"SELAMAT DATANG DI BLOG EKOGEO"(Pendidikan, Geografi dan Lingkungan)

Minggu, 16 Juli 2017

GLOBAL TIGER DAY : SELAMATKAN HARIMAU

Persahabatan Manusia Dan Harimau Jangan Hanya di Film Saja
Apakah Global Tiger Day?
   Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day merupakan peringatan tahunan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi harimau sedunia. Peringatan yang jatuh pada tanggal 29 Juli ini mulai ditetapkan pada Pertemuan Tingkat Tinggi untuk Konservasi Harimau atau disebut juga Tiger Summit Meeting di St. Petersburg, Rusia, November 2010 yang lalu.
Diperingatinya Global Tiger day ini bermula dari keprihatinan atas hilangnya 93% habitat alami harimau akibat ekspansi manusia untuk kebutuhan pemukiman dan pertanian. Populasi harimau yang tersisa saat ini terdesak di petak-petak kecil hutan yang berdampak tingginya resiko inbreeding. Kecilnya petak hutan tersebut juga meningkatkan resiko perburuan. Hal ini terjadi di berbagai habitat harimau di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia, terutama di Sumatera yang menjadi habitat harimau terakhir Indonesia.
“Di Sumatera sendiri, dalam periode tahun 2000-2012 sendiri, diperkirakan sebanyak 2,8 juta hektar hutan telah hilang. Bisa dikatakan pula bahwa laju kehilangan hutan di Sumatera setara dengan 900 lapangan sepak bola perharinya, ” jelas Yoan Dinata, Ketua Forum Harimau Kita.
Lebih lanjut, Yoan mengatakan bahwa peringatan Global Tiger Day di Indonesia bertujuan untuk mengajak masyarakat dalam mengambil bagian dalam melindungi aset bangsa dengan menjaga dan melestarikan hutan sebagai habitatnya.
Peningkatan Populasi Harimau di Alam liar dalam 100 terakhir yang dirilis WWF dan GTF.Sumber :WWF

Hanya Tersisa 6 Subspecies Harimau Sedunia
     Secara global, harimau dikelompokkan menjadi 9 subspesies yaitu harimau kaspia (Panthera tigris virgata), harimau benggala (Panthera tigris tigris), harimau siberia (Panthera tigris altaica), harimau indocina (Panthera tigris corbetti), harimau cina selatan (Panthera tigris amoyensis), harimau malaya (Panthera tigris jacksoni), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), harimau jawa (Panthera tigris sondaica) dan harimau bali (Panthera tigris balica). Saat ini, 3 subspecies harimau telah dinyatakan punah, yaitu harimau kaspia, harimau jawa dan harimau bali.
Harimau Siberia
      Harimau kaspia dinyatakan punah pada tahun 1950-an, sedangkan harimau bali pada 1940-an dan harimau jawa sekitar 1980-an. Harimau kaspia pernah ditemukan berkeliaran di padang rumput dan hutan hujan di kawasan Afganistan, Iran, Mongolia, Turki dan Kawasan Asia Tengah. Harimau jawa merup akan subspesies harimau yang pernah hidup di Pulau Jawa. Sedangkan harimau bali, merupakan subspesies yang pernah hidup di Pulau Bali. Harimau bali sendiri disinyalir sebagai harimau dengan ukuran paling kecil dibandingkan dengan subspesies lainnya.
     Indonesia pernah menjadi negara yang memiliki subspesies harimau terbanyak di dunia. 3 dari 9 subspesies pernah hidup di Indonesia. Uniknya, dari keseluruhan subspesies yang ada, seluruh subspesies harimau yang ada di Indonesia adalah harimau kepulauan. Dengan punahnya harimau jawa dan bali, maka hanya harimau sumatera yang tersisa di Indonesia.
“Kami tidak ingin nasib harimau sumatera seperti harimau jawa dan harimau bali yang telah punah. Mari kita jaga agar selalu lestari di alamnya,” himbau Yoan.
Harimau Bengal
Peningkatan Populasi Harimau
     Jumlah harimau di alam liar di dunia diprediksi meningkat untuk pertama kalinya sejak lebih dari 100 tahun. Dalam laporan yang dirilis oleh WWF dan Global Tiger Forum (GTF) pada 10 April kemarin menyebutkan saat ini diprediksi ada 3.900 ekor harimau di alam liar di seluruh dunia.
Jumlah tersebut meningkat dari perkiraan jumlah 3.200 ekor harimau pada tahun 2010. Peningkatan jumlah harimau tersebut terutama berada di India, Rusia, Nepal dan Bhutan.
“Untuk pertama kalinya setelah beberapa dekade penurunan konstan, jumlah harimau sedang meningkat. Ini menawarkan kita harapan dan menunjukkan bahwa kita dapat menyelamatkan spesies dan habitat mereka ketika pemerintah, masyarakat lokal dan konservasionis bekerja sama,” kata Direktur Jenderal WWF International, Marco Lambertini .


