"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)

Kamis, 22 April 2010

BURUNG PEMANGSA : PREDATOR DARI UDARA

    Bangsa burung pemangsa (Falconiformes) adalah sebutan bagi dua ordo burung yang hidup dengan cara memangsa hewan lain, yaitu ordo Falconiformes (burung pemangsa siang) dan ordo Strigiformes (burung pemangsa malam). Burung jenis ini memiliki ciri paruh yang kuat, tajam, dan berkait untuk mencabik daging mangsanya serta tungkai panjang yang kuat dengan cakar tajam untuk mencengkeram mangsa. Burung pemangsa juga disebut burung pemburu atau burung perampas.
 Burung Elang
    Ordo Falconiformes dibagi atas empat kelompok famili utama, yakni elang dunia baru yang terdiri dari 6 spesies, termasuk burung kondor, elang kalkun, dan elang bangkai raja, elang ikan, yang terdiri dari berbagai alap-alap, rajawali, dan elang bangkai dunia lama. Ketiga burung sekretaris dengan hanya satu spesies yang masih hidup yaitu Sagittarius serpanterius di padang rumput Afrika, dan keempat Falconidae, yang terdiri dari 60 spesies termasuk alap-alap milvago, falcon hutan, dan falcon sejati. Adapun ordo Strigiformes, mencakup semua spesies burung hantu.
Burung Elang sang predator

Pemburu Siang dan Pemburu Malam
    Falconiformes berburu pada siang hari, sedangkan Srtigiformes pada malam hari. Falconiformes mengandalkan kejelian mata dan kadang dibantu pendengaran. Mereka memiliki penglihatan sangat tajam yang membantu mereka untuk mengatur jarak sempurna saat menyerang mangsa. Adapun Strigiformes lebih bergantung kepada pendengaran. Mereka dapat menangkap tikus yang bergerak dalam gelap dengan mengandalkan ketajaman pendengaran.
Falcon
Falcon
    Falcon adalah burung pemangsa berukuran sedang. Kebanyakan termasuk genus Falco, suku Falconidae. Burung ini terkenal dengan kemampuan dan kecepatan terbangnya yang tinggi. Mereka tidak hanyamenerkam mangsa yang berada di tanah, seperti reptilia dan serangga, tetapi juga yang sedang berada di udara, seperti serangga terbang dan burung kecil. Burung ini mencengkeram mangsanya dalam satu cakar dan kemudian membunuhnya dengan cara mematahkan ruas tulang lehernya.
Kestrel

Kestrel
    Kestrel merupakan kelompok burung falcon yang berbeda dari kebanyakan burung falcon lainnya. Kestrel sering tampak melayang sambil mengintai mangsa di atas tanah. Burung ini selalu terbang dan diam seperti halikopter lalu turun mendekati mangsanya, bukannya menukik. Kestrel merupakan bagian terbesar dari genus Falco. Burung ini tersebar luas di seluruh dunia.
Burung Kondor menyerang Anjing liar
Burung Kondor
    Burung pemangsa besar yang termasuk famili Cathrartidae ini terdiri dari dua spesies, yaitu burung kondor California (Gymnogyps californianus) dan burung kondor Andes (Vultur gryphus). Burung ini merupakan salah satu burung peterbang terbesar. Bentang sayapnya dapat mencapai 3 meter yang berguna untuk terbang tinggi dan melayang berjam-jam. Makanan utamanya adalah bangkai hewan.
Elang Bangkai

Elang Bangkai
    Seperti burung kondor, elang bangkai juga terutama hidup dari bangkai hewan atau hewan yang sekarat. Kepala dan leher pada sebagian besar spesiesnya tidak berbulu. Burung ini terbang tinggi melayang di angkasa mencari makanan. Begitu melihat bangkai, ia menukik dan diikuti elang bangkai lainnya sehingga kemudian terkumpul puluhan ekor burung elang bangkai yang lalu menggerogoti bangkai tersebut.
Burung Elang yang gagah

Elang
    Elang mencakup empat kelompok utama, meskipun tidak berkerabat dekat, yakni rajawali laut, elang ular, rajawali harpa, dan kerabatnya, serta rajawali aquiline atau rajawali "bersepatu". Ada sekitar 280 jenis elang dan semuanya berpenglihatan sangat tajam. Ketika di udara, seekor elang dapat mengamati keadaan di permukaan tanah dengan sempurna. Ia mampu menangkap perubahan warna dan pergerakan yang sangat kecil di bawahnya.

