"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)

Minggu, 29 Juli 2018

HARI HARIMAU SEDUNIA 2018 : SELAMATKAN HARIMAU SUMATERA

 
Harimau Sumatera
    Hari Minggu, 29 Juli 2018 adalah hari yang bertepatan dengan peringatan Global Tiger Day atau Hari Harimau Sedunia yang ditetapkan sejak 8 tahun yang lalu.  Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day merupakan peringatan tahunan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi harimau sedunia. Peringatan yang jatuh pada tanggal 29 Juli ini mulai ditetapkan pada Pertemuan Tingkat Tinggi untuk Konservasi Harimau atau disebut juga Tiger Summit Meeting di St. Petersburg, Rusia, November 2010 yang lalu.
Keeper Harimau Sumatra di  Taman Safari Bogor
    Diperingatinya Global Tiger day ini bermula dari keprihatinan atas hilangnya 93% habitat alami harimau akibat ekspansi manusia untuk kebutuhan pemukiman dan pertanian. Populasi harimau yang tersisa saat ini terdesak di petak-petak kecil hutan yang berdampak tingginya resiko inbreeding. Kecilnya petak hutan tersebut juga meningkatkan resiko perburuan. Hal ini terjadi di berbagai habitat harimau di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia, terutama di Sumatera yang menjadi habitat harimau terakhir Indonesia. Untuk memperingati Global Tiger Day 2018 maka melalui postingan kali ini menurunkan artikel tentang Harimau Sumatera, satu-satunya spesies Tiger yang yang masih tersisa di Indonesia
    Harimau sumatera (bahasa Latin: Panthera tigris sondaica) adalah subspesies harimau yang habitat aslinya di pulau Sumatera, merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Populasi di alam liar saat ini diperkirakan antara 600-700 ekor, terutama hidup di taman-taman nasional di Sumatera. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan tanda-tanda genetik yang unik, yang menandakan bahwa subspesies ini mungkin berkembang menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari. Penghancuran habitat merupakan ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 619 ekor harimau sumatera terbunuh antara tahun 1990 dan 2000. 

Tabel 1. Harimau Sumatera yang dibunuh tahun 1990-2000
Provinsi
1990
91
92
93
94
95
96
97
98
99
2000
Total
Bengkulu
10
5
5
7
12
24
25
46
46
33
2
215
Sumatera Selatan
4
15
15
9
11
9
17
14
13
107
Lampung
2
4
5
12
10
18
25
11
4
91
Jambi
1
6
6
14
17
14
9
8
75
Riau
4
1
2
6
4
11
10
12
13
8
2
73
Sumatera Barat
1
3
2
4
5
11
12
13
7
58
Total
15
10
27
35
40
69
79
122
125
81
16
619
Sumber: Tilson et al (2010)

Dilihat asalnya, menurut Tilson et al (2010), jumlah harimau sumatera yang dibunuh lebih banyak berasal dari taman nasional (369 individu atau 58%) dibandingkan dari luar taman nasional (260 individu atau 42%). TNKS merupakan taman nasional dengan jumlah terbanyak. Yakni, 122 individu atau 33% dari total harimau sumatera dari taman nasional (369 individu).