Harimau Indo-china
     WWF dan GTF merilis data populasi harimau di alam liar terkait dengan pertemuan konservasi harimau di New Delhi, India. Pertemuan tersebut sebagai tindak lanjut Tiger Summit di Rusia 2010, yang salah satu kesepakatannya adalah inisiatif Tx2, yaitu program menggandakan jumlah harimau liar menjadi 6.000 ekor pada tahun 2022.
WWF dan GTF merilis data tersebut berdasarkan sumber utama data dari IUCN Red List of Threatened Species account for tigers.  Namun data IUCN itu disebutkan hanya mencakup data dari 2009 sampai dengan 2014. Mereka kemudian menambah data dengan mengkompilasi  dari beberapa negara yang yang memiliki data tambahan.
Rilis data tersebut menyebutkan harimau liar di India meningkat dari perkiraan rata-rata 2.226 ekor pada 2014, dibandingkan pada 2010 yang berjumlah 1.706 ekor. Tercatat sebanyak 1.686 ekor terdokumentasi kamera jebak. Sedangkan Bangladesh menjadi negara dengan penurunan jumlah harimau dengan estimasi 440 ekor harimau pada 2010 menjadi 106 ekor di 2015
Peluang Penambahan Populasi
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Minnesota, RESOLVE, Smithsonian Conservation Biology Institute, Rainforest Alliance, Stanford University, dan World Resources Institute (WRI) menyebutkan bahwa terdapat cukup habitat hutan yang tersedia untuk mengembalikan harimau dari ambang kepunahan.
Penelitian yang berjudul Tracking changes and preventing loss in critical tiger habitat yang telah diterbitkan  di Science Advances mengindikasikan program Tx2 dapat dicapai dengan tambahan investasi konservasi.
Sebaran Populasi Harimau di dunia Tahun 2014 (2009-2014) Sumber : IUCN 2015