Rabu, 21 April 2010

BURUNG HANTU : SAHABAT PETANI

 
    Burung hantu merupakan kelompok burung dari bangsa Strigiformes yang dijuluki sebagai penjaga malam. Hal ini disebabkan karena burung hantu termasuk hewan nokturnal yang gemar berburu mangsa pada malam hari. Hewan yang hidup menyendiri ini memiliki kepala yang besar dan bulat serta ekor yang pendek.

    Burung hantu memiliki cakar tajam dan kuat yang disebut talon. Paruhnya berkait sehingga memudahkannya untuk merobek daging. Sekitar 145 spesies burung hantu dapat dikelompokkan menjadi dua suku, yaitu suku Tytonidae dan Strigidae. Burung hantu tersebar di hampir semua habitat, termasuk wilayah padang rumput, tundra dan hutan. Burung hantu gereja (Tyto alba) dan burung hantu telinga pendek (Asio flammeus) merupakan spesies yang paling luas penyebarannya.


Sahabat Petani
    Burung hantu dikenal sebagai sahabat petani karena hewan ini sering memangsa tikus dan celurut yang menjadi hama bagi tanaman pertanian. Selain itu, burung hantu juga memangsa bajing, tupai, serangga dan ikan. Karena tidak memiliki tembolok, burung hantu menelan mangsanya bulat-bulat. Meskipun demikian, burung ini tidak mencerna bagian tulang, bulu, kaki dan paruh mangsanya. Bagian-bagian tersebut dibuang di sekitar sarangnya. Sebagai pemburu sejati, burung hantu memiliki kebiasaan untuk menghadang dan menyerang mangsanya.


Indra Penglihatan dan Pendengaran
    Ukuran tubuh burung hantu bervariasi. Panjang badannya mencapai 13-70 cm, sedangkan rentang sayapnya sekitar 30-200 cm. Spesies terkecil adalah burung hantu peri (Micrathene whitneyi) yang hidup di Amerika Serikat dan Meksiko. Adapun spesies terbesar adalah burung hantu abu-abu besar (Strix nebulosa) yang hidup di Kanada dan Alaska.
    Burung hantu memiliki indra penglihatan dan pendengaran yang tajam. Matanya yang besar terletak di depan kepala sehingga dapat digunakan untuk melihat obyek secara lurus. Meskipun mata burung hantu tidak bisa berputar, namun hewan ini dapat melihat sesuatu di belakangnya dengan cara memutar lehernya. Selain itu, burung hantu mampu menentukan lokasi mangsa melalui bunyi yang didengarnya. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan malam tersebut dapat dibantu oleh kepakan sayap yang tidak menimbulkan suara ketika terbang. Hal ini disebabkan karena bulu sayap burung hantu lembut seperti kapas sehingga hewan ini dapat menukik ke arah mangsa tanpa menimbulkan suara.

Telur Burung Hantu
    Telur burung hantu berwarna putih dan berbentuk bulat. Individu betina biasanya menghasilkan sekitar 3-12 butir telur. Telur-telur tersebut dierami selama 4-5 minggu di dalam sarang atau rongga pohon. Hewan ini tidak membuat sarangnya sendiri, namun menggunakan sarang burung pelatuk, gagak atau elang yang ditinggalkan oleh penghuninya. Individu betina lebih berperan dalam mengerami telurnya, sedangkan individu jantan bertugas untuk mencari makan. Setelah telur menetas, induk jantan dan betina mengasuh anaknya secara bersama-sama.
    Untuk melindungi dirinya, beberapa jenis burung hantu mempertunjukkan gerakan bela diri dengan cara memekarkan bulu serta membentangkan sayapnya. Pandangan mata dan cakar yang tajam memberi kesan seram bagi mush-musuhnya. Cara ini juga dilakukan oleh anak-anak burung hantu yang masih berbulu kapas.