Tabel 2.  Harimau yang dibunuh Tahun 1990-2000 di dalam dan luar taman nasional
Lokasi
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
Way Kambas
0
0
1
0
0
1
2
3
4
3
1
Bukit Barisan Selatan
0
0
1
4
6
11
9
18
24
9
4
Kerinci Seblat
2
3
8
10
9
14
15
21
25
15
1
Berbak
0
0
0
0
2
3
10
11
8
5
4
Bukit Tigapuluh
0
0
0
1
5
14
18
21
19
10
4
Total Dalam Taman Nasional
2
3
10
15
22
43
54
74
80
42
14
Luar Taman Nasional
13
7
17
20
18
26
25
48
45
39
2
Total
15
10
27
35
40
69
79
122
125
81
16
Sumber: Tilson et al (2010)
Perburuan di Bengkulu
    Perburuan harimau di Bengkulu, tambah Tilson et al (2010), melibatkan 63 orang (24 profesional, 33 amatir, dan 6 orang pemula). Jumlah itu, jauh lebih banyak dibandingkan di Lampung yang melibatkan 25 orang (8 profesional dan 27 amatir), serta Sumatera Selatan yang melibatkan 11 orang (2 profesional dan 9 amatir). Hasil investigasi PHS-TNKS wilayah Bengkulu mengidentifikasi kelompok pemburu harimau di Mukomuko, Bengkulu Utara, Lebong dan Rejang Lebong berkisar 10 – 15 orang. Setiap kelompok berjumlah 2 – 5 anggota. Kelompok ini dibiayai pemodal atau sendiri. “Beberapa pernah sekelompok, kemudian pindah ke kelompok lain, atau membentuk kelompok baru bersama anggota kelompok lain atau merekrut anggota baru,” papar Nurhamidi.
Save Sumatran Tiger
   Di Bengkulu, dan Pulau Sumatera pada umumnya, hampir semua konflik harimau-manusia terjadi di kawasan pertanian dan perkebunan swasta yang dekat hutan. Tercatat, 8 orang meninggal dalam 125 konflik yang terjadi antara 2007 – 2014. Sedangkan jumlah Harimau yang terbunuh pada periode tahun 2000-2010 diseluruh Sumatera lebih dari 160 ekor Harimau, dan pada periode tahun 2010 sampai Juli 2018 ini sudah lebih dari 100 ekor Harimau Sumatera yang terbunuh. “Alih fungsi lahan atau hutan menjadi pemukiman, pertanian, perkebunan, dan juga pertambangan merupakan sebab utama. Karena itu, sangat penting bagi pemerintah untuk melakukan analisis komprehensif sebelum mengeluarkan kebijakan.
    Di Tahun 2018 ini, kasus memilukan tewasnya Harimau Sumatera terjadi di Sumatera Utara dimana satu individu harimau sumatera yang diduga sakit, dibunuh saat beristirahat di bawah kolong rumah panggung warga di Desa Bankelang, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Minggu 4 Maret 2018 pagi. Sang raja rimba itu meregang nyawa akibat ditombak dan ditembak. Ucok Nasution, warga yang menyaksikan kejadian mengatakan, saat ditemukan warga, harimau malang itu hanya diam. Matanya sayu. Gerakannya lambat ketika warga coba mengusirnya, melempari dengan batu. Bahkan, ketika ada warga yang coba memukulnya menggunakan kayu, harimau itu hanya kuat mengangkat satu kaki.
Sadis, Jasad Harimau sumatera yang digantung di Madina
   “Ketika semua ribut harimau, saya langsung ke lokasi. Kondisnya memang tidak sehat. Dia tidak melawan sama sekali ketika ada yang coba memukulnya,” terangnya. Karena harimau tidak mau pindah, warga panik dan menghubungi aparat kepolisian. Warga meminta polisi untuk menembaknya, begitu tiba di lokasi, karena takut nantinya menerkam. Salah seorang polisi langsung menembak, tak lama berselang warga mengambil tombak. Menghujami kucing besar itu berkali-kali. Sempat mengaum, harimau itu tak lama mati. “Jujur, secara pribadi saya melihatnya begitu sadis. Saya yakin, harimau ini kondisinya tidak sehat, karena tidak melawan. Mungkin, dia masuk kampung “minta” diobati, tetapi malah mati mengenaskan,” ungkapnya.
    Peristiwa terbunuhnya Harimau Sumatera diatas hanyalah sebagian kecil yang terungkap dimedia masa, masih banyak kasus harimau yang mati terkena jerat dan diburu yang tidak terungkap oleh aparat, misalnya terjadinya berulangkali penangkapan pemburu dan penjual  kulit Harimau yang baru terungkap seperti yang terjadi di Provinsi Nangroe Aceh Darusalam Senin, 23 Juli 2018 yang lalu, Polres Aceh Selatan, menangkap dua penadah kulit harimau sumatera beserta barang bukti satu kulit harimau utuh yang belum sempat dijual. Dua pelaku bernama Sarkawi (41 tahun) dan Sabaruddin (45 tahun), yang merupakan warga Simpang Kiri, Kota Subulussalam, diringkus berkat laporan masyarakat. Beberapa kasus kematian Harimau Sumatera telah diposting setahun lalu di Blog ini (Baca : Kisah Sedih Kematian Harimau Sumatera bagian 1 dan 2 ) yang juga hanya sebagian kecil kisah memilukan terbunuhnya Harimau Sumatera yang terungkap di media masa.