   Penelitian menyebutkan bahwa populasi harimau dapat kembali bila habitat dan mangsa bagi harimau tersedia luas dan perburuan dikontrol. Sebagai contoh, Nepal dan India masing-masing melaporkan peningkatan populasi harimau sebesar 61 dan 31 persen. Peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh inisiatif konservasi seperti pemeliharaan lintas batas Lanskap Terai Arc.
 Persahabatan Harimau dan Manusia
“Sangat luar biasa dan tidak disangka bahwa habitat harimau relatif terpelihara dengan baik selama kurun waktu 14 tahun. Hal ini bukan merupakan tanda bahwa habitat harimau berada dalam situasi aman, namun hal ini menunjukkan bahwa harimau dapat kembali dari ambang kepunahan jika kita membuat pilihan pengelolaan hutan yang tepat, ” kata Anup Joshi, peneliti di Universitas Minnesota dan penulis utama dalam siaran pers mereka.
Tetapi untuk mencapai tujuan Tx2,  membutuhkan upaya pencegahan kehilangan habitat harimau yang signifikan di masa depan, restorasi koridor-koridor utama antara bagian-bagian hutan yang tersisa, tindakan negara-negara untuk mengimplementasikan infrastruktur hijau untuk mencegah fragmentasi habitat.
Penurunan Persebaran Harimau di Alam liar 42% antara 2006-2014. Sumber : IUCN 2015
    Penelitian juga menyebutkan pengurangan habitat hutan global dari harimau sebesar 8%  atau 79.600 km persegi antara 2001-2014, yang berdampak pada hilangnya habitat yang dapat mendukung sekitar 400 ekor harimau.
   Sebagian besar (98%) kehilangan hutan di habitat harimau hanya terjadi di 10 lanskap, seringkali disebabkan oleh konversi hutan alami menjadi perkebunan untuk komoditas pertanian seperti kelapa sawit.
Lanskap dengan kehilangan hutan tertinggi adalah di wilayah Malaysia dan Indonesia dengan pengembangan kelapa sawit yang besar, seperti di ekosistem Bukit Tigapuluh di Sumatera yang telah kehilangan 67% sejak 2001, menyebabkan hilangnya habitat yang dapat mendukung 51 harimau.
Perlunya Penelitian Berkelanjutan
Direktur Program Senior Tiger Panthera Dr John Goodrich yang merupakan penulis utama IUCN Red List of Threatened Species account for tigers mengapresiasi rilis status jumlah harimau liar oleh WWF dan GTF.
 “Perluasan dan presisi pemantauan populasi harimau dan menghasilkan data dasar lonjakan pada jumlah harimau liar yang tetap di Asia adalah sebuah prestasi yang luar biasa dan bukti dedikasi berbagai harimau negara untuk menyelamatkan warisan nasional mereka,” kata Goodrich dalam siaran pers Panthera.
Estimasi Populasi Harimau di Alam liar di tiap negara (2009-2014) Sumber : IUCN 2015
   Goodrich melanjutkan untuk untuk melihat perubahan sesungguhnya tentang jumlah harimau dan pemantauan yang akurat dan melestarikan spesies, maka perbandingan populasi di tiap negara dan penelitian dengan ilmu pengetahuan terbaik yang tersedia harus dilaksanakan di seluruh negara dimana terdapat sebaran harimau.
   Harimau Sumatera
   IUCN juga menegaskan bahwa harimau telah kehilangan 40 persen habitatnya sejak tahun 2010.
Menurutnya, laporan status jumlah harimau tersebut semestinya tidak mengubah Negara-negara yang terdapat harimau liar untuk mengurangi kontribusi untuk menjamin kelangsungan hidupnya.
Harimau di alam liar, lanjutnya, terus mendapat tekanan, terancam oleh perburuan dan perdagangan illegal satwa liar, penggundulan hutan dan konflik dengan manusia ketika mangsa harimau juga diburu secara berlebihan.
“Penegakkan hukum yang lebih baik dan pemantauan ilmiah yang ketat dari harimau, termasuk mangsa harimau, dan usaha manusia, semuanya diperlukan untuk melindungi harimau liar,” tegas Goodrich.
Deforestasi Tinggi
Tiger and Elephant Specialist WWF Indonesia, Sunarto merasa optimis terhadap upaya konservasi harimau liar menanggapi rilis status jumlah harimau dari WWF dan GTF.
Dia membenarkan rilis tersebut yang menyebutkan bahwa deforestasi di kawasan konservasi harimau di Indonesia masih tinggi, bukan hanya di luar tapi juga di dalam kawasan konservasi. “Tiga dari lima (dan 5 dari 10) lanskap konservasi harimau memiliki deforestasi tertinggi ada di Indonesia,” katanya.

    Harimau Malaya
   Fakta lainnya adalah bahwa banyak kawasan lanskap konservasi harimau yang tumpagn tindih dengan perkebunan dan HTI, sehingga apabila tidak diterapkan best management practices, nilainya bagi habitat harimau sangat rendah.
Kekhawatiran lainnya yaitu beberapa perkebunan dan HTI mulai mengubah tipe komoditas yang semakin tidak bersahabat bagi bagi satwa. “Sebagai contoh, HTI yang awalnya banyak menggunakan akasia, kini banyak yang mulai beralih ke Eucalyptus,” lanjutnya.
Tidak hanya luas deforestasi yang perlu dikawatirkan, tetapi juga fragmentasi hutan dan gangguan terhadap habitat satwa juga penting.  “Bahkan, saat ini ada indikasi kuat bahwa perburuan merupakan ancaman utamanya yang dulu hanya di Indochina, sekarang juga Sumatera,” tambah Sunarto.
Metode Penelitian Terbaru
Praktisi konservasi harimau, Hariyo T Wibisono, melihat dari 76 lanskap konservasi harimau di dunia, sebagian besar masih ada ruang untuk peningkatan populasi harimau.
“Justru di India, lanskap konservasi harimau sudah optimal carrying capacity-nya. Hal ini menarik karena dalam laporan itu dinyatakan peningkatan harimau di alam liar terjadi di India, Rusia dan Vietnam,” kata Hariyo yang dihubungi Mongabay, menanggapi laporan status populasi harimau dari WWF dan GTF.