Sumber Referensi : Ensiklopedi Umum Untuk Pelajar

KASUARI : UNGGAS RAKSASA DARI INDONESIA TIMUR

    Kasuari (Casuarius) adalah marga sekelompok burung besar yang tidak bisa terbang. Hewan yang termasuk suku Casuariidae ini mempunyai ciri khusus yaitu gelambir berwarna biru dan merah tua yang menggantung di lehernya. Kepala dihias ketopong (Sisir pipih mirip tanduk) setinggi 15 cm dari tempurung kepalanya. Bulunya hanya menyerupai rambut kasar yang terkulai berwarna hitam mengkilap. Bulu anak kasuari berwarna cokelat dan berubah menjadi hitam setelah dewasa.
     Burung kasuari tersebar di hutan hujan tropis, seperti di daerah papua Nugini, Australia, Kepulauan Aru dan Papua, Indonesia. Di habitatnya, hewan yang aktif pada malam hari ini hidup menyendiri (soliter). Kasuari makan berbagai macam tumbuhan, akar-akar lunak, buah-buahan yang jatuh ke tanah, dan serangga. Kasuari dewasa dapat mencapai bobot 85 kg dengan tinggi 1,8 m.

 Burung Kasuari dan anaknya
 Anatomi
    Kasuari mempunyai tiga jari kaki kuat dengan kuku yang panjangnya hingga 10 cm. Dengan kakinya yang ramping dan kuat kasuari mampu berlari 50 km/jam dan dapat melompat setinggi 1,5 meter. Selain itu kasuari juga dapat menggunakan kakinya untuk berenang.

 Kasuari jantan si pengasuh anak
Kasuari Jantan Si Pengasuh Anak
    Kasuari jantan berwarna lebih mengkilap dibandingkan kasuari betina. Selain itu jengger jantan lebih besar dan berdiri tegak. Pola perkawinannya bersifat monogami. Pada saat musim kawin, kasuari jantan mendekati betina sambil berputar-putar dan mengepakkan sayap. Setelah kawin, kasuari betina biasanya bertelur sebanyak 5-6 butir semusim. Telur tersebut diletakkan di sarang yang dibuat di sela-sela semak belukar di dalam hutan dan ditutupi daun kering dan ranting-ranting pohon untuk menghindari pemangsanya.
    Ukuran telur rata-rata 135 mm x 90 mm dengan berat sekitar 650 gram. Cangkang telurnya berwarna hijau mengkilap dan akan berubah warna menjadi lebih gelap. Telur dierami oleh kasuari jantan selama 49-56 hari. Lebih istimewa lagi, kasuari jantan juga mengasuh anak-anak yang baru menetas hingga berumur sekitar satu tahun, suatu hak pengasuhan yang berbeda dari kebanyakan hewan lainnya. Anak kasuari belum mempunyai jengger. Ketika baru menetas bulu-buunya berwarna kekuning-kuningan dengan garis-garis cokelat. Setelah beberapa bulan garis-garis tersebut hilang dan warnanya berubah menjadi cokelat polos.

Induk Kasuari dan anaknya yang tumbuh remaja
Burung Agresif
    Di habitat aslinya predator kasuari adalah macan dan serigala. Untuk menghindari perhatian predator, kasuari tidak hidup berkelompok. Kasuari dapat mengantisipasi kedatangan predatornya dengan sesering mungkin mengamati keadaan sekitar. Apabila ada tanda-tanda bahaya, kasuari segera lari menyusup ke semak belukar lebat sehingga sulit ditemukan. Kasuari termasuk jenis burung yang sangat agresif dalam menghadapi gangguan luar. Burung ini akan menyerang si pengganggu dengan menggunakan cakar kakinya.