Ciri-ciri Harimau Sumatera
 
Harimau Sumatra sedang minum
Harimau sumatera adalah subspesies harimau terkecil. Harimau sumatera mempunyai warna paling gelap di antara semua subspesies harimau lainnya, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet. Harimau sumatera jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut atau sekitar 250 cm panjang dari kepala hingga kaki dengan berat 300 pound atau sekitar 140 kg, sedangkan tinggi dari jantan dewasa dapat mencapai 60 cm. Betinanya rata-rata memiliki panjang 78 inci atau sekitar 198 cm dan berat 200 pound atau sekitar 91 kg. Belang harimau sumatera lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Warna kulit harimau sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga jingga tua. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat. Harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.
   Pada tahun 2017, Satuan Tugas Klasifikasi Kucing dari Cat Specialist Group merevisi taksonomi kucing sehingga populasi harimau yang hidup dan punah di Indonesia sekarang digolongkan sebagai P. t. sondaica.

Habitat Harimau Sumatera
   
Anak Harimau Sumatera
Harimau sumatera hanya ditemukan di pulau Sumatera. Kucing besar ini mampu hidup di manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia. Harimau sumatera mengalami ancaman kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia, dan seringkali mereka dibunuh dan ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia.

Tebel 3. Distribusi Harimau Sumatera Tahun 2012
Lanskap Hutan harimau
Jumlah Harimau Tahun 2012
Jumlah Harimau  Tahun 2000
 1 — Ulu Masen
45
51
 2 _  Gunung Leuser
140
154
 3 — Sibolga & Batang Toru
52
54
 4 — Batang Gadis / Rimbo-Panti
61
67
 5 — Rimbang Baling & Batang Hari
53
71
 6 __ Kerinci Seblat
122
145
 7 — Bukit Barisan Selatan
41
46
 8 — Bukit Tiga Puluh
22
36
 9 — Senepis-Buluhala
14
23
10 — Kuala Kampar
26
42
11 — Tesso Nilo
6
13
12 — Bukit Dua Belas
3
5
13 — Berbak
16
17
14 — Harapan
8
9
15 — Way Kambas
10
10
Total
618
742
Sumber Data : Www.Nature.Com(Wibisono.Et.al)

Makanan Harimau Sumatera

Bayi Harimau Sumatera
Makanan harimau sumatera tergantung tempat tinggalnya dan seberapa berlimpah mangsanya. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mepertahankan populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga. Mereka memiliki indra pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam, yang membuatnya menjadi pemburu yang sangat efisien. Harimau Sumatera merupakan hewan soliter, dan mereka berburu pada malam hari, mengintai mangsanya dengan sabar sebelum menyerang dari belakang atau samping. Mereka memakan apapun yang dapat ditangkap, umumnya babi hutan dan rusa, dan kadang-kadang unggas atau ikan. Orangutan juga dapat jadi mangsa, mereka jarang menghabiskan waktu di permukaan tanah, dan karena itu jarang ditangkap harimau. Harimau sumatera juga gemar makan durian.
 
Dalam keadaan tertentu harimau sumatera juga memangsa berbagai alternatif mangsa seperti kijang (Muntiacus muntjac), kancil (Tragulus sp), beruk (Macaca nemestrina), landak (Hystrix brachyura), trenggiling (Manis javanica), beruang madu (Helarctos malayanus), dan kuau raja (Argusianus argus)
Harimau sumatera juga mampu berenang dan memanjat pohon ketika memburu mangsa. Luas kawasan perburuan harimau sumatera tidak diketahui dengan tepat, tetapi diperkirakan bahwa 4-5 ekor harimau sumatera dewasa memerlukan kawasan jelajah seluas 100 kilometer di kawasan dataran rendah dengan jumlah hewan buruan yang optimal (tidak diburu oleh manusia).