   Anak Harimau
    Hariyo mengkritisi laporan tersebut yang menyebutkan bahwa tidak ada survei nasional yang sistematis telah dilakukan dengan cukup akurat untuk memberikan estimasi populasi di Sumatera.
“Mereka menyatakan dalam tulisan itu Indonesia seolah-olah tidak menggunakan metode standar dan baku. Padahal teman-teman WWF Indonesia tahu bahwa sekarang ini di lima lokasi yang telah disurvey yaitu Bukit Barisan Selatan, Seblat, Leuser, Ulu Masen dan Berbak. Semua disupport oleh satu lembaga khusus untuk harimau, disuplai standar portokol, sehingga pernyataan Indonesia datanya tidak komparabel itu salah besar,” kata Hariyo yang merupakan salah satu peneliti dan penyusun laporan IUCN Red List of Threatened Species account for tiger.
 Anak Harimau Yang terjatuh
Selain menggunakan metode baku dan terstandar sehingga datanya bisa diperbandingkan, survey harimau di Indonesia juga menggunakan kamera jebak dengan grid yang bisa dikomparasikan. “Sehingga pernyataan tersebut tidak ada alasan,” tegasnya.
Meskipun begitu, dia menyatakan bahwa berdasarkan kajian ilmiah IUCN, habitat harimau di Indonesia masih bisa mendukung kehidupan kucing besar itu, sehingga masih terbuka lebar kemungkinan untuk peningkatan populasi harimau sumatera di alam liar.
Dari laporan IUCN dan WWF-GTF tentang harimau tersebut, Indonesia bisa menjadi prioritas wilayah untuk konservasi harimau. “Semoga ini bisa menjadi dukungan internasional kepada kita,” tambahnya.

Sumber Referensi : Mongabay Indonesia

Senin, 03 Juli 2017

BENCANA LINGKUNGAN : KEBAKARAN HUTAN

     Dua penyebab utama kebakaran di alam adalah petir dan kegiatan manusia. Rata-rata, petir menyambar bumi 100.000 kali sehari. Namun, penyebab terbesar kebakaran di daerah pedalaman adalah kecerobohan manusia. Membuang korek yang masih menyala atau puntung rokok yang masih membara dapat menyebabkan terjadinya kebakaran. Sejumlah besar kebakaran ternyata juga dilakukan dengan sengaja. Di beberapa tempat, kebakaran dapat terjadi secara spontan tanpa penyebab yang jelas. Pembakaran spontan bisa terjadi karena adanya tumpukan besar tanaman yang mati dan membusuk yang dapat menghasilkan panas.

