasuk manusia memasuki daerah ini, maka ia akan mengalami kesulitan bernapas dan dapat meninggal dalam keadaan lemas akibat kekurangan oksigen.