Reproduksi
Tati, Keeper Harimau Sumatra
Harimau sumatera dapat berbiak kapan saja. Masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Biasanya harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6 ekor. Mata anak harimau baru terbuka pada hari kesepuluh, meskipun anak harimau di kebun binatang ada yang tercatat lahir dengan mata terbuka. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama 8 minggu pertama. Sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan. Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang pada umur 2 minggu, dan belajar berburu pada umur 6 bulan. Mereka dapat berburu sendirian pada umur 18 bulan, dan pada umur 2 tahun anak harimau dapat berdiri sendiri. Harimau Sumatera dapat hidup selama 15 tahun di alam liar, dan 20 tahun dalam kurungan.

Ancaman Harimau Sumatera
   Perdagangan bagian tubuh harimau di Indonesia saat ini semakin memprihatinkan. Penemuan tentang perdagangan harimau tersebut tercermin dalam survei Profauna Indonesia yang didukung oleh International Fund for Animal Welfare (IFAW) pada bulan Juli - Oktober 2008. Selama 4 bulan tersebut Profauna mengunjungi 21 kota/lokasi yang ada di Sumatera dan Jakarta. Dari 21 kota yang dikunjungi Profauna, 10 kota di antaranya ditemukan adanya perdagangan bagian tubuh harimau (48 %). Bagian tubuh harimau yang diperdagangkan meliputi kulit, kumis, cakar, ataupun opsetan utuh.
Harga bagian tubuh harimau yang dijual itu bervariasi. Untuk yang utuh dijual seharga Rp. 5 juta per lembar sampai dengan 25 juta per lembar. Sedangkan taring harimau ditawarkan seharga Rp. 400.000 hingga Rp. 1,1 juta. Kebanyakan bagian tubuh harimau tersebut dijual di toko seni, penjual batu mulia, dan penjual obat tradisional. Untuk perdagangan bagian tubuh harimau paling banyak terjadi di Lampung.   Dwi Adhiasto, Program Manager Wildlife Crime Unit (WCU) mengatakan, perburuan harimau sumatera dan satwa lainnya di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) juga daerah lain di Indonesia dilakukan sistematis. Para pemburu berhubungan satu dengan lainnya. Mereka bukan mencari peruntungan, tapi sudah berjejaring. “Ada permintaan di Indonesia maupun dari luar terutama kulit dan taring harimau.”
Induk Harimau Sumatra dan anaknya
   Di Indonesia, kelompok-kelompok pemburu dan penampung juga pedagang, saling membantu. Meski kadang mereka beda kelompok, tapi tidak berkompetisi malahan kerja sama. Memberantas kelompok terorganisir ini harus dengan menangkap satu persatu. Mulai dari pemburu, pembeli, pengepul, pedagang, pemodal, hingga petinggi di jaringan itu harus ditangkap. “Agak sulit memang menangkap pelaku di level provinsi karena pemburu lokal tidak mengenalnya, jaringan mereka rapi.”
Keputusan hukum saat ini belum memberi efek jera. Pelaku yang telah divonis penjara, setelah bebas akan melanjutkan lagi hobinya memburu harimau sumatera. “Seperti yang terjadi di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, ada pelaku yang divonis dua tahun, setelah bebas kembali berburu dan tertangkap lagi. Ini bukti, risiko yang mereka terima lebih ringan dibanding keuntungan yang diperoleh,” jelasnya.
   Deforestasi dan degradasi hutan di Pulau Sumatera yang sangat besar akan mengancam terhadap keanekaragaman hayati yang ada. Deforestasi dan degradasi akan menyebabkan hilangnya hutan atau terpotong-potongnya hutan menjadi bagian-bagian kecil dan terpisah. Alih fungsi hutan banyak digunakan untuk perkebunan, hutan tanaman industri, pemukiman, industri, dll. Investigasi Eyes on the Forest (2008) melaporkan bahwa pembuatan jalan logging oleh Asia Pulp & Paper (APP) sepanjang 45 km yang membelah hutan gambut di Senepis Propinsi Riau  mengakibatkan penyusutan luas hutan dan memicu peningkatan konflik manusia-harimau di kawasan tersebut. Perusakan habitat dan perburuan hewan mangsa telah diketahui sebagai faktor utama yang menyebabkan turunnya jumlah harimau secara dramatis di Asia.
Peta Distribusi  Harimau dan Foto Harimau Sumatera di TN Bukit Barisan Selatan
    Keberadaan harimau sumatera saat ini menjadi sebuah polemik tersendiri karena mengakibatkan konflik antara manusia dan harimau. Rusaknya habitat alami harimau sumatera mengakibatkan satwa ini tersingkir dari habitat alaminya, sehingga menimbulkan gangguan terhadap manusia. Serangan harimau sumatera terhadap manusia dan hewan ternak telah sering terjadi. Serangan harimau sumatera yang menewaskan 3 ekor ternak sapi terjadi di Desa Talang Kebun Kecamatan Lubuk Sandi Kabupaten Seluma Propinsi Bengkulu. Sementara itu dalam kurun waktu dua tahun terakhir di Popinsi Sumatera Barat tercatat 26 kasus konflik harimau dengan manusia, sebanyak 16 kasus menghilangkan nyawa manusia dan sisanya memangsa ternak masyarakat.
    Masih maraknya perdagangan bagian tubuh harimau tersebut sudah dilaporkan Profauna ke Departemen Kehutanan melalui Dirjen PHKA pada bulan April 2009, dengan harapan pemerintah bisa mengambil langkah-langkah tegas untuk mengatasi perdagangan satwa langka yang dilindungi tersebut. Beberapa tindakan nyata telah diambil pemerintah untuk memerangi perdagangan bagian tubuh harimau di Jakarta.