Kebakaran Hutan : Bencana Lingkungan terbesar
Tempat Terjadinya Bencana

  1. Indonesia. Salah satu tempat terpanas di bumi tahun 1997 adalah Asia Tenggara. Kebakaran hutan di Indonesia menyebarkan kabut asap tebal di atas wilayah yang lebih luas dari daratan Eropa. Kebakarannya sendiri terjadi di hutan tropis Sumatera dan Kalimantan. Tapi, asapnya mengganggu penduduk di Indonesia, Malaysia, Brunei dan Singapura. Lebih dari 20 juta penduduk di ketiga negara ini terancam penyakit yang berhubungan dengan asap seperti asma dan bronchitis sebagai akibat dari kebakaran hutan. Di luar ramalan, kebakaran sudah terjadi di bulan Mei dan Juni. Di bulan September, di banyak tempat, api sudah mengamuk tak terkendali. Dalam kabut asap akibat kebakaran, jarak pandang sangat buruk sehingga banyak kapal yang bertabrakan. Bahkan asap menyebabkan jatuhnya pesawat penumpang di Sumatera dan membunuh lebih dari 2oo orang. Baru pada musim hujan di bulan November, api akhirnya padam dan asap pun sirna.
  2. Perancis Selatan. Perancis Selatan memiliki resiko tinggi terjadinya kebakaran selama musim panas yang gersang dan kering. Angin kering yang disebut mistral secara terus menerus bertiup dari arah utara, melewati lembah dengan kecepatan tinggi dan menyebarkan api dalam perjalanannya. Setiap tahun di wilayah ini terjadi 2.000 sampai 3.000 kebakaran. Sebagian besar kebakaran adalah akibat kecerobohan manusia.
  3. Australia Tenggara. Di Australia pohon Eucalyptus sangat mudah terbakar karena kulit kayunya mengandung minyak. Pohon ini juga menghasilkan banyak sampah yang menjadi bahan bakar kering yang sempurna bagi api. Australia Tenggara adalah salah satu wilayah di dunia yang paling rentan terhadap kebakaran. Musim panas yang panjang dan angin kering yang panas bertiup dari gurun pasir di pedalaman benua itu. Lingkungan ini memang kering sehingga api mudah tersulut dan menyebar.
  4. Brazil   Amazon adalah wilayah hutan hujan tropis yang paling luas di bumi. Namun, seperti di Indonesia, perusahaan besar membakar area hutan hujan tropis yang luas sebagai cara tercepat untuk membersihkan lahan. Melalui gambar lewat satelit wilayah hutan di Amerika Selatan dari tahun ketahun mengalami kerusakan dengan semakin berkurangnya hutan hujan tropis. Sebagai contoh selama tahun 1997 diperkirakan lebih dari 200.000 km persegi hutan hujan tropis musnah karena kebakaran.
Laju hilangnya hutan di Kalimantan akibat kebakaran
Memadamkan Kebakaran Hutan
    Kebakaran dapat menyebabkan kerugian besar bagi harta benda dan lingkungan. Kebakaran juga mengancam nyawa manusia. Dengan ancaman ini, di banyak negara, pemerintah sudah mengeluarkan dana yang luar biasa besar untuk mendeteksi dan memadamkan kebakaran. Prioritas utamanya adalah menemukan lokasi kebakaran dengan cepat sebelum api menjadi tidak terkendali. Peralatan teknologi tinggi, seperti pendeteksi infra merah yang dipasang di pesawat, membantu menemukan dengan tepat lokasi kebakaran. Tapi di banyak tempat cara terbaik untuk menemukan lokasi kebakaran adalah dengan mengamati secara seksama dari pos pengamat kebakaran. Begitu api terlihat, pemadam kebakaran segera bertindak. Air dan busa disemprotkan melalui helikopter dan pesawat terbang. Sebidang tanah dibuldoser supaya menjadi penghalang api. Para pemadam juga diterjunkan ke daerah terpencil untuk memedamkan api. Beberapa Tindakan yang dilakukan untuk memadamkan kebakaran hutan antara lain :

Membuat penghalang api
  1. Membuat penghalang api (Firebreak)  Penghalang api adalah sebuah pembatas yang lebar yang dibuat di hutan. Dengan menebang semua pohon dan material lain di wilayah penghalang, maka api akan kekurangan bahan bakar. Penghalang ini membentuk sayatan besar di permukaan tanah, maka hanya dipakai untuk kebakaran besar.
  2. Menyiram dengan air  Untuk memadamkan api, pemadam kebakaran hutan harus menghilangkan salah satu dari tiga unsur pembentuk api. Menyiram api dengan air, membantu menurunkan panas dan bahan bakar. Pesawat dan helikopter yang digunakan, beberapa diantaranya mempunyai tangki yang telah diisi penuh sebelum tinggal landas. Sedangkan yang lainnya dilengkapi dengan alat pencedok, sehingga sambil terbang di atas laut atau danau, helikopter itu bisa langsung mengisi tangkinya dengan air. Pesawat juga menyebarkan retardant merah pada kebakaran hutan yang digunakan untuk memperlambat laju kebakaran hutan. Sedangkan melalui darat, pemadam menyemprotkan air pada tanaman di kedua sisi penghalang yang dapat memperkecil kemungkinan api bertambah besar.
  3. Smokejumper Kadang-kadang, satu-satunya cara untuk melawan kebakaran di area hutan belantara yang terpencil adalah melalui udara. Pemadam kebakaran yang disebut smokejumper diturunkan dengan parasut. Tugas mereka sangat berbahaya dan memerlukan latihan khusus. Mereka harus membawa perlengkapan pemadam kebakaran dan mempertahankan diri serta parasutnya. Seringkali mereka harus keluar dari hutan setelah memadamkan api dengan membawa ransel seberat 50 kg.
  4. Memadamkan api dengan api  Api dapat digunakan sebagai senjata untuk memadamkan api. Seringkali pemadam kebakaran membakar tanaman yang berada di alur api yang mendekat. Dengan membakar area kecil secara terkendali, mereka telah membuat penghalang api sehingga api besar kekurangan bahan bakarnya. Hal ini disebut dengan membatasi kebakaran. Cara ini digunakan sebagai bagian dari perencanaan manajemen tanah, supaya bahan bakar tetap terkendali.
    Namun cara terbaik untuk menghentikan kebakaran adalah dengan mencegah terjadinya kebakaran. Seperti yang sudah kita lihat, kebakaran kebanyakan disebabkan oleh manusia, baik karena kelalaian atau ketidaksengajaan. Membuat orang lebih sadar mengenai bahaya kebakaran adalah langkah besar untuk mengurangi jumlah kebakaran.