 Kasuari gelambir ganda
    Di Indonesia, burung kasuari termasuk burung langka dan dilindungi karena populasinya di alam liar tinggal sedikit. Ancaman bagi keberadaan burung kasuari di Indonesia adalah kerusakan habitat akibat pembukaan lahandan hutan untuk area pertanian ataupun pembalakan (penebangan hutan) untuk kepentingan industri kayu. Disamping itu, kasuari banyak diburu penduduk untuk diambil daging dan telurnya.

Selasa, 20 April 2010

PLATIPUS : MAMALIA PETELUR

    Platipus (Ornithorhynchus anatinus) adalah kelompok mamalia petelur dari suku Ornithorhynchidae yang moncongnya berbentuk seperti paruh bebek sehingga disebut duckbill. Anggota ordo Monotremata ini hanya dijumpai di perairan tawar Australia bagian Timur, Australia bagian Selatan dan Pulau Tasmania. Platipus biasanya diburu untuk diambil bulunya. Oleh sebab itu, pemerintah Australia memberlakukan undang-undang konservasi bagi platipus sejak tahun 1920-an.
    Tubuh platipus memiliki panjang sekitar 30-50 cm dan bobot sekitar 2 kg. Ekornya yang rata berukuran sekitar 10-15 cm. Kemampuan berenang platipus ditunjang oleh jari-jari kakinya yang berselaput. Tubuh dan ekor hewan ini ditutupi oleh bulu yang tebal dan halus. Kepala platipus dilengkapi dengan sepasang mata yang berukuran kecil. Meskipun tidak memiliki daun telinga, hewan ini memiliki pendengaran yang tajam. Kepalanya langsung bersambung dengan badan tanpa diperantai leher. Platipus adalah hewan pemalu dan terkadang sulit diamati, meskipun di tempat mereka berkumpul.
Platipus
Moncong Panjang
    Perbedaan platipus dengan mamalia lain adalah ia memiliki rahang bawah dan atas seperti bebek. Jadi, platipus dapat mencari makan seperti burung, di tempat-tempat berlumpur atau di beting-beting danau. Moncong platipus berukuran panjang sekitar 6 cm dan lebar sekitar 5 cm. Selain untuk mendeteksi mangsa, moncong yang berbentuk paruh bebek ini digunakan untuk mengaduk dasar air ketika platipus mencari serangga air, cacing, dan hewan-hewan bercangkang.
 Platipus mamalia bermoncong seperti bebek

Liang Platipus
    Ketika menyelam ke dalam air, kaki depan platipus berperan sebagai dayung dan kaki belakangnya berperan sebagai kemudi. Platipus menyimpan makanannya di dalam kantung pipi. Setelah muncul ke permukaaan air, makanan tersebut akan dikunyah dengan moncongnya. Platipus biasanya beraktivitas pada pagi dan sore hari. Hewan ini sering menghabiskan waktunya di dalam liang yang terletak di tepi sungai atau danau. Masing-masing individu tinggal sendiri di dalam liang, kecuali platipus betina yang sedang mengasuh anak-anaknya. Liang platipus bisa mencapai panjang sekitar 9-18 m.
 Platipus menyelam mencari mangsa

Cakar Beracun
    Masa hidup platipus dapat mencapai 10 tahun atau lebih. Pada umumnya, ukuran tubuh platipus jantan lebih besar daripada ukuran tubuh platipus betina. Platipus jantan mempunyai cakar beracun pada kaki belakangnya. Cakar ini digunakan sebagai alat pertahanan diri dari predator atau pemangsa. Selain itu, cakar platipus jantan juga dipakai untuk menyingkirkan pesaingnya, yaitu sesama platipus jantan, pada saat musim kawin tiba.
Platipus dan bayinya

Mamalia Petelur
    Berbeda dengan anggota mamalia yang lain, platipus tidak melahirkan anaknya melainkan bertelur. Hubungan kelamin terjadi di dalam air. Sesudah pembuahan, terjadi pematangan telur. Pada saat musim kawin, platipus betina membangun sarang dari dedaunan dan rerumputan. Sarang tersebut ditempatkan pada ujung liang yang ditinggalnya. Untuk menghindari dari gangguan selama bertelur, platipus betina menutup jalan masuk liangnya dengan lumpur. Setiap kali bertelur, platipus betina menghasilkan 2-4 butir telur . Kulit telur menempel satu sama lain. Telur tersebut menetas setelah 10 hari. Anak platipus menyerupai hewan berkantung yang baru lahir dengan tungkai depan yang besar namun tungkai belakang tidak terlalu kuat. Anak platipus menyusu pada induknya dan tinggal bersama di dalam liang selama 4 bulan. 