Penegakan hukum
   
Pertunjukan Harimau Sumatra di Taman Safari, Bogor
Pada tanggal 7 Agustus 2009, Satuan Polhut Reaksi Cepat dan Satuan Sumdaling Polda Metro Jaya berhasil menggulung sindikat perdagangan kulit harimau di Jakarta. Selain mengamankan 2 kulit harimau sumatera utuh, polisi juga menyita 6 awetan burung cendrawasih, 2 kulit kucing hutan, 12 awetan kepala rusa, 1 surili, 5 tengkorak rusa, 1 kepala beruang dan 1 kulit rusa sambar. Sindikat perdagangan satwa langka itu diduga juga melibatkan sejumlah kebun binatang di Jawa dan Sumatera. Terungkapnya sindikat perdagangan harimau dan satwa langka lainnya di Jakarta tersebut membuktikan bahwa laporan Profauna tentang perdagangan harimau adalah sebuah fakta. Fakta tersebut seperti fenomena gunung es, hanya tampak di permukaannya saja. Fakta sebenarnya diyakini jauh lebih besar dari yang sudah terdektesi.

Perlindungan harimau
Wajah Harimau Sumatra lebih garang
Perdagangan bagian tubuh harimau di Indonesia adalah perbuatan kriminal, karena melanggar Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Berdasarkan pasal 21 dalam undang-undang nomor 5 tahun 1990 poin (d) bahwa "setiap orang dilarang untuk memperniagakan, menyimpan atau memiliki, kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia". Pelanggar dari ketentuan tersebut dapat dikenakan sanksi pidana berupa hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimum 100 juta. 
   Memulihkan dan meningkatkan populasi harimau sumatera beserta bentang alamnya pulih. Upaya konservasi in-situ merupakan program utama konservasi harimau sumatera dengan memulihkan populasi harimau dan habitat alaminya. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain adalah :
  1. Membangun jaringan komunikasi dan kemitraan untuk meningkatkan kerjasama konservasi di semua tingkatan baik lokal, nasional, maupun internasional. Mengembangkan pengawasan terpadu dan intensif antara pemerintah, lembaga non pemerintah, dan masyarakat terhadap kegiatan konservasi. Selain itu juga dilakukan pendidikan dan penyadartahuan masyarakat secara terpadu dan berkesinambungan tentang pentingnya konservasi harimau sumatera. Membangun mekanisme pendanaan yang berkelanjutan dalam mendukung kegiatan konservasi harimau sumatera.
    Bayi Harimau Sumatera
  2. Meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia dengan melaksanakan berbagai program peningkatan kapasitas tim konservasi harimau sumatera baik yang dikelola oleh pemerintah, lembaga non pemerintah, maupun masyarakat. Memperkuat infrastrukur instansi yang melakukan pelaksanaan dan pemantauan konservasi harimau. Selain itu juga dilakukan penyusunan rencana pengelolaan konservasi pada setiap bentang alam harimau sumatera sesuai dengan karakteristik dan potensi di lapangan. Mengembangkan pusat informasi terpadu tentang konservasi harimau sumatera yang dapat diakses secara luas oleh masyarakat.