Memadamkan kebakaran dengan api
Sesudah Kebakaran Hutan
    Kebakaran hutan sudah menjadi bagian dari kehidupan tumbuhan dan hewan selama jutaan tahun. Banyak tumbuhan yang sudah bisa beradaptasi dengan kebakaran dengan kulit kayu atau daun yang mulai dapat bertahan terhadap pengaruh panas. Tanaman lain bergantung pada api agar benihnya bertunas. Kebakaran bisa menambah kesuburan tanah dengan melepaskan nutrisi seperti kalium, magnesium, kalsium dan fosfor dari tanaman yang terbakar. Meskipun demikian, api yang dahsyat juga bisa merusak nutrisi di dalam tanah. 
Petugas memadamkan api melalui darat
    Dalam menghadapi kebakaran, binatang menunjukkan kepanikan tapi mahir menemukan tempat perlindungan, sekalipun api seringkali berhasil mengurung dan membunuh beberapa di antaranya. Ancaman terbesar bagi binatang adalah perubahan habitatnya. Jika seekor binatang hanya bergantung pada satu jenis makanan yang musnah akibat kebakaran, maka binatang itu akan mati. Contoh tragisnya adalah ketika terjadi kebakaran hutan di Taman Nasional Yellowstone, Amerika Serikat. Ada sekitar 30.000 Elk (rusa besar) dan sekitar 240 hewan mati selama kebakaran di Taman Nasional ini pada tahun 1988. Sebagian mati karena menghirup asap ketika angin bertiup kencang. Banyak binatang seperti Beruang dan Burung Elang bangkai  datang ke taman setelah kebakarann untuk memakan bangkai binatang yang mati.
Banyak Binatang mati akibat kebakaran hutan

Minggu, 02 Juli 2017

BUNGA GURUN : KEELOKAN TUMBUHAN GURUN

    Hanya sedikit tumbuhan yang dapat tumbuh di gurun, wilayah yang tandus dan kering dengan sangat sedikit curah hujan yang terjadi, menyebabkan wilayah gurun menjadi dunia yang sulit bagi tumbuh dan berkembangnya tumbuhan. Wilayah ini menyebabkan tumbuhan yang ada akan terbakar oleh teriknya panas pada siang hari dan sebaliknya diselimuti udara yang dingin membeku pada malam hari. Namun, ada sebagian tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan gurun dan mampu bertahan dengan iklim yang ekstrem dan kering.
    Tanaman gurun telah mampu beradaptasi dengan cara-cara khusus supaya dapat tetap hidup di gurun. Hanya di bukit-bukit pasir berpindah saja yang tidak terdapat tanaman sama sekali karena tanaman juga membutuhkan tempat berpijak. Akan tetapi, di tempat lain tanaman mampu bertahan dan beradaptasi dengan berbagai cara. Mereka harus bertahan dalam kekeringan yang panjang dan hujan yang datang tidak terduga. Hujan bisa turun deras atau rintik-rintik. Banyak tanaman menghadapi kondisi sulit ini dengan menyimpan setiap tetes kelembaban yang mereka ambil dari akar ke dalam batang atau umbi.
    Gurun bukan lah tempat yang mudah bagi tanaman untuk tumbuh. Pada beberapa bagian gurun itu, tanahnya terlalu bergaram, sehingga tidak ada tanaman yang dapat tumbuh. Sedangkan di bagian lain misalnya bukit-bukit pasir berpindah sehingga tidak memungkinkan tumbuhan menancapkan akarnya. Banyak tempat di gurun yang subur dan kaya akan mineral yang diperlukan tumbuh-tumbuhan, tetapi sayangnya udaranya begitu kering dan sangat kekurangan air.