Sumber : Ensiklopedi Umum Untuk Pelajar

Senin, 19 April 2010

RAMBUTAN : BUAH ASLI INDONESIA

    Rambutan (genus Nephelium) adalah kelompok tumbuhan dikotil penghasil buah yang sangat populer di Indonesia. Buahnya mudah dikenali karena kulit buahnya memiliki struktur seperti rambut. Buah rambutan berwarna hijau pada saat muda dan merah atau kuning pada saat matang, serta berbiji. Anggota suku Sapindaceae ini berasal dari Indonesia. Rambutan merupakan salah satu buah yang banyak disukai karena daging buahnya mempunyai rasa yang manis dan banyak mengandung vitamin C.
    Budidaya rambutan telah tersebar ke daerah tropis, seperti Filipina, Thailand dan negara-negara Amerika Latin. Di Indonesia, tanaman ini dibudidayakan di beberapa tempat seperti Binjai, Kuningan, Garut, Malang, Probolinggo dan Lumajang. Rambutan yang dibudidayakan terdiri dari 22 kultivar, baik yang berasal dari galur murni maupun yang berasal dari hasil okulasi maupun persilangan.

Syarat Pertumbuhan
    Pembudidayaan rambutan memerlukan beberapa syarat pertumbuhan. Pada umumnya, tanaman musiman ini tumbuh dengan baik pada daerah yang berketinggian sekitar 30-500 m di atas permukaan air laut. Rambutan memerlukan penyinaran matahari penuh untuk pertumbuhannya. Selain itu, curah hujan sekitar 1.500-2.500 mm/tahun dan temperatur udara sekitar 25-30oC merupakan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan rambutan.
 Gerombol buah rambutan
Cangkokan
    Rambutan umumnya dikembangbiakkan dengan biji, cangkokan, dan okulasi (penempelan). Tanaman yang dikembangbiakkan dengan biji umumnya berbuah setelah berumur lima tahun. Pencangkokan tanaman sering dilakukan oleh para petani karena sifat bibit atau anakan yang dihasilkan mirip dengan sifat induknya. Selain itu, rambutan yang dikembangbiakkan dengan cangkokan lebih cepat berbuah daripada rambutan yang dikembangkan dengan biji.
Buah rambutan segar
Hama dan Penyakit
    Berbagai hama dan penyakit sering menyerang tanaman rambutan. Hama terdapat pada rambutan berupa serangga (semut, ulat, kutu dan kepik), kelalawar, dan bajing. Penyakit yang merusak tanaman ini antara lain penyakit bercak daun (akibat ganggang Chaphaleuros), kerak batang (akibat lumut kerak atau lichen), dan penyakit akar putih (akibat jamur Rigidoporus Lignosus). Selain hama dan penyakit, pertumbuhan rambutan juga dapat terhambat akibat gulma (tanaman pengganggu) sehingga penyiangan secara rutin perlu terus dilakukan.
Kebun Rambutan


Manisan Rambutan
    Buah rambutan dapat dikonsumsi sebagai buah segar atau diolah menjadi buah kaleng dan manisan rambutan. Selain vitamin C, daging buah rambutanmengandung beberapa zat gizi seperti karbohidrat, kalsium, fosfor dan zat besi. Pohon rambutan yang tinggi dan berdaun lebat sering dimanfaatkan untuk pohon pelindung. Pucuk daun rambutan juga digunakan dalam proses pewarnaan sutra. Adapun air rebusan pucuk daun, akar dan kulit batang dipercaya berguna untuk mengobati disentri.