  3. Membangun dan meningkatkan koneksitas antara habitat-habitat utama harimau sumatera melalui pengembangan koridor dalam rangka memperluas daerah bagi harimau sumatera untuk menjelajah. Karena harimau sumatera memerlukan teritori (wilayah) yang luas untuk mendapatkan mengsa yang cukup. Semua potensi habitat dan sebaran harimau sumatera perlu dimasukkan sebagai bahan pertimbangan utama dalam proses perencanaan zonasi taman nasional. Membina kekayaan genetik unit-unit populasi harimau sumatera, terutama pada habitat yang kritis untuk menghindari erosi ragam genetik melalui pengembangan restocking populasi dan translokasi. Mengembangkan upaya pengelolaan mitigasi konflik untuk menyelamatkan harimau yang bermasalah dengan relokasi, translokasi, dan penetapan kawasan pelepasliaran alami. Meningkatkan program pemantauan terhadap populasi, ekologi, dan habitat harimau sumatera dengan memperkuat dasar hukum dan kapasitas aparatur yang berwenang
Perlindungan melalui Agama
   Untuk Indonesia, yang mayoritas penduduknya muslim maka agama memiliki pengaruh yang sangat kuat. Kekuatan Agama Islam disini terlihat dari kelembagaannya yang permanen seperti adanya organisasi, masjid/musholla, pesantren/madrasah, hingga perguruan tinggi. “Untuk potensi pesantren saja, berdasarkan data Kementerian Agama 2009, terdapat sekitar 21.521 pesantren dengan total santri 3.818. 469 orang.”Hal penting lain adalah dengan adanya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No 4/2014 tentang Perlindungan Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem, 22 Januari 2014, merupakan hal yang menggembirakan.
Lestarikan Harimau Sumatera
     Keputusan penting fatwa tersebut adalah membunuh, menyakiti, menganiaya, memburu, dan/atau melakukan tindakan yang mengancam kepunahan satwa langka hukumnya haram kecuali ada alasan syar’i seperti melindungi dan menyelamatkan jiwa manusia. Demikian juga bila melakukan perburuan dan/atau perdagangan ilegal satwa langka yang hukumnya haram.
    Tentunya, sosialisasi tentang fatwa tersebut harus terus dilakukan, baik melalui khutbah Jum’at atau juga pelatihan para dai dan guru. Selain itu, pelibatan semua lapisan mulai dari tokoh agama, aktivis lingkungan, pemerintah, swasta, sekolah, dan masyarakat guna penyadaran pentingnya penyelamatan harimau sumatera, harus dilakukan.
    Harimau sumatera yang berdasarkan IUCN (International Union for Conservation of Nature) berstatus Kritis (Critically Endangered/CR) ini, memang harus dilindungi. Jangan sampai, statusnya yang selangkah lagi menuju kepunahan di alam, benar-benar terjadi. Mari selamatkan Harimau Sumatera bersama-sama, jaga dan lindungi keberadaannya agar tetap lestari selamanya di bumi Indonesia yang kita cintai.  

Sumber Referensi : Wikipedia Indonesia.Org, Mongabay Indonesia