    Pada umumnya tumbuhan gurun harus mengumpulkan dan menyimpan sebanyak mungkin air bila hujan. Air ini harus mencukupi masa kering setelah hujan, yang dapat berlangsung lebih dari satu tahun. Caranya bermacam-macam. Sangat sedikit air hujan yang dapat menembus jauh ke dalam tanah sehingga banyak tumbuhan yang berakar dangkal berusaha untuk menyerap sebanyak mungkin air tepat di bawah permukaan tanah. Banyak pula tanaman yang berdaun tebal dan berdaging untuk menyimpan air. Seringkali ditutupi oleh zat lilin untuk mencegah kehilangan air, atau ditutupi oleh rambut-rambut halus sebagai perlindungan terhadap angin kering. Kaktus menyimpan air dalam batangnya yang berdaging. Daun yang sebenarnya adalah duri yang mempunyai permukaan lebih kecil untuk penguapan dan menjaga hewan yang merusak lapisan tahan air. Kaktus seguaro raksasa, yang dapat tumbuh lebih dari 15 meter, dan mampu menyimpan beratus-ratus liter air sebagai persediaan pada bagian batangnya.
Hamparan Saguaro Raksasa di malam hari
    Banyak tumbuhan gurun yang tidak berdaging dapat hidup terus pada musim kering yang panjang dengan menyimpan makanan dan air dalam umbi, rizoma atau akar yang mengembung. Perdu dan pohon biasanya berdaun kecil atau berduri agar tidak banyak kehilangan air, atau meluruhkan daun-daunnya pada masa kering. Kebanyakan pohon gurun hanya dapat tahan hidup di daerah-daerah yang mempunyai cadangan air di bawah tanah. Pohon-pohon itu mempunyai akar yang panjang sekali yang disebut akar mesquite dan dapat mencapai kedalaman sampai 30 meter.
    Beberapa tumbuhan gurun seperti Mesembryanthemum memiliki daun yang tebal untuk menyimpan air, sedangkan pohon Yucca yang tinggi dengan daun kaku dan ramping untuk mengurangi kehilangan air, Semak Kerosot juga berdaun kecil dan penuh dengan duri dengan batang mengembung. Lithops dan Stapelia menyimpan air dalam batang dan daun serta Kaktus barrel memperlihatkan jaringan penyimpan air, sedangkan tumbuahan terbesar di gurun benua Amerika adalah Kaktus Saguaro raksasa yang menyimpan air pada batangnya yang gemuk. 

    Kaktus Saguaro raksasa yang hidup di gurun Amerika Utara dapat mencapai ketinggian 16 meter dan berat 10 ton. Kaktus ini mengeluarkan jaringan akar dangkal yang panjangnya sampai 10 meter ke segala arah. Akar-akar ini kokoh dan padat , baik untuk menyerap air sebanyak mungkin, atau menjaga tegaknya tanaman meskipun angin kencang. Waktu pertumbuhannya sangat lama dan bisa bertahan hidup lebih dari 200 tahun.

Bunga Gurun
    Sekitar setahun sekali bahkan kadang-kadang lebih lama, hujan turun lebat. Beberapa minggu kemudian gurun akan ditutupi oleh berbagai macam bunga seperti rumput-rumputan, daisy, dandelion dan banyak tumbuhan herba lainnya. Tumbuhan ini melengkapi siklus hidupnya ketika tanah masih lembab untuk kemudian mati. Hanya bijinya yang masih hidup ketika masa kering. Beberapa biji mempunyai mekanisme pengamanan yang cukup kuat sehingga hanya bertunas setelah cukup turun hujan agar dapat hidup terus di gurun. 

Waktu Hujan
    Hampir sepanjang tahun, gurun tampak tandus. Jadi adalah suatu keajaiban jika tanaman dan hewan dapat bertahan di daerah ini. Kehidupan yang kaya merupakan kejutan dan benar-benar tampak hanya saat hujan. Hujan adalah pemicu hidupnya bumi yang kering terpanggang. Saat itu, ada banyak hewan dan tanaman yang menjejalkan seluruh siklus hidupnya dalam satu waktu yang singkat, yaitu saat air berlimpah. Sampai hujan turun, mereka tetap tidur dan bersembunyi, tetapi dengan cepat berkembang dan dewasa sebelum genangan air dan kolam mengering di bawah teriknya sinar matahari. Setelah seluruh air menguap dan tanah menjadi kering kerontang, yang terlihat hanyalah sisa-sisa kehidupan. Namun, mereka telah mencapai tujuannya, yaitu berkembang biak dan memastikan adanya generasi pada masa